
Setelah berbincang cukup lama dan setelah mendapat jawaban Shafa Johan dan Zahra keluar dari kamar Shafa dengan perasaan lega.
"Sepertinya Kak Shafa juga suka sama dokter Jones tapi ngak sadar dan ngak ngerti ya ko." berjalan ke kamar mereka sambil menggandeng tangan sang suami.
"Iya yangk, koko juga pikir begitu, kak Shafa mungkin tidak tau dengan perasaannya sendiri." tertawa kecil berjalan pelan agar sang istri tidak ketinggalan langkahnya yang panjang.
Sementara itu di kamar Shafa, gadis itu berguling guling di atas kasurnya yang luas dan mewah, ia ingin menjerit tapi takut semua orang terkejut dan terjaga dari tidurnya karna malam sudah larut.
Dia tiba tiba merasa happy sendiri, entah apa penyebab ia sendiri tidak tau.
FLASBACK OFF.
"Uncle.. Shafa ngak jadi nikah sama kak Rafa karna kak Rafa ternyata jahat, umhhhh kalau dokter Arya mau nikah sama .." melihat reaksi Jones.
Karna Shafa mendengar suara layar monitor yang kencang dan nyaring, tapi karna pesan sang papa tidak boleh berhenti meski suara monitor keras serta cepat maka Shafa melakukannya.
Di luar kamar ada Johan, Robby dan Surya serta beberapa dokter ahli sedang memantau kondisi dan reaksi Jones dari layar monitor CCTV yang baru di pasang di atas pintu kamar rawatan laki-laki itu.
"Lihat lihat.. dugaan kita tepat, jari jari dokter Jones bergerak, dia terpancing mendengar kata kata nona muda hehehe." mata dokter Anton menatap layar monitor dengan seksama.
"Betul betul, untung tuan besar punya ide begitu." ucap dokter penyakit dalam.
"Hmmm kalian juga hebat, sudah pokus pada monitor, jangan sampai kita kecelongan, aku ngak mau nanti Jones malah tambah kenapa napa karna terlalu emosi." Johan berkacak pinggang ikut menyaksikan.
"Semoga harapan kita tercapai bos." ucap Robby yang juga memperhatikan Jones dari layar.
"""""""""
"Shafa.." kata kata gadis itu berhenti karna ia menjatuhkan kertas contekan yang ada di tangannya, lalu ia menunduk untuk
mengambilnya.
Tanpa di sadari oleh gadis itu kalau baju bagian depannya yang panjang terinjak sendiri
olehnya lalu.
Brakkkk .. prangkkk.. terdengar suara keras benturan orang jatuh yang mengenai meja instrumen yang ada di samping Jones, kepala Shafa tanpa sengaja membentur meja itu hingga semua alat medis yang ada di atas meja jatuh berserakan bersama mejanya sehingga menimbulkan suara bising dan gaduh.
"Adduhhh.. Aaaaa huaaaa papa..." teriak gadis itu kencang, ia terjungkal di atas lantai dengan posisi telungkup, kakinya yang belum sembuh dan masih memakai tongkat saat berjalan terbentur pada kaki kursi dan kaki tempat tidur Jones.
Tutt tutt tutt tutt tutt tutt.....
Aahhhh.. suara napas seseorang terdengar keras memenuhi ruangan itu, namun suara itu kalah dan tenggelam saat suara ribut beberapa orang yang masuk kedalam dengan keadaan panik.
" Kakak.. sayang papa kenapa." Johan berlari mendekati putrinya lalu mengangkat
tubuh sang putri.
"Nona muda kenapa." dokter Anton.
"Nona anda tidak apa apa." Robby.
"Cepat periksa putri gua." teriak Johan
memecah keterkejutan semua orang
yang untuk pertama kali melihat wajah
cantik Shafa.
Karna Shafa tadi di layar monitor membelakangi tentu mereka tidak dapat melihat dengan jelas wajah cantik itu, maka saat ada di dalam ruangan dan melihat wajah cantik Shafa mereka semua jadi terpana.
__ADS_1
"Baa baik tuan." dokter syarap.
" Jangan baik saja cepat." Johan berjalan
pelan ke arah pintu, mereka semua
mengabaikan seseorang yang tiba-tiba
terduduk di atas tempat tidur karna ikut
terkejut.
"Mau lu bawa kemana gadis gua, kembalikan
ke sini." teriak orang itu pada Johan
tampa ragu dan takut.
Semua orang kembali terkejut, mereka sama sama memutar tubuhnya ke arah sumber suara tidak ketinggalan dengan Johan ia juga ikut berbalik.
Orang itu menatap semua orang dengan tajam terutama pada Johan, pemilik mata biru itu seperti menghipnotis Johan agar membawa putrinya ke sisi laki-laki itu sesuai perintah.
"Bawa kemari cepat." menunjuk tempat tidurnya yang lumayan luas, ia memberi kode agar Johan meletakkan Shafa di sisinya.
Dengan patuh Johan melakukannya, pelan pelan ia meletakkan tubuh putrinya di samping Jones dengan posisi duduk, Shafa duduk miring ke arah Jones dengan kaki di atas tempat tidur.
Semua orang terdiam menyaksikan Jones yang baru bangkit dari koma, semua orang juga terpana dan terharu sehingga mereka sama sama lupa harus berreaksi apa.
"Sakit Uncle huaa." adu Shafa mengangkat kakinya sebelah ke arah wajah Jones, untung gadis itu selalu memakai celana panjang dari dalam sehingga kaki putihnya tidak terekspos.
"Mana yang sakit gils, mana." tanya Jones dengan wajah cemas dan takut.
Tangannya yang besar itu mengelus kaki Shafa pelan dan lembut bibirnya membentuk setengah kerucut karna berusaha meniup kaki Shafa yang di keluhkan sakit, Jones bahkan mengabaikan selang infus yang terpasang di tangannya.
"Huaaa sakit, huhh hahh." mencontohkan denyut di kakinya dengan mengepal dan melepaskan telapak tangannya.
"Iya ya gils, sabar ya nanti sakitnya hilang hmm, kita obati ya." ucapnya lembut masih meniup niup kaki Shafa ( emang balon Jones ngenes ).
"Henghhhh hiks." mengangguk.
"Uncle.. " teriak Shafa saat sadar Jones bangun di hadapannya dan memegang kakinya.
Ia menarik kakinya, dan meletakkannya di atas tempat tidur, lalu dengan polosnya ia menggeser duduknya kedepan agar dekat dengan Jones.
Tangan kecil itu meraba wajah Jones dengan lembut, bahkan jari jarinya yang lentik dengan jahilnya membuka dan menutup mata Jones berulang kali.
"Kok bilu, matanya kok bilu." cicit gadis itu dengan nada lucu dan bingung, dari kecil Shafa memang terbiasa mengucap kata biru menjadi bilu, ia sendiri tidak bisa merubahnya meski sudah sering di coba dan di usahakan.
"Gils." panggil Jones memegang kedua tangan Shafa di depan dadanya, agar gadis itu berhenti mempermainkan matanya.
"Uncle.." teriaknya lagi.
"Iya .. saya." jawab Jones lembut menatap mata Hajel itu penuh rasa sayang dan cinta.
"Uncle sudah bangun, ? hidup lagi ?." ucapnya menutup mulut, ia baru benar benar sadar kalau laki-laki di hadapannya bangun dan sadar dari komanya.
"Hmmm kamu ya gils, jadi kalau aku ngak bangun kamu akan menikah dengan si Arya itu ?." nada marah dan cemburu.
Shafa mengangguk membuat Jones gemas bercampur kesal, ia lalu menoel hidung mancung gadis itu pelan.
"Hemmm kok kita jadi penonton di sini." Robby menyenggol lengan Johan pelan.
__ADS_1
Johan tersadar, giliran semua orang yang koma dalam keadaan berdiri dan dalam keterkejutan melihat interaksi antara Shafa dan Jones.
"Ehhh papa, papa." teriak Shafa karna terkejut sang papa tiba-tiba mengangkatnya.
"Kaki mu harus segera di periksa kak." ucap Johan dingin, ekor matanya melirik sinis Jones.
"Mau di bawa kemana shafa." protes Jones tidak terima sebab Johan membawa Shafa
dari sisinya.
"Putri gua harus di periksa, dan lu juga harus di periksa, jangan banyak tanya dan jangan banyak gaya kalau lu masih mau bertemu dengan putri gua." kata kata bernada tegas yang di ucapkan Johan membuat Jones membisu.
Laki-laki itu cuma bisa pasrah saat sang calon papa mertu membawa putrinya keluar dari ruangan itu.
"Pantas kak Jones mati matian mengejar nona muda ternyata sangat cantik, gua aja serasa melihat bidadari." oceh Jack.
"Emang lu udah pernah lihat bidadari." Fio adek Jones yang nomor dua.
"Belum sih, tapi gambaran bidadari itu seperti dia waw lah." membayangkan kembali
wajah Shafa.
"Huss jangan menghayalkan milik orang lain, apa lagi milik saudara sendiri." Fio mengetuk
kepala Jack.
"Ihhh dasar usil." mengelus kepalanya.
"Apa yang kalian bicarakan, bukannya memeluk kakaknya malah bergosip seperti mak mak penjual sayur di pasar pagi." marah Jones menatap kedua adiknya.
Jones baru saja selesai di periksa tim ahli, dan mereka mengatakan kalau kondisi Jones sudah jauh lebih baik dan hanya tinggal menunggu masa pemulihan saja.
"Kak, nona Shafa punya kakak atau adik ngak." tanya Jack setelah memeluk sang kak.
"Ada, adeknya juga sangat cantik."
"Oyaa kak, kenalin ya kak yaa yaa." memijit kaki Jones, cari muka.
"Hmmm boleh." senyum Jones.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1