
"Mama, papa doain Shafa ya." Shafa meraih tangan mama papanya sebelum masuk ke ruang operasi.
"Tentu saja sayang, papa dan mama akan selalu mendoakan yang terbaik buat kakak, kakak jangan takut ya nak, kakak akan baik baik saja hmm." memeluk dan mencium buah hatinya itu penuh kasih sayang.
Meski Zahra juga sebenarnya takut tapi tidak ia tunjukkan di depan putrinya, ia berusaha tersenyum dan kuat di hadapan Shafa begitu pun Johan.
"Kak, semangat ya nak, papa selalu mendoakan kakak, papa dan mama serta yang lain menunggu kakak di sini." mencium kening putri sambungnya.
"Iya papa, mama jangan kwatir Shafa tidak takut lagi karna Shafa di temani Aa di dalam." senyum Shafa.
"Iya kak, papa percaya kakak pasti kuat." balas Johan, matanya menuju Jones seakan mengisyaratkan agar menantunya itu menjaga Shafa baik baik.
Jones yang sedari tadi berdiri di sisi Shafa mengangguk pelan membalas isyarat dari papa mertua, meski suka begaduh tapi kali ini mereka berdua kompak untuk akur bersama.
Shafa lalu masuk kedalam ruangan operasi berjalan berdua, tangan Shafa di gandeng oleh suaminya masuk kedalam ruangan, suasana kamar operasi yang sudah pernah beberapa kali di masuki oleh Shafa saat mendampingi Jones operasi pasien pasien dulu tampak lengang.
Karna masih mereka berdua yang ada di dalam, dokter ahli lainnya belum masuk kekamar operasi karna mereka masih memberikan ruang pada pasangan suami istri itu sebelum operasi berlangsung.
"Dede takut ?."
"Tadinya iya, sekarang ngak lagi."
"Kenapa gitu." mengangkat tubuh Shafa ke atas meja operasi, kemudian ia menangkup wajah cantik istrinya dengan kedua tangan.
"Kan ada Aa." tersenyum, padahal sebenarnya dia sangat takut dan Jones tau itu.
"Ouhhh gitu ya, good istri sholehah Aa, love you so much, tetap semangat ya, jangan takut hmm Aa akan selalu bersamamu sayang." mengecup bibir Shafa mesra kemudian ia ********** lembut.
"Dede sudah siap hmm." melap sisa salivanya di bibir Shafa, sembari mengatur napas yang sempat memburu akibat ciumannya.
"Hmm udah Aa." merona.
Dasar suami mesum, udah di atas meja operasi saja masih sempat sempatnya mencium istri sampe tersengal begitu.
"Oke.. kalau sudah siap Aa akan meminta mereka masuk."
"Aa, mereka akan melihat Aurat Shafa."
"Tidak akan sayang, Aa akan menyiapkan dede dulu, dede biusnya kan bukan efidural tapi bius umum, nah sekarang dede rebahan Aa yang akan membuka baju atas dede, Aa yang akan menyiapkan semuanya jadi mereka hanya akan melihat perut dede saja bukan yang lain."
"Iya Aa."
Shafa merebahkan tubuhnya di bantu Jones, kemudian laki laki itu memasang tirai pembatas antara perut dan bagian bawah Shafa, kemudian setelah mempersiapkan segala kebutuhan barulah tim operasi masuk.
Dokter anestesi segera bertindak memasukkan obat bius melalui selang infus, sebenarnya kalau Shafa bisa saja pakai bius efidural sehingga ia masih sadar dan yang mati rasa cuma pinggang ke bawah saja.
Tapi Jones yang mau istrinya itu bius umum, saat Shafa tertidur ia bisa melakukan tindakan dan tidak tau apa yang mereka bicarakan dan tindakan yang mereka lakukan padanya.
Jones duduk di dekat kepala Shafa sebelum istrinya tertidur ia masih sempat membisikkan kata kata mesra dan penyemangat.
"Bobok sayang, jangan takut hmmm, Aa akan menemani dede sampai kapanpun." membelai sayang kepala Shafa, alis dan wajahnya yang tertutup niqab.
"Iya Aa, Aa tenang saja dede bobok nih." oceh dokter Alwi sembari menggoda Jones.
Lima orang lainnya jadi terkekeh mendengar suara dokter Alwi yang menirukan suara seorang wanita, bukannya tersenyum apa lagi ikut terbawa wajah Jones justru kaku, muram dan dingin, membuat mereka semua yang ada di sana terdiam seribu bahasa.
Jones kembali mencium kening Shafa, dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah perut Shafa bagian yang akan di operasi.
Dokter Alwi mundur selangkah ke belakang memberi ruang untuk Jones di depan perut istrinya yang sudah di sterilkan dan di olesi Povidone Iodine dan siap untuk di operasi.
Jones yang sudah siap dengan perlengkapan operasi, ia memakai surgical gown ( baju operasi ) lengkap dengan sarung tangan medis serta kaca matanya.
__ADS_1
Di tangan kanan Jones sudah ada pisau bedah dan tangan kiri khasa steril untuk mendep darah luka yang terbuka.
Tangan Jones tampak bergetar, keringat dingin mengucur deras, dia tremort dan tak sanggup untuk membuka luka baru ( menyayat ) perut istrinya.
"Bro.. waktu makin berjalan, nanti biusnya berkurang efektivitasnya, kalau lu ngak sanggup biar gua aja, nanti lu yang angkat kistanya." dokter Alwi menepuk pelan punggung Jones.
Alwi tau Jones tidak sanggup membuka luka di perut istrinya, sangat berbeda rasanya membuka luka di perut pasien, orang lain dengan orang yang terdekat dan orang yang paling di cintai.
Hiks hiks.. tiba tiba suara isakan terdengar dari mulut lelaki jangkung itu, laki-laki yang di kenal pintar, baik, ramah dan bersahaja itu ternyata bisa menangis Juga.
Para tim tersentak mendengar isakan Jones, mereka saling pandang satu dengan lainnya, terharu dan simpatik pada dokter tampan itu begitu cintanya pada sang istri sehingga ia tidak mampu membuat luka dan melukai istrinya itu meski di situasi pengobatan dan perawatan.
"Bro. please, tolong gua." Jones.
Alwi maju ke samping Jones, lalu dokter anestesi membantu Jones untuk duduk di dekat kepala Shafa agar ia bisa menenangkan diri.
Jones menggenggam tangan Shafa yang bebas, isakan masih terdengar dari mulutnya, di peluknya leher Shafa dengan tangan kanannya, tangan kirinya mengelus kepala istri.
"I'm sorry dear, i'm sorry Aa ngak bisa menepati janji Aa, Aa ngak sanggup sayang, I really love you my wife, Aa ngak bisa melakukannya." bisiknya di telinga Shafa.
Sementara Jones sibuk membisikkan kata kata cinta pada sang istri yang di dalam kendali obat bius para dokter pun sibuk dengan alat masing masing.
Suara alat alat dan suara mesin alat penyedot darah terdengar memecah keheningan ruangan itu, suasana yang tadinya penuh canda tawa menjadi hilang karna sikap Jones yang tiba tiba berubah dingin dan tidak bersahabat.
Beberapa menit kemudian.
"Bro.. gua hampir sampai di lapisan terahir, gimana lu atau gua yang angkat ??." tanya dokter Alwi, keringat juga bercucuran di kening laki-laki itu, sang asisten pun dengan setia melap keringat dokter muda itu.
Tangan laki laki itu tetap berada di atas perut Shafa pokus untuk membuka lapisan terahir kulit perut putri pemilik rumah sakit dan putri orang terpandang dan kaya raya itu.
Tentu saja dokter Alwi juga merasa was was dan penuh hati hati dalam melakukan tindakan pada putri Ceo arogant dan garang itu, salah bertindak nyawa bisa jadi Taruhannya.
Jones menarik napas dalam dalam, ia memejamkan matanya, dia sudah bertekad kalau ia tidak mampu membuat luka baru di atas kulit sang istri tapi dia lah yang harus mengangkat kista sekaligus ovarium istrinya.
"Gua saja bro, tapi setelah itu tolong lu lanjutkan." pinta Jones, ia lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke sisi dokter Alwi, setelah mengecup kening sang istri tentunya.
Jones kembali memasang hanscone dan menerima gunting serta alat penjepit dari tangan asisten operasi.
"Ya Allah, jangan sampai istri ku tau kalau aku mengangkat Ovariumnya, Ya Allah andai engkau tidak mempercayakan kami memiliki keturunan aku iklas dan rela yang penting istri ku sehat dan baik baik saja, namun jika bisa hamba bermohon tolong percayakan pada kami meski hanya seorang anak saja, tolong hadirkan kelak di rahim istriku, Aminn."
Doa Jones di dalam hati sebelum menggunting salah satu ovarium istrinya, setelah menggunting Jones memasukkan benda itu ke sebuah wadah yang sudah di siapkan.
Jones berdiri kaku, tangannya kembali bergetar melihat luka di perut istrinya, tampa banyak bicara dokter Alwi langsung mengambil alih, Jones kembali duduk di tempat duduk semula di samping Shafa.
"Maaf sayang, maafkan suami mu ini istri ku maaf , maaf sayang ku." tangis Jones dengan tubuh bergetar.
Setelah selesai menjahit dan menutup bekas operasi dokter Alwi lalu berkata pada Jones.
"Bro .. sudah selesai, Alhamdulillah kondisi nyonya Shafa stabil, apa kah perlu bantuan memindahkan nyonya ke ruang pemulihan."
"Sudah selesai ?, Alhamdulillah, terimakasih semuanya bro, terimakasih, maaf kalau gua tadi membuat kalian ngak enak hati, maaf .."
"Oke bro, santai saja, kami paham perasaan lu, maaf kalau kami juga tadi membuat lu tersinggung, kami cuma ingin mencairkan suasana." dokter Alwi.
"Oke, biar gua saja yang memindahkan istri gua, asisten tolong bantu cairan infusnya." titah Jones tampa melihat orang yang ia maksud.
"Sayangku, kamu pasti akan baik baik saja, kamu milikku selamanya, love you so much." ucap Jones pelan, Laki-laki itu menyingkap niqab Shafa, di ciumnya lembut bibir ranum sang istri di depan mata semua orang.
Para pemilik mata bukannya menjauhkan pandangan tapi malah sama sama melotot, melotot bukan karna tindakan memalukan Jones tapi melotot demi melihat kecantikan istri sahabat mereka itu.
Mereka yang selalu penasaran dengan keelokan paras putri Ceo terkenal itu kini bisa melihat jelas mereka pun membenarkan rumor yang beredar di antara mereka kalau istri dokter Jones benar
__ADS_1
benar sangat cantik dan rupawan.
Jones kembali menutup wajah istrinya, kemudian ia mengangkat tubuh Shafa pelan dan hati hati ke atas brankat, tempat tidur pasien yang sudah di siapkan sedari tadi di dekatnya.
Jones lalu mendorong tempat tidur itu keluar kamar operasi di bantu dokter Alwi dan dokter Anestesi.
Jones membawa Shafa keruang observasi sementara waktu, sebelum di pindahkan kekamar perawatan.
Di luar kamar operasi.
"Hahhh kok lama banget sih." kesal Johan mondar mandir di depan pintu kamar operasi, dari luar tampak lampu kamar operasi masih menyala.
"Lu bisa duduk dan diam ngak, kalau ngak biar Daddy suruh tongkat Daddy mendiamkan kaki lu itu." tegur Daddy Wu yang duduk di sebelah Mommy Wu, laki-laki tua itu sudah getah melihat putranya itu yang mondar mandir seperti setrikaan.
Sementara Zahra duduk sendiri sambil berjikir dan berdoa untuk kesehatan dan keselamatan putrinya itu, di sana sudah hadir Nazwan bersama Irwan, Daniel, Lisda serta mama yani dan keluarga lainnya.
Nazwan terlambat datang, tapi sebelum operasi berlangsung ia sempat berbincang lewat video call bersama putri dan menantunya, Nazwan memberikan semangat pada keduanya.
"Daddy.." lirih Johan karna merasa malu di bentak sang Daddy meski dengan suara tertahan.
Johan yang belum menyadari kehadiran Nazwan di sana langsung terperanjat begitu bola matanya beradu dengan bola mata mantan suami dari istrinya itu.
Johan langsung berjalan cepat ke arah Zahra dan langsung duduk si samping istrinya, Johan masih saja takut kalau kalau Nazwan akan merebut Zahra darinya karna itu Johan selalu awas.
Nazwan sengaja diam saja dan tidak menyapa mereka semua karna dia ikut tegang menunggu operasi putri satu satunyanya selesai menjalani operasi.
Lampu kamar operasi padam, mereka semua sama sama berdiri begitu dokter Alwi keluar dari pintu kamar operasi.
"Bagai mana putri gua." tanya Johan berjalan cepat ke arah dokter Alwi.
"Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar dan kondisi nyonya muda stabil, tinggal pemulihan saja tuan, sebentar lagi dokter Jones akan membawa nyonya Shafa ke kamar rawatan." jelas dokter Alwi.
"Alhamdulillah." jawab Johan dan semua orang yang ada di ruang tunggu itu.
"Sayang, sekarang sayang tenang ya putri kita akan baik baik saja." Johan memeluk Zahra seraya menguatkan istrinya itu.
"Iya koko, Alhamdulillah semoga setelah ini kakak sehat selalu." Zahra membalas pelukan Johan
Tampa mereka sadari ada sebuah hati yang panas, terluka dan sakit melihat kemesraan mereka, laki-laki itu menunduk sedih melihat kedua insan yang sedang berpelukan dan saling menguatkan itu.
Padahal sudah berjanji iklas, mengapa hati masih terasa perih melihatnya.
Itulah hati.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.