UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
108. Duo Bucin.


__ADS_3

Sudah lima hari Shafa di rumah sakit, sebenarnya tiga hari saja Shafa sudah bisa pulang tapi karna si suami dan si papa yang ngotot harus di rawat sampe pulih Shafa terpaksa pasrah.


Padahal Shafa sudah tidak betah berada di kamar rawatan itu, dan hari ini Shafa sudah bisa pulang namun sebelum pulang terjadi percekcokan antara menantu dan mertua.


Menantu ingin merawat istri sendiri dan ingin membawa pulang ke apartemen mereka, mertua ingin membawa putrinya ke rumah besar, hampir saja terjadi baku hantam antara keduanya tapi urung karna yang di perebutkan malah mengancam ingin pulang kerumah mawar dan hanya ingin di rawat bodyguarnya.


"Lu sih, papa mertua ngak punya perasaan sama sekali." omel Jones pada mertua.


"Lu yang ngak punya hati, lu sudah tau putri gua butuh rawatan dan perhatian lebih tapi malah mau bawa putri gua ke apartemen sempit lu itu." balas Johan tak kalah sengit.


"Sudah sudah dari pada kalian berdua berantem baik Shafa saya bawa pulang ke Sumatera." celetuk Nazwan menambah keruh suasana.


"TIDAK.." kali ini kedua musuh bebuyutan kompak menjawab.


Nazwan cengegesen di bentak kedua insan itu.


"Lu harus ngalah." Johan.


"Lu yang ngalah, gua lebih berhak pada istri gua." balas Jones.


"Tidak gua.." Johan.


"Gua.." Jones.


Selagi mereka berdebat Shafa sudah berjalan pelan keluar kamar rawatan di bantu Nazwan dan tiga bodyguardnya.


Saking sibuknya adu mulut kedua manusia itu sampai tidak tau Shafa sudah menjauh naik kursi roda yang di dorong oleh sang ayah.


"Istri ku .." panik.


"Putri gua mana ?." tak kalah panik.


"Ribut mulu, ngak malu sama umur, kakak di bawa ayahnya."Zahra menatap keduanya dengan mata melotot dan berkacak pinggang.


"Kok bisa ??." kompak Jones dan Johan.


"Ya bisa lah, ayahnya yang bawa aku mau bilang apa." hardik Zahra.


"Tidak.." teriak keduanya sama sama berlari keluar ruangan, Jones menyenggol Johan di pintu karna sama sama ingin keluar lebih ďulu, membuat laki-laki tampan itu terlempar beberapa centi meter ke samping.


"Menantu ngak punya sopan." teriak Johan menjajari langkah Jones.


"Lu yang ngak punya mata, lihat jalan dong." balas Jones, mereka berdua sama sama berlari seperti lomba lari di sirkuit ehh salah di tanah lapang.


"Hei culik, kemana bawa istri ku." Jones.


( Astaga Jones, mau nambah musuh nih kayaknya 🤣🤣)


"Apa kau bilang ??, culik." Nazwan berbalik ke arah Jones, laki-laki itu baru saja membantu putrinya untuk naik ke dalam mobil, tapi sudah di teriaki culik.


Orang orang memandang Nazwan curiga, mereka satu persatu mulai bergerak ke arah Nazwan, tapi bodyguar Shafa yang lain memberi kode agar mundur.


"Kalau bukan culik apa namanya bawa pergi istri orang." jawab Jones dengan napas tersengal.


"Sialan kau ya, dasar tidak punya etika." Nazwan menarik telinga Jones sekuat tenaga membuat laki-laki itu refleks mengikuti tangan Nazwan yang menarik telinganya ke atas.


"Mampus lu." Johan.


"A..aampun yah.." suara pelan dan tertahan.


"Aku bawa anakku betulan tau rasa kau ya." marah Nazwan masih menarik telinga Jones di depan umum, namun dengan suara yang sama dengan Jones pelan dan tertahan.


Jones dan Nazwan sama sama menahan suara agar orang lain tidak tau kalau laki-laki yang menarik telinganya adalah ayah kandung dari istrinya.

__ADS_1


Karna Nazwan memang melarang memanggil ayah di depan umum demi kebaikan Zahra dan Shafa, padahal bagi Johan tidak masalah orang lain tau Nazwan ayah kandung putri sambungnya itu, namun Nazwan tetap ingin menjaga marwah mantan istri.


Orang orang yang ada di di sana sama sama bingung melihat seorang dokter tampan dan bersahaja malah di jewer oleh laki-laki lain tampa ada perlawanan, bahkan Jones terkesan pasrah.


Bahkan rekan rekan kerja Jones ikut bingung melihat pemandangan luar biasa itu, tapi mereka hanya dapat menonton dari jauh sebab Johan sendiri berdiri tak jauh dari kedua orang itu dengan pandangan mengejek ke arah Jones.


Sedang sibuk dengan pikiran masing masing mobil mewah milik Shafa berlalu meninggalkan rumah sakit itu bersama sang mama, Johan, Jones gelagapan karna di tinggal pergi oleh orang orang yang mereka sayangi.


Nazwan tertawa melihat wajah bodoh menantunya itu, ia ikut ikutan mengejek Jones namun si menantu tidak perduli dan memilih pergi mengejar istri begitupun Johan.


Shafa sampai di rumah mawar, pelan pelan ia berjalan ke kamarnya bersama sang mama, Shafa menyandarkan tubuhnya di headboard tempat tidur, wajahnya masih tampak pucat.


"Mama, Shafa bingung mamanya Aa dan keluarga yang lain kok ngak datang lihat Shafa ya, mereka benci sama Shafa ya ma ?." tanya Shafa tiba tiba.


Zahra tersenyum simpul, mereka sudah menduga Shafa akan bertanya begitu, karnanya Zahra dan Johan serta Jones sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.


Awalnya Zahra bertanya pada Jones di mana mamanya, mengerti maksud pertanyaan mertua Jones lalu mengatakan alasan mamanya tidak datang lalu meminta Zahra dan Johan untuk mengatakan alasan kalau sampai Shafa bertanya hal yang sama seperti mamanya.


"Bukan ngak suka sayang, suami kakak sengaja ngak bilang ke mamanya karna takut mamanya menduga yang bukan bukan." Zahra.


"Maksudnya ma ?."


"Maksudnya, Jones takut mamanya mengira sakitnya Shafa sakit kandungan, dan takut mamanya berpikir negatif."


"Shafa ngak paham mama."


"Kak, Jones tidak mau mama dan keluarga ny mengira kalau kakak sakit di operasi karna ada kelainan pada rahim kakak, dia ngak mau mama dan keluarganya menuding kakak tidak bisa punya keturunan karna hal lain."


"Emang Shafa ngak bisa ya ma, apa rahim Shafa bermasalah, apa rahim Shafa yang di angkat ?." mata berkaca kaca.


"Ya ngak dong nak, rahim kakak masih ada, yang di angkat cuma meomanya kok, ngak masalah kakak juga pasti bisa punya anak kok, jangan sedih dong." membelai kepala Shafa.


"Lalu kenapa harus di rahasiakan ?."


Shafa diam.


"Jangan takut sayang, jangan berpikir macam macam ya, kakak pasti baik baik saja."


"Apa Shafa bisa punya bayi ma ?."


"Bisa dong kak, cuma sementara kata Jones kalian harus menundanya."


"Kenapa ?."


"Ya karna kakak baru operasi, tunggu luka di rahim dan perut kakak sembuh dan siap untuk hamil dong kak, masa habis operasi langsung hamil sih bisa bahaya dong."


"Oh iya ya mama."


"Hmm iya dong, nah sekarang kakak istirahat ya, sebentar lagi suami bucin kakak pasti akan datang." tawa Zahra.


"Suami bucin mama juga." ikut tertawa.


"Duo bucin." Zahra.


"Tapi tom end Jerry." Shafa.


Karna Shafa memilih untuk tinggal di rumah mawar ahirnya Jones hanya pasrah, namun alih alih tenang berdua tampa gangguan Johan malah memboyong semua keluarga untuk tinggal sementara di rumah mawar yang juga cukup luas dan besar cukup untuk keluarga besar mereka.


"Upsssss sama saja." keluh Jones menepuk jidadnya saat melihat semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama.


Johan sengaja membawa semua keluarga di malam hari saat kedua suami istri itu sudah terlelap di kamar, kehadiran keluarga besar tentu saja membuat Shafa bahagia senyum lebar di bibirnya membuat Jones makin prustasi.


"Mama, papa, oma semuanya kumpul." teriak Shafa berjalan sedikit cepat ke arah meja makan.

__ADS_1


"Jangan jalan cepat sayang nanti jatuh." Jones menangkap tubuh kecil Shafa agar berjalan lambat.


"Pelan pelan jalannya kak." oma Wu.


"Iya oma hehehe."


"Assalamualaikum wrwb." tiba tiba suara seorang laki-laki muda terdengar di antara mereka.


"Waalaikumsalam wrwb." jawab semua.


"Apa kabar papa, mama." mendekati Johan lebih dulu, mencium tangan lalu memeluk, begitu pun ke Mamanya, oma Wu, opa Wu kemudian berjalan ke arah Shafa yang berada di pelukan Jones.


Jones menarik Shafa agar sedikit menjauh ketika laki-laki muda itu mendekati istrinya, Jones bahkan mendorong laki-laki tampan mirip Zahra yang masih dalam pertumbuhan itu.


"Eishhhh jangan sentuh istri gua."


"Ishhhhh kak Jones pelit ahh."


"Siapa lu, sok ramah."


"Siapa ya, kenalan dong." tawanya.


"Apa kabar adek tata yang makin tampan ?." senyum Shafa mengulurkan tangan untuk menerima tangan si lelaki.


"Alhamdulillah baik tata, maaf baru bisa pulang, kemarin Azka ujian dan banyak kegiatan, baru bisa pulang pagi ini, ehh sampe rumah semuanya sudah pindah kemari, tata apa kabar sudah lebih baik kan " tanyanya.


"Alhamdulillah dek, kakak sudah jauh lebih baik." senyum Shafa bahagia melihat adik laki-laki yang sudah dua tahun lebih tinggal di asrama pesantren itu.


Azka meski baru tiga belas tahun namun badannya sudah seperti umur enam belas tahun tentu saja membuat Jones marah karna tidak mengenali Azka yang ucuk ucuk datang ingin meraih tangan Shafa.


"Kamu ?? Azka ??."


"Iya kak, dasar pecemburu pengen cium tangan kakak sendiri saja ngak boleh." ejek Azka sembari mengulurkan tangan menyalam Jones.


" Tidak, jangan cium tangan istri ku dong, cium tangan kakak saja." tawa Jones menerima tangan Azka.


"Uhhh pelit." tawanya pula.


"Sudah sudah ayo sarapan dulu, kak Shafa mau makan obat itu." Zahra.


Lalu ketiganya pun bergabung di meja makan.


**********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2