
Shafa sudah kembali kuliah, sejak semester tujuh wanita berstatus menikah itu sudah giat di rumah sakit, dia sudah koas di rumah sakit yang sama dengan suaminya bekerja, rumah sakit milik sang papa yang konon sudah di siapkan untuk dirinya dan sang suami.
Jones sendiri sengaja meminta pada pihak universitas agar Shafa di tempatkan di rumah sakit yang sama dan hanya berpindah pindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya.
Apa lagi kalau bukan alasan agar bisa dekat dan bisa mengawasi istrinya, sebab si cowok macho Rendy juga masih giat mendekati sang istri.
Sore itu Shafa sudah selesai jam dinas, Rendy dengan percaya diri menghampiri, dari kejauhan ia sudah menebar senyum termanisnya namun tidak di tanggapi oleh Shafa.
"Hai cantik, apa kabar ?? ngak jumpa dua hari saja udah kangen banget, nih aku bawa in bunga dan snac mau ya." menyodorkan buket bunga mawar dan satu kantong plastik penuh berbagai jajanan yang biasa di beli oleh Shafa.
Laki-laki itu sering melihat Shafa makan makanan jenis itu di taman kampus karna itu dia paham betul makanan kesukaan idola hati.
Shafa tidak ingin menerima pemberian laki-laki itu karna memang tak pantas, tapi karna selalu di sodori Shafa jadi tidak enak hati dia terpaksa menerima pemberian Rendy.
"Mau pulang sekarang, aku antarkan ya ?." bujuk Rendy.
"Maaf kak, Shafa pulang sama kakak kakak saja." menunjuk Niken dan yang lain.
"Kenapa selalu nolak sih, sesekali bareng aku dong kita kan bisa sekalian jalan jalan." rayunya lagi.
"Maaf kak ngak bisa." Shafa.
"Ayolah dek, sekali ini aja." mulai memaksa.
"Lu ngak dengar dek Shafa bilang apa ?." hardik Lila marah.
"Lu semua kenapa sih ganggu aja, sana urus urusan lu, gaya bodyguar dek Shafa saja lu semua." ikut marah.
"Iya .. kami memang bodyguar dek Shafa lu mau apa ?." Niken.
"Cihh.. gua ngak perduli, lu mau bodyguar mau babu mau teman, gua ngak masalah." Rendy.
"Buat lu ngak masalah, tapi bagi kami masalah, jangan ganggu dek Shafa atau .." Lila.
"Kak Lila, udah ah.. ayo kita pergi saja." Shafa.
"Tunggu dek, jangan pergi dong kita belum selesai, ayo lah ikut aku ya." Rendy tetap ngotot, ia ingin meraih tangan Shafa tapi dengan cepat di tepis oleh Niken.
"Jangan sentuh." marah Niken.
"Ahhh lu ya." makin marah.
Dari kejauhan seseorang tampak menahan amarah, laki-laki itu berkali kali menarik napas dalam dalam berusaha mengendalikan diri, kedua tangannya mengepal kuat, giginya terdengar gemerutuk.
"Kenapa lu." sapa seseorang.
Suara yang tidak asing itu mengejutkan Jones, dia langsung membalikkan badan memastikan pemilik suara tersebut.
"Lu ?." Jones.
"Gua.. dasar menantu sialan." bentak Johan dengan suara tertahan.
"Sory gua kaget." Jones.
"Kenapa lu ?, cemburu ? putri gua memang cantik wajar aja banyak yang suka." bangga.
Jones makin emosi.
"Putri lu teramat cantik, tapi lu harus ingat putri lu bukan gadis lagi, statusnya sudah punya suami dan lu tau suaminya siapa kan." makin marah.
"Gua taulah, tapi laki-laki itu lumayan juga, hahhh kenapa ngak dari dulu aja deketin putri gua, kali aja putri gua juga suka." memanasi.
"Sialan lu, dasar mertua ngak punya hati." umpat Jones.
"Gua punya hatilah, kalau gua ngak punya hati gua ngak akan nikahkan putri gua dengan lu." balas marah.
"Hati apa.?, dasar." berbalik badan kembali memantau Shafa dan yang lain.
"Kalau lu cemburu sana mendekat, jangan ngepal tangan di sini, mau ninju siapa lu, tembok ?." ejek Johan.
"Lu ya, asal aja kalau ngomong, lu tau sendiri peraturan istri gua, mau kena marah gua apa." balas Jones dengan pandangan masih tertuju ke arah sang istri.
"Lah.. lu takut putri gua." makin mengejek.
"Lu sendiri takutkan sama mama mertua, cih.. sok hebat lu." balik mengejek.
"Siapa bilang ?." Johan.
"Gua yang bilang, dan orang orang juga tau itu, jangan sok hebat, bilang aja lu juga takut istri." Jones.
"Yahh takut ngak takut." Johan menggaruk garuk kepala.
Cih..
Johan ikut mengawasi, sebenarnya dia juga tidak suka Rendy mendekati putrinya, bukan karna status Shafa saja tapi lebih dari pada itu, dia sudah menyelidiki Rendy, laki-laki itu adalah putra rekan bisnisnya yang juga pernah menyukai Zahra nah sekarang malah mendekati putrinya.
"Cepat lu suruh pengawal lu mengusir laki-laki brengsek itu, jangan sampe gua naik darah." mata masih melotot ke depan.
"Lah bukannya dari tadi lu udah naik darah." kekeh Johan makin mengejek.
"Plis papa mertua, lu mau ya gua di sentil pake kata kata mutiara sama istri gua, lu pikir gua mau di sentil sendiri ?, gua pasti bawa bawa nama lu, karna lu juga ikutan di sini." ancam Jones.
"Sialan lu." menoyor kepala Jones.
"Papa mertua jahannam." umpat Jones dalam hati karna sang mertua menoyor kepalanya lumayan kuat.
Tiga laki-laki tinggi besar dengan baju serba hitam dan kaca mata hitam datang menghampiri lima orang itu setelah di hubungi oleh Johan.
"Maaf nyonya muda, tuan muda dan tuan besar menunggu di mobil." ucap salah seorang di antara mereka dengan kata kata sopan dan menunduk hormat.
Kelimanya sama sama terkesiap, tidak terkecuali Rendy, di tatapnya ketiga pengawal itu dengan tatapan bingung, lalu ia beralih menatap Shafa meminta penjelasan.
"Maksudnya apa ini dek ?." tanya Rendy bingung.
"Lu udah dengar kan, nah lu sudah tau kalau nyonya Shafa majikan kami, dan kami memang boleh nyonya Shafa sekarang jangan dekati majikan kami lagi." Nisa.
__ADS_1
"Lelucon apa ini." makin bingung.
"Maaf kak, Shafa pamit dulu." berjalan di susul bodyguar wanita sementara bodyguar pria menghalangi Rendy yang ingin mengejar Shafa.
"Sialan lu semua, cepat menyingkir." marah Rendy.
"Jangan ganggu majikan kami kalau tidak ingin celaka." ancam bodyguar satu.
"Cihh.. lu semua ngak tau siapa gua hahh, lu cari mati berurusan sama keluarga gua." bentak Rendy.
"Lu anak pak Morgan dari perusahaan Xx, tentu kami tau siapa lu karna kami sudah lama mengawasi lu, lu yang harus hati hati kalau sampai mengganggu keluarga kings grup." ucap bodyguar tiga.
"Apa kings grup ?, ada hubungan apa Shafa dengan keluarga itu." tanya Rendy makin bingung karna setaunya Shafa adalah putri seorang pedagang kue.
"Lu tidak perlu tau, yang jelas jauhi majikan kami." jawab bodyguar dua, lalu mereka berjalan menjauh meninggalkan Rendy setelah yakin nyonya muda mereka sudah jauh dari jangkauan.
"Siapa lu sebenarnya Shafa, gua malah makin penasaran ?." senyum Rendy.
"Papa ...Aa ... kenapa menyuruh om bodyguar mengusir kak Rendy dengan cara begitu ??, Shafa kan malu." marah Shafa setelah mereka tiba di parkiran.
"Anak perempuan papa yang cantik, jangan salah kan papa dong, papa di ancam suami bucin kakak kok, papa mah bisa apa ?." jawab Johan membela diri.
"Ancam apa sih, lu yang suka rela menyuruh bodyguar lu buat usir mereka." jawab Jones cuci tangan.
"Sialan lu ya, lu yang minta gua usir laki-laki itu malah lu cuci tangan huhhh, tidak tau terima kasih." Johan.
Jones kebingungan mau jawab apa, dia jadi salah tingkah pasti sampai apartemen dia akan di omeli sang istri panjang lebar, sejak pulang dari kampung bibi Jones memang membawa Shafa kembali ke apartemennya karna ingin berdua saja.
"Sudah lah, papa ngapain di sini." berkata lembut pada sang papa.
"Papa lagi meeting, sekaligus memeriksa keuangan rumah sakit ini, kakak sih ngak perduli, lihat papa jadi mondar mandir kan, harusnya kakak yang urus bukan papa lagi, atau suruh suami kakak ini yang ambil alih." Johan.
"Loh.. kok gua ?." Jones.
"Lalu siapa lagi, emang putri gua punya suami lain hahhh." marah Johan.
"Astagfirullah papa." Shafa.
"Astagfirullah papa mertua, gua suami putri lu yang paling ganteng sedunia." Jones.
"Uwekkkk.. muntah gua." Johan.
"Yaa Allah, kapan akurnya sih Aa sama papa." menepuk jidad pelan.
"Makanya lu harus mau ambil alih rumah sakit ini kalau ngak .." Johan.
"Apa..?".Jones.
"Kalau ngak, gua akan sibukkan putri gua untuk urusin ini." cebik Johan.
Hahhhh ..
"Lu ngak bisa gitu dong, istri gua masih perlu belajar." Jones.
"Nah kalau gitu lu yang urus, papa pulang duluan ya gils, ahir minggu jangan lupa pulang ke rumah oke." senyum Johan.
Hahahahaha
Johan berlalu meninggalkan suara tawanya di antara pasangan suami istri itu, sementara Shafa sudah berada di dalam mobil Jones masih saja mengomel.
"Aa.. mau pulang ngak." membuka kaca mobil.
"Ehhh iya sayang." berlari kearah kemudi.
Duduk di depan kemudi tapi tidak kunjung memutar kunci kontak, Jones memutar duduknya learah samping di mana Shafa duduk.
"Senang dong dapat bunga sama jajan, seperti Aa ngak sanggup beli buat dede, mana di terima lagi." menatap Shafa dalam dalam dengan rasa cemburu yang tidak kalah dalam.
"Aa tau sendiri Shafa tidak suka di beri orang lain, tapi.karna kak Rendy terus maksa dan biar pembicaraan cepat selesai Shafa terpaksa terima, lagian Shafa kan kasih ke kak Niken dan yang lain." jawab Shafa tenang.
"Ohh gitu ya hhhmm, ya deh Aa apalah.., cuma suami rahasia." pura pura sedih.
Shafa tidak perduli wanita cantik itu tetap pokus pada handphone di tangannya, sementara itu Rendy yang di tinggal pergi berusaha mencari keberadaan Shafa namun tidak ada hasil.
"Sialan .. siapa sih lu sebenarnya, mengapa mereka memanggil lu nyonya, bukannya nyonya itu panggilan untuk wanita berstatus menikah sedang nona untuk yang masih lajang, ahhh tidak mungkin lu udah nikah, mereka pasti salah panggil, dan apa benar mereka bodyguar lu, uszhhh pusing gua, gua harus cari tau siapa lu sebenarnya."
Rendy ahirnya meninggalkan rumah sakit itu dengan pikiran kacau.
*********
Ahir minggu Jones membawa Shafa kerumah mama Dara sebelum ke rumah besar, rumah mertuanya, Jones sama sekali tidak berniat menginap di sana, jangankan menginap tinggal satu jam saja Jones sudah gerah mendengar pertanyaan pertanyaan mamanya yang selalu membuat Shafa tersidut setiap kali berkunjung.
"Kok belum hamil juga, mama sudah kepengen cucu, istri kamu kok di manja banget." dan hal hal lain yang selalu membuat Shafa bersedih setiap pulang dari sana.
Bahkan kali ini mama Dara terang terangan meminta Jones menikah lagi, dengan wanita pilihannya di hadapan Shafa.
"Kamu kan wanita sholehah, kamu harus iklas dan kasih izin suami kamu nikah lagi, kalian sudah menikah hampir dua tahun, tapi sampe sekarang kamu ngak bi sa ngasih aku cucu, berarti kamu mandul." ucap mama Dara tampa perasaan.
Untuk pertama kali Shafa mendengarnya secara langsung dari mama mertua, tentu saja Shafa menjadi shoc, tubuhnya menjadi kaku, diam membisu kata kata yang keluar dari mulut mama Dara benar benar menyakitkan.
Bagai di sambar petir, Shafa dan Jones sama sama shoc, hal yang paling ia takutkan terjadi juga, Jones paling takut kalau berjumpa dengan mama Dara sang mama akan mengatakan itu di depan istri dan langgeng pada istrinya.
"Mama ngomong apa sih, kan aku sudah bilang kalau kami KB kenapa mama gitu sih, ma.. apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah menuruti kemauan mama sampai matipun tidak, istri ku segalanya buatku." ucap Jones dengan suara sedikit keras.
"Aa.. jangan gitu suaranya." lirih Shafa menatap suaminya.
"Apa salahnya sih, kalian kan tidak bercerai, kamu hanya perlu menambah istri." mama Dara.
"Ma.. apa mama bilang ? menambah istri ? memang wanita itu apa ?, barang mainan ? mama lupa kalau mama juga wanita ??, tolong jangan bilang begitu lagi ma, aku tidak ingin durhaka pada mama, aku sangat mencintai istri ku ma, dan aku tidak ingin ada yang lain di antara kami."
"Baik.. kalau begitu mama tunggu dalam tiga bulan ini, kalau memang kalian berKB lepaskan KB nya mama mau cucu secepat kalau tidak k amu harus menikah dengan pilihan mama."
"Tidak.. istri ku masih kuliah, mama tidak boleh mengatur hidup kami, kalau mama mau cucu minta pada anak mamaainnya."
" Mama mau dari mu."
__ADS_1
"Aku tidak perduli, aku menyesal bawa istri ku kemari, setiap kemari itu selalu yang mama tanya
umur istri ku saja belum genap dua puluh tahun, aku masih ingin berdua saja dengan istri, ayo sayang kita pulang, kita sudah janji dengan papa dan mama pulang ke sana, di sini buat sesak saja." meraih tangan Shafa lalu membawanya berjalan menuju pintu.
"Mama tidak mau tau pokoknya, mama tunggu kabar kehamilan istri mu dalam tiga bulan ini, kamu juga sebagai istri yang baik.dan taat kamu harus memberi jalan pada suami mu untuk menikah lagi, kamu ngak boleh egois." teriak mama Dara sebelum pasangan suami istri itu benar benar keluar dari dalam rumah.
"Jangan dengarkan mama sayang, Aa benar benar hanya ingin kita berdua, Aa belum siap punya anak
karna Aa masih ingin mesra mesraan dengan sayang." mencium bibir Shafa sekilas.
Shafa diam membisu.
"Sayang, jangan melamun dong, nanti Aa silap nih kita di dalam mobil loh." senyum Jones.
Dia tau betul hati istri nya terluka, bukan hanya sekali mama dara menanyakan kehamilan pada Shafa tapi setiap bertemu, cuma baru kali ini mama Dara mengatakan agar Jones berpoligami di depan Shafa.
"Aa.. apa benar Shafa ngak bisa hamil, atau jangan jangan waktu operasi dulu rahim Shafa yang Aa angkat." pertanyaan berulang yang sering Shafa tanyakan setiap sang mama mertua minta cucu, tapi Jones punya seribu satu alasan untuk menenangkan sang istri.
"Astagfirullah yangk, Aa kan sudah sering bilang bukan rahim istri Aa tapi Meomnya, atau kita kerumah sakit aja, ahh tidak ke praktek saja biar kita lihat apa rahim dede masih ada atau tidak." Jones langsung membelokkan mobil ke arah lain menuju praktek mandiri yang ia miliki.
"Kita kemana A."
"Ke praktek, biar dede di USG."
"Loh.. tapi Aa kita mau ke rumah mama, Shafa udah lapar."
"Kita tetap kerumah mama yank, tapi kita USG dulu, abis itu kita makan di restoran, lagian USG juga cuma sebentar, dari pada dede bolak balik tanya rahim dede dan curiga Aa angkat mending cek aja sekalian."
"Emhhhh iya Aa."
Tak lama kemudian mereka sampai di halaman praktek mandiri Jones, setelah membuka pintu untuk sang istri Jones membawa Shafa masuk kedalam ruangan praktek yang sudah di bukakan oleh sang asisten yang memang tinggal
di tempat itu.
Pemeriksaan Shafa berjalan cepat karna Shafa yang sudah memang kelaparan dan belum sempat makan siang sebelum ke rumah mama Dara.
Setelah mencetak hasil USG Jones kembali membawa Shafa ke mobil dan membawa sang istri ke restoran terdekat.
"Gimana ? masih ragu sama Aa, masa Aa bohong sama istri tercinta sih."
"Tapi kenapa Shafa ngak hamil Aa."
"Dede mau hamil ? dede udah siap hmmm."
"Ya.. karna mama mau kita punya bayi."
"Jangan karna mama yank, karna kita inginkan, yang buat kita yang lahirkan dede yang jaga kita yang rawat kita, harusnya kita yang harus siap dulu yank."
"Tapi Aa."
"Sekarang Aa tanya dede udah siap punya bayi ?."
"Enghhhh ya Aa."
"Tapi Aa belum siap gimana dong."
"Kenapa."
"Aa masih ingin berdua saja dengan sayang, Aa masih ingin mesra mesra an terus dengan sayang kalau sudah punya anak dede pasti ngak perduli lagi pada Aa, Aa kan sedih jadinya."
"Tapi mama Aa."
"Biarkan saja sayang, mama masih punya anak lain bukan cuma Aa, jadi buat Aa ngak masalah
Lagian hidup hidup kita, kapan kita siap punya anak nanti kita cetak, sekarang buat aja dulu tapi ngak usah jadikan." tawa Jones.
"Cetak ??."
Hmmm
"Emang mau buat apa Aa, selebaran apa." geruru Shafa.
'Hahaha, ya udah ayo turun yank, katanya udah lapar." membuka sapetybelt Shafa.
"Aa.. emang kita KB ?, kb apa kok Shafa ngak tau dulu Aa pake karet sekarang kan ngak ??." menyebutkan alat kontra sepsi berbahan jenis karet untuk pria ( kon**m ).
Jones tersentak.
"Dede kan ngak tau Aa punya cara lain." tersenyum membuang kegugupan.
Memang sudah lama Jones tidak memakai alat itu karna rahim Shafa sudah bisa di buahi, sejak operasi Jones sengaja memakai kontra sepsi untuk menjaga kemungkinan sang istri hamil.
Tapi setelah yakin kondisi istri sudah bisa hamil Jones tidak lagi memakai alat itu karna menurut nya terlalu ribet dan kurang nikmat karna ngak kontak langsung dengan miliknya.
"O ya .. cara apa Aa." bingung.
"Nanti malam Aa praktekkan biar dede percaya." senyum menggoda.
"Ishhhhh.. apa sih."
"Ada deh na..na..na..na..naa." kekehnya menggandeng tangan Shafa mesra masuk kedalam restoran mewah itu.
*********
Minta dukungan nya dong All..
LIKE
RATE
VOTE
HADIAH
KOMEN YANG BANYAK
__ADS_1
Wo Ai Ni..
HAPPY READING CINTAH..