UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
112. Pelakor.


__ADS_3

Shafa tertidur pulas di pelukan suaminya, sehabis berkunjung ke kebun teh mereka menemukan sungai yang sangat bening dan jernih di sekitar kebun teh itu, karna sudah lama tidak bermain air Shafa merengek minta mandi dan bermain di sungai itu.


Jones hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan istri abegeh nya itu, Shafa berlari kesana kemari seperti anak kemarin sore yang baru tau dunia luar bagaikan indahnya.


Hampir maghrib Shafa dan yang lain mandi di sungai, kalau saja Jones tidak mengangkat istrinya keluar dari sana mungkin akan benar benar lupa waktu.


Setelah Sholat magrib di mushola yang ada ditempat itu barulah mereka kembali ke rumah bibi, wajah Shafa tampak tenang dalam pelukan Jones, membuat laki-laki itu tersenyum bahagia.


"Kalau tidur begini kamu sangat menggemaskan sayang, aku makin cinta setiap waktu dan setiap hari, tanpamu hidupku tak berarti yank." mengecup kening Shafa berulang kali.


"Tuan kita sudah sampai." bodyguar mengetuk pintu mobil pelan.


Jones lalu membuka pintu, pelan pelan ia angkat tubuh kecil istrinya keluar dari dalam mobil, suasana sudah mulai sepi di halaman rumah karna pesta sudah selesai sore itu.


Jones berjalan pelan menaiki anak tangga rumah, di iringi para bodyguar wanita dari belakang ketika Jones melewati ruang tamu tampak sanak saudara masih tinggal dan berkumpul di sana.


"Loh kenapa istri mu Jo ?." Kemil anak sulung bibik


Jones tersenyum dan menggeleng.


"Kenapa ?." tanya istri Jack adik ipar Jones pada bodyguar Shafa.


"Tidur ibu." jawab Lila pelan.


"Tidur kok ngak di bangunin, sok manja banget." Mama dara.


Jones tidak perduli dengan kata kata mamanya dia terus saja melangkah ke kamar, para bodyguar juga menyusul sampai pintu kamar untuk menyerahkan barang barang sang majikan.


Niken dan yang lain membereskan perlengkapan mereka atas perintah Jones, laki-laki itu ingin membawa istrinya pulang malam itu juga karna tidak tahan dengan ocehan mamanya yang selalu menyudutkan istrinya.


Setelah merebahkan Shafa di atas tempat tidur dan menyelimutinya Jones lalu keluar kamar, ia meminta ketiga bodyguar untuk menjaga istrinya di luar kamar karna dia ingin berpamitan pada bibi dan keluarga lain.


"Bibi, maaf saya dan istri saya permisi pulang malam ini." ucap Jones pada bibi yang sedang duduk lesehan di atas karpet bersama yang lain


"Loh.. kok mendadak jang, bukannya besok ?." bibik.


"Tidak jadi bi, malam ini saja saya sudah minta teman teman siap siap." Jones.


"Tapi jang ini sudah malam, perjalanan jauh dan banyak melalui hutan." mang Ujang.


"Tidak apa apa mang, kami kan ramai." Jones.


"Besok saja jang, lagian istri mu masih tidur." saudara lainnya.


"Tidak apa apa paman, di mobil ada tempat tidur istri ku bisa tidur nyaman kok." Jones tetap ngotot ingin pulang tapi bibi dan yang lain terus melarang, bahkan bibi sampai menangis meminta Jones pulang esok pagi saja.


"Kok pulang sekarang sih kak, besok pagi aja sekalian, kasian teteh nanti kecapean, lagian teteh katanya mau lihat pemandangan indah di jalan pas pulang nanti." Jack.


Jones terdiam sejenak.


"Gimana gua ngak mau pulang, istri gua selalu di sudutkan mama, mana di depan banyak orang lagi, gua tersinggung tau." ucap Jones menahan emosi.


"Kenapa memang, kok kamu yang tersinggung." mama Dara.


"Bagai mana tidak, mama selalu memojokkan istri ku, apa salah nya coba, dari awal pernikahan kami mama selalu dingin dan ketus pada istri ku." memandang mamanya sedih.


"Pokoknya mama tidak suka." mama Dara.


"Aku tau mama marah dan tidak suka pada istri ku sejak dulu karna aku sering terluka dan hampir mati karna menjaga dan melindunginya." Jones berkata kata sambil menahan diri karna kecewa pada mamanya.


"Itu ngak benar kak, cuma perasaan kakak." istri Jack.


"Kamu jangan ikut campur, kamu tau apa ? karna kamu kan selalu lengket dengan mama." marah Jones menatap tajam meski suara kecil.


"Kak jangan begitu,jangan salah sangka kak." Jack.


"Salah sangka apa ?, kenyataannya kan ?, setahun kami menikah apa pernah mama bersikap manis pada istri ku sama seperti padamu ? setahun kami menikah mama sudah mendesak agar kami segera punya anak, lah lu ?? tiga tahun lebih menikah sampai sekarang belum punya anak mama diam saja tuh, kenapa pada istri gua begitu ?." marah masih berusaha bersuara pelan tapi menekan.


Jack dan yang lain diam.


"Apa salahnya mama minta cucu dari kalian, kamu anak pertama mama." mama dara meninggikan suaranya.


"Ma .. mama tau kan umur istri ku berapa ?, sekarang istri ku masih sembilan belas tahun, aku pernah bilang ke mama kalau aku masih menunggu umur istri ku di atas dua puluh tahun baru punya anak." mengusap wajahnya kasar.


"Hahh alasan mu saja, banyak orang yang berumur delapan belas tahun bahkan di bawah itu melahirkan baik baik saja kok, aku bahkan melahirkan mu umur sembilan belas tahun."


"Itu karna mama tidak ada kegiatan lain selain menikah, istri ku masih kuliah ma, dan aku tidak mau nanti pada saat istri ku hamil dan melahirkan kuliahnya jadi kocar kacir."


"Terserah mu lah, yang penting mama tunggu cucu dari kalian paling lama setahun lagi, kalau tidak itu berarti istri mu tidak bisa hamil dan melahirkan, kalau sampai itu terjadi kamu harus menikah lagi."


Duarrr..


Jantung Jones hampir melompat dari dadanya, hal yang paling ia takutkan dari mamanya terjadi juga, dengan gampangnya sang mama mengucapkan kata kata itu di hadapan semua orang.


"Mama .. sampai aku mati, aku tidak akan pernah menduakan istri ku, bahkan meski aku di tembak mati sekali pun, kalau mama mau cucu tuh suruh Jack menikah lagi, atau Fio suruh mereka mencetak cucu yang banyak untuk mama."


Emosi Jones.


"Kak.. kok suruh suamiku menikah lagi ?." protes istri Jack.


"Kau saja keberatan, apa istri ku tidak ?." sengit Jones.


"Mama, jangan begitu kak Jones baru saja menikah wajar saja menunda punya anak, lagi pula benar kata kakak teteh masih sangat muda, mama tidak boleh begitu." Fio.


"Iya mama, ingat ma kita bisa hidup layak begini karna siapa ?, kakak bisa menyelesaikan kuliahnya karna siapa ?, karna tuan Johan papa teteh Shafa, mama jangan lupa itu." Jack.


"Kalau bodyguar teteh mendengar kata kata mama, habis lah riwayat kita apa lagi kalau sampai mereka adukan pada tuan Johan." Fio.


Mama Dara terhenyak.


"Mama tidak pernah ingat dengan jasa orang lain, yang mama tau sekarang mama senang, aku tidak minta mama manjakan, sanjung istri ku, istri ku dan aku bahkan tidak berharap itu, tapi setidaknya mama bisa menahan suara dan sikap mama di depannya meski mama tidak suka, tapi mama malah bersikap dingin bahkan menyinggung perasaannya di depan banyak orang lain, seakan istri ku orang yang paling menjijikan di atas dunia ini." nada bicara Jones melemah.


Mama Dara masih diam.


"Mama, ingat sewaktu aku berjuang mendapatkan nya, isteri ku bahkan tidak tau kalau aku mencintai nya setengah mati, yang ia tau aku adalah Uncle nya, dia tidak tau apa itu cinta, aku saja yang seperti orang gila mati matian mengejarnya." menarik napas dalam dalam


Jones benar benar mengeluarkan semua isi hatinya pada sang mama, meski di depan semua orang Jones terpaksa melakukannya karna sikap mama Dara yang selalu kasar dan dingin pada istrinya, bukan hanya pada saat itu tapi sejak mereka menikah.


"Aku berulang kali terluka dan bahkan koma bukan karna salah istri ku, tapi karna aku yang menginginkannya, mama ingat bagai mana kerasnya papanya menolak ku jadi menantunya bahkan papanya menyembunyikan keberadaan nya pada ku." menjeda kata Katanya.


"Istri ku bahkan wanita yang tidak pernah bersentuhan dengan laki laki manapun, dan aku adalah laki-laki pertama yang dekat dengannya, istri ku wanita suci dan baik yang tidak pernah memandang orang lain dari harta dan rupa, istri menerima ku apa adanya, istri juga tidak pernah menuntut apa pun pada ku, istri ku tidak gila harta bahkan dia tidak hobby belanja serta menghambur hamburkan uang, meski uangnya jauh lebih banyak dariku."


Mama dara tetap diam, orang orang yang ada sana terperangah mendengar kata kata Jones, mereka yang awalnya tidak tau apa apa malah harus mendengar perdebatan antara ibu dan anak di hadapan keluarga lain.


Bibi diam dan tidak berani melarang Jones pulang lagi, dia takut Shafa makin terluka kalau saja mama Dara masih bersikap begitu.


"Aa..enghhhh." tiba tiba Shafa muncul tampa hijab bahkan niqab, rambut panjangnya terurai indah sampai ke panggul, wajah yang sangat cantik namun sayu karna masih mengantuk, saat berjalan Shafa bahkan memejamkan matanya.


Shafa terbangun dari tidur karna merasakan tidur sendiri tampa Jones di sisinya, wanita cantik itu berjalan oyong dengan menyeret selimut di tangan.


Semua orang menatap kehadiran Shafa dengan tatapan bingung, takjub, dan berdecak kagum betapa tidak selama dua hari di sana mereka tidak pernah melihat wajah bahkan kaki telanjang Shafa, karna Shafa selalu memakai niqab dan kaus kaki setiap keluar kamar.

__ADS_1


Mata mereka semua bahkan tidak berkedip baik laki-laki maupun perempuan semuanya menatap kagum dengan kecantikan istri Jones itu.


"Sayang.." Jones berlari kencang ke arah istrinya, di ambilmya selimut yang di seret istri lalu membalutkannya keseluruh tubuh Shafa yang tertinggal hanya bagian kepala saja, itu pun cepat Jones sembunyikan dengan tubuhnya.


Para bodyguar ketakutan melihat tatapan mata Jones yang tajam, mereka sibuk membereskan perlengkapan sehingga mereka tidak tau kalau nyonya muda mereka keluar kamar.


Jones langsung mengangkat tubuh Shafa, di gendongnya tubuh Shafa ala bridal style menuju kamar mereka.


Sepeninggal Jones dan Shafa.


"Teteh makin cantik saja, gua baru lihat seluruh wajah teteh dan rambutnya, cantik banget pantas kak Jones makin tergila gila." masih menatap kearah Jones membawa Shafa.


"Iya kak, cantik banget andai bukan istri kak Jones udah ku rebut itu." Sepupu Fio.


"Cantik banget, kita saja yang wanita suka dan kagum." sepupu Jones.


"Tapi manjanya kelewatan." bibi jauh Jones.


Wanita paruh baya itu sejak awal melihat Jones datang sudah tertarik untuk mengenalkannya pada putri semata wayangnya, karna mama Dara yang mengatakan kalau dia akan mencaritakan istri kedua untuk Jones kalau Shafa tidak juga bisa memberikan keturunan.


"Yang manjakan suaminya bi, bukan bibi." adik pengantin laki-laki.


"Huhhh kalian senang lah di kasih kado mobil makanya belain." bibik Ambar.


"Kenyataan kan bi, kenapa kita harus kepo, lagian bibi dengar sendiri kalau kak Jones cinta mati sama istrinya, jadi wajar kalau di manjakan, udah cantik, pintar masih umur sembilan belas tahun sudah semester tujuh kedokteran, sholehah pula laki-laki yang mana yang tidak tergila gila, untung pakai cadar kalau ngak bisa gila kak Jones istri di uber uber orang terus." tawa kecil adik pengantin.


"Alahhh.. karna papa nya kaya." bibi Ambar.


"Betul bi, papanya termasuk nomor tiga terkaya di negara ini, makanya nyawa orang bisa di belinya sesuka hati, lihat saja pengawal teteh yang perempuan saja ada tiga yang ikut, belum pengawal laki laki yang di luar sudah empat orang, pengawal bayangan yang selalu memantau dari jauh kita tidak tau berapa orangnya." Fio.


"Sekaya itu." bibi Jones.


"Iya bi, jadi kalau bi Ambar berniat menjodohkan Sisy pada kak Jones atas rekomendasi mama pikirkan lagi lah kalau tidak ingin masuk liang lahat tampa identitas, tuan Johan terkenal orang yang kejam dan arogant kalau keluarganya di sakiti dia tidak akan memberi maaf dan ampun siapapun itu meski keluarga sendiri."Jack.


"Negara ini negara hukum Aa, jadi tidak akan bisa sembarangan." Sisy putri Ambar.


"Iya betul, tapi bagi yang punya uang berlimpah mereka punya seribu satu cara, kalau de Sisy tidak percaya silahkan buktikan, tapi jangan menyesal nanti ya, karna bukan hanya satu orang yang akan menjadi korban tapi siapapun yang terlibat, dalam hal ini kami tidak mau tau." Fio.


"Lagian memang de Sisy mau jadi PELAKOR hina betul itu, lihat kak Jones sangat sayang dan sangat cinta pada istrinya kamu hanya akan menjadi cadangan kalau pun harus terjadi." Sarah istri Jack.


"Siapa yang mau jadi pelakor mama Dara bilang kak Jones akan menceraikan istri nya kok." Sisy.


"O ya.. kamu yakin ?, tapi bisa saja kalau punya cara licik sih, lalu siap siapkan amal ibadah juga kalau di panggil yang maha kuasa terlebih dulu." cebik Fio mengejek Sisy.


"Mama, ingat ya jangan ganggu rumah tangga kak Jones kalau tidak ingin kak Jones makin dingin pada mama, jangan hancur kan hatinya dengan menghancurkan rumah tangganya, mama jangan lupa ancaman tuan Johan saat kita datang melamar teteh untuk kak Jones." Jack.


"Mama lihat betapa bahagianya kakak sekarang, kalau mama sayang pada kak Jones tolong juga hargai pilihannya." Fio.


Kata kata menohok dari anak anak dan menantunya cukup menikam jantung, tapi meski begitu mama Dara tetap tidak perduli.


Setelah berbincang dengan mama Dara anak dan menantu meninggalkan dengan keluarga lain, kini giliran paman, bibi dan sepuh keluarga yang menasihati mama Dara serta mama Ambar.


"Tapi gimana mang, aku sudah terlanjur cinta pada kak Jones sejak bertemu semalam." Sisy.


"Semudah itu kamu jatuh cinta ? pada milik orang lain, betul kata Sarah wanita yang ingin mengambil milik orang lain adalah wanita hina, kamu ngak malu, atau kamu ngak punya hati sama seperti si Dara ?, jangan coba coba kalau kamu tidak ingin kami jauhi." marah sepuh keluarga.


"Di keluarga kita tidak ada pelakor, jadi jangan buat malu." bibi bangkit dari duduk dan meninggalkan mereka karna jengkel.


Sementara mereka sibuk berdebat, di kamar Jones dan istri juga berdebat, debat nikmat ala mereka, tadinya Jones ingin memberikan libur pada sang istri tapi malah si istri yang mancing mancing.


Begitu sampai di kamar Jones menurunkan Shafa dari gendongannya ke atas tempat tidur, kemudian Jones membuka balutan selimut pada tubuh Shafa.


Sementara sang istri kembali tertidur pulas, Jones menggaruk garuk kepalanya bingung, dia lupa kalau istrinya sering terjaga di tengah malam dan berjalan sendiri dalam tidur.


Jones meraih handphone lalu menghubungi Niken untuk memberitahukan kalau mereka pulang besok saja, Jones ahirnya mengalah karna bibi sempat menangis tadi.


Setelah itu Jones lalu masuk kedalam selimut yang di pakai istri, laki-laki itu memeluk dan mencium bibir candunya itu pelan dan lembut.


Kemudian ia memejamkan matanya guna mengikuti Shafa ke alam mimpi, tapi baru saja matanya terpejam Shafa malah mendorong tubuhnya yang miring sampai terlentang.


Tangan kanan wanita merayap masuk kedalam baju kaos Jones, di raba dan di elusnya dada berbulu laki-laki itu hingga membuat Jones menahan napas, di liriknya mata Shafa yang ganti miring ke arahnya masih terpejam.


Tidak sampai di situ tangan Shafa bahkan turun ke bawah, masuk kedam celana trening Jones setelah menemukan yang di cari tangan nakal itu memegang dan menguyel uyel tongkat sakti Jones membuat laki-laki itu mengerang menahan hasratnya.


"Dede.. mau ya hmmm." bisik Jones menikmati pijatan tangan Shafa di tongkat saktinya.


Shafa tidak menjawab, pijatan tangannya pun berhenti seiring suara dengkuran halus yang terdengar memggelitik telinga.


"Adduh sayang.. Aa di frangk ?."


Jones memiringkan tubuhnya kemudian mengeluarkan tangan nakal Shafa dari dalam celana, geram bercampur gemas Jones lalu melanjutkan aksi nakal istrinya sampai sang istri terbangun.


Jones sengaja memindahkan kasur ke atas lantai agar sang istri tidak protes lagi karna suara tempat tidur yang berisik, setelah bertempur beberapa lama Jones terkekeh melihat raut wajah istrinya yang kebingungan.


"Kenapa hmm, abis menggoda Aa malah pulas, padahal Aa mau kasih dede libur ehh malah dede yang cari gara gara."


"Ngak, Shafa ngak gitu Aa."


"Terus tangan siapa yang menjalar di dada Aa, tangan siapa pula yang masuk kedalam celana Aa membangunkan yang di dalam." goda Jones.


"Bukan Shafa." menggeleng geleng.


"Terus siapa ?."


"Tangan Shafa, mungkin."


"Sama aja dong yank." menciumi seluruh wajah cantik Shafa mesra.


Kraukkk..


"Ehh ada yang demo hahaha." tawa Jones.


"Aa.." mencubit perut Jones.


"Eishhhh jangan pancing lagi dong yank."


"Ngak ahh."


"Dede lapar ?, kita belum makan tadi dede keburu bobok." mencium bibir Shafa sekilas.


"Enghhhh iya Aa, lapar banget."


"Dede mau makan apa, sepertinya lauknya cuma itu itu aja dari siang, dede mau nasi goreng ?."


"Mau.. mau .. mau.." mengangguk semangat empat lima.


"Oke.. tapi kita mandi dulu."


"Adduh.. kan dingin Aa, terus nanti orang orang bingung lihat kita mandi malam, nanti bisa bisa di kira .." menggantung kata kata.


"Di kira baru perang di kasur." goda Jones lagi.

__ADS_1


"Enghhhh kan malu."


"Kenapa malu, itu kebutuhan sayang, hak dan kewajiban, mereka yang sudah menikah biasa melakukan bahkan yang belum menikah saja ada yang melakukan, kita sah suami istri kok yank."


Shafa diam, namun Jones langsung bangkit tampa busana sehingga yang menggantung besar di daerah ************ laki-laki itu tampak jelas di mata Shafa, meski sudah sering melihat tapi masih saja malu.


"Tutup Aa, malu."


"Kenapa di tutup, takut mau lagi yank ?."


"Ngak.."


Jones lalu mengangkat tubuh istri agar ikut berdiri, takut kena murka Jones melilitkan selimut pada tubuh telanjang Shafa.


Kemudian ia pindahkan lagi kasur ke atas tempat tidur karna takut istrinya masuk angin kalau masih tidur di atas lantai nanti.


Setelah memakai baju pasangan suami istri itu keluar kamar pelan pelan, mereka lalu keluar pintu belakang rumah itu menuju kamar mandi, untung di sana masih tersedia air panas di dalam termos besar sehingga Jones dan Shafa bisa mandi air hangat.


Setelah itu Jones menggendong Shafa kembali kedalam rumah, Jones membawa Shafa ke dapur ,di sana masih tampak piring dan peralatan lain berserakan di atas lantai, belum tersusun tapi sudah bersih.


Jones lalu mencari nasi dan bahan untuk di masak, karna kondisi dapur yang lumayan kacau Jones menjadi bingung mencarI bahan untuk memasak nasi goreng kesukaan istrinya.


Shafa sendiri duduk di sudut ruangan, Jones tidak mengizinkan nya untuk membantu, di sudut ruangan di letakkan meja makan dan kursi jadi Shafa bisa duduk nyaman.


"Tuan mencari apa." tiba-tiba Lila, Niken dan Nisa muncul di sana.


Mereka belum tidur saat Jones dan Shafa leluar kamar, mereka menduga duga kalau majikan mereka pasti mandi wajib, lalu mencari makanan karna lama baru kembali lagi dan perkiraan mereka tepat.


"Lihat bumbu untuk masak nasi goreng bu Niken."


tanya Jones tampa melihat mereka.


"Sepertinya tidak tersedia tuan, saya ambilkan bahan yang biasa kita bawa saja tuan." Niken.


"O ya tolong ambilkan." Jones.


"Ada yang bisa kami bantu tuan." Lila.


"Temani istri gua saja." melihat sang istri yang mulai terkantuk kantuk di tempat duduknya.


Lila dan Nisa bergegas ke tempat duduk Shafa, tak lama kemudian Niken datang membawa bumbu masak nasi goreng lalu Niken ikut bergabung bersama yang lain.


"Kak kakak semua sudah makan.?." Shafa.


Ketiganya menggeleng bersama, karna memang belum makan dan tidak sempat sebab Jones tadi meminta mereka untuk mempersiapkan barang barang, karna rencana pulang malam itu.


"Kok belum ?."


"Nyonya juga belum." kekeh Nisa.


"Hehehe Shafa ketiduran."


"Bangun karna lapar ?." goda Niken apakah mereka tau percis sang majikan bangun karna apa.


"Ngak, di bangunin Aa." sewot.


"Mau makan ?." Lila.


"Ngak, karna Shafa rasa bergoyang." langsung menutup mulut, lagi lagi bodyguar nya berhasil menjebaknya.


Mereka hampir saja tertawa lepas kalau saja Jones tidak ada di sana , ahirnya mereka cuma bisa cengengesan.


"Ishhhhh kakak semua sengaja ya kasih pertanyaan dengan jebakan Batman biar Shafa keceplosan." sadar situasi.


"Tidak nyonya, nyonya aja yang salah jawab." Nisa dan yang lain cekikikan.


"Ishhh awas ya, nanti ngak Shafa kasih bonus lagi kalau masih jebak Shafa." melotot tapi tidak seram sama sekali sehingga para bodyguar malah makin cengegesen.


"Ampun nyonya jangan." jawab ketiganya.


"Aa.. kakak semua juga belum makan, masakin sekalian ya." pinta Shafa.


"Ngak.. Aa cuma masak untuk istri Aa, mereka bisa masak sendiri." jawab Jones tegas.


"Ishhh pelit." Shafa.


"Biarin, Aa cuma masak untuk istri Aa tercinta." Ulang Jones sambil menyajikan nasi goreng yang sudah masak kedalam piring lalu menambahkan telor dan sosis goreng sebagai hiasannya.


"Tidak apa apa nyonya kami akan masak sendiri betul kata tuan muda, masakan tuan hanya untuk nyonya saja hehehe." Lila.


%Untuk gua boleh kan kak." muncul Fio di sana yang tidak bisa tidur karna mencium aroma masakan lezat dari dapur.


"No.. lu masak sendiri, gua masak pas pasan." Jones berjalan ke arah Shafa, sementara para bodyguard langsung bangkit menuju meja kompor.


"Pelit amat sih kak, bagi dikit kenapa." rengek Fio.


"No..no..no..tuh masak sendiri, bantuin mereka sana jangan lu ganggu kami." usir Jones.


Sisy sebenarnya sedari tadi sudah ada di sana tapi tidak ada yang perduli dan menganggapnya ada, namun dia tetap di sana menggangumi Jones dari kejauhan.


"Wahhh idaman banget kak Jones, andai aku benar benar bisa menjadi istrinya pasti bahagia banget." gumamnya dalam hati, sambil tersenyum senyum sendiri.


Para bodyguar saling pandang dan saling memberi kode, mereka tau maksud Sisy berada di sana apa lagi pandangan mata wanita itu yang tidak pernah beralih dari Jones namun mereka pura pura tidak tau apa apa.


"Ngapain lu di situ jadi penonton." tanya Fio ketus pada gadis itu.


"Aku mencium aroma makanan yang lezat jadi aku kamari, ternyata kak Jones lagi masak, jadi pengen deh." jawab Sisy berjalan ke arah pasangan suami istri itu dengan muka tembok.


"Lu ngak dengar kakak bilang apa tadi, masakan kakak cuma buat istri tercinta jadi lu tau diri gua aja yang adiknya ngak di kasih, lalu lu siapa berharap di bagi, jangan mimpi." Fio.


Shafa dan Jones tidak perduli dengan percakapan keduanya karna mereka berdua sama sama kelaparan, tangan Jones cekatan menyuapi istri dan dirinya sendiri tampa perduli hal sekitarnya.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2