
Shafa meraih tubuh Janeet ingin menggendong sang adik yang sudah puas menciuminya.setelah Shafa menutup wajahnya dengan cadar kembali tentunya.
Brukk..
Hahahhahaha tawa Janeet dan Shafa bersamaan, Shafa jatuh terjerembab di atas lantai bersih itu karna tidak kuat mengangkat Janeet yang bobotnya tidak berkurang meski sedang sakit.
"Ada apa gils, inces." Johan.
"Kenapa Shafa." Jones berlari kearah Shafa berniat membantu gadis itu berdiri.
"Ngak apa apa papa, Uncle hahaha ini nih Meimei beratnya kayaknya nambah Shafa terkejut dan ngak kuat gendong." tawa Shafa masih terduduk dengan Janeet di pelukannya.
"Ya ampun kak, sini adiknya biar papa gendong." Johan mendorong Jones dengan kasar agar mundur, tatapan matanya Johan mengeluarkan aura membunuh.
"Aihhh papa mertua kok kasar amat sama mantu." goda jones.
"Diam, jauh jauh sana."
"Ok papa mertua, tapi ngak jauh jauh amat dong." senyum Jones.
"Papa sama Uncle kok berantem terus sih kalau jumpa, pas seperti kembar siam yang di pisah paksa daging dan organ lainnya kebanyakan sama papa atau Uncle jadinya musuh bebuyutan gara gara ngak adil pembagiannya hahaha." ejek Shafa membuat dua orang itu terdiam.
"Kakak ayo bawa Meimei ke kamarnya, nanti ada boom hirosima." tawa Zahra menarik Shafa agar menjauh dari dua orang dewasa itu.
"Ngapain lo ngekori putri gua hahhh." hardik Johan marah.
"Papa mertua nih pura pura tidak tau saja, apa lagi coba kalau tidak pdkt." senyum miring.
"Jangan lo kira gua setuju karna lo udah menyelamatkan putri gua waktu itu, gua tetap ngak setuju."
"Ngak apa apa papa mertua, nanti juga setuju aku tinggal datangin mbah Rebo Nanti papa mertua sendiri yang nyuruh aku nikahin dede Shafa."
"Sialan lo mau datangin mbah Rebo ke kuburan cih ngak banget punya mantu lo, sikit sikit main dukun."
"Cinta di tolak papa mertua dukun bertindak." tawa Jones sembari berjalan mengikuti Johan kemana pergi.
"Hehhh kunyuk, ngapain lo ikutin gua ke kamar gua." marah Johan saat sadar Jones hampir masuk kamarnya.
"Tadinya sih aku niat mau urut papa mertua, siapa tau urat uratnya pada tegang kan abis marah marah." tawa Jones.
"Kambing, sana kalau ngak mau ku sembelih."
"Jangan dong, emang daging qurban, ya udah aku cari calon istri dululah kalau gitu permisi papa mertua." Jones berlalu meningalkan gelak tawanya di sana.
"Bangsat, gua ngak rela lo jadi mantu gua, ngak akan .. ngak." emosi Johan membanting pintu.
Zahra dan Shafa sedang berbincang di kamar Janeet, meski tidak dapat ice cream seperti maunya Janeet tetap patuh pada sang kakak, gadis kecil itu menurut saja di bujuk minum obat oleh Shafa.
"Meimei sudah tidur ma." bisik Shafa.
"Sudah kak." berbisik.
Zahra memberi kode pada Shafa agar mereka keluar kamar, tapi karna Janeet menggeliat mereka ahirnya duduk di sopa kamar sambil berbincang dengan suara pelan.
"Mama, kemarin ayah menghubungi Shafa katanya ayah sakit, ada benjolan di punggungnya kemungkinan satu minggu lagi operasi, Shafa boleh pulang nemanin ayah, kebetulan Shafa libur semester dua minggu."
__ADS_1
Sudah lama di beritahukan oleh Nazwan pada Shafa kalau ia akan operasi tapi karna Shafa segan dan takut memberitahukan pada mama papanya ahirnya setelah lama baru ia sampaikan.
"Nanti kakak bilang sama papa juga ya, kakak tau sendiri bagai mana papa kalau menyangkut ayah kakak, apa lagi mama yang bilang."
"iya mama Shafa mengerti."
"O iya .. bagai mana tadi kok bisa sama Uncle Jones." tanya Zahra, dia ingin menyelidiki sang putri.
"Ngak tau ma, ehhh mama tau ngak Uncle itu dosen baru Shafa loh, ishhh bisa juga Uncle serius ya, kalau lagi kasih materi serius banget Shafa kira Uncle orangnya bercandaan terus ternyata bisa tegas juga hahaha." tawa Shafa saat ingat di kelas tadi Jones tampak mondar mandir sembari menerangkan materinya.
( Shafa ngak tau aja Jones mondar mandir kan modus saja biar bisa dekat dengannya ππ ).
"Waduh .. ternyata dokter Jones serius, sampai ngejar Shafa di kampus." guman Zahra, ia membelai belai rambut panjang Shafa yang terurai indah.
"Oyaa .. terus gimana dia sama Shafa, maksud mama gimana tanggapannya."
"Tanggapan apa ma." tanya Shafa bingung.
"Yahh Uncle Jones bilang apa ke Shafa."
"Ngak bilang apa apa ma, selama belajar Shafa pura pura ngak kenal hahaha."
"Wahh nanti di bilang Uncle sombong lo kak."
"Masa ma, tapikan Shafa ngak mau nanti di kira orang yang ngak baik ma, dengan sok akrab dan sok dekat dengan Uncle jadi lebih baik gitukan."
"Yahh terserah kakak sih, gimana menurut kakak Uncle Jones."
"Baik, ramah, pintar dan dermawan, emang kenapa ma." tanya Shafa polos.
"Suka dong ma, Uncle kan baik, seperti om Robby om Aldo, seperti papa."
"Jadi Shafa anggap Uncle seperti papa ?."
"Iya ma, seperti apa lagi, Uncle kan teman papa yahh Shafa harus hormat dan segan sama Uncle."
Terang Shafa tampa curiga arah pembicaraan sang mama.
"Ohhh iya juga sih." Zahra ingin tertawa terbahak bahak tapi tidak mungkin.
Ternyata Shafa hanya menganggap Jones orang tua yang harus ia hormati dan segani, Shafa tidak ada perasaan spesial pada laki laki yang sudah tergila gila itu padanya.
Shafa memang tidak pernah dekat dengan laki laki manapun selain papa, opa dan adik adiknya dia tidak tau apa itu cinta, dia tidak tau rasanya menyukai lawan jenis layaknya anak muda kebanyakan yang pacaran.
Shafa yang notabene lulusan pesantren dan dengan didikan agama yang kuat tentu tidak memungkinkan baginya untuk mengenali laki laki dalam bentuk pacaran.
Zahra keluar dari kamar karna menerima pesan masuk sang suami, Shafa sendiri naik ketempat tidur Janeet, ia memandangi wajah lucu adiknya itu, Shafa sangat geregetan ia ingin menggigit hidung mancung Janeet tapi takut bangun.
"Kok kamu cantik banget sih Meimei, kakak sayang banget muachh muachhh."
Setelah mencium wajah imut Janeet Shafa merebahkan dirinya di sisi sang adik, tak lama kemudian ia pun tertidur.
Baru satu jam Shafa tertidur Shafa sudah bangun karna merasakan perutnya terasa sesak dan berat belum lagi ada bibir kecil yang sebentar bentar nemplok di berbagai bagian di pipinya.
"akakkk.. ngun.. mamam, mimi cucuh." Janeet mulai mengedip ngedipkan matanya merayu sang kakak.
__ADS_1
"Ngak sampe gitu rayunya akak buatkan Meimei susu kok, meimei akak yang imut imut kayak semut hehehe, ayo sayang.. kiss me dulu." Shafa menyodorkan pipinya.
Cup.. cup.. cup..
Shafa menurunkan Janeet pelan pelan dari atas tubuhnya kemudian ia dudukkan sang adik di atas tempat tidur, kemudian ia turun dari tempat tidur lalu ia merapikan pakaiannya setelah mencuci wajahnya sebentar, setelah itu ia menggendong Janeet.
"Lohh.. Meimei udah sembuh ya, udah ngak panas lagi badannya, Meimei kangen akak ya hmmm sampe demam gitu."
Shafa mencium wajah imut Janeet bertubi tubi, hingga balita itu tertawa terbahak bahak di dalam pelukan Shafa.
Setelah sampai di dapur Shafa membuatkan susu untuk Janeet setelah itu ia mengambil makan Janeet, balita itu sudah makan nasi masih minum susu juga dalam waktu bersamaan.
Janeet diam patuh di dalam gendongan sang kakak, wajahnya memandangi Wajah cantik Shafa ntah apa yang ada di pikiran Janeet tapi ia membelai belai wajah sang kakak yang tidak tertutup cadar.
"Kenapa akak cantik ya, Meimei sayang sama akak hmm akak juga sayannggg Meimei." seakan mengerti arti belaian tangan sang adik.
Janeet tertawa kecil sambil mengangguk anggukkan kepalanya seakan ia mengerti maksud perkataan kakaknya.
"Wahhh wahhh inces Janeet, sini kakak gendong." Jones datang dari arah belakang Shafa.
Menyadari ada laki-laki lain di dalam rumah Shafa langsung menutup kembali wajahnya dengan cepat.
"Loh.. Uncle belum balik ya." tanya Shafa gugup karna wajahnya hampir terlihat oleh Jones.
"Yahhh belum dong, aku main sama Azka dan kembar abisnya aku di cuekin sih."
"Siapa yang cuekin Uncle ?, papa ?."
""Shafa."
"Iya Uncle." jawab Shafa, mengira Jones memangil namanya.
"Shafa yang cuekin."
Hahh... Shafa terheran heran mendengar kata kata Jones yang sama sekali tidak masuk pemahamannya, ia tidak menanggapi kata kata laki-laki itu, karna memang tidak mengerti maksud dan tujuannya.
************************
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
π LIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
πKOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.