
Mobil melaju sangat kencang membelah keramaian kota, Jones seperti kesetanan dia tidak perduli meski Robby menjerit jerit di sampingnya dia juga tidak perduli kalau sudah menerobos beberapa lampu merah.
Robby semakin panik ia berusaha menghentikan Jones yang membawa mobil tampa arah, Robby tidak tau lagi bagai mana cara menghentikan laki-laki yang tengah patah hati itu.
Handphone di saku baju Jones entah sudah berapa kali berbunyi tapi laki-laki itu tidak perduli hingga ahirnya handphone Robby yang bersuara dan laki-laki itu segera mengangkatnya masih dalam keadaan panik.
Senyum di wajah Robby tersunging menawan begitu ia melihat nama yang muncul di layar handphonenya.
"Hallo.. "
"........."
"Waalaikumsalam wrwb ya nona ?."
"...........?"
" ya ada ."
"Ok saya berikan handphonenya nona." setelah berkata begitu Robby langsung mengarahkan benda pipih itu pada Jones.
Sedangkan Jones sendiri sudah mulai mengurangi kecepatan mobil begitu ia mendengar suara Shafa yang di spekear kan Robby.
"Pinggirkan mobilnya dulu." titah Robby dengan suara kencang agar Shafa juga bisa dengar.
Dengan patuh laki laki itu segera menghentikan mobil di pinggir jalan raya yang sepi, Robby bahkan memerintahkan Jones agar bertukar tempat duduk dengannya lagi lagi Jones patuh demi benda pipih di tangan Robby.
"Assalamualaikum wrwb." salam Jones dengan suara bergetar.
"Waalaikumsalam wrwb, Uncle di mana ?, kok tadi langsung pergi ?."
"Aku.. aku .." mengatur napas, ekor matanya menangkap senyum sinis Robby.
"Kenapa Uncle ?."
"Mendadak ada kerjaan tadi." bohongnya.
"Ohh.. padahal Shafa tadi mau ajak Uncle meriksa Bobba perutnya tiba tiba buncit, kasian Uncle." ucapnya bernada sedih.
"Gils.. aku itu dokter obgin bukan dokter hewan, aku ngak tau kenapa Bobba begitu." senyum Jones melebar mendengar suara manja Shafa, tiba tiba saja ia lupa dengan galau dan
amarahnya tadi.
"Iya sih, tapi setidaknya Uncle bisa chek, kalau memungkinkan entah besok atau lusa Shafa mau minta di temani sama Uncle bawa Bobba ke dokter hewan."
Untuk pertama kalinya gadis itu meminta sesuatu pada Jones, harusnya Jones bahagia bukan tapi melihat keramaian tadi dan mendengar kalau gadis pujaannya sudah di lamar orang lain hati Jones sangat sakit dan terluka.
Tadi Ia langsung di tarik Robby keluar rumah, meski mereka belum tau apa yang terjadi di dalam sana dan yang mana yang melamar Shafa mereka juga tidak tau, yang jelas Robby sudah kalap murka dengan Johan, karna takut ada keributan Robby terpaksa membawa Jones dari sana.
Jones terdiam, ia kembali memgingat kalau gadis itu sudah di lamar dan mungkin akan segera tunangan atau menikah, ia mengusap dadanya yang terasa panas dan sakit.
Ia lalu menoleh pada Robby yang masih duduk membisu di kursi kemudi, laki-laki itu memberi kode dengan anggukan.
"Hmm baik gils, besok siang kita ke dokter hewan ya aku akan carikan dokter yang terbaik buat Bobba."
"Iya Uncle makasih, besok siang kan habis kelas Shafa." tanya gadis itu riang.
"Iya gils, besok aku jemput ke kampus kamu ya." berkata dengan mata menerawang keluar jendela kaca mobil.
"Siap bos hehehe, makasih da..daa.. Assalamualaikum wrwb." suara semangat Shafa kembali membangkitkan semangat Jones senyum kembali melengkung di bibirnya.
"Waalaikumsalam wrwb, da .. da." jawab Jones kemudian panggilan telepon terputus.
__ADS_1
"Sebelum janur kuning melengkung bro, lanjutkan perjuangan." menepuk pundak Jones.
Sementara itu di rumah besar Johan kembali mendatangi Shafa yang telah menyelesaikan panggilannya.
"Sudah bicara kak." Johan duduk di hadapan Shafa yang lagi asik bermain dengan Janeet.
"Sudah papa."
"Kenapa Uncle langsung pulang." pura pura
tidak tau dan bingung.
"Kata Uncle ada kerjaan mendadak papa."
"Ouhh ya sudah papa kembali ke depan ya, Shafa beneran ngak mau gabung lagi."
"Ngak pa, Shafa ngak nyaman, lagian mei mei marah kalau Shafa pergi ke sana." alasan Shafa.
Padahal ia merasa bingung dengan hatinya sebab langsung di tinggalkan Jones, ia tidak tau mengapa tapi melihat Jones dengan wajah muram membuatnya resah.
Johan sendiri yang takut Jones berbuat nekat langsung menghubungi anak buahnya untuk memantau Jones, begitu ia tau Jones ugal ugalan di jalan raya seakan ingin mati saja dan sadar kalau Robby tidak akan mampu menenagkannya ahirnya ia memanggil anak perempuannya itu mengajaknya ke ruang lain tempat Janeet dan Wu bersaudara berkumpul.
Lalu ia meminta Shafa menghubungi Jones tapi tidak di angkat, kemudian Johan meminta Shafa menghubungi nomor handphone Robby, Johan menyuruh Shafa untuk bertanya di mana dan kenapa pulang.
Meski Shafa bingung tapi ia tidak bertanya dan langsung mengikuti perintah sang papa, Johan juga meminta agar Shafa merahasiakan kalau Johan yang menyuruh menghubungi
Robby dan Jones.
Ternyata di balik kekerasan hatinya masih ada rasa takut dan khawatir pada sang sahabat.
Malam makin larut, semua tamu sudah kembali ke rumah masing masing, anak anak juga sudah terlelap sedari tadi kini Johan dan Zahra tengah duduk berdua di pinggir kolam yang berada di teras samping kamar mereka.
Zahra duduk miring di atas pangkuan Johan, sementara Johan memeluk pinggang sang
"Bagai mana pendapat sayang tentang Rafa dab keluarganya ?." mencium kening Zahra mesra.
"Entahlah ko, aku rasa nekat dan ngotot juga ngak sabaran." menatap langit malam.
"Wajarlah sayang, mereka sangat berharap bisa masuk ke keluarga kita."
"Koko bilang bukan pernikahan politik dan bisnis." menatap wajah Johan yang juga tengah menengadah ke langit.
"Iya sayang buat koko tidak, tapi buat mereka mungkin iya." jawabnya asal, padahal sudah pasti bagi keluarga Hartono kalau bisa masuk ke keluarga mereka pasti perusahaan dan kehidupan sosial mereka terangkat.
"Sepertinya Shafa tidak tertarik ko."
"Iya koko lihat juga begitu, kalau kak Shafa tidak mau ya tinggal batalkan saja, toh masih perkenalan sayang."
"Tapi sepertinya bagi mereka tidak ko, mereka sudah sangat serius."
"Biarkan yangk, yang pasti dari awal kita tidak memberikan harapan."
"Lalu bagai mana dengan Dokter Jones ko, tadi aku lihat raut wajahnya sangat terluka, dia ngak apa apa kan ko, kan tadi langsung pergi."
"Mau bagai mana lagi, salah dia sendiri....."
******
Robby membawa mobil melaju tenang, mereka melanjutkan perjalanan tampa arah karna Jones tidak mau pulang ia ingin menenagkan diri terlebih dahulu baru pulang.
Tampa sengaja mereka sudah memasuki daerah pesisir pantai ancol, Robby menghentikan mobil tak jauh dari bibir pantai, setelah mobil berhenti Jones segera keluar dia berjalan lunglai ke arah pantai, lalu ia mendudukkan bokongnya dengan kasar di atas pasir.
__ADS_1
Aaaaaaaaaaaa
Aaaaaaaaaaaa
Aaaaaaaaaaaa
"Oo Tuhan... kenapa sesakit ini, tolong aku ya tuhan ku mohon tolong aku." teriakan Jones terdengar menyayat hati.
Robby diam membisu di tatapnya sahabatnya itu dari belakang dengan rasa iba, ia tetap berdiri siaga takut Jones nekat berbuat sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri.
"Lu udah nyerah bro, segitu aja perjuangan lu." Ahirnya ia duduk di sisi Jones yang sedang mengatur pernapasan yang terasa sesak.
"Lalu gua harus apa Robby, lu lihat sendiri tadikan hidup gua hancur Rob, padahal tadi gua datang ingin melamarnya tapi malah sudah di lamar oleh orang lain."
"Baru di lamarkan, kita belum tau di terima oleh nona atau tidak."
"Shafa di jodohkan, dia patuh pada orang tuanya sudah pasti ia terima."
"Lu yakin ?."
"Maksud lu ?."
"Lu yakin di terima ?, lu nyerah?, lu ngak mau berjuang lagi ?."
Jones terdiam, ia menoleh ke arah Robby lalu ia kembali terdiam, pandangan matanya kosong kearah laut biru.
"Gua ngak akan nyerah bro, bukannya tadi lu bilang sebelum janur melengkung gua harus tetap usaha, hanya saja gua kecewa dengan si bos itu, dia benar benar tidak memberikan gua kesempatan sedikit pun." keluhnya.
"Bagus kalau begitu, itu baru bener." menarik napas lega, ia sempat takut Jones akan nekat dan kembali stres seperti dulu waktu ia tau kalau wanita yang ia cari adalah Shafa.
"Jadi lu mendukung gua sekarang, lu ngak takut kehilangan pekerjaan. "
"Gua dukung lu, seratus persen gua dukung, masalah pekerjaan lu ngak usah khawatir gua udah punya simpanan buat modal usaha, ya meski mungkin cuma bisa buat usaha pabrik tahu hahahhaha."
"Cihhh yang benar saja." mereka berdua sama sama tertawa.
Kedua orang itu duduk berdua di temani deburan ombak dan angin malam yang dingin, setelah merasa lelah mereka pun kembali ke apartemen Jones, Robby tidak kembali ke rumahnya karna masih ragu pada Jones.
"Semangat Jones, besok lebih usaha lagi." seru Robby saat laki-laki itu memasuki kamarnya.
"Trimakasih bro lu yang terbaik."
" Lu juga, yang terbaik."
*********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.