
"Kenapa gua merasa perempuan ini aneh ya, entah mengapa gua ngak suka banget lihat ni orang, apa lagi tatap matanya pada putri gua, tatapan.., ahhh gua ngak boleh suujon."
Johan menatap Melani awas, hatinya terus berkata kata di dalam sana, segala bentuk kecurigaan menari nari di lembah hatinya, membuat laki-laki itu resah.
Satu minggu sudah berlalu, setiap hari Melani menyiapkan makanan untuk Shafa, dokter itu tampak sangat antusias memenuhi semua permintaan permintaan pasiennya itu.
Shafa bahkan sudah lupa pada mertua nya biasanya dia selalu cerewet bertanya kapan sang Daddy pulang, tapi sejak merasakan masakan Melani yang super nikmat Shafa melupakan sosok sang Daddy.
Pagi itu seperti biasa Johan mengantar Zahra ke apartemen Shafa, kebiasaan mereka kalau sampai di sana langsung menuju ruang makan.
Di dapur Melani tampak sibuk memain kan sendok goreng yang ada di tangan kanannya, pagi itu Shafa minta di masakkan nasi goreng putih, toping daging dan sosis.
Zahra duduk di samping Shafa yang asik menonton dokter Melani masak, Johan tentu ikut ikutan duduk, di samping istri tercinta.
"Asik banget nontonnya mama, papa datang ngak di anggap." tegur Zahra pada sang putri.
"Ehhh mama sama papa udah datang, hehehe maaf ma, Shafa ngak tau, soalnya Shafa udah lapar banget ma, cacing cacing di perut Shafa udah demo."
"Kok cucu papa di kata cacing sih kak, papa ikutan demo juga ahh, masa cucu cucu papa di bilang gitu sih." Johan.
"Emang cacing Shafa yang demo pa, bayi bayi Shafa masih enteng kok."
"Hahhh masa iya." Johan melonggo.
Setau dia kalau wanita sedang hamil yang banyak permintaan dan harus di turutin segala kemauan pasti dengan alasan cabang bayi, kok Shafa minta di masakin nasi goreng malah bilang cacing nya demo.
"Iya pa, cacing Shafa emhhh mungkin bayi Shafa juga hehehe." terkekeh kecil, sampai menyipitkan matanya.
"Hmmm putri cantik mama nampaknya bahagia banget nih, ada apa ya ?." goda Zahra.
"Apa ??, ngak ma, biasa aja tuh."
"Masa iya sih.., dari tadi ketawa aja." Zahra.
"Iya lo ma, Shafa biasa aja ehhh Shafa lupa, nanti siang Shafa mau keluar jalan jalan sama dokter dan kakak kakak Shafa mama ikut ya." rayunya dengan mata memelas.
"Jalan jalan ?, beneran nih ?." tanya Zahra antusias, selama kepergian Jones Shafa belum pernah keluar dari rumah atau apartemen, ada kejadian apa sehingga hari ini bumil itu ingin keluar jalan jalan.
"Iya ma, jalan jalan ikut ya ma ya..ya."
"Kemana ?."
"Shafa mau ke Mall, mau belanja baju, lihat nih baju Shafa udah pada ngepas ma, Shafa kegendutan kayaknya ma."
Shafa berdiri dari duduknya lalu memperlihatkan baju gamis yang ia pakai sudah hampir pres badan sehingga perutnya yang semakin besar semakin tampak menonjol.
"Wahhh benar juga, putri mama makin berisi sekarang ya." senyum Zahra bahagia.
"Hehehe mama ikut ya." merayu.
"Papa ngak di ajak nih." merajuk.
"Emang papa bisa ikut, lagian cewek semua loh." Shafa.
"Ngak apa apa dong, jadi bodyguar kakak sama mama."
"Ahhhh ya ya.. papa ikut aja deh, jadi ada yang bayarin hayyy hayyy." Shafa tertawa bahagia, kehadiran Melani beberapa minggu ini benar benar membuat ia lupa akan kesedihannya.
Johan menatap Shafa bahagia, ahirnya tawa putrinya kembali lagi, meski rasa sesak di dadanya masih mengganjal karna kebodohan dan karna emosinya dia membuat putrinya menjadi janda di umur sangat belia.
"Maafkan papa nak, maafkan papa sayang, andai papa tidak egois suamimu masih ada, meski semua karna kebodohannya tapi karna papalah yang membuat ia nekat, tapi melihat tawa mu sekarang hati papa sedikit lega."
Sejak kehadiran Melani dan sejak Melani memasak untuk Shafa pipi tirus Shafa mulai berisi, bahkan berat badannya naik drastis karna nafsu makan wanita hamil itu semakin hari semakin meningkat.
Ada saja permintaannya pada Melani, masak ini dan itu, kalau orang lain normalnya makan tiga kali sehari Shafa malah bisa sampai lima, enam kali sehari, padahal baru satu minggu lebih Melani memasak untuknya.
"Wahhh kalah dong masakan Daddy Axton sama dokter Melani nih." Zahra.
"Nghhh gimana ya ?." memalingkan wajah kekanan sembari berpikir.
__ADS_1
"Ko.. telepon pak Axton, katakan ngak usah datang dulu, maksudnya jangan buru buru, pak Axton kan sibuk kasian kalau harus bolak balik jakarta, toh sudah ada yang gantikan pak Axton masak untuk kakak." senyum Zahra sembari mengedipkan sebelah mata.
"Jangan..jangan papa, jangan mama Shafa ngak mau Daddy ngak datang, Shafa rindu Daddy." meraih handphone di tangan Johan.
Shafa mengira kalau sang papa benar benar akan menghubungi Axton padahal laki-laki itu sejak tadi memang pokus pada layar handphonenya, ia sibuk memeriksa email dari Andy dan Robby.
"Ehhh ya..ya, ngak kok kak, jangan nangis, papa ngak telepon kok." membelai tangan Shafa, Johan terkejut saat sang putri menyita handphone.
Shafa menyerahkan kembali handphone mahal si papa, bibirnya mencucut beberapa centi kedepan, Johan ingin tertawa melihat sang putri yang tengah merajuk tapi apa daya laki-laki itu tidak punya kekuatan untuk sekedar tertawa.
"Nasi goreng putihnya sudah siap nyonya silahkan di makan." senyum Melani, dokter itu meletakkan satu piring besar nasi goreng permintaan Shafa di hadapannya.
"Terimakasih dokter, enghhhh itu minum nya mana ?." bola matanya berkedip kedip lucu.
Deg...
"Maaf minuman apa ya nyonya ?." tanya Melani bingung, karna Shafa memang tidak ada minta di buatkan minuman.
"Sop buah.., emang Shafa ngak bilang ya dokter ?."
"Ahh mungkin saya ngak dengar tadi nyonya, baik akan saya buatkan sekarang." jawab Melani bahagia, padahal jelas ia tau Shafa tidak minta di buatkan sop buah.
Dokter itu langsung berbalik ke meja dapur, sedang Shafa langsung makan nasi goreng buatan dokter Melani dengan sangat lahap.
"Pelan pelan kak, ngak ada yang mau rebutan sama kakak kok." Zahra.
"Ada.., nih bayi bayi Shafa." menunjuk perutnya.
"Hahaha iya mama lupa."
Mata sipit Johan menatap pinggang Melani dengan intesn, tatapan itu tentu saja tidak luput dari perhatian Zahra, sudah beberapa kali Zahra mendapati Johan begitu namun dia diam saja.
"Ko.."
"Hmm iya yank." masih menatap punggung Melani.
"Kenapa ?." bisiknya karna takut di dengar Shafa.
"Kenapa lihatin dokter Melani terus sih, apa..apa hmm." menatap tajam manik mata Johan, membuat laki-laki itu ciut.
"Ngak yank..ngak kok."
"Jangan bohong ko, aku sudah sering lihat koko menatap dan memperhatikan dokter Melani, koko naksir ya." tanya Zahra, giginya rapat saat berkata begitu tapi masih jelas di dengar Johan.
"Ahhhh ngak yank, ngak beneran ngak yank, iiiyyyy .. mana mungkin yank."
Suara Johan terdengar kuat membuat semua orang yang ada di ruang itu sama sama terkejut, tidak terkecuali Shafa.
" Koko pelankan suaranya." geram Zahra suaranya tetap pelan.
"Tapi yank mana ada yank..ng..ngak kok." ucapnya lagi membela diri.
"Papa kenapa ?." tanya Shafa bingung menghentikan makannya.
"Ahh ngak apa apa kok kak." Zahra yang jawab lalu kakinya menendang kaki Johan di bawah meja.
"Ya..ya ngak apa apa kak, papa cuma terkejut aja baca laporan Uncle Robby." jawabnya gugup.
Zahra masih menatap Johan tajam, sementara yang di tatap ketakutan, dia sudah seperti maling ketahuan mencuri, laki-laki bucin itu terlihat menyeka keringatnya berulang kali.
"Ampun yank, koko beneran ngak ada maksud apa apa kok." suara pelan.
"Kalau ngak ada kenapa lihat lihat terus hmm, kalau ngak suka kenapa merhatiin terus." jawab Zahra masih menahan emosi.
"Beneran ngak ada apa apa yank, sumpah yank koko sudah punya sayang cinta pertama koko, mana mungkin koko mau yang lain lagi." merayu.
"Coba saja kalau berani macam macam yang di dalam itu aku hmmmm." Zahra menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk seperti gunting.
Sorot matanya mengarah ke bagian bawah Johan, seakan memperingatkan kalau Johan macam macam maka ia akan menggunting kejantanan suaminya itu sampai habis.
__ADS_1
"Upssss.. ampun yank, jangan dong nanti sayang ngak punya mainan lagi, sayang juga yang rugi." mengerling nakal.
"Makanya jangan coba coba." masih nada mengancam.
Kalau Shafa sibuk dengan makanannya Melani sibuk memotong buah mengolah nya menjadi sop buah.
Niken dan dua wanita lainnya yang berdiri tidak jauh dari meja makan hanya bisa tersenyum geli melihat tuan besar mereka yang seperti ketakutan menghadapi sang nyonya.
Meski mereka tidak tau pasti apa yang di bicarakan kedua orang tersebut tapi raut wajah Johan menunjukkan kalau dia sedang bermasalah dengan sang istri.
Jauh di dalam hati Zahra ia ingin tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Johan yang benar benar ketakutan dengan ancamannya.
"Ngak yank, ngak berani."
"Lalu kenapa lihatin dokter Melani terus ?." pancing Zahra.
"Hmm ngak tau yank, entah mengapa koko ngak suka lihat dokter itu dekat sama kakak, ngak tau ya, kok koko merasa dia itu aneh."
"Aneh gimana sih ko, aku lihat biasa aja kok." memperhatikan mimik wajah Johan yang tampak serius saat membicarakan Melani.
Untung jarak Shafa dan kedua orang tuanya sedikit jauh, karna meja makan yang terbuat dari jari itu memang cukup besar dan luas apa lagi mereka duduk berseberangan sehingga Shafa tidak akan mendengar bisik bisik keduanya.
"Aneh yank, ngak tau gimana bilangnya pokoknya koko merasa dia itu lain deh."
"Lain gimana sih ko, koko jangan buat aku bingung "
"Cara dia menatap kakak, seperti cara, cara laki-laki menatap pasangannya, anehkan."
Zahra langsung melihat ke arah Melani yang sudah berada di samping Shafa menyajikan sop buah permintaannya.
Zahra tersenyum kecut, melihat cara Melani melayani Shafa, tatapan mata dokter itu memang tampak aneh dan penuh arti.
"Itu cuma perasaan koko, aku lihat sih biasa aja ko, mungkin karna sudah dekat sama kakak makanya dia perhatian seperti itu."
"Semoga aja yank, tapi walau bagai manapun kita harus hati hati dan waspada, koko akan minta Robby menyelidiki dokter itu lagi."
"Jangan berlebihan ko, mana mungkin dokter Melani berani macam macam, dan status tidak kelas, lihat sendiri dokter Alwi saudaranya, orang yang sudah bertahan tahun bekerja di rumah sakit kita, dia tidak pernah buat ulah kan."
"Hmmm entah yank, yang jelas kita harus hati hati, koko akan minta sama pengawal kakak untuk lebih mengawasi dokter itu."
"Terserah kokolah."
"Lihatlah yank, bagai mana koko tidak curiga, setiap kali dia masak sesuatu apa pernah dia menawarkan pada kita, bukannya koko pengen, tapi masa sekedar basa basi ngak sih, kita ini kan majikan dia juga, seakan akan apa pun yang ia masak hanya untuk kakak saja, khusus untuk kakak, orang spesialnya."
"Umhhhh, kan memang dia masak khusus untuk kakak ko, kalau sekalian untuk kita, berarti dia dokter merangkap koki dong, udah ahh jangan terlalu curiga ngak baik."
"Hhmmm sepertinya Daddy tidak di butuhkan lagi nih, dengar dengar kata angin berhembus sudah ada yang gantikan Daddy jadi koki menantu Daddy."
Perbincangan Zahra dan Johan tiba tiba berhenti mendengar suara barithon seseorang yang sudah lebih seminggu pulang kenegaranya.
" Daddy.." teriak Shafa bahagia melihat kehadiran Axton yang datang seperti kunang kunang ( hilang dan muncul tiba tiba ).
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🌻 LIKE
🌻 RATE
🌻 VOTE
🌻 HADIAH yang banyak
🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.