UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
64. Reaksi.


__ADS_3

Johan lalu bercerita pada semua orang apa yang ia lakukan di dalam dan perkataan apa yang ia katakan pada Jones, para dokter sedikit menjauh dari dekat Johan dan yang lain.


Setalah mendapat kesimpulan dan hasil pemeriksaan mereka kemudian kembali ke dekat Johan serta Robby.


"Dari hasil pemeriksaan kami, dokter Jones tidak mengalami hal serius dan menghawatirkan, tapi kemungkinan terbesar dokter Jones mendengar apa yang tuan katakan tentang kejadian yang menimpa nona muda dan hal itu membuat dokter Jones bereaksi dan cemas karna takut nona kenapa napa." ucap dokter syarap.


"Ini suatu hal yang sangat baik tuan, berarti dokter Jones sudah mulai bereaksi dengan hal di sekitarnya." dokter penyakit dalam.


"Itu berarti kesadaran dokter Jones sudah mulai muncul namun beliau belum bisa mengendalikan kesadarannya dengan sepenuhnya, dalam arti lain di dalam alam bawah sadar dokter Jones sudah mulai bereaksi dengan hal hal yang mengganggu pikiran dan perasaannya." dokter syarap.


"Jadi dia sudah mulai tau hal apa yang terjadi di sekitarnya, begitu mendengar orang yang ia sayang dalam bahaya maka emosinya akan menunjukkan reaksi itulah penyebab layar monitor nya bersuara kencang sebagai tanda protes atau reaksi marah, takut dan hal lainnya." dokter ahli lainnya.


"Lalu bagai mana tindakan kalian." Robby.


"Kita harus sering memancing emosi dokter Jones dengan hal hal yang bisa membuat ia bereaksi." dokter Anton.


"Caranya ?."


"Seperti yang tuan lakukan tadi." dokter syarap.


"Ngeprangk kakak ?." Jack adik bungsu Jones.


"Iya, seperti itu misalnya." dokter Anton.


"Apa ngak makin bahaya dokter." Robby.


"Kami rasa tidak, itu buktinya pak." dokter spesialis penyakit dalam, ia menunjuk layar monitor yang sudah mulai tenang.


Saat mereka berbicara mereka tentu mengambil tempat sedikit jauh dari Jones agar Jones tidak dapat mendengar pembicaraan mereka dengan jelas, dan rencana rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya dalam membangkitkan


emosi Jones.


Di mulai esok harinya mereka mulai melancarkan aksi, dengan berbincang hal hal yang akan membuat Jones marah atau emosi, namun sayang setiap perkataan mereka tidak satupun yang berhasil membuat Jones terpancing.


Ceklett.. daun pintu kamar rawatan Jones terbuka dari luar, sayup sayup terdengar suara langkah kaki yang pelan dan lemah, sesekali terdengar juga suara benda tumpul yang terbuat dari kayu beradu dengan lantai rumah sakit itu.


"Assalamualaikum wrwb, apa kabar Uncle, kok belum bangun juga sih, Uncle betah banget boboknya, Shafa mau belajar banyak hal dengan Uncle, tapi Uncle ngak mau bangun juga." Shafa menyeka air mata yang mengalir di wajahnya dengan menggunakan jari telunjuknya.


Ia lalu duduk di kursi yang berada di sisi tempat tidur Jones, untuk pertama kalinya Shafa memberanikan diri menyentuh punggung tangan laki-laki itu, meski tidak boleh karna aturannya begitu tapi Shafa terpaksa melakukannya.


Ada desiran aneh di hati Shafa saat kulit telapak tangannya bersentuhan dengan punggung


tangan Jones.


"Uncle sih ngak mau bagun, kami jadi ngak punya dosen obqin di kelas, karna itu pihak pakultas mengganti Uncle dengan dokter Arya, Uncle kenal ngak sama dokter Arya, tampan banget lo Uncle masih single lagi." menjeda kata katanya sesaat.


Titt.. titt.. tit..


"Dokter itu putih, tinggi dan rapi, dokter itu juga sholeh lo Uncle, ishhh banyak cewek yang suka, Shafa juga senang lihat dokter itu."


Tutt.. tutt .. tutt.. tutt....


Shafa melirik kertas contekan yang di berikan sang papa sesaat sebelum masuk ruangan, ia lalu teringat kata kata dan nasehat sang papa malam hari sebelum berangkat ke rumah sakit pagi itu.


FLASBACK ON.


"Assalamualaikum wrwb, kakak boleh mama dan papa masuk." mengetuk pintu kamar lalu membukanya dari luar karna tidak berkunci.


"Waalaikumsalam wrwb, mama, papa boleh." jawab Shafa sembari menutup buku tebal di tangannya, buku kedokteran yang


sering ia baca.


"Sayang bisa kita bicara sebentar." tanya


Johan serius.


"Bisa dong papa." jawabnya.


"Hmm ini tentang Uncle Jones." melihat


reaksi sang putri.


"Uncle kenapa papa." tanyanya cemas.


^Ngak apa apa kak, papa cuma mau cerita sedikit tentang Uncle, tapi sebelumnya papa bisa tanya Sama kak Shafa, dan kakak harus jawab dengan jujur okay ?."

__ADS_1


"Hmmm apa papa." bingung.


"Jawab jujur ya." Johan.


"Iya papa, kalau Shafa tau Shafa akan jawab jujur papa Shafa janji." tampa harus buat janji Johan tau putrinya itu orang seperti apa, Shafa gadis polos dan jujur.


"Bahai mana perasaan kakak sama Uncle ?."


kali ini Zahra yang bertanya karna di kode


oleh Johan.


"Perasaan bagai mana mama, Shafa ngak


ngerti." memutar bola matanya bingung.


"Suka ngak sama Uncle."


"Suka." jawabnya polos.


"Suka bagai mana, seperti apa ?." Johan.


"Mhhhh seperti apa ya, mungkin seperti Shafa suka sama papa dan opa."


"Tidak ada suka yang lain." Zahra.


"Seperti apa mama." makin bingung.


"Seperti papa suka dan cinta sama mama."


Johan.


"Cinta ??, Shafa ngak ngerti papa,tapi Shafa suka aja sama Uncle." jawabnya seadanya.


"Kenapa suka." Zahra.


"Karna Uncle baik, perhatian, lembut, sholeh dan sayang sama Shafa."


"Lalu kakak sayang ngak sama Uncle ?." Zahra.


"Sama seperti sayang ke papa, opa, adek adek ?." Johan.


"Shafa ngak tau papa, sama ngak ya ?." bingung sendiri dengan hati dan pikirannya.


Hhmmm Johan menarik napas dalam dalam, ia lalu melihat Zahra, ia bingung bagai mana cara menjelaskan maksud dan tujuan pertanyaan mereka pada sang putri yang masih polos.


"Shafa ingat ngak bagai mana cara Uncle


menjaga dan sayang sama kakak." Johan.


"Uncle sering berkorban dan terluka gara gara Shafa, sekarang malah Uncle belum sadar juga gara gara melindungi Shafa." ucap Shafa sedih.


"Menurut kakak, kenapa Uncle Jones begitu."


"Karna Uncle ingin menjaga Shafa dan sayang sama Shafa." polos.


"Kakak yakin cuma mau jaga kakak saja." Johan.


"Maksudnya papa."


"Pernah ngak Uncle bilang suka sama kakak, bilang sayang dan cinta." Zahra.


Shafa terkejut mendengar pertanyaan mamanya, ia lalu teringat kata kata Jones sebelum ia pingsan karna kekurangan darah akibat lukanya.


"Mhhh waktu Uncle terluka dan belum pingsan Uncle ada bilang gini, " gils aku mencintaimu." aaaaahhhh apa maksud Uncle ??." menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Iya Uncle sayang, Uncle suka dan Uncle cinta sama kakak, bukan cinta dan sayang antara keponakan dan pamannya tapi rasa berbeda antara laki-laki dan perempuan, sudah lama tapi papa ngak setuju, Shafa mengerti maksud papa ?." jawab Johan melihat reaksi Shafa.


"Aaapaa papa.., Uncle suka, sayang dan cinta sama Shafa ?? , kok bisa??, sudah lama ??." tanya Shafa bertubi tubi, antara bingung, aneh dan


tidak percaya.


"Iya kak, karna itulah dia selalu berkorban untuk keselamatan dan kesehatan kakak." Zahra.


"Hahhh kok papa ngak izinkan ?." bingung harus apa mendengar cerita kedua orang tua itu, dia bingung harus bahagia, lucu atau sedih.

__ADS_1


Pertanyaan yang tidak di sangka sangka oleh Johan bahkan Zahra, membuat kedua orang tua itu juga ikut bingung mau jawab apa.


"Nghhh itu karna, karna." Johan tergagap.


"Karna Uncle teman papa, karna Uncle hampir sebaya dengan papa, dan kakak masih sangat muda." jawab Zahra cepat.


"Yahhh, kok gitu papa .." nada protes.


" Kok Shafa marah ke papa, Shafa sayang


sama Uncle ya." Zahra.


" Maaf papa, mama Shafa ngak marah kok, Shafa cuma terkejut saja, tapi Uncle kan punya Aunty calon istri Uncle, ngak mungkin Uncle suka


sama Shafa." menunduk sedih mengingat cerita Jones yang sangat sayang dan cinta pada calon istri yang sering ia banggakan.


"Siapa yang bilang Uncle punya calon istri." Johan. sedikit marah, namun ia sangat tau dan sangat kenal dengan sifat dan siapa saja yang ada di sekitar Jones.


Sejak putus dengan mantannya terdahulu laki-laki itu tidak pernah lagi dekat apa lagi menjalin hubungan dengan wanita manapun, terutama sejak ia jatuh cinta pada Shafa.


" Uncle yang bilang papa." jawabnya lirih.


Johan dan Zahra saling pandang.


"Kalau papa minta kakak menikah dengan Uncle apa kakak mau ?." Zahra.


Gadis itu mengangkat kepalanya lalu


melihat wajah papa, mama bergantian.


"Kok diam aja kak, kakak ngak mau ya, atau


papa carikan calon yang lain saja." memancing reaksi putrinya itu.


"Enghhhh jangan papa, Shafa.. Shafa.." bingung dan malu bercampur jadi satu.


"Shafa mau jadi istri Uncle." Zahra.


"Enghhh papa ngak marah ?." melirik sekilas


pada sang papa.


"Meski awalnya papa ngak setuju dan menentang keras tapi karna melihat perjuangan Jones yang selalu menjaga dan melindungi putri papa, papa menyerah kak, mungkin dia memang Jodoh yang terbaik buat Shafa, dia akan menggantikan papa menjaga Shafa selanjutnya."


Johan menggenggam tangan kecil Shafa, Johan menunduk ia lalu teringat semua perjuangan yang di lakukan Jones untuk putrinya, perjuangannya selama delapan belas tahun menunggu Zahra rasanya belum ada apa apanya di banding perjuangan Jones mengejar cintanya.


Johan merasa kecil saat itu, ia merasa kagum pada Jones betapa besar rasa sayang dan cinta laki-laki itu pada putrinya.


"Papa tidak marah nak, sama sekali tidak marah, mungkin hanya dia lah satu satunya yang mencintai dan menyayangi kakak dengan tulus tanpa ada embel embel lain di belakang, meski pun hati papa berat tapi papa yakin Jones orang yang terbaik buat kakak."


Johan menyeka air mata di sudut matanya.


******


Mau ngak mau ngak ya Shafa ??


Hmmm malu malu meong kak Shafa.


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2