
Tepat jam sepuluh Robby sudah hadir di rumah besar, Zahra Shafa dan para bodyguar wanita sudah bersiap untuk berangkat.
Shafa tampak lebih segar pagi itu, meski matanya masih tampak cekung tapi dia sudah berjalan lincah.
"Bagai mana rasa makanan yang di bawa bos semalam nyonya muda, apa enak, mau saya pesankan lagi." tanya Robby melihat Shafa yang duduk menyandar di kursi mewah mobil yang membawa mereka.
Robby duduk di depan seperti biasa Shafa dan Zahra berada di bangku belakang, para bodyguar mengikuti di mobil lainnya.
"Enak Uncle.. Shafa suka banget, tapi yang paling enak nasi gorengnya, seperti.." tidak melanjutkan kata katanya, bola matanya yang indah melirik sang mama yang sibuk dengan handphone di tangannya.
"Seperti apa kak..? sambung Zahra menatap putrinya.
"Seperti.. mmmhh..Seperti masakan Aa." jawabnya bimbang.
Zahra tersenyum, di genggamnya tangan putri sulungnya itu, dia tau perasaan rindu Shafa sama besar dengan Jones, Zahra juga tau Shafa memendam sakit karna harus berjauhan dari sang suami.
Wanita yang sedang hamil rata rata pasti ingin bersama suaminya, ingin di sayang, di manja di perhatikan dan di nomor satukan dalam berbagai hal, tapi Shafa dia tidak merasakan sejak berjauhan dari suami.
Hati Zahra merasa sakit mengingat nasib putrinya itu, kalau dulu Johan sangat patuh padanya tapi sekarang Johan sama sekali tidak mau mendengar apapun pendapat Zahra tentang Jones.
Robby tersenyum simpul mendengar jawaban Shafa dan hanya Zahra yang menyadari senyum itu, senyum yang jelas terlihat dari spion di dalam mobil.
"Semoga kau benar benar nyambung dengan rencana yang kami buat dengan Mommy pak Robby." gumam Zahra dalam hati.
"Pak Robby beli di mana nasi goreng itu, seperti kakak sangat suka, gimana kalau kita kesana nanti." tanya Zahra yang sudah bisa menebak jawab Robby.
"Ehhh Enghhhh maaf nyonya, penjualnya tidak buka toko hanya penjual rumahan, kita bisanya pesan melalui aplikasi." jawab Robby gugup.
"Ohhh ya udah, kalau begitu pesan aja lagi pak." senyum Zahra.
"Baik nyonya.." Robby menarik napas lega karna Zahra tidak memaksanya ke tempat penjual nasi goreng itu, meski Robby sadar mungkin hanya candaan Zahra yang juga mungkin sudah bisa menebak dari mana asal nasi goreng itu.
"Kita sudah sampai nyonya.." Robby.
"Baik.., ayo kak." Zahra menunggu Shafa keluar dari mobil yang di bukakan pintu oleh supir.
Mereka masuk kedalam Mall dengan pengawalan ketat dari Robby dan orang orangnya, Niken, Nila dan Lila juga ikut bersama mereka masuk ke outlet yang menjual baju baju khusus busana muslim wanita.
"Lila, Nisa aku baru ingat kemarin kak Shafa minta buatkan rujak buah, tolong kalian beli di pasar xx, beli macam macam buah segar dah baru, lalu beli juga bahan untuk rujaknya." titah Zahra saat mereka ada di dalam outlet.
"Tapi nyonya tempat itu sangat jauh, bagai mana kami meninggalkan nyonya berdua di sini." jawab Nisa bingung.
"Kau ngak lihat ada Niken di sini dan pak Robby serta yang lain di luar, kalian jangan kwatir tidak apa apa, sekarang berangkat saja sana, bilang pada pak Robby jangan jauh jauh dari tempat ini." ucap Zahra lembut.
"Baik nyonya." Nisa dan Lila ahirnya pergi meninggalkan kedua majikan serta Niken di sana.
"Ayo kak, lihat mana baju yang cocok untuk kakak ." menarik pelan tangan Shafa ke arah baju busana muslim yang tampak mewah dengan berbagai model serta bahan.
"Shafa masih cape ma, Shafa duduk saja dulu ya, mama aja yang pilihkan." jawab Shafa.
"Kakak cape ?, ya udah kakak duduk di sana dulu ya nak, nanti mama cari mana yang pas buat kakak terus kakak nanti yang pilih lagi."
Zahra mengantar Shafa duduk di sudut ruangan, tempat yang tidak begitu terlihat dari tempat lain, tempat bagi pengunjung outlet yang ingin duduk bersantai sejenak kalau sedang berkunjung dan merasa lelah.
"Iya ma.."
Shafa duduk sendiri sambil memperhatikan mama dan Niken yang sibuk memilih baju untuknya.
Tempat itu tampak sepi karna sudah di kosongkan dari pengunjung lain, dan hanya keluarga Wu yang ada di sana.
Dengan kata lain outlet itu di tutup untuk umum sementara waktu sampai Zahra dan Shafa selesai berbelanja di sana.
Tiba tiba Zahra tersadar sesuatu.
"Niken .. panggil pak Robby sebentar." titah Zahra pada bodyguar putrinya itu.
"Baik nyonya." Niken lalu menghubungi Robby melalui panggilan telepon.
Tidak lama kemudian Robby datang dan langsung masuk kedalam Outlet tersebut dah langsung menemui Zahra.
"Ya nyonya, nyonya memanggil saya." tanya Robby sopan.
__ADS_1
"Iya pak Robby, katakan pada penjaga toko ini suruh mereka mematikan Cctv." ucap Zahra pelan agar Niken dan yang lain tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Sudah nyonya.." jawab Robby spontan, detik kemudian ia tersadar dan langsung menutup mulutnya.
"Ohhh ya udah." senyum Zahra mengerti.
Robby merasa lega Zahra tidak marah itu berarti apa yang ada di pikiran Zahra dan dirinya sama, tapi mereka tidak saling sepakat hanya insting masing masing saja yang berjalan.
Robby melihat seseorang yang berjalan santai ke arahnya, tawa Robby hampir meledak melihat orang itu, dia memakai Duffle Coat lengkap dengan topi kaca mata hitam serta masker warna hitam juga.
"Lu pikir ini di etopia, dengan penampilan begitu orang malah makin curiga bego." gumam Robby dalam hati.
Robby segera mengalihkan perhatian para bodyguar lain, ia memberi tugas para bodyguar agar berpencar namun tidak menjauh dari tempat Robby berdiri.
Ada yang ia perintahkan membeli minuman ada juga yang membeli pulsa untuknya, dengan alasan pulsa habis dan paket tiba tiba habis padahal ia tinggal isi dari Aplikasi saja tapi namanya mencari alasan untuk pengalihan Robby terpaksa melakukan itu.
Tanpa basa basi orang itu langsung melewati Robby dan Robby pura pura tidak melihat, Jones membuka pintu outlet pelan dan langsung masuk, para penjaga toko yang sibuk melayani satu orang tidak memperhatikan kehadiran orang itu.
Shafa yang duduk menyandar di sopa terkejut karna tiba tiba orang yang baru masuk tadi menariknya pelan ke arah samping ruangan itu, di sana hanya ada gantungan berbagai macam baju sehingga tempat itu tidak terlalu terlihat dari tempat Zahra dan yang lain berada.
Ruangan itu juga hanya transparan dari depan saja, kalau dari samping kiri kanan kacanya gelap sehingga tidak siapapun yang bisa melihat kedalam ruangan.
Niken ternyata sadar kalau ada orang lain yang baru masuk dan ketika ia ingin mengejar orang itu Zahra justru menahannya.
"Niken..biarkan saja." menahan tangan Niken agar tidak pergi ke arah Jones membawa Shafa.
"Tapi nyonya.." Niken.
"Biarkan, kamu jangan ikut campur, atau kamu akan berhadapan dengan ku, kamu sayangkan pada kak Shafa.." tanya Zahra setengah berbisik.
"Iy..iya nyonya.." jawab Niken gugup karna tatapan mata Zahra yang biasa lembut sekarang sangat tajam bahkan menusuk, meski kata katanya tidak kasar dan keras tapi cukup membuat nyali Niken menciut.
Zahra tau dan juga sadar kalau tadi ada sosok tinggi besar yang masuk tiba tiba kedalam ruangan, dia bisa melihat dari ekor matanya yang tadi sempat melirik ke arah Shafa duduk.
Kalau laki-laki itu bukan orang yang ingin ia pertemukan dengan sang putri tidak mungkin ia lolos masuk outlet dari penjagaan Robby dan orang orangnya, karna dia yakin orang itu Jones makanya dia diam dan melarang Niken mendekat pada Shafa dan Jones.
Sementara Niken yang tidak mengerti dan tidak tau apa apa menjadi gelisah karna tidak melihat majikannya ada di sopa bahkan sudah di bawa oleh seseorang kesamping ruangan.
"Tapi nyonya bagai mana kalau nyonya muda dalam bahaya." tanya Niken cemas.
"Tidak mungkin suaminya membahayakan istri nya sendirikan." senyum Zahra.
"Hahh..tu..tu.." gagap.
"Iya ..diamlah, berikan kesempatan sebentar." jawab Zahra lagi.
Tangannya sibuk memilih baju untuk Shafa dan untuknya sendiri, bahkan dia juga meminta Niken memilih baju untuk dia dan dua temannya yang lain, agar Niken tidak sibuk lirik sana sini dan sekedar mengulur waktu.
Sementara itu di samping.
"Ssttt.. tenang sayang, jangan meronta, ini Aa." bisik Jones memeluk Shafa positif.
Laki-laki itu berhasil membawa Shafa tanpa ada perlawanan dari wanita hamil itu, meski sempat takut tapi karna mencium aroma tubuh seseorang yang ia rindukan wanita itu pasrah ketika tangan besar itu memeluk dan membawanya kesamping ruangan.
"Aa.." suara tercekat di tenggorokan.
"Iya sayang..ini Aa, suami sayang." suaranya Jones juga tercekat di tenggorokannya, suara yang pelan dan bergetar menyimpan segala rasa.
Jones membuka masker dan topinya, lalu kedua benda itu ia simpan kedalam kantong coatnya, kemudian tangan kanannya membuka niqab Shafa lalu ia singkap keatas kepala istrinya.
"Sayang..Aa kangen banget yank, sangat kangen, maafkan Aa ya yank, Aa salah, kesalahan Aa sangat besar Aa minta maaf yank."
Air mata laki-laki itu mengalir deras di wajah pucat dan tirusnya, sama hal dengan Shafa yang juga ikut menangis begitu melihat wajah suaminya.
"Hiks.. Aa jahat.." hanya kata itu yang keluar dari mulut Shafa, kedua tangan kecilnya memukul mukul dada Jones meski tidak kuat.
"Iya yank, Aa jahat sangat jahat, karna jahatnya Aa sendiri tidak ingin memaafkan diri Aa yank, semua karna Aa yang tidak teliti yank, maaf kan Aa ya yank, Aa ngak sanggup berjauhan dengan dede lagi Aa ngak kuat yank, Aa hampir gila dan memang sudah pernah gila."
Jones menangkup wajah Shafa dengan kedua telapak tangannya di sisi kiri kanan wajah cantik sang istri yang juga masih terlihat pucat serta tidak kalah tirus dari Jones.
Bibir Jones tidak seinci pun melewatkan seluruh permukaan wajah Shafa, di kecupnya berulang kali wajah wanita yang ia rindukan beberapa minggu ini, wajah yang selalu menghantui hidupnya.
__ADS_1
Jones memeluk istrinya itu erat, sampai dia lupa ada penghalang di antara mereka yakni perut Shafa yang sudah besar.
"Aa..sesak.." menepuk punggung Jones pelan.
Jones langsung melonggarkan pelukannya dan sadar kalau pelukannya sudah membuat Shafa terganggu, setelah berkali kali mencium wajah Shafa kini bibir singgah di bibir istri.
Di kulumnya lembut bibir itu dengan segala rasa yang berbaur bercampur aduk, rindu, sayang, cinta dan nafsu, dulu beberapa minggu lalu bibir itu selalu tempat pelariannya siang dan malam.
Nghhhh.. suara kecapan Jones di mulutnya membuat Shafa mendorong tubuh Jones pelan, membuat Jones kecewa.
"Kenapa yank, sayang ngak menginginkan Aa lagi ya, sayang ngak mau Aa cium hmm." tanya Jones kwatir mendapatkan penolakan Shafa.
"Kita di tempat umum Aa, nanti di lihat orang, mama serta kak Niken juga ada di sini." jawab Shafa memberengut.
"Tidak apa apa yank, ngak ada yang lihat kok, mama sedang sibuk memilih baju Niken juga, ngak ada yang lihat kita di sini yank."
Jones kembali meraup mulut Shafa, memainkan lidahnya sampai kedalam rongga mulut Shafa membuat keduanya sama sama terhanyut.
"Aa kangen banget yank, kita pergi dari sini ya yank, ikut Aa yank, kita pergi jauh dari sini Aa mohon yank." bujuk Jones.
Tangan kirinya memeluk pinggang Shafa tangan kanan membelai wajah Shafa lembut dan mesra, Shafa tidak menjawab bola matanya masih menatap wajah tampan suami seakan dia belum percaya kalau yang memeluk dan mencium itu adalah suaminya sendiri.
"Yank..ayo ikut Aa hmm." kembali mencium kening Shafa.
Shafa tetap diam.
"Yank.. ngak mau bersama Aa lagi ya, hmm sayang marah banget sama Aa, sayang ngak mau memaafkan Aa yank ?." tanya Jones hampir prustasi.
Namun Shafa masih saja diam.
"Yank.. istri ku, tolong maafkan Aa yank, Aa janji ngak ulangi lagi, Aa minta maaf yank." Jones mengangkat tubuh Shafa pelan ala bridal style, lalu ia bawa ke sopa yang ada di sudut ruangan.
Jones duduk di sopa dengan memangku Shafa di atas pahanya, di tatapnya wajah Shafa lamat lamat, ada keraguan dari tatapan mata Shafa entah apa yang ada di pikiran wanita itu saat ini dan Shafa lantas menunduk.
Shafa kembali mengingat surat usulan gugatan perceraian yang sudah ia tanda tangani, hatinya menjadi gamang, bingung harus apa dan harus berkata apa.
Si sisi lain ia memaafkan suaminya itu, dan ingin bersama tapi di sisi lainnya rasa takut dengan kemarahan sang papa membuat Shafa merinding, lebih baik berpisah hidup dari pada berpisah mati itulah yang ada di benak Shafa.
"Yank.. sayang ngak percaya pada Aa ya, Aa mohon maafkan yank, ikut Aa ya yank, mumpung kita di sini, Aa bisa membawa dede keluar dari sini dari kota ini bahkan dari negara ini, ingat yank dede lagi hamil, Aa butuh dede dan anak anak juga butuh Daddynya kan."
Jones terus merayu Shafa dengan kata kata yang sama dan berulang, dia benar benar ingin membawa istrinya itu pergi jauh dari
keluarga Wu.
Karna menurutnya harapan bersama sangat tipis kalau meminta baik baik pada Johan, dan dia tau percis bagai mana sifat mertuanya itu, sedang Shafa masih terdiam, sampai suara seseorang mengejutkan kedua insan itu.
"Apa maksud mu mengajak putri kami pergi, aku kasih kesempatan buat kamu bertemu putri ku bukan untuk kau bawa pergi, apa hal itu ceritanya suami menculik istri sendiri, ngak lucu kan." ada nada marah di kata kata Zahra.
Zahra sengaja membolak balik baju yang bergantungan di dekat Jones dan Shafa agar tidak mencolok kehadirannya di sana.
Awalnya Zahra hanya ingin memperingatkan Jones kalau waktu bertemu dengan Shafa tidak lama dan dia ingin membawa putrinya itu dari sana tapi karna Jones mengajak Shafa pergi mau tidak mau Zahra ahirnya bersuara.
ππππππ
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πͺ΄ LIKE
πͺ΄ RATE
πͺ΄ VOTE
πͺ΄ HADIAH yang banyak
πͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.