UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
85. Bukan calon satu satunya.


__ADS_3

Shafa masih memikirkan ocehan Marina di puskesmas tadi, hingga ia sama sekali tidak berselera memakan makanan yang Jones masak. langsung secara khusus untuknya.


"Kenapa sayang, kok melamun, ayo makan dong aku udah masakin khusus buat kamu lo pake bumbu cinta dan kasih sayang."


"Iya Uncle, ini lagi di makan kok." lesu.


"Kenapa ? masih mikirin kata kata dokter Marina tadi ya sayang ?."


"Henghhhh.. Uncle beneran ngak punya


jarum suntik sebesar itu."


Jones tersedak.


"Aduh sayang, ternyata beneran mikirin itu, mana ada jarum suntik sebesar itu sayang, kalau tabungnya ada, tapi aku kan sudah bilang ngak punya kalau sebesar itu, kalau jarum suntik tapi kalau suntik lain aku punya, suntik yang kenyal dan berotot yang bisa membuat kamu nanti merem melek."


"Hahhhh suntik apa itu Uncle ?."


" Ada deh, nanti kamu akan tau kalau kita sudah menikah, sekarang makan nasinya ya, jangan mikirin yang aneh aneh dong."


"Henghhhh beneran ngak punya kan."


"Iya sayang ku, beneran." senyum Jones, namun tetap saja Shafa merasa takut.


Sepulang dari mengurus segala keperluan mereka, Jones mengantar gadisnya kembali ke rumah besar, begitu sampai Shafa langsung pamit ke kamarnya karna ingin istirahat.


"Shafa langsung ke kamar ya Uncle, Shafa


cape." cicitnya.


"Iya sayang, kamu kelihatannya cape banget,


mau aku gendong ke kamar." godanya.


"Uncle.." melotot.


"Sayang ku."


Shafa berjalan pelan ke arah lift di ikuti pandangan Mata Jones sampai sang gadis menghilang di balik pintu lift, hatinya rasa teriris melihat pujaan hati yang gampang lelah dan lemah setelah penyakit yang di alaminya.


"Sabar lah sayang, aku berjanji setelah kita menikah aku akan benar benar memeriksa kamu secara detail, aku sangat mencintaimu gils kamu harus kuat dan sabar." gumam Jones melihat Shafa dari lantai bawah yang hendak memasuki kamarnya.


Sebelum gadis itu menutup pintu kamar ia masih melihat Jones yang mengirimkan kiss dan hatinya pada sang gadis, di balas anggukan dari Shafa kemudian ia pun menutup pintu kamarnya.


Jones kemudian berjalan ke lantai yang sama namun ke ruangan kerja Johan, meski sama sama lantai dua tapi ruangan kerja Johan berbeda jalan dan berbeda tempat.


Jones menerima pesan dari Johan saat mereka duduk berdua dengan Shafa makan siang tadi, Johan meminta Jones menemui di ruangan kerjanya setelah mengantar Shafa pulang.


Tok.. tok.. tok..


Jones mengetuk pintu ruangan kerja calon mertua nya itu dengan nada sedang, dan setelah mendengar suara mempersilahkan masuk barulah laki laki itu masuk.


"Tumben lu mengetuk pintu, biasanya nyelonong saja, ternyata udah tau etika lu ya." cebik Robby yang duduk berseberangan dengan Johan, di samping Johan ada Zahra yang tengah memberikan susu pormula pada baby Wu.

__ADS_1


"Lu itu ya, dari dulu emang gua punya etika, lu aja yang baru sadar nyet, lagian gua masuk keruang kerja papa mertua gua, kalau ngak di ketuk dulu kan ngak sopan." jawabnya.


Jones lalu duduk di depan Johan di samping Robby, sorot matanya menatap Baby Wu dengan tatapan gemas dan greget.


"Jaga mata Lu." ucap Johan dingin.


Sebenarnya Johan tau kalau tatapan mata Jones pada babby Wu , sejenak Johan berpikir kalau Jones pasti sangat suka dengan anak bayi karna memang sewajarnya orang seumuran Jones sudah memiliki anak sekarang.


"Gua cuma melihat adek baby papa." senyum Jones salah tingkah.


Cih.. Johan menatap Jones dingin.


"Robby gua mau bicara dengan Jones lu di sini sebagai saksinya, karna kalau suatu saat kalau Jones berbuat salah dan gua mengambil keputusan lu orang pertama yang akan protes pada gua." menatap Robby juga dingin.


"Maksud lu ?." Robby.


"Lu dengar kan saja sebagai saksi, dan Lu Jones gua mau lu dan gua buat perjanjian."


" Perjanjian apa bos." Jones.


" Gua sudah dengar cerita dan tau konsekuensi tentang penyakit putri gua, Johan menarik napas dalam dalam lalu melepaskannya kasar, tampak beban pikiran dan beban perasaan yang ia salurkan dari helaan napasnya.


"Gua tau bos, tidak usah lanjutkan gua paham kok, dan gua terima konsekuensi apapun itu." jawab Jones yang sudah mengerti arah pembicaraan Johan kemana.


"Ya gua tau lu paham dan mengerti arah pembicaraan gua, lu dokter lu pasti tau itu, tapi gua sebagai orang tua tetap menginginkan yang terbaik bagi putri gua."


"Jangan kwatir bos gua akan menjaga dan melindungi Shafa sampai kapanpun." janji Jones.


"Bukan hanya sekedar menjaga, melindungi tapi lebih dari pada itu." kembali menghela napas berat dari sudut matanya tampak air mata yang


Robby diam, dia tetap setia menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Jones dan Johan, dia belum paham arah pembicaraan kemana karna


itu dia tetap diam.


"Lu sendiri tau kemungkinan penyakit putri gua, dan andai kelak putri gua tidak bisa memberikan lu keturunan , gua mohon dengan sangat kembalikan putri gua baik baik pada kami, jangan lu poligami putri gua, gua tidak akan terima


dunia dan akhirat."


Johan berkata dengan suara berat dan lirih namun masih terdengar jelas oleh mereka yang ada di tempat itu, Jones terkejut dengan kata kata Johan ia tidak menyangka sahabat sekaligus calon mertuanya itu akan berkata demikian.


"Lu berjanji pada gua, andai lu ingin menikah lagi gua tidak akan melarang lu, tapi lu harus melepaskan putri gua, meski suatu saat mungkin lu akan dapat izin dari putri gua tapi lu tidak akan dapat izin dari gua, sampai gua mati gua tidak akan terima lu menyakiti putri gua, karna tidak ada satu orang pun yang bisa adil dan pada akhirnya gua tidak mau putri gua yang akan


menjadi korban."


Johan menunduk dengan air mata yang tidak dapat ia bendung, Jones makin shoc mendengar kata kata Johan.


"Berani lu nyakitin putri gua Jones, sengaja atau tidak sengaja apa lagi putri gua sampai mengadu pada gua maka gua bersumpah seumur hidup lu, lu tidak akan bertemu lagi dengan putri gua, gua akan membuat putri gua melupakan lu apa pun caranya, lu camkan itu." menatap Jones tajam.


"Kenapa sampai kesitu ceritanya bos, segitu ngak percayanya ke gua ?, gua tidak pernah berpikir begitu bos, gua mencintai, menyayangi Shafa dari hati nurani gua yang terdalam, untuk mendapatkan saja gua hampir bolak balik mati, apa semudah itu gua khianati ??." Jones.


"Allah maha membolak balik hati Jones, dan lu hanya manusia biasa lu tau itu." Johan.


"Iya gua tau, tapi percaya pada gua, gua tidak akan pernah meninggalkan Shafa, gua sangat sadar konsekuensinya, tapi yang kita perkirakan belum tentu betul dan terjadi bukan." Jones.

__ADS_1


"Andai terjadi." Johan.


"Pernikahan bukan melulu harus ada anak bos, gua sudah siap andai itu terjadi." Jones.


"Oke gua pegang kata kata Lu." Johan.


"Iya percaya pada gua bos." serius.


"Dokter Jones.. kami tidak pernah memaksakan kehendak kami pada Shafa, kamu adalah pilihannya dari dua orang lainnya yang sudah di kenalkan padanya." tiba tiba Zahra berbicara.


"Dua orang lainnya ?." tanya Jones terkejut.


"Iya .. calon dari ayah dan pamannya, teman kecil Shafa dia merupakan saudara jauh dari ayahnya dan yang satu lagi saudara jauh dari Daddy." jawab Johan jujur.


"Busyet gua bukan calon satu satunya ?." gumam Jones dalam hati.


"Shafa sudah istiqarah selama satu minggu, dan hasilnya tidak ia beritahukan pada kami saat itu namun ia pergi sendiri menemui lu, tapi lu mengira kalau putri gua menolak lu." Johan.


Jones terhenyak, dia duduk menyandar di sopa mewah itu, ia makin terkejut mendengar kata kata Jones dan Zahra.


"Kami menceritakan ini pada kamu agar kamu tau kalau kami tidak memaksa Shafa, dan masalah Shafa suka pada kamu atau tidak kami tidak tau itu karna yang kami tau kalau Shafa cuma menganggap kamu seperti pak Robby,


pamannya." Zahra.


Jones membatu.


"Masalah hati, lu tau sendiri kalau putri gua tidak pernah dekat secara khusus dengan laki-laki yang bukan muhrimnya jadi lu usaha sendi untuk mendapatkannya." Johan.


"Ingat baik baik, kami beritahukan ini agar kamu lebih berhati hati dalam bertindak, Shafa itu masih sangat polos dia tidak tau apa apa, bimbing dia sebagai imam yang baik, tegur ia kalau salah, jangan main tangan, dan kalau kamu sudah merasa tidak bisa membimbingnya maka pulangkan pada kami, dengan tangan terbuka kami akan menerimanya."


Zahra juga ikut menangis, pengalaman rumah tangganya dulu merupakan cambuk terberat dalam hidupnya karna itu ia mewanti wanti Jones sebagai calon suami dari putrinya.


"Jangan kwatir nyonya saya akan menjaga dan menyayangi serta mencintainya sampai ahir hayat saya, hati dan tubuhnya tidak akan pernah menerima luka dari tangan saya atau dari manapun." Jones.


Dalam keadaan shoc Jones menjawab wejangan dari calon mertuanya itu, meski hati Jones terasa sakit karna merasa kurang di percaya tapi dia sadar betul sebagai orang tua adalah merupakan kewajiban mereka untuk memperingatkannya sebelum pernikahan terjadi, karna itulah wujud cinta orang tua pada putrinya.


************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2