UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
63. Kritis lagi.


__ADS_3

"Lu udah gede masih mau di urusin, lu ngak malu apa, tuh calon papa mertua lu udah pasang muka masam lihat tubuh cungkring lu, ayo cepat bangun nanti keburu nona muda di ambil orang gigit jari lu, lu tau sendiri papa mertua lu orang yang sangat kejam dan ngak berperasaan."


Ucap Robby melirik Johan sambil melap tubuh Jones di bantu perawat laki-laki, awalnya Johan yang membantu memiring miringkan badan Jones atau mengangkat anggota badan laki-laki itu saat Robby akan melap bagian tubuhnya.


Namun karna segan, Johan membiarkan Robby melakukannya sendiri dengan di


bantu perawat.


"Banyak bacot lu, udah kerjakan aja ngak usah pake ngomel, ngak iklas bilang, lu yang mau kerjakan sendirikan padahal gua udah gaji orang lain khusus buat merawat Jones."marah Johan berkacak pinggang.


"Hisss.. jangan suka marah marah bro nanti makin tua." sindir Robby.


"Sialan lu." Johan.


Selama Jones di rumah sakit selama itu pula Johan, Robby dan Shafa serta keluarga inti Jones bolak balik ke rumah sakit untuk menjaga


laki-laki itu.


Hari itu tepat tiga minggu Jones koma, tiba tiba ia kembali krisis lagi tamoa sebab, Johan berlari keluar rumah saat mendapat kabar dari bodyguar yang menjaga Jones.


Shafa yang bingung papanya kenapa tiba tiba ikut panik dan berlari karna mengira Jones meninggal, ia berlari dari atas tempat kamarnya berada, saat berlari tampa sadar ia malah menginjak gaunnya yang panjang hingga ia terjatuh dari tangga ke lima dari bawah.


Shafa menjerit kencang saat tubuhnya terasa sakit, Zahra dan Maili yang berada di teras depan kembali kedalam rumah setelah Johan pergi bersama Robby.


"Ya Allah.. kamu kenapa kak." teriak Zahra cemas saat melihat tubuh putrinya yang tergeletak di atas lantai.


"Mama sakit maa." tangis Shafa mencoba


duduk, namun tidak kuat.


"Panggil dokter cepat." titah Mommy Wu pada bodyguar yang juga ikut berlari ke dalam rumah mendengar teriakan Shafa.


"Nona, nona ngak apa apakan." tanya Niken cemas, ia dan Asiah serta Lila mengangkat tubuh kecil itu bersama sama kembali ke kamarnya melalui lift.


"Mama, Shafa mau ke rumah sakit lihat Uncle." tangis Shafa saat berada di kamarnya.


"Nanti nak, Shafa harus sehat dulu dan di periksa dokter." Zahra ikut menangis melihat keadaan putrinya itu.


"Shafa ngak apa apa ma, Shafa ke rumah sakit ya ma ya .. ya mama."


"Tidak nak, di periksa dokter dulu." Zahra.


Shafa terus memohon pada sang mama agar mengizinkannya ke rumah sakit menyusul papanya, ia sudah lupa rasa sakit di seluruh tubuh terutama kakinya.


"Tidak nak, tunggu dokter kalau kata dokter bisa pergi maka Shafa pergi."


"Tapi ma Uncle Uncle mama."


"Uncle tidak apa apa kak, jangan kwatir." Maili membelai kepala Shafa penuh kasih sayang.


"Mami, Shafa ngak akan tenang kalau terjadi sesuatu pada Uncle." tangisnya.

__ADS_1


"Kita doakan sama sama semoga ngak apa apa ya kak." Mommy Wu.


Tidak lama kemudian dokter keluarga datang memeriksa keadaan Shafa, dokter perempuan itu tampak bernapas lega.


"Bagaimana dokter putri saya gimana." Zahra.


"Ngak apa apa nyonya, tidak ada yang terlalu di kwatirkan, nona cuma keseleo dan di beberapa titik tubuh nona ada yang lebam dan biru biru akibat terjatuh tadi, tapi untuk memastikan lagi kaki nona di rongen saja." saran dokter Vita.


"Baik kami akan membawa Shafa ke rumah sakit sekarang." jawab Zahra.


Niken dan bodyguar lainnya kembali membawa Shafa kelantai bawah lalu membawanya ke mobil menuju rumah sakit.


Zahra dan Maili ikut menemani, Zahra sengaja tidak memberi tahu Johan agar suaminya itu tidak bertambah cemas memikirkan Jones dan putrinya secara bersamaan.


Setelah sampai di rumah sakit para dokter ahli segera memeriksa Shafa lebih lanjut, dan dokter mengatakan Shafa hanya keseleo saja tidak ada keretakan tulang atau hal lainnya pada kaki gadis itu, Zahra ahirnya memutuskan memanggil tukang pijat ahli dalam hal itu.


"Ayo kita pulang kak." ajak Maili saat pemeriksaan sudah selesai karna tukang pijat sudah di hubungi dan dalam perjalanan ke rumah.


"Ngak Mami, Shafa mau lihat Uncle huaaa."


"Iya ya kita akan lihat Uncle tapi janji tidak ribut ya nak, janji juga ngak nangis." Zahra.


"Iya mama." janji Shafa.


Mereka terpaksa membawa Shafa ke ruangan Jones dengan menggunakan kursi roda, sang papa yang baru keluar dari dalam ruangan perawatan Jones terkejut melihat putrinya yang datang dengan duo bumil, beberapa bodyguar yang mendorong anak perempuannya di atas kursi roda.


"Ya ampun kak, anak papa kenapa ?." berlari ke arah rombongan.


"Ya ampun putri gua kenapa." marahnya pada bodyguar dengan tatapan tajam, ia sendiri berjongkok di depan Shafa.


Para bodyguard semuanya tertunduk takut melihat kemarahan Johan, tak satupun di antara mereka yang bersuara, karna kalau lagi marah di jawab juga salah.


"Jangan marah marah ko, suaranya pelankan." ucap Zahra dingin.


"Tapi yangk, anak perempuan koko kenapa begini." tanya Johan menatap Zahra.


"Shafa jatuh papa, jatuh dari tangga, Shafa mau kejar papa, Shafa mau ikut papa huaaa Uncle papa Uncle kenapa ?." jawab Shafa lalu bertanya pada sang papa.


"Aduh kok bisa jatuh si kak, mana yang sakit nak." memeriksa kaki dan tangan Shafa.


"Cuma kaki Shafa keseleo koko, sisanya ngak apa apa, udah di periksa dokter juga." Zahra.


"Oo syukurlah." Johan.


"Uncle gimana papa, apa yang terjadi." tanya ulang Shafa pada sang papa karna pertanyaan pertama tidak di jawab.


"Uncle sudah mendingan kak, tadi sempat kritis lagi ngak tau kenapa."


"Shafa mau lihat Uncle boleh papa."


"Boleh tapi cepat pulang ya."

__ADS_1


"Iya papa." Niken dan dua bodyguar lainnya membawa Shafa masuk ruangan perawatan Jones, setelah melihat Jones yang baik baik saja namun belum sadar barulah gadis itu merasa lega dan mau pulang.


Esok harinya Johan kembali ke rumah sakit, kini laki-laki itu duduk sendiri di samping tempat tidur Jones, ia menatap lamat lamat wajah pucat dan kurus itu dengan hati iba.


"Lu marah ke gua ya, lu dendam ke gua karna itu lu ngak mau bangun, lu jangan kwatir gua pasti akan menepati janji gua setelah lu sehat nanti, gua akan merestui lu dengan putri gua, kalau lu ngak bangun bangun bagai mana dengan putri gua."


Johan menarik napas sesaat.


"Lu tau ngak, semalam Shafa jatuh dari tangga kakinya patah, gara gara lu, putri gua berlari dari lantai atas karna cemas memikirkan lu, sekarang putri gua cuma berada di kursi roda." ucap Johan sedikit berbohong untuk memancing reaksi Jones karna selama koma tidak ada tanda tanda laki-laki itu akan berreaksi apapun.


Meski hanya sekedar menggerakkan kaki, tangan atau jari jarinya, motoriknya sama sekali tidak berfungsi, Jones terkesan lumpuh total.


Tuttt.. tutt..tut..tut..tut..tut....


Tiba tiba layar monitor komputer di atas kepala Jones mengeluarkan suara nyaring kencang membuat Johan terkejut dan panik.


Ia langsung menekan bel di samping tempat tidur Jones dan secepat kilat para dokter dan perawat berhamburan masuk ke dalam ruangan.


Robby juga ikut panik dan masuk kedalam ruang perawatan VVIP tempat Jones di rawat, semua dokter yang ada bergerak dengan cepat memeriksa Jones dengan seksama.


"Bagai mana." Johan.


"Maaf tuan boleh kami bertanya." ucap dokter ahli yang di datangkan dari luar negeri.


"Ada apa, cepat tanya." Johan.


*******


Ada apa.ya ??


Ada yang tau guys ??


Aku juga bingung nih, bisa bantu jawab ?


Hehehehe.


Jangan lupa dukung aku ya


LIKE, KOMENTAR, VOTE, RATE DAN KASIH HADIAH YANG BANYAKKKK YA


aku tunggu loo.



Kunjungi juga Cerita aku yang di🖕ya,.ini cerita tentang papa mama Shafa, sebelum ke cerita Shafa dan Jones ada baiknya singgah dulu di cerita pak CEO si Bucin tingkat tinggi, dan mana yang lebih bucin nantinya ya.


wkwkwkwk.


Hmmm ayuk merapat guys..


WO AI NI..

__ADS_1


HAPPY READING.


__ADS_2