UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
87.Mencintaimu.


__ADS_3

"Astagfirullah, ya Allah badan kamu panas lagi sayang." ucap Jones.


Laki-laki itu baru saja selesai sholat subuh, tiba tiba ia merasakan suhu tubuh gadis itu panas kembali saat ia mencoba membangunkannya, Jones memanggil ke tiga pengawalnya yang tertidur di atas sopa kamar itu.


"Nona kenapa pak." Asiah datang sambil mengucek ngucek matanya.


"Badannya panas lagi, mungkin karna tidak makan obat dari semalam, tolong ambilkan air hangat, aku mau kasih sayang ku makan obat."


"Iya pak." Asiah segera keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air yang di minta oleh calon tuan mereka itu.


"Kamu tolong ganti air kompresnya ya." ucap Jones pada Niken.


"Baik pak." Niken.


Lila naik ke atas tempat tidur, ia begitu cemas karna nonanya kembali deman, sejak mereka bekerja pada keluarga itu dan selalu menjaga Shafa dan sebelum gadis itu menderita penyakit yang kini di alaminys gadis itu sangat jarang sakit, sehingga mereka jadi bingung saat gadis itu sakit.


"Kenapa nona deman lagi pak dokter ?." tanya Lila sambil memijit mijit tangan Shafa.


"Mungkin karna belum makan obat." Jones menatap gadisnya penuh perasaan.


Asiah datang membawa air putih, Jones lalu membangunkan Shafa yang tampak gelisah dalam tidurnya.


"Sayangku, bangun yangk, makan obat ya hmm." Jones membelai wajah cantik Shafa.


Gadis itu tidak juga mau membuka matanya ia hanya berreaksi dengan rengekan manja, ia mengira yang membangunkannya sang


papa dan mamanya.


"Sayang ayo bangun, duduk ya, makan obat sayang badan kamu panas lagi lo, jangan sakit dong sayang, jangan buat aku takut."


Jones menarik pelan tubuh kecil itu dan berusaha membangunkannya, Shafa duduk bersandar pada headboard, Jones merapikan rambut panjang Shafa yang terurai bebas tidak beraturan.


"Makan obat ya sayang, ayo buka mulutnya." menyodorkan obat ke dekat mulut gadis itu.


"Enghhh ngak mau, pahit." jawabnya pelan, kepalanya miring ke kanan.


"Sayang, kalau tidak makan obat nanti makin demam lo, ayo makan sayang." bujuk Jones.


Asiah, Lila dan Niken juga ikut membujuk gadis itu namun tidak berhasil, Shafa selalu menolak dengan memiringkan kepalanya.


"Sayang ayo makan obatnya." masih membujuk.


"Ngak Uncle." cicitnya.


Jones kehabisan akal, dia bingung bagai mana lagi caranya membujuk sang kekasih hati, timbul ide di benaknya ia lalu memasukkan dua butir obat ke dalam mulutnya, ia letakkan di ujung lidahnya.


Dengan cepat Jones menyambar bibir kecil dan mempesona itu, ia gigit sedikit lebih kuat bibir bawah gadis itu sampai terbuka, Shafa yang mendapatkan serangan mendadak dari Jones sangat terkejut, spontan ia membuka mulutnya lalu kedua butir obat itu langsung sukses melewati tenggorokannya.


"Eghhhh ashhh pahit ..pahit.."menepuk nepuk dada Jones sedikit kuat, pahit dan rasa marah bercampur aduk di dalam pukulannya.


"Minum airnya sayang." mendekatkan air putih


itu kebibir Shafa.


Asiah, Niken dan Lila sama terkejutnya dengan Shafa mereka bertiga sama sama melotot tak percaya dengan hasil bidikan mata masing masing, Jones mencium Shafa di depan mereka meski hanya dengan alasan memasukkan obat.


Mereka bertiga saling pandang dan saling tatap satu dengan lainnya, Lila mematung di atas tempat tidur di sisi sebelah kiri Shafa, sementara Jones berada di sini kanan Shafa, tentu saja ia melihat jelas aksi Jones, apa lagi saat Jones memasukkan obat dengan lidahnya ke dalam mulut nonanya itu.


Sadar akan membuat nonanya malu perlahan lahan mereka sama sama menjauh dari Shafa, mereka dengan kebingungan masing masing sama sama duduk di sopa, mereka sama sama menunduk dengan pikiran sendiri sendiri.


"Uncle.. huuu Uncle jahat." tetap memukul muluk dada bidan Jones, hingga laki-laki itu terbatuk batuk beberapa kali.


"Sayang.. suamimu ini bisa mati di tanganmu kalau di pukuli terus, mau jadi janda hmm." goda Jones menangkap kedua tangan Shafa.


"Jahat, Uncle cium Shafa lagi huuu."


"Bukan cium sayang, memasukkan obat."


"Tapikan."


"Tapi sayang ngak mau minum obat, jadinya terpaksa aku buat begitu yangk, maaf kalau lancang, lagian sebentar lagi kan kita menikah, ngak apa apa aku kasih DP."


Jones terus menggoda gadis itu, padahal jantungnya ketar ketir takut di murka dan takut sang gadis merajuk lagi.


"DP apa sampe dua kali." marahnya.


"Sayang jangan marah dong, tapi kalau marah begini kamu makin cantik dan makin buat aku gemes deh, jadi pengen lagi."


"Apa." melotot.


"Kasih obat lagi." tersenyum jahil padahal


jantung mau copot.


"Uncle."


"Sayang." Jones.


Shafa membalikkan badannya membelakangi Jones, bibirnya mencucut karna marah, Jones yang kebingungan terus saja merayu gadisnya dengan berbagai kata kata.


"Kenapa kak, sudah sembuh anak papa." Johan masuk ke dalam kamar putrinya dan dia terkejut mendapati sang putri yang tampak marah.


"Shafa ngak apa apa papa." cicitnya dengan bibir mengerucut.


"Kalau ngak apa apa kok wajahnya gitu ?, jutek banget ?." tanya Johan, pandangan matanya tertuju pada Jones.

__ADS_1


"Ngak apa apa papa." masih membelakangi Jones, Johan ingin tertawa terbahak bahak melihat wajah bodoh Jones.


"Lu apa in putri gua sampe merajuk begitu." menatap Jones dingin.


"Ngghhh itu. nghh ngak kok, ngak apa apa, iya


kan sayang." menggaruk garuk kepalanya.


Shafa tidak menjawab, tapi perutnya yang menjawab, suara keras perut gadis itu sontak membuat Johan tertawa terbahak bahak, tawa yang sedari tadi ia tahan ahirnya meledak juga, Dan Jones hanya bisa menyengir kuda.


Wajah Shafa memerah bagai tomat masak, menahan malu sekaligus marah.


"Aku ke bawah dulu ambilkan sarapan untuk Shafa." ucap Jones langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Anak gadis papa kok merajuk hmm, udah gede juga masa merajuk sih, ntar lagi mau nikah pun." kata kata lembut Johan membuat Shafa makin mengerucutkan bibirnya.


"Kok diam sih kak." tanya Johan duduk


di sisi tempat tidur.


"Ngak apa apa papa, hidung Shafa lagi mampet Shafa jadi pusing." jawabnya berbohong, mana mungkin ia mengatakan pada sang papa kalau lagi marah pada Jones akibat di sodorkan obat melalui mukut calon suaminya itu.


"Kalau begitu kakak makan obat ya."


"Sudah papa, barusan."


"Ya sudah, kalau begitu abis makan nasi


kakak istirahat lagi ya nak."


"Iya papa, mama mana ?."


"Mana lagi ngurusin adek Wu, tadi pub, papa keluar dulu ya, nanti kalau Jones datang kakak harus makan ya."


"Iya papa."


Johan segera keluar dari kamar itu, di pintu


calon papa mertua dan calon menantu saling berpapasan dan saling pandang.


"Kalau Shafa udah mendingan lu pulang saja,


ngak bagus lama lama di sini."


"Iya papa mertua, tenang saja."


Cih..


Jones masuk, di lihatnya sang gadis masih bersandar di headboard berlahan ia duduk di sini tempat tidur di samping Shafa, bibir gadis itu masih saja mencucit melihat kehadiran Jones.


"Shafa ngak lapar, siapa bilang Shafa lapar."


"Kamu ngak bilang yangk, tapi perut kamu yang ngaku dan cacing di perut kamu berontak serta teriak teriak lapar.. lapar."


"Mana ada."


"Ya sudah berarti aku salah dengar, tapi sekarang sayang makan ya." bujuk Jones.


"Nanti saja."


"Baiklah kalau ngak mau makan di suapin pake sendok ngak apa apa, biar aku masukkan sendiri seperti tadi." memasukkan bubur nasi ke mulutnya.


Aaa mulut Shafa langsung terbuka mendekati tangan Jones, senyum sumringah tergambar di bibir laki-laki itu.


"Gitu dong sayang."


"Shafa makan sendiri saja."


"Aku suapin sayang."


Shafa diam ia biarkan laki-laki itu menyuapinya sampai makan semua nya habis, setelah itu Jones lalu meletakkan mangkuk kosong di atas nakas, Jones menggenggam tangan Shafa mesra.


"Ternyata kalau marah dan ngambek cuma begini saja." tawa Jones dalam hati.


"Sayang tadi malam kenapa telepon ku terputus apa karna kamu pingsan."


"Ngak tau, Shafa ngak ingat." jawabnya jujur.


"Terus kenapa pingsan, apa sayang pusing."


Shafa memutar mutar bola matanya lucu sembari berpikir apa yang terjadi padanya sebelum pingsan, ia hanya mengingat kalau Jones bertanya padanya apa tidak menyesal menikah dengannya, pertanyaan Jones membuatnya sakit hati karna ia pun mengira kalau Jones menyesal.


"Ngak ada." jawabnya jutek.


"Ngak ada ?, sayang marah karna aku tanya gitu ?, maaf sayang, bukan maksud ku begitu aku sangat bahagia bersama kamu yang, aku sangat bahagia karna akan menikah dengan mu, kamu tau aku sangat mencintaimu aku tidak mau berjauhan dari mu, aku tidak bisa tampamu sayang."


"Ngak, ngak marah, kalau memang .."


"Sttttt jangan bicara yang aneh aneh sayang, aku mencintaimu sangat mencintaimu kita akan segera menikah, lupakan pertanyaan ku yang bodoh itu sayang, aku minta maaf ya tolong jangan di masukkan ke hati hmmm."


Jones menutup bibir Shafa dengan ibu jarinya agar gadis itu tidak berkata yang akan membuat ia tersinggung lagi, ia tidak mau sang gadis terluka oleh kata katanya sendiri.


"Maaf kan aku ya sayang." mencium kedua


tangan Shafa mesra.

__ADS_1


Shafa diam saja.


"Sayang, semalam kamu ngak mikirin kata kata si Marina kan, sampai buat kamu ngak tenang dan demam." tanya nya serius, ia menebak saja.


"Ngak mana ada." padahal memang karna kepikiran itu Shafa menjadi gelisah dan kepikiran terus sehingga ia daya tahan tubuhnya melemah.


"Syukur lah, kalau begitu sekarang sayang istirahat ya, nanti bangun bangun sudah segar kan sudah makan obat." senyum Jones, ia lalu menarik selimut gadis itu sampai ke dada.


"Jangan marah ya yangk, aku mencintaimu, sekarang aku akan turun ke bawah, aku mau tidur sebentar di kamar tamu boleh ya, atau aku tidur di sini dekat kamu saja." godanya.


"Ngak, jangan." marah Shafa.


"Ya sudah aku ke kamar tamu saja deh." mencium tangan Shafa kemudian ia pun meninggalkan kamar gadis itu dengan mata berat sayu mengantuk berat.


Tadi malam Jones hanya tertidur sebentar saja karna tidak tenang, lain hal dengan para pengawal Shafa mereka bertiga tertidur pulas di atas sopa kamar itu sehingga hanya Jones sendiri yang terjaga.


Sudah dua hari Jones setia merawat Shafa, hari itu Shafa sudah lebih sehat sehingga ia ingin berangkat kuliah namun semua keluarga menentang karna takut Shafa masih lemah.


Namun karna kegigihannya ahirnya ia di perolehan kuliah dengan catatan kalau lelah Shafa harus istirahat dan harus segera pulang.


"Uncle.. boleh Shafa minta sesuatu."


"Tentu saja sayang, apa itu."


"Kalau kita sudah menikah tolong rahasiakan pernikahan kita di kampus ya."


"Loh kenapa sayang ??." tahya Jones kaget tapi ia masih berusaha pokus pada jalan raya, sejak nekat menyetir sendiri beberapa hari lalu Jones pun melatih kakinya agar lebih kuat lagi karna itu ia mengantar Shafa dengan menyetir sendiri.


"Uncle kan dosen Shafa juga di kampus, Shafa ngak mau orang menilai Shafa mampu karna bantuan Uncle."


"Astaga, ngak apa apa dong sayang, orang tidak akan berkata begitu." jawab Jones.


"Tidak semua orang berpikir logis Uncle."


Melalui sedikit perdebatan ahirnya Shafa tetap menang, Jones terpaksa mengalah demi kenyamanan gadisnya itu.


****


Waktu pernikahan Shafa dan Jones tinggal tiga hari lagi, baik Shafa dan Jones mereka berdua sudah sama sama di pingit oleh keluarga masing masing, mereka sudah tidak bisa beraktifitas seperti biasa, mereka hanya pokus pada perawatan diri sendiri.


Jones gelisah di kamarnya, dia tidak bisa menghubungi sang gadis karna handphone Shafa di sita oleh neneknya, mama yani, semua keluarga sudah datang ke kota, tidak ketinggalan Daniel dan Lisda serta anak anaknya.


"Sayang, apa Aswin dan Irwan sudah menghubungi sayang, mereka datang ?." tanya Johan sambil memeluk Zahra dari belakang, wanita itu tengah memakaikan crem malam pada wajah cantiknya.


"Ngak tau ko, bukannya koko yang hubungi ?."


"Iya sayang, maksud koko kalau mereka sudah sampai agar langsung saja ke hotel, koko sudah menyuruh Robby siapkan kamar mereka."


"Ohh.. coba koko hubungi lagi."


"Ngak aktif handphone sayang."


"Mungkin di perjalanan handphone habis batre."


"Mungkin juga." mendusel dusel kepalanya di


leher Zahra yang putih dan mulus.


"Koko geli."


"Kamu wangi banget sayang, koko jadi pengen, udah bolehkan." suara Johan terdengar berat.


"Belum ko, saya belum mandi nifas."


"Haduh kok belum yangk, sayang ngak kasihan lihat koko puasa terus, ayo mandi nipas sekarang ,koko bantuin ya."


"Ishhh jangan koko."


Johan tidak perduli, ia lalu mengangkat tubuh seksi sang istri ke kamar mandi, Zahra mandi malam malam atas paksaan Johan sekaligus Johan buka puasa di sana.


"Gua mau bicara dengan lu." Johan berkata dingin pada seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengannya.


"Ya silahkan." jawab laki-laki itu tenang.


🍀🍀🍀🍀


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2