UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
142. Kangen.


__ADS_3

Axton mengeluarkan dompet kulitnya lalu mengambil sebuah photo berukuran kecil dari dalamnya, sejenak dia menatap photo itu sedih photo yang masih terlihat baik dan baru karna di rawat.


"Ini satu satunya photo istri Daddy yang Daddy punya, namanya Dara angraini." Axton menyerahkan photo itu pada Shafa.


Deg..


Belum sempat melihat photonya tangan Shafa sudah bergetar dan jantung nya ikut berdebar dengan hanya mendengar nama itu di sebut oleh Axton.


Bukan hanya Shafa yang terkejut, Naya, Niken dan kedua Wanita lainnya tak kalah terkejut


Shafa memperhatikan wajah wanita muda yang ada di photo, tidak salah wajah mama Dara waktu muda cantik dan menawan.


"Mama.." gumamnya.


"Mama ??." Axton.


"Maksud Shafa Mommy hehehe." tawa kecil wanita itu menahan gugupnya.


"Yaa Allah dunia ini begitu sempit, tidak di sangka Shafa bisa bertemu papa mertua Shafa di sini ya Allah, andai Aa tau, Aa.., apa udah lupa ke Shafa ?, Aa ngak sayang lagi ke Shafa ya, Shafa sekarang ketemu sama Daddy Aa, Daddy Aa sangat baik, Daddy sangat mirip dengan Aa." gumam Shafa dalam hati.


Mendadak raut wajah Shafa berubah sendu, wanita itu menunduk sedih, lagi lagi bayangan suami yang sangat memanjakannya itu berlari lari di pelupuk matanya.


"Bagai mana nasib mama Dara sekarang ya, apa papa juga akan menghukumnya, apa salah Shafa pada mama sehingga mama sangat membenci Shafa ya, Shafa merasa ngak pernah menyinggung perasaan mama, hahhh semoga papa ngak dendam pada mama Dara." gumam wanita itu lagi.


Tentu saja perubahan sikap Shafa bisa di tangkap oleh Axton, dia bingung mengapa wanita itu mendadak berubah sedih.


"Pantas saja Shafa nyaman dan tenang saat pertama jumpa sampai sekarang dengan Daddy Shafa ngak takut meski baru kenal, Shafa percaya kalau Daddy orang baik, ternyata karna Daddy, ayah kandung Aa, grandpa kembar anak Shafa." lirih Shafa dalam hati.


"Kenapa Bee.., kok melamun hmm."


"Shafa kangen mama, papa dan adek adek Daddy, tapi Shafa belum bisa pulang." jawabnya sedih, meski sebenarnya bukan itu saja yang membuat dia bersedih, mengingat suaminya adalah yang paling membuatnya sedih.


"Kenapa belum bisa, ahh lagi pula jangan pulang dulu dong, nanti Daddy kesepian, kalau bisa jangan pulang lagi deh." candanya.


"Mana bisa Daddy, Shafa kan punya keluarga juga."jawabnya manyun.


"Daddy keluarga Shafa juga kan ?."


"Iya tapi kan Daddy masih ada keluarga lainnya, nanti kalau papa sudah izinkan Shafa pulang Shafa akan sering kemari kalau Daddy ngak keberatan."


"Mana mungkin Daddy keberatan, Daddy malah senang, kan Daddy sudah bilang tadi kalau bisa jangan pulang lagi."


"Masa ngak pulang Daddy.."


"Iya .. Daddy sangat senang kalau Shafa mau tinggal di sini dengan Daddy."


"Shafa janji sering berkunjung kalau Shafa sudah pulang Daddy." senyum Shafa.


"Baiklah kalau itu harus terjadi, Daddy harus apa." jawab Axton sedih, sedih bukan pura pura tapi memang sedih betulan.


"Maaf Daddy, jangan sedih dong." Shafa tau percis kalau laki-laki itu memang sedih.


Hari itu mereka menghabiskan waktu di Perkebunan, berbincang sepuasnya sampai waktu ashar menjelang mereka baru kembali ke mansion.


Hari hari berlalu penuh kebahagiaan, Shafa sedikit banyaknya bisa melupakan kesedihannya karna harus berjauhan dengan Jones dan semua keluarga, walau bagai manapun Jones tetaplah suaminya, meski salah di hati Shafa tetap memaafkan.


Penghalang terbesar di antara mereka adalah sang papa , bahkan Johan sudah mengajukan surat cerai atas nama Shafa di pengadilan agama.


Meski awalnya Shafa tidak mau tanda tangan tapi karna takut sang papa menghukum Jones tanpa pikir panjang wanita itu terpaksa tanda tangan.


Hampir dua minggu tinggal di mansion Axton, setiap hari Axton selalu menghabiskan waktunya bersama Shafa dan yang lain.


Tapi hari itu seharian Axton berada di luar karna ada tamu kehormatan yang datang berkunjung ke mansion utama, mansion yang di tempati seluruh keluarganya termasuk mamanya yang sudah ujur dan berumur lebih tujuh puluh tahun.


Seharian Shafa jadi uring uringan karna tidak melihat Axton, dari siang dia tidak mau makan apapun, kalau sarapan pagi Axton masih menyempatkan diri memasaknya tapi karna Axton di luar seharian laki-laki itu tidak ingat dengan makanan kesukaan Shafa.


Naya dan yang lain ikut uring uringan, mereka tidak tau bagai mana cara membujuk Shafa bahkan mereka tidak tau bagai mana cara menghubungi Axton untuk sekedar memberi informasi tentang Shafa.


Para pelayan juga bingung bagai mana cara menghubungi Axton karna ia berada di mansion utama tidak akan bisa berhubungan dengan dunia luar sebelum acara selesai.


Meski di sana Axton selalu di dampingi oleh asisten atau pengawal pengawalnya tapi mereka juga tidak berani menggangu laki-laki itu.


"Makan ya dek, kakak siapin ya."


"Ngak kak, Shafa ngak mau, Shafa mau nasi goreng buatan Daddy hiks hiks.." tangis nya makin jadi, sudah hampir dua jam Shafa menangis membuat hidung dan matanya memerah, bahkan wajahnya sudah sembab.


"Tapi Daddy belum pulang dek, makan ini aja ya."


bujuk Naya lagi.


"Shafa ngak makan kak, Shafa ngak lapar hiks Daddy mana kok ngak pulang pulang, hiks Daddy jahat kayak Aa hiks hiks."


"Jangan gitu dong dek, Daddy kan ada urusan, sekarang makan ya, kasian dedek bayinya pasti lapar, adek ngak kasian ya sama anak anak yang di dalam sini."

__ADS_1


"Enghhhh.. ya kak, Shafa mau makan, tapi kak Niken telepon Aa dulu, kalau Shafa udah dengar suara Aa, dan Aa baik baik saja Shafa baru mau makan." ancam Shafa.


"Tapi nyonya.." Niken.


"Shafa ngak mau makan." Shafa menyilangkan tangannya di depan dada lalu membuang muka sembarang arah.


"Nyonya, nanti tuan besar tau, bahaya."


"Shafa yang tanggung jawab, lagian Shafa cuma mau dengar suara Aa kok, Shafa ngak akan ngomong, Shafa janji, Shafa juga masih marah sama Aa."


Setelah berdebat cukup lama ahirnya Niken mengalah, Niken mencoba menghubungi Jones perbedaan waktu antara Indonesia dengan negara tempat mereka tinggal sekarang adalah tujuh jam.


Niken menggunakan nomor baru saat menghubungi Jones, saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan malam, berarti di Indonesia pukul empat dini hari.


Tut..tut..tut..tut..


Dua kali panggilan telepon ahirnya di angkat, terdengar suara barithon seseorang dari seberang sana, suara berat dan serak bahkan terdengar seperti orang yang baru menangis.


"Hallo .., Assalamualaikum, siapa ini."


"Hallo.."


"Hallo, jangan bercanda, lu ngak tau ini jam berapa hahh.." nada marah laki-laki itu, tapi masih dengan intonasi pelan.


Tetap tidak ada jawaban.


"Hallo.." suara itu makin serak dan berat, sepertinya dia sadar sesuatu.


"Sayang..., istriku...sayangku." teriak Jones spontan.


"Sayang..sayang, bicaralah Aa mohon yank, Aa kangen yank, Aa yakin ini pasti istri Aa kan, Aa mohon bicaralah." suara lemah dan berat.


"Sayang.., Aa mohon yank, jangan buat Aa benar benar gila yank, Aa ngak bisa begini, Aa tau dede yang ada di sana, katakan dede di mana, Aa jemput sekarang, yank..jangan siksa Aa terus menerus, Aa salah ,salah Aa minta maaf yank, tolong maafkan Aa." laki-laki itu ahirnya menangis.


"Sayang..tolong maafkan Aa, semua salah Aa, ampun yank, maafkan Aa, tolong katakan dede di mana, Aa jemput sekarang." makin menangis.


"Yank.. Aa sangat cinta, Aa sangat sayang dede,tolong yank bicaralah, yank..Aa mohon, Aa ngak bisa tampa dede, Aa benar benar akan gila yank." tetap tidak ada jawaban.


"Niken aku tau kau ada di sana, tolong serahkan handphone ini pada istri ku, tolong lah ku mohon Jangan pisahkan aku dngan istri ku, aku tau kalian marah dan benci padaku, aku salah salah, maafkan aku, tolong katakan kalian di mana."


Tetap tidak ada jawaban, namun sayup sayup terdengar oleh telinga Jones suara isak tangis seorang wanita meski pelan dan dia yakin itu istrinya Shafa.


"Istri Aa, bicaralah yank, Aa mohon, Aa minta maaf semua salah Aa, Aa janji tidak akan menguranginya lagi, Aa mohon yank, cuma dede satu satunya wanita dalam hidup Aa sampai Aa mati, tolong yank, katakan dede di mana biar Aa jemput, Aa butuh dede, Aa juga butuh anak anak kita, ingat yank dede sedang hamil, kita harus tetap bersama demi kita demi anak anak kita yank." suara Jones makin lemah.


Tetap tidak ada suara, isak tangis masih terdengar di telinga Jones, dia yakin dan sangat yakin itu istrinya.


"Yank.." panggil Jones.


Klik.. handphone di matikan sepihak.


Hiks..hiks..hiks..


Shafa menangis sejadi jadinya, Naya Niken dan yang lain terus saja membujuk agar wanita cantik itu berhenti menangis.


"Udah dong nangis nya dek, tadi katanya mau makan kalau sudah dengar suara Aanya."


Hiks..hiks..


Bukannya berhenti menangis malah tangisan Shafa semakin jadi dan semakin kencang, keempat wanita ahirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan Shafa menangis sampai ia lelah.


Sementara itu Axton yang sedang dalam perjalanan pulang tertegun di kursinya mendengar suara di handphonenya, laki-laki itu meminta anak buahnya memasang penyadap di kamar Shafa tanpa sepengetahuan penghuni kamar.


Karna itu ia bisa mendengar apa yang di bicarakan oleh Shafa dan yang lain di dalam kamar, Axton sengaja tidak memasang Cctv karna terlalu prifat.


"Ahhh mengapa hatiku sangat sakit mendengar suara laki-laki itu, apa sebenarnya yang terjadi, kesalahan apa yang di lakukan laki-laki itu pada mu Bee, mengapa kalain berjauhan begini."


Axton bicara sendiri sambil mendengarkan rekaman suara yang terhubung langsung ke handphonenya.


"Ace.." Axton.


"Yes Sir .." jawab Ace sang asisten.


"Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Shafa, siapa dia sebenarnya ?."


" Sorry Mister sampai sekarang kami belum mendapatkan informasi apa pun tentang wanita itu." jawab Ace hormat, laki-laki itu duduk di depan di samping supir.


"Wanita, Shafa putriku Ace.."


"Ahh ya maaf tuan, maksudnya Princess Shafa."


Jawab Ace gugup.


"Kenapa sulit sekali mendapatkan informasi tentangnya, apa aku membayar kalian untuk menjadi bodoh begini, aku tidak mau tau cepat selidiki dan cari informasi tentangnya."

__ADS_1


"Baik sir.." Ace.


Mobil sudah masuk ke halaman mansion mewah itu, Axton langsung keluar, dia sudah tau dari asistennya dan kepala pelayan kalau dari siang Shafa tidak makan dan mencarinya.


Axton sangat menyesal dan merasa bersalah karna tidak menghubungi putri angkatnya itu, sehingga ia berjalan cepat masuk kedalam mansion.


"Good night sir.., maaf saya mengganggu." Lila langsung berdiri begitu melihat Axton masuk.


"Night.. ada apa ." berhenti melangkah.


"Maaf sir.. nyonya muda, dari siang belum makan." adu Lila.


"Iya.. aku sudah tau, asisten ku yang bilang, kenapa tidak menghubungi ku dari tadi." suara tegas Arkhan membuat lila dan para pelayan bergidik.


"Aku tidak mau ini terulang lagi, kalau sampai terulang aku akan menghukum kalian semua, dan kalain tau bagai mana caraku menghukum orang yang salah kan." menatap tajam pada para pelayan dan asistennya.


"Iya tuan.., kami mohon maaf." asisten.


"Kalian.., bantu aku di dapur, dan kamu segera siapkan susu untuk putri ku." titah Axton pada para pelayan dan Lila.


Tanpa di minta dua kali mereka langsung mengikuti langkah Axton menuju dapur, tidak sampai tiga puluh menit nasi goreng, salad buah dan sayur sudah ada di atas nampan dan di bawa langsung oleh Axton menuju kamar Shafa.


"Assalamualaikum.., hai Bee.. maaf Daddy terlambat pulang." Axton yang sudah biasa masuk kamar Shafa tertegun mendengar suara tangis Shafa yang belum berhenti juga sedari tadi, suara tangis itu terdengar pilu.


"Bee.. kenapa." panggil Axton berjalan cepat ke arah Shafa yang duduk menyandar di headboard tempat tidur.


"Dad..Daddy.. huaaaa.. Daddy.. huaaa.. Aa.. Aa jahat Daddy huaaaaa." tangis Shafa pecah melihat ayah mertuanya datang.


"Kenapa Bee, ada apa ?? ada yang mengganggu dan menyakiti mu, si Aa itu hmm." meletakkan nampan di atas nakas lalu duduk di sisi tempat tidur.


"Hiks..sakit Daddy, ini sakit tangan ini, kaki ini sakit Daddy hiks papa mama..hiks sakit." keluhnya menunjuk tangan kanan,kiri kaki kanan dan kaki kirinya.


Axton paham yang sakit itu sebenarnya bukan kaki atau pun tangannya tapi lebih dari itu yakni hatinya, Axton menatap iba wanita yang memanggilnya Daddy itu.


Hati dan jiwanya terasa sakit mendengar dan melihat Shafa menangis, meski dia laki-laki berumur dia belum pernah menghadapi situasi seperti ini hingga ia tidak tau harus apa.


"Boleh Daddy pijit tangan atau kakinya Bee." ucap Axton dengan hati teriris, dia benar benar bingung harus apa.


"Suapin aja, Shafa mau makan Daddy." pintanya masih terisak, bola matanya yang indah melirik nasi goreng, salad buah dan sayur secangkir susu dan satu gelas besar air putih hangat di atas meja.


Axton dan semua orang di ruangan itu terperanjat mendengar permintaan Shafa, harusnya lagi nangis mood seseorang pasti buruk dan tidak nafsu makan namun demi nasi goreng buatan Daddy Axton Shafa lupa dengan tangis dan sakit di kaki serta tangan yang di keluhkannya.


Laki-laki paruh baya itu ingin tertawa namun di tahannya keras karna takut sang Princess tersinggung dan ngambek.


"Makan ??, Shafa mau makan Bee ?."


"Henghh ..ya Daddy." mengganguk sambil menyeka air mata yang masih saja keluar.


"Oke .. Daddy suapi tapi jangan nangis lagi ya Bee, hati Daddy sakit melihat air matamu itu."


"Iya Daddy.." berusaha menahan tangisnya tapi masih juga meluncur.


Axton menyuapi Shafa seperti menyuapi anak kecil yang bertingkah kalau lagi makan, bagai mana tidak sambil makan sambil nangis, mau marah takut ngambek di bilangin tetap nangis.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



Maaf karna aku lupa yang komen duluan yang mana jadi pulsanya aku bagi rata aja ya


25 / orang Chat aku ya say


πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜πŸ₯°


pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸͺ΄ LIKE


πŸͺ΄ RATE


πŸͺ΄ VOTE


πŸͺ΄ HADIAH yang banyak


πŸͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2