
Jones membiarkan calon papa mertuanya mengurus semua keperluan pernikahnya dan Shafa tapi tidak dengan urusan buku nikah dan persiapan hantaran.
Kalau hantaran Jones sendiri yang akan membelanjakannya, ia ingin membeli segala sesuatu kebutuhan Shafa secara pribadi, karna ia ingin Shafa tau kalau dia akan memperhatikan segala kebutuhan Shafa dari hal kecil hingga
yang lebih lainnya lagi.
Hari ini Jones menjemput Shafa ke rumah besar karna ia akan membawa gadisnya mendaftar kan pernikahan mereka ke kua terdekat, meski Johan sudah meminta Robby mengurus keperluan pernikahan mereka tapi Jones tetap ingin mengurus pendaftaran pernikahan mereka
secara langsung.
Karna Jones ingin menikmati momen momen di mana saat mereka berdua berjalan bersama untuk mengurus buku nikah mereka sendiri tampa harus ada bantuan dari orang lain atau melalui
jalur pintas.
"Kita ke rumah sakit dulu ya sayang, tadi bidan pendamping di ruangan aku nelpon kalau ada pasien yang akan di periksa, sebentar saja ya hmm ngak apa apa kan, kamu ikut saja ke ruangan kerja ku." ucap Jones sambil menggenggam tangan Shafa mesra.
"Henghhhh iya Uncle."
Setelah sampai di rumah sakit Jones lalu membawa calon istrinya itu ke ruangan poli Obgin tempat ia biasa memeriksa pasien pasiennya, mata semua orang memandang Jones dan
Shafa kagum.
Berita pernikahan Jones dengan putri pengusaha Johan Wu sekaligus pemilik rumah sakit itu langsung menyebar luas sejak lamaran nekat yang di lakukan Jones di pesta Arkhan.
Banyak yang kagum akan kenekatan Jones banyak juga yang memandang remeh dan bergosip kalau Jones menikahi Shafa karna harta papanya yang berlimpah ruah, meski berita itu akan sampai pada Jones dia pasti tidak akan perduli karna dia memang sangat mencintai Shafa dengan tulus tampa ada embel embel lainnya.
"Mana pasiennya mbak ida." tanya Jones pada bidan pendamping di ruangannya itu.
"Sudah di ruang pemeriksaan dokter." jawab ida dengan senyum manisnya, mata wanita itu menangkap kehadiran Shafa di sana sontak membuatnya di liputi api cemburu.
Ida bidan senior yang sudah menjadi asisten Jones di ruangan poli itu sudah lama mengagumi Jones tapi Jones tidak pernah menghiraukan wanita itu, dia hanya menganggapnya teman kerja tidak lebih dari itu.
"Ayo masuk sayang." Jones menarik pelan tangan Shafa memasuki ruangannya, kemudian ia meminta Shafa duduk di kursi dekat tempat tidur pemeriksaan.
"Ada keluhan apa mbak, apa yang mbak rasakan." tanya Jones menganamnese pasien.
"Begini dokter saya merasakan sakit pada organ kewanitaan saya, sakit dan banyak keluar darah." keluh pasien wanita itu.
"Sejak kapan sakit dan keluar darah." tanya Jones sambil menulis keluhan pasien di buku status pasien.
"Sejak tadi malam dokter." jawab wanita itu menunduk malu, ia lalu menatap laki-laki yang duduk kaku di sampingnya.
"Baru tadi malam ?." tanya Jones menatap kedua pasangan itu bergantian, kening Jones berkerut saat ia melihat mimik wajah laki-laki yang duduk di sebelah pasien tampak sedih dan merasa bersalah.
"I.. iya dokter." jawab wanita itu terbata.
"Anda berdua pengantin baru ?." Jones.
"Iya dokter." pasien.
"Dan tadi malam malam pertama kalian ?." tanyanya lagi.
"Enghh iya dokter." jawab pasien makin gugup, laki-laki yang duduk di sebelahnya hanya diam tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Jones menarik napas dalam dalam, tiba-tiba ekor matanya menangkap sosok wanita yang duduk tidak jauh darinya, gadis itu menyimak setiap kata kata yang keluar dari mulut mereka meski terlihat duduk dengan tenang tapi gadis itu sedang berpikir keras penyakit apa yang menimpa pasien.
"Deg.. mampus gua, harusnya gua ngak bawa sayang gua kedalam ruangan ini, ashhh bego banget gua, siapa sangka malah dapat pasien seperti ini." gumam Jones dalam hati.
"Silahkan naik ke atas tempat tidur mbak, kita akan periksa asal perdarahannya, apa bisa saya periksa istrinya pak." Jones menatap laki-laki yang sedari tadi duduk mematung, ia meminta izin untuk memeriksa organ kewanitaan pasien pada sang suami.
"Iya dokter, silahkan." jawab suami
pasien pasrah.
__ADS_1
Di bantu oleh asisten Ida, pasien naik ke atas tempat tidur, Jones sudah siap dengan hanscone ( sarung tangan medis ) terpasang di tangannya, tapi lagi lagi ekor matanya menangkap sosok pujaan hati yang duduk diam sambil memainkan Tasbih digital yang terpasang di jari telunjuknya.
"Mbak ida, coba kamu yang lihat, periksa dengan detail sumber perdarahan dan apa ada luka atau iritasi di sana." Jones.
Tiba tiba Jones merasa tatapan mata Shafa berubah padanya, ia takut gadis itu ilfil padahal profesi Jones memang sebagai dokter yang menangani pasien khusus wanita dengan segala keluhan nya.
Asisten ida paham maksud dari atasannya itu ia lalu mendekati pasien dan memasang hanscone sama seperti Jones, Jones kembali duduk di bangku kebesarannya menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan asisten Ida.
"Bagai mana." Jones.
"Ada luka lecet di liang senggama, merah dan ruam dokter." jawab wanita itu.
Hiks.. terdengar suara tangisan pasien wanita setelah ia kembali duduk di depan Jones, suami wanita itu menggenggam tangan istrinya yang berada di atas pahanya.
"Maaf .. " ucap laki-laki itu lirih.
"Kenapa mbak, takut ?." senyum Jones, tapi ekor matanya melirik ke arah calon istrinya.
"Apa bahaya dokter ?." ahirnya suami pasien yang bicara karna sang istri yang masih menangis.
"Tidak apa apa, saya akan resepkan obat, nanti lukanya juga akan membaik kok, itu biasa terjadi pada pasangan pengantin baru." jawabnya kikuk takut Shafa salah persepsi.
"Apa penyebabnya dokter, apa ada sesuatu pada alat kelamin istri saya." tanya laki-laki itu karna takut ada penyakit di organ kewanitaan istrinya.
"Tidak, tidak ada apa apa, maaf sebelumnya kalau saya bilang kesalahan ada pada anda, anda seharusnya lebih hati hati waktu akan melakukan hubungan suami istri apa lagi ini pertama kalinya, di alamai istri anda."
'Maksud dokter." laki-laki itu gusar karna Jones mengatakan yang salah adalah dirinya.
"Iya salah anda, wanita yang pertama kali melakukan hubungan suami istri kondisi alat kelaminnya tentu berbeda beda antara satu dan lainnya, saat anda melakukannya anda terlalu kasar dan keras, sehingga alat kelamin istri anda luka dan iritasi akibat gesekan gesekan yang tidak beraturan kasar dan sembarangan karna itulah penyebab perdarahan pada istri anda."
"Jawaban Jones sebenarnya sudah ada di benak laki-laki itu tapi karna egonya dia malu mengakui nya, Jones yang merasa sedikit tersinggung mendengar kata kata laki-laki itu menjadi ikut marah sehingga suaranya terdengar menekan
dan sedikit kasar."
Sementara itu Shafa yang duduk di kursi tampak seperti patung, ia duduk tegang karna merasa takut dan gamang mendengar riwayat penyakit yang di alami pasien.
Jones memijit kepalanya pelan, setelah menuliskan resep dan menyerahkan pada siami pasien mereka lalu bersiap keluar dari ruang itu.
"Maaf dokter apa masih ada hal lain yang bisa di lakukan agar tidak terjadi lagi perdarahan, atau ada obat khusus." suami pasien.
"Yang perlu di lakukan untuk sementara tunda dulu hubungan suami istri sampai istri anda merasa baikan, saran saya lakukan dengan lembut dan jangan kasar, kalau obat khusus untuk menghindari perdarahan pervagina belum ada, untuk sementara pakai obat itu saja silahkan beli di apotik, lukanya akan segera pulih.
"Baik dokter terimakasih." jawab laki-laki itu lesu karna harus berpuasa setelah malam pertama.
Setelah mereka pergi Jones pun mendekati wanitanya, dengan penuh kasih sayang ia lalu membelai wajah Shafa di balik cadarnya.
"Kenapa sayang, kamu takut hmm."
"Ta..takut apa." pura pura.
"Takut malam pertama." goda Jones.
"Enghhh itu, itu... sakit ya." mata berkaca kaca.
"Hmm ternyata betulan takut." Jones lalu berjongkok di hadapan Shafa, ia lalu menggenggam tangan kecil gadisnya.
"Jangan takut sayang, tidak semuanya begitu, memang awalnya akan sedikit sakit tapi lama lama malah enak dan ketagihan,jangan takut ya aku janji ngak akan kasar kok hmm." makin menggoda Shafa.
Jones menyingkap cadar Shafa hingga wajah merah gadis itu terlihat jelas membuat Jones ingin tertawa terbahak bahak, ternyata Shafa benar benar ketakutan sehingga ujung hijabnya kusut karna di gulung dan remas sendiri olehnya.
"Sudah jangan takut ya, sekarang ayo kita ke kua mereka sudah menunggu kita sayang, sehabis dari kua kita masih harus ke puskesmas."
Jones berdiri lalu menarik pelan tangan Shafa yang terasa dingin, bahkan tubuh gadis itu masih tampak bergetar.
__ADS_1
Jones menghadap Shafa, di genggamnya kedua tangan gadisnya itu mesra, di tatapnya kedua bola mata Shafa dalam dalam di sana jelas masih tampak kekwatiran dan rasa takut.
"Jangan takut dong sayang, semua wanita akan mengalami hal seperti itu, percaya deh ngak akan sakit kok." Jones memberanikan diri memeluk dan membelai punggung Shafa.
"Ta..tapi pasien tadi Uncle.." suara bergetar.
"Itu karna suaminya kasar sayang, baru pertama kali melakukan harus hati hati dan lembut, mungkin karna suaminya ngak sabar dan terlalu bersemangat makanya jadi begitu, aku ngak akan buat kamu gitu kok, jangan takut ya hmm."
Shafa masih diam di dalam pelukan hangat
calon suaminya itu, lama kelamaan Shafa mulai bisa menguasai diri dan mulai tenang.
"Sekarang ayo kita pergi ya."
Shafa mengangguk, dan berlahan Jones melepaskan pelukannya kemudian menggandeng tangan Shafa ke luar ruangan, sesampai di luar Shafa langsung melepaskan tangan Jones karna tidak ingin semua orang melihat ia bergandengan tangan sebelum resmi jadi suami istri.
Tatapan mata asisten Ida memancarkan kemarahan saat melihat Jones yang sangat perhatian dan sangat sayang pada calon istrinya itu, bahkan di depan matanya Jones tadi merayu dan membujuk Shafa sangat mesra.
"Kenapa mbak ida, kok wajahnya sewot gitu." tanya teman kerja Ida.
"Itu dokter tampan dia membawa cewek ke
dalam ruangan pemeriksaan, apa pacarnya ya."
"Loh mbak ida ngak lihat berita ya."
"Berita apa ?."
"Itu calon istri dokter Jones yang ia lamar di
acara pernikahan saudara nona."
"Calon istri ?, nona ? nona apa ? sok banget mau di panggil nona segala." cebik ida marah.
"Loh kamu benar benar ngak tau beritanya ya, ya iya nona, wanita itu nona Shafa putri tuan Johan pemilik rumah sakit ini."
"Hahhh ngak mungkin ?."
"Terserah sih, ngak percaya lihat beritanya
masih biral sampe sekarang."
Ida langsung melakukan pencarian di Internet tentang kebenaran cerita temannya, seketika wajahnya memerah karna terkejut dan shoc ahirnya laki-laki yang ia kagumi dan cintai diam diam melamar gadis yang bahkan putri dari pengusaha sukses Johan Wu.
Sementara itu di tempat lain, setelah urusan pendaftaran pernikahan mereka selesai di kantor kua Jones langsung membawa calon istrinya ke puskesmas untuk mendapatkan bimbingan catin ( calon pengantin ) sebagai syarat yang di tentukan oleh Kua dan negara.
********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.