
Hari sudah menjelang siang saat Shafa dan Arkhan serta Naya sampai di butik Sella, wajah gadis itu tampak dingin, selama mencoba beberapa baju syari yang cocok untuknya dan wajahnya juga jutek.
"Baju ini cantik dek." tunjuk Naya pada Shafa.
"Hmmm Shafa terserah saja kak, yang penting tertutup." jawab gadis itu manja.
"Tapi iya juga, Shafa mah di pakaikan baju apa
aja tetap cantik dan cocok, gantung baju .."
goda Naya.
"Ya iya kak, wajahnya ngak kelihatan pasti
tetap cantik hahahaha." tertawa sumbang.
"Ngak juga postur tubuh adek kan bagus."
Naya menatap Shafa dari atas sampai bawah.
"Hahhh mana pula, baju selalu longgar apanya yang bagus ngak kelihatan pun."
"Hahahaha iya ya kakak kok lupa."
"Kenapa tertawa berdua, nertawain abang ya." bibir di monyong monyongin.
"Ihhh ngak ya." jawab kompak.
"Wahhh kalau jadi istri abang duanya dan kompak begini bisa sekarat kalau berulah ya ?."
"Apa.." marah Shafa.
"Hahaha ngak ngak setia satu aja, satu pun kalau galak nya begini cepat juga Innallilah hahaha." tawa Arkhan.
Shafa yang marah berjalan meningalkan Arkhan dan Naya berdua saja, ia memilih duduk di sopa ruangan mewah itu sambil minum minuman kesukaannya yang sudah di hapal Sella.
"Asam lemonnya nona ?." tanya Sella pemilik butik busana muslim itu.
"Ngak Aunty, enak kok." tersenyum di balik cadarnya.
"Syukur deh, gimana nona suka bajunya ada
lagi yang mau di rubah modelnya." tanya wanita itu lagi sambil memperhatikan gerak gerik Shafa yang gelisah, entah apa yang membuat gadis itu gelisah tapi ia benar benar gelisah.
"Ngak Aunty, desainnya udah bagus kok, lagian kan baju untuk cewek kayak Shafa malah ngak banyak model dan gaya Aunty, buat Shafa yang penting tertutup saja."
"Hmm iya juga hehehe berarti sudah fiks ya nona baju yang nona coba tadi ?."
"Iya Aunty."
Lagi lagi seseorang terdiam, tertegun dan merana melihat sang gadis pujaan hati yang tengah mencoba pakaian berwarna putih gading lengkap dengan cadarnya.
"Ya Allah mengapa sesakit ini, aku yang meminta papanya menikahkan dia dengan orang lain tapi begitu tau dia akan menikah, hatiku sangat sakit ya Allah, ku mohon kuatkan hatiku ini, jangan sampai aku benar benar gila setelahnya."
Jones yang duduk di pojokan bersama sang asisten hanya bisa menonton dari kejauhan, mereka duduk di luar ruangan, di mana banyak pakaian pakaian muslim untuk laki-laki bergantungan di sana.
Saat Shafa keluar dari ruang ganti mencoba bajunya bisa terlihat dari luar ruangan karna tempat itu tembus pandang.
Air mata Jones jatuh begitu saja, napas nya terasa sesak dan sempit, dadanya terasa sakit, ia menunduk mengusap pelan dadanya.
"Kita pergi." ucapnya mencoba bangkit dari duduknya tapi ia hampir jatuh karna tiba tiba pusing dan oyong.
"Pak .. bapak kenapa ?." tanya asisten cemas, ia menangkap tubuh tinggi itu yang hampir jatuh.
"Aku pusing, tapi ngak apa apa, ayo kita pergi." pintanya berjalan pelan di topang tongkat besinya di sisi lain sang asisten dengan setia juga menopang tubuh lemah itu.
Sampai ke dalam mobil, Jones duduk bersandar sambil memijit kepala dan dadanya dengan tangan berbeda.
"Pak.. kita ke Rumah sakit saja ya, sudah satu minggu bapak ngak chek kesehatan ?." asisten.
"Tidak usah, kita pulang saja, gua lelah."
"Tapi pak ?."
"Saya bilang pulang ya pulang." jawab Jones dingin membuat sang asisten bergidik, selama tiga tahun mereka bersama belum pernah ia melihat dan mendengar Jones marah padanya tapi kali ini ia merasa ngeri sendiri mendengar kata kata laki-laki itu.
"Ba..baik pak." Langsung masuk kedalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
Sepanjang jalan Jones diam saja, pikirannya melayang entah kemana, andai tidak begini dan andai tidak begitu, berulang kali suara napas nya terdengar keras dan berat.
Sang asisten sudah tidak lagi berani berkomentar apa apa, dia hanya pokus ke jalan raya saja, setelah sampai di apartemen Jones langsung masuk ke dalam kamarnya.
Dengan sigap asisten menghubungi Robby dan mengatakan kondisi hati Jones, setalah itu sesuai perintah ia pun duduk berjaga di depan kamar Jones, sekedar berjaga jaga kalau kalau Jones berbuat sesuatu.
*******
__ADS_1
Di kantor pusat Johan memanggil Robby ke ruangannya, tak lama kemudian Robby datang dengan wajah dingin dan super jutek, Johan tau kalau laki-laki itu sedang protes padanya tapi dia tidak perduli.
"Lu temani gua ke apartemen Jones." ucapnya tidak kalah dingin.
"Ada apa bos kesana."
"Mau ngundang dia." tampa menoleh, asik
dengan berkas di hadapannya.
"Apa..." suara nyaring dan tinggi.
"Seperti yang lu dengar."
"Lu punya hatikan bos, masih punya maksud gua." menatap Johan tidak percaya.
"Lu kira apa ??."
"Bos mau ngundang Jones ke pernikahan nona ?, bos sadar ngak itu akan menyakiti Jones."
"Jadi menurut Lu gua ngak usah mengundangnya gua diam diam saja menggelar acara pernikahannya, baik menurut lu begitu oke ngak usah kesana biar dia dengar dari orang lain."
Robby diam.
"Apa ngak bisa di batalkan bos, bos tidak ingat bagai mana Jones." suara pelan dan menghiba.
"Gua ngak lupa, tapi lu yang lupa sesuatu, dan mari gua ingatkan, menurut lu siapa yang menyakiti putri gua, siapa yang menolak putri gua dan siapa yang menyuruh gua menikahkan putri gua dengan orang lain ??." emosi Johan.
Dan lagi lagi Robby terdiam.
Robby menyimak kata demi kata yang di ucapkan Johan, sejenak laki-laki itu berpikir, dia bingung di tatapnya bos sekaligus sahabatnya itu dalam dalam.
"Apa maksud bos, menolak nona, menyakiti nona apakah nona juga." gumam Robby dalam hati.
"Ya sudah kalau lu ngak mau temani gua ngak apa apa, biar dia dengar dari orang lain, atau lu yang kasih tau mungkin itu lebih baik, dan sekarang gua sudah tidak butuh lu lagi di sini silahkan pergi."
"Kapan ke apartemen Jones." tanya Robby, ketimbang dia di yang di suruh bilang mending orang yang bersangkutan langsung menyampaikan.
"Sekarang kapan lagi, tahun depan." berjalan keluar ruangan.
Robby mengikuti sang bos, ia memperhatikan langkah Johan yang tampak buru buru, ahir ahir ini Johan memang di sibukkan berbagai hal, dari mengurusi pekerjaan sampai mengurus keluarganya dan banyak hal lain.
Meski dia mempunyai banyak maid atau asisten tapi Johan tetap mengutamakan mengurus sendiri keluarganya apa lagi kehamilan Zahra yang hanya menunggu hari untuk melahirkan.
"Apa gua salah dengar tadi, kalau benar nona juga punya rasa pada Jones maka apes betul nasib mu bro, tapi mau gimana lagi waktu tinggal beberapa hari menuju pernikahan nona."
Robby membuka pintu apartemen Jones, kode pintu apartemen laki-laki itu tidak pernah ia ganti sehingga Robby dan Johan yang tau bisa bebas masuk kedalam.
"Di mana Jones ?." tanya Robby pada asisten pribadi Jones.
"Di kamar pak, sejak tadi ngak pernah keluar." jawab sang asisten, ekor matanya melirik Johan yang berdiri bak patung arca di samping Robby.
Mengetahui Jones di kamarnya kedua laki-laki itu langsung masuk kamar Jones, begitu pintu di buka kedua laki-laki itu terkejut bukan kepalang melihat keadaan kamar yang seperti kapal pecah pecahan kac botol minuman berserakan di lantai, membuat keduanya harus hati hati saat melangkah.
Jones sendiri kini duduk dengan menekuk kepalanya, ia duduk tepat di depan kaca dindin kamar dengan keadaan yang kacau dan berantakan, dan rambut yang sudah lama tidak di potong tampak berantakan.
"Apa apa lu ini." bentak Robby.
Jones yang terkejut mendengar suara petir Robby mengangkat kepalanya dan ia pun juga ikut terkejut melihat kehadiran Johan bersama Robby di dalam kamarnya.
Tatapan Jones tampak kosong meski ia melihat siapa yang ada di depannya, karna meski terkejut tapi dia tidak berreaksi apa apa.
"Lu mabuk bro, gila lu ya." marah Robby.
" Hahaha gua pengen mabuk, gua pengen minum tapi baru mau gua minum bayangan Shafa muncul hahahahaha gua ngak jadi jadi minumnya bego gua kan, kenapa begini hahahaha." tertawa sumbang.
Johan diam, di perhatikannya Jones yang tampak stres dan terguncang, tampaknya Johan tidak perlu mengatakan maksud kedatangannya karna Jones sudah tau lebih dulu.
Sebenarnya Johan kasihan melihat keadaan Jones tapi menurut Johan sebagai seorang laki-laki tidak seharusnya Jones begitu, lebay dan cengeng, padahal dia lebih parah lagi.
"Lu itu ya, pemgecut banget jadi orang, dasar banci lu, pengen gua shoc listrik biar encer otak lu biar pintar dikit, baru mau di tinggal kawin lu udah macam mau mati saja." gerutu Robby.
Ia lalu menghubungi sang asisten untuk membersihkan kamar laki-laki itu, karna mereka susah bergerak akibat banyaknya pecahan kaca di dalam kamar itu.
"Diam lu, jangan banyak bacot, kalau lu kemari cuma ingin membuly gua mending lu pergi sana gua ngak sudi lihat kalian." marah Jones.
"Sudahlah, mau lu marah mau lu stres terserah lu, gua hanya mengikuti kemauan lu, lu yang bilang agar gua menikahkan putri gua dengan orang lain ya gua nikahkan dong, gua juga sudah tanya apa lu serius dan iklas kan." Johan.
"Tapi gua ngak jawab kan, kenapa lu langsung nikahkah Shafa dengan orang lain, lu emang ngak punya hati, gua benar benar akan gila bos gila gua akan gila hahahaha." menagis.
"Lu yang minta ya jadi jangan salahkan gua, dan sekarang gua datang kemari karna mau ngundang lu di acara pernikahannya besok lusa, gua harap lu datang." diam sejenak.
"Lu seperti bocah, berantakan kucel dan sakit sakitan cihhh, lihat tampang lu pas gembel jalanan Gua ngak mau lihat lu begini karna putri gua pasti akan merasa bersalah kalau tau lu begini kacaunya, gua harap lu menjaga diri lu." diam lagi melihat reaksi Jones yang sudah kaku mendengar kata katanya.
"Kalau lu orang yang baik maka lu akan datang, dan jangan sampai putri gua merasa bersalah karna tidak melihat lu di sana." setelah berkata begitu Johan keluar dari dalam kamar, meninggalkan Robby dan Jones di sana.
__ADS_1
Aaaaaaaaaa....
"Brengsek, bodoh, setan aaaaa, gua pengen mati saja Robby, tolong bunuh gua Robby, lu tembak gua cepat .. lu selalu bawa pistol kemana pergi kan mana pistol lu, lu umpatin di bagian tubuh lu yang mana, ayo cepat tembak gua, tembak Robby tembak di sini Robby, gua mohon." teriak
Jones histeris.
"Lu jangan gila Jones." marah Robby menjauh dari Jones, pelan ia putar senjata yang di ada di bagian dalam bajunya agar Jones tidak bisa menjangkaunya.
"Please tolong tembak gua Robby, gua mati
saja gua mohon Robby." suara pelan dan memelas.
"Sadar lu brengsek, kalau nona melihat lu begini dia pasti akan ilfil."
"Hahaha Shafa sudah tidak menganggap gua ada di dunia ini Robby, dia sudah tidak ingat ada gua."
"Bego lu, sadar jangan begini, lu harus kuat dan tegar, lu ngak boleh berpikiran macam macam, lu kira tempat orang bunuh diri itu di surga."
"Gua ngak perduli, gua mau mati saja."
"Bodoh bin paok."
Pletak.. pletak...
Dua tamparan mendarat di wajah tampan dan pucat itu, wajah putih mulus itu memerah bahkan di sudut bibir Jones muncul darah segar akibat luka bekas tamparan Robby.
"Kenapa bro kenapa di tampar, tembak saja bro gua mohon Please.." membiarkan darah yang mengalir dari dalam mulutnya.
Robby yang sudah kalut bagai mana menghadapi Jones tampa sadar menampar laki-laki itu dengan kekuatan penuh, sehingga Jones sempat terjungkal ke belakang di atas tempat duduknya.
"Sory bro, gua ngak sengaja gua khilaf gua ngak bermaksud menampar lu." menyesal.
"Bagai mana keadaan dokter Jones." tiba tiba
dua orang laki-laki muncul di dalam kamar.
Dua orang itu adalah dokter Anton dan Ryan sahabat Jones, mereka datang karna di perintahkan oleh Johan untuk merawat dan mengawasi Jones.
Robby yang mengenali mereka dan langsung mengerti kalau kedatangan mereka pasti karna perintah Johan.
"Gua ngak tau tolong kalian periksa dia, gua takut dia nekat." titah Robby.
"Baik pak, tapi sepertinya Jones harus kita tenangkan dulu." bisik Anton.
"Terserah lu berdua saja."
"Mau apa kalian." tahya Jones saat kedua sahabatnya datang dan memeganginya.
"Tenang sobat, lu perlu istirahat." ucap Ryan yang langsung menyuntikkan obat penenang ke lengan bagian atas Jones.
"Lu berdua jangan.." Jones langsung amruk sebelum ia menyelesaikan kata katanya.
Merekapun memindahkan Jones ke atas tempat tidur, setelah yakin laki-laki itu sudah tidur lalu merekapun memeriksa keadaan Jones Tekanan darah laki laki itu drop dan kondisi tubuh Jones juga sangat lemah sehingga mereka memutuskan untuk memasang infus di tangan Jones karna mereka akan memasukkan obat obat sunyik
dari sana.
Jones benar benar di rawat intensif di kamarnya pengaruh obat penenang sangat membantu Robby, dokter dan para perawat dalam menjaga dan mengawasi Jones.
Bukan hanya dokter, perawat dan asisten Jones merawat dan menjaganya tapi Johan juga menempatkan empat bodyguar untuk mengawasi Jones di dalam kamar itu.
Sudah dua hari Jones dalam perawatan dan pengawasan dokter ahli, dalam dua hari itu ia sering terjaga dari tidurnya namun tak lama kemudian ia kembali tidur.
Saat ini Jones masih saja tenang di dalam tidurnya sampai tiba-tiba laki-laki itu terbangun dan berteriak kencang, membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
"Shafaaaaaa, jangan gils jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu gils aku sangat mencintaimu ku mohon tinggal lah bersama ku." teriak Jones.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.