UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
70. Kamu kenapa gils ?.


__ADS_3

"Koko lapar." Zahra membangunkan Johan yang baru saja terlelap karna kelelahan sehabis pertempuran mereka tadi.


"Hmm .. sayang mau makan ??, ayo yangk." jawab Johan dengan suara serak khas baru bangun tidur, berlahan ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya yang tadi kedinginan setelah mandi malam.


"Ya ayok." berjalan keluar kamar di susul


pak bucin.


"Yangk.. kamar kakak masih terang, belum tidur sepertinya, apa jangan jangan begadang ya." tanya Johan bingung, karna tidak biasanya Shafa begadang, apa lagi saat ini sudah jam satu lewat tiga puluh menit dini hari.


"Ngak tau ko, coba di periksa, jangan jangan kak Shafa ngak bisa tidur karna memikirkan pembicaraan kami tadi sore." cemas Zahra berjalan ke arah kamar sang putri.


Tok..tok..tok..


"Kak.. kakak belum bobok ya." tanya Zahra tapi tidak ada sahutan dari dalam.


Tok..tok..tok..


"Kak.. buka pintunya nak, kok belum bobok jam segini." panggil Johan, tetap tidak ada jawaban


"Kalau udah tidur kok lampunya ngak di padamkan ya yangk, biasanya kak Shafa ngak bisa tidur kalau terlalu terang begini."


"Iya koko, coba panggil lagi." cemas Zahra.


Tok..tok..tok..


"Kak.." Johan menghentikan kata katanya karna pintu yang tiba tiba terbuka dari dalam, dan muncul Shafa yang sedang mengenakan mukena berwarna maron warna kesukaannya.


"Loh kak, sedang tahajud ya." Zahra.


"Iya mama, tahajud dan istiqarah." jawab


gadis itu.


"Oo ya sudah, kalau belum selesai lanjutkan lagi kak, tapi nanti langsung bobok ya kalau


sudah siap." Johan.


"Iya papa."


Setelah mama dan papanya pergi Shafa kembali melanjutkan doa malamnya dan setelah itu ia tidur karna hari sudah sangat larut.


*****


Shafa terbangun saat kumandang azan subuh terdengar dari kejauhan, gadis itu bangun dan menyandar pada headboard, ia teringat pada mimpinya Allah sudah memberikan petunjuk padanya lewat mimpi.


Kini keputusan terahir ada di tangannya, menerima atau tidak Jones di sisinya gadis muda itu menarik napas dalam dalam lalu ia turun dari atas tempat tidur.


Ia melangkahkan kaki kecilnya menuju kamar mandi untuk membasuh diri laku berwhudu kemudian ia lalu menunaikan ibadah


Sholat subuh.


Tidaak lama setelah sholat pintu kamarnya di ketuk dari luar dan suara sang mama menyusul setelah suara pintu, gadis itu membukakan pintu untuk sang mama.


"Sudah Sholat kak ?."


"Baru selesai mama."


"Alhamdulillah, bagai mana hasil istiqarahnya, ada petunjuk."tanya sang mama yang tau anak perempuannya melakukan sholat itu tadi malam.


Shafa sholat istiqarah untuk menentukan pilihannya apakah menerima Jones atau tidak, dia juga ingin memastikan pilihan hatinya itu yang terbaik atau tidak, melalui Sholat malam Shafa berharap akan mendapatkan petunjuk dari Allah dan dia sudah mendapatkan petunjuk itu.


"Shafa sudah mendapatkan jawaban dari doa Shafa mama, Shafa bermimpi tadi malam." jelas gadis itu pada sang mama sambil melihat mukenanya lalu menyimpan.


"Syukurlah kak, sudah berapa kali kakak Sholat istiqarah, kakak sudah menentukan hati kakak."


"Shafa sudah tiga kali istiqarah mama, dan sekarang hati Shafa sudah mantap Shafa sudah bisa mengambil keputusan."


"Baiklah kak, papa dan mama menyerahkan semua keputusan di tangan kakak, ingat kak segala sesuatu yang di putuskan terburu buru hasilnya belum tentu akan memuaskan, tapi kalau kakak sudah memutuskan dengan berbagai pertimbangan maka lanjutkan."


"Iya mama, sudah dua minggu ini Shafa memikirkannya, di setiap doa dan mimpi Shafa selalu itu jawaban, bukan nya ragu atas petunjuk Dari Allah tapi Shafa sedang menguatkan hati Shafa dan sekarang keputusan Shafa sudah


bulat mama."


"Baik sayang, nanti beritahukan pada mama dan papa keputusan kakak kalau kakak sudah siap, sekarang ayo bantuin bikbik di dapur, oma dan mami juga sudah di dapur, anak perempuan harus rajin masuk dapur." senyum wanita itu.


"Iya mama, Shafa rajin kok masuk dapur, tapi menonton saja hehehe."


"Kakak.." mama dan anak sama sama tertawa.


" Gitu ya, cerita berdua ngak ajak papa, papa cemburu nih." Johan datang menggendong princes Janeet di dadanya.


Gadis kecil itu setiap pagi saat bangun tidur wajib di gendong oleh sang papa, kalau tidak dia akan mengamuk seharian, Shafa menatap adik kecilnya itu dengan tatapan iri membuat sang papa tersenyum geli.

__ADS_1


"Kesayang papa, kok manyun gitu kakak juga mau di gendong papa ?." goda Johan.


"Ishhh papa, Shafa sudah besar."


"Oh iya ?? hmm papa lupa itu."


"Tata .. cayang Annett, peyuk." ucap gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya ke arah sang kakak, Shafa tersenyum bahagia menyambut tubuh kecil sang adik, meski kecil tapi berat.


"Tata Annett lindu sama kak Ones, Annett kangen tata, mau main sama kak Ones." ucap gadis itu lirih sambil membelai kedua pipi Shafa dengan tangan kecilnya.


"Nghhh itu itu.. tata ngak tau Meimei." jawabnya terbata sambil melirik pada papa mamanya.


"Sudah beberapa hari ini Meimei selalu bertanya tentang dokter Jones, kakak mau membawa Meimei bertemu dokter Jones ngak." Zahra.


"Nghh.. nanti saja mama, Shafa bicara dulu


sama Uncle." menunduk malu di depan sang papa.


"Kakak sudah ambil keputusan ?." Johan.


"Sudah papa."


"Hmmm baiklah, apapun keputusan kakak papa harap itulah keputusan dari hati nurani kakak yang terdalam dan itulah kebaikan yang terbaik pula untuk kakak, papa tidak akan menentang


apa pun itu."


"Iya papa."


Mereka pun turun ke lantai bawah, Zahra, Johan dan Janeet keluar rumah untuk jalan pagi, setelah kehamilan Zahra yang sudah memasuki delapan bulan mereka rutin jalan pagi dan Janeet tidak pernah absen ikut jalan pagi bersama kedua


orang tuanya.


Siang itu setelah ujian semester Shafa menuju Rumah sakit, kata sang papa Jones akan ada jadwal terapy siang nanti, meski tidak yakin Jones datang lagi tapi Johan tetap mengizinkan Shafa pergi ke sana.


" Lu makin dekil saja, lu ngak makan makan apa, lihat lu sangat kurus." omel Robby melihat penampilan lusuh Jones.


Mata biru itu tampak sayu dan layu, sejak Shafa melihat matanya dan Shafa mengatakan matanya sangat indah dan ingin memperbaiki keturunan Jones tidak pernah lagi memakai kontak lensa, meski di tegur oleh sang mama tapi Jones tetap tidak perduli.


Mama Dara memang tidak pernah mengizinkan Jones memperlihatkan mata birunya pada semua orang, karena mama Dara takut suatu saat akan kehilangan Jones.


Mama Dara takut kalau Jones bertemu dengan keluarga papanya yang bahkan mama Dara tidak tau di mana berada, tapi naluri seorang ibulah membuat mama dara selalu waspada.


Dan hal itu tentu saja membuat semua orang yang tidak tau dengan keturunan aslinya menjadi terkejut dan heran, bagi orang orang yang tidak terlalu dekat dengan Jones tentunya.


Dari struktur wajah dan postur tubuh Jones memang mirip dengan bule, tapi karna selama ini matanya yang berwarna coklat membuat orang tidak terlalu yakin, mereka berpikir hanya mirip saja atau mungkin Jones punya keturunan atau keluarga jauh bule saja.


"Woi.. gua ngomong ke lu, diam terus, lu kira gua radio rusak rusak apa, gua salah apa ke lu, kenapa sekarang gua berpikir lu lebih menyeramkan dari pada si bos ya." omel laki-laki itu kesal karna terus saja di cuekin.


Robby terus mengikuti Jones menuju ruang terafy dengan mulut yang terus mengoceh, awalnya Jones sudah tidak mau lagi terafy tapi karna terus terusan di paksa oleh Robby ahirnya Jones mau karna bising mendengar suara cempreng Robby yang terus terusan mengoceh.


Jones berpegangan pada besi penyangga yang ada di ruangan, kakinya terasa berat saat di langkahkan, kondisi tubuh Jones yang semakin kurus dan lemah karna kurang nutrisi dan kurang vitamin menambah keadaan sulit pada laki-laki itu dalam beraktivitas dan proses penyembuhan.


"Lu harus semangat, ingat lu masih muda dan erjik tapi kok gampang banget putus asa." omel Robby.


"Diam lu, bising tau, muak gua dengar ocehan lu." balas Jones emosi.


"Lu itu ya bu.." kata kata Robby berhenti karna melihat kehadiran seseorang di sana."


Tampa kata Robby meninggalkan laki-laki itu di sana, ia juga mengajak perawat pendamping terafy ikut keluar, Jones yang tidak menyadari kepergian Robby dan perawat tetap berpegang pada besi penyangga dengan kedua tangannya.


Sampai pandangan matanya melihat kaki seseorang yang sedang melangkah ke arahnya, Jones langsung mengangkat wajahnya dan seketika bola matanya beradu dengan bola mata Hazel milik seseorang yang sangat ia rindukan beberapa minggu ini.


"Gils.." tersenyum lebar, tangannya berpegangan kuat pada kedua sisi besi karna kakinya yang tidak kuat dan gemetar menahan bobot tubuhnya.


"Uncle." gumam Shafa sambil terus melangkah ke arah Jones.


Shafa memperhatikan laki-laki itu dari ujung rambut sampai mata kaki Jones, entah mengapa tiba-tiba hatinya terasa melilit sakit dan panas melihat kondisi Jones yang pucat kurus dan berantakan


Awalnya Shafa sampai takut karna laki-laki itu bukan hanya dekil tapi berewokan, gadis itu sempat tidak mengenali Jones tapi karna sang papa yang mengantarkannya ke sana dan mengatakan kalau laki-laki itu adalah Jones apa lagi melihat kehadiran Robby di sana barulah Shafa berani masuk menemui Jones.


"Apa kabar gils." sapa Jones bahagia.


" Baik Uncle, Uncle apa kabar, masih belajar jalan ya, kok lambat sih, Meimei lebih cepat pandai belajar jalan dari pada Uncle, Uncle kalah sama Meimei." Langsung cerewet.


"Hemmm gitu ya, jadi ngejek nih." tawa kecil Jones.


Shafa diam, bola matanya terus saja mengawasi gerak gerik Jones, Jones yang di perhatikan oleh gadis itu ikut memperhatikan dirinya sendiri, seketika wajahnya memerah, ia merasa malu sendiri menyadari penampilannya yang seram menurutnya.


"Kamu.. aku ..nghh aku .." gugup karna ilfil.


Shafa berjalan makin mendekat pada Jones, ia berdiri tidak jauh dari laki-laki itu, dan berjarak sekita dua meter saja.


"Kenapa gils.kok lihat nya begitu." makin malu.

__ADS_1


"Uncle kok aneh ?." jujur.


"Ehhh nghhh itu, itu karna, karna yahh karna ngak." Tidak bisa menjawab.


"Kamu, kamu mau apa kemari." tiba-tiba bertanya seperti itu, Jones langsung menutup mulutnya jangankan Shafa ia sendiri tersinggung dengan pertanyaannya.


"Maaf .. maaf bukan maksudku." menatap manik mata gadis itu dengan sorot mata lembut, ia takut sang gadis marah tersinggung dan makin merajuk.


"Shafa kemari mau bertanya sama Uncle." nada biasa dan santai, karna dia juga sedang gugup.


"Tanya apa gils, ayo tanyakan." lebih gugup lagi.


Entah mengapa sejak Shafa menghindarinya beberapa minggu ini membuat Jones lebih hati-hati berbicara dengan gadis itu, ia sangat takut membuat Shafa marah dan tersinggung lagi.


"Itu.. Uncle.. Shafa ada banyak tugas enghh." Shafa menggaruk kepalanya karna salah bicara.


"Ya ampun, gua kira mau tanya apa, coba tanya lagi seperti dulu gua pasti langsung jawab iya, biarlah di lamar duluan." gumam Jones.


"Apa yang perlu aku bantu gils." ahirnya Jones mengikuti alur cerita Shafa.


"Itu.. Shafa sebenarnya ingin bilang sesuatu sama Uncle tapi Uncle jangan marah dan tersinggung sana Shafa ya." menunduk.


Deg..


Jantung Jones berdebar kencang, ia memperhatikan gerak gerik Shafa yang bingung, gadis itu meremas jari jari tangannya sendiri karna gugup, Jones tau wanita itu ingin mengata kan sesuatu yang mungkin akan membuatnya terluka atau mungkin bahagia.


Lutut Jones seakan tidak bertulang, ia hampir saja kehilangan kendali pada dirinya sendiri, ia takut dan was was kalau kalau apa yang akan di sampaikan gadis itu adalah hal yang akan membuatnya hancur.


"Katakan saja gils." berusaha kuat, tapi suaranya sudah serak dan bergetar.


"Itu, enghhh maaf Uncle, Shafa .. Shafa."


Shafa tidak melanjutkan kata katanya, tiba tiba ia merasa pusing, sejak datang tadi gadis itu sudah merasa kurang enak badan tapi karna ingin bertemu dan berbicara dengan Jones ia berusaha kuat dan berusaha tenang.


"Kamu kenapa gils." memperhatikan gerak gerik Shafa yang gelisah seperti menahan rasa sakit atau takut.


'Shafa.. Shafa.. ngak bisa Shafa."


Deg..


"Katakan saja gils." nada suara berat.


"Itu.. Shafa .. perut Shafa sa .. sakit Uncle." pandangan mata gadis itu mulai kabur, ia lalu berjalan cepat ke arah Jones agar bisa meraih besi penyangga yang ada di sekitar Jones.


Namun belum sampai, gadis itu sudah tersungkur di lantai di hadapan Jones, membuat Jones panik dan histeris, tampa sadar Jones berjalan cepat ke arah sang gadis, rasa sakit pada kakinya yang terasa berat dan ngilu saat melangkah sudah ia lupakan.


"Gils.. gils.. kamu kenapa, gils..." teriak Jones makin panik saat melihat Shafa yang tidak berreaksi pada panggilannya.


Jones berlutut di hadapan Shafa yang terletak di lantai, Jones bingung harus melakukan apa pada gadis itu, ia takut kalau sampai menyentuh Shafa dan sang gadis tau akan marah dan murka lagi.


"Gils.. ayo bangun gils, jangan membuatku takut dong gils, ya ampun mana ngak ada orang lain di sini, ya Allah apa yang harus gua lakukan."


Jones melihat ke seluruh sisi ruang dan berteriak teriak memanggil manggil siapa saja yang ia anggap ada di luar ruangan, namun ia baru sadar kalau tempat itu kedap suara.


"Maafkan aku gils, ku harap kamu tidak marah." ucapnya lalu mengangkat tubuh kecil Shafa, dengan langkah tertatih ia berusaha berjalan dengan sekuat tenaga.


Awalnya ia tidak perduli dengan rasa sakit pada kakinya tapi makin lama di bawa berjalan rasa sakit di kakinya makin terasa, ahirnya ia berusaha berjalan sampai ke kursi roda elektrik yang ia pakai beberapa minggu ini, dengan susah payah ia sampai juga kesana.


Jones berusaha duduk di kursi yang berukuran cukup besar itu, pelan pelan ia menjalankan kursi roda menuju pintu dengan membawa Shafa di pengkuannya.


Tangan kiri Jones menahan tubuh sang gadis agar tidak terjatuh, tangan yang satu lagi mengendalikan jalan kursi roda agar tetap seimbang, dengan berusaha kuat dan tenang menahan rasa sakit yang teramat pada kaki kirinya itu.


Shafa kenapa ya all..


Kasian kamu Jones, sabar ya hiks.


******


Hai teman-teman author dan teman teman -pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’ KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading


__ADS_2