
"Hai cantik, kok makin sombong sih." sapa Dino menjajarkan langkahnya.
"Maaf kak, bukan sombong tapi lagi sibuk mohon jangan jangan ganggu kita ya." Niken.
"Ehh loh kok lu yang jawab sih emang lu jubirnya ya, gua ngak ngomong sama lu." marah Dino.
" Iya saya Jubirnya nona Shafa" jawab Niken datar tampa menoleh ke arah Dino yang makin kesal padanya.
"Nona ?, kamu babunya ternyata." Dion.
"Iya gua babunya nona lu mau apa, gua babu sekalian bodyguar nona, lu jauh jauh sana."
"Cih baru jadi babu sok." Dino.
"Sudah sudah, kak Dino kak Niken bukan babu , lagian apa itu babu kasar amat dengarnya maaf kak kalau kak Niken kasar, tapi orang tua Shafa memang menitipkan Shafa pada kak Niken untuk di jauhkan dari laki-laki karna Shafa tidak boleh dekat dengan laki-laki sebelum Shafa tamat kuliah, sekali lagi maaf ya kak."
Shafa menarik tangan Niken agar berjalan dengan cepat dan menghindari percekcokan lebih panjang lagi dengan Dino, namun belum jauh melangkah kekasih Dino yang baru ia putuskan beberapa hari lalu datang menghampiri mereka.
"Ngapain sih kamu ikutin cewek jelek ni, kamu bakal nyesal tau, udah jelas aku lebih segalanya dari dia." Mantan kekasih Dino itu ikutan berjalan di sisi Dino sembari berusaha menggandeng tangan laki-laki itu.
"Apaan sih lu, kita sudah putus sana jauh jauh lu ngak lihat gua lagi bersama siapa." omel Dion menepis tangan gadis itu.
"Gua ngak mau, gua udah bilang gua ngak mau lu putuskan sesuka hati lu, emang gua sampah abis di ambil isinya di buang."
"Gila lu ya, kapan gua pake lu dasar cewek edan."
"Elehhh jangan munapik, lu mau dapat ni cewek karna taruhan sama kawan kawan lu kan, lu taruhan lima ratus juta makanya lu mati matian mendekati ni orang padahal lu belum pernah lihat wajahnya, bisa aja dia cacatkan."
Ucap wanita itu membongkar niat Dion yang memang sedang taruhan dengan kawan kawannya untuk mendapatkan Shafa.
"Jaga bicara lu, jangan sembarangan ya." ucapnya terbata.
Shafa sudah berjalan makin jauh dengan Niken, mereka ahirnya sampai di Musholla kapus itu, Shafa sama sekali tidak perduli kalaupun Dion mendekati dirinya karna taruhan yang pasti dia memang tidak pernah berniat dekat dengan laki laki manapun.
"Ehhh kita lihat wajahnya yuk, kata orang orang dia bercadar karna menutup wajahnya yang cacat, siapa tau benar." ucap wanita berbaju hijau pada dua kawannya.
Mereka yang tengah duduk di halaman Musholla melihat Shafa datang kesana, bersama Niken serta dua orang wanita yang tidak di kenal.
"Ayo.. gua penasaran gimana wajahnya." jawab wanita berbaju biru.
"Kita Photo sekalian." ucap wanita berbaju kuning yang langsung mengeluarkan handphone dari dalam kantong celananya.
Mereka ikut masuk kedalam Musholla dan mengikuti Shafa ke kamar mandi, Shafa melepas hijabnya sekaligus cadarnya karna ia akan mengambil wudhu, ketiga wanita yang memgikuti terperanjat melihat wajah cantik yang mereka sebut cacat.
"Wahhh cantik banget ternyata." celetuk wanita berbaju kuning, sambil membidik camera handphone pada Shafa.
Namun tidak lama setelah Shafa masuk ke dalam Musholla Asiah dan Lila datang merampas Handphone wanita itu, lalu Asiah menghapus semua photo Shafa yang ada di galerinya.
"Ehhh apa apaan lu."
"Lu yang apa apaan, mau di tuntut karna mengambil gambar orang lain tampa izin."
"Alahhh kayak siapa aja, selebriti aja ngak marah di ambil gambarnya."
"Itu seleb, gadis itu beda, jadi lu jangan macam macam kalau ngak mau celaka." ancam Lila dengan sorot mata tajam dan menyeramkan membuat ketiga gadis itu terdiam dan takut.
Mereka pun pergi dengan perasaan tidak menentukan, kesal dan emosi karna tidak berhasil menyimpan photo Shafa, sebab mereka berniat memanasi kekasih Dino dengan menunjukkan wajah cantik Shafa yang ia sebut cacat.
Dino masih tidak menyerah untuk mendekati Shafa , meski harus adu mulut dengan Niken ia tidak perduli.
__ADS_1
Sudah tiga minggu berturut turut Dino selalu saja datang menggoda dan merayu Shafa, bahkan Dino nekat mengikuti Shafa pulang kuliah tapi tidak pernah berhasil mengikuti sampai rumah karna bodyguar Shafa yang lainnya selalu berhasil mengacau Dion.
"Siapa laki-laki itu." tanya Jones pada asisten ia yang baru datang dan kembali mengajar di pakultas tempat Shafa kuliah di kejutkan oleh pemandangan yang membuat panas dadanya.
Jones tampak marah dengan tangan mengepal karna secara terang terangan Dion menyatakan cinta pada Shafa di depan umum.
"Saya tidak kenal orang itu pak." jawab laki laki muda yang menjadi asisten Jones.
"Lu cari tau siapa dia, apa di pakultas yang sma dengan Shafa."
"Baik pak."
Pandangan mata Jones tidak lepas dari sosok Shafa serta laki-laki yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Sialan berani lu dekatin gadis gua, gua hajar lu sampai moddar." umpat Jones dalam hati rasa cemburu di hatinya membuat dia ingin menghajar laki-laki itu habis habisan.
Jones tersenyum bahagia melihat Shafa menolak Dino, tadinya ia sempat was was ia takut gadis itu menerima Dino jadi kekasihnya, meski ia tau tidak ada pacaran dalam kamus Shafa namun tetap.saja Jones takut.
"Bagus gils, kamu hanya milikku kamu tidak boleh dekat dengan laki-laki manapun." senyum Jones masih tetap berdiri di tempat semula.
Shafa berjalan tertunduk karna aksi Dino yang membuat ia merasa malu dan risih, laki-laki itu benar benar nekat demi uang lima ratus juta ia menjatuhkan harga dirinya.
"Sialan aku tidak akan memyerah aku tetap akan mengejar lu meski di tolak." gumam Dino menatap punggung Shafa yang makin menjauh darinya.
Dino malah makin penasaran karna selalu di tolak oleh Shafa, bukan hanya karna lima ratus juta tapu ia penasaran dengan prinsif gadis itu apakah hanya sandiwara atau memang nyata.
Ia berpikir meski memakai cadar masih ada wanita yang bersedia menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, lalu Shafa masa tidak bisa seperti itu.
"Hai girl, kenapa jalan menunduk?, nanti jatuh lo, sakit tau." sapa Jones yang sengaja menunggu gadis itu yang sedari tadi berjalan kearahnya.
"Ehh Uncle, sudah sehat, sudah masuk kerja lagi ya Uncle." di jawab lain oleh Shafa karna terkejut melihat Jones di sana.
"Lah ini berdiri di depan kamu, kalau masih sakit di rumah sakit dong."
"Ya iya.. lalu tadi kok jalan nunduk gitu, ada yang jatuh ?."
"Ngak apa apa Uncle, jatuh juga ke bawah kalau ke atas mah ngambang." tawa Shafa.
"Betul juga, tapi aku sudah lama jatuh lo."
"Kok bisa, jatuh di mana Uncle, sakit ngak ?."
"Jatuh hati, sakit banget tapi."
"Jatuh hati kok sakit sih."
"Cinta bertepuk sebelah tangan, orang tuanya juga ngak kasih restu, papanya kejam dan jahat."
Adu Jones, tampa Shafa ketahui papanya lah yang di maksud Jones.
"Ambil hati orang tuanya dulu baru anaknya kalau gitu Uncle."
"Papanya berhati batu."
"Waduh kasihan deh, selamat berjuang kalau gitu Uncle Shafa duluan masuk kelas ya."
"Eishhhh tunggu dulu dong, saya mau ngomong nih." Jones menyentuh lengan Shafa dengan buku di tanganya.
"Kenapa Uncle?."
__ADS_1
"Siapa laki-laki tadi, kenapa dia berlutut di depan kamu, dia melamar kamu gils ?." api cemburu terlihat jelas dari sorot mata Jones namun sayang Shafa tidak paham arti tatapan laki laki itu.
"Banyak banget Shafa bingung jawabnya."
"Jawab aja satu satu, siapa laki-laki itu."
"Namanya kak Dino, kakak itu ngajak Shafa pavaran."
" Dino ?, Dinosaurus ya hehehe ?, lalu kamu terima gils. " tanya Jones berdebar debar, meski ia bisa melihat hasilnya dari jauh Shafa menolak laki-laki itu, sebab terlihat dari raut wajah Dino yang kecewa.
"Ya ngak Uncle, mana boleh pacaran."
"Owhhh kalau di lamar." senyum menggoda.
" Lihat orang yang melamar siapa, kenapa Uncle mau melamar Shafa." tanya Shafa dengan alis mata naik turun.
"Iya dong, masa aku tunggu kamu lamar aku lagi sih, malu maluin namanya." tawa kecil Jones mengingat masa dulu saat gadis itu melamarnya.
"Ishhhh mana ada Shafa lamar Uncle, ngaco." hardik Shafa marah.
"Ya ya ya .. ngak apa apa kalau saat ini kamu lupa, tapi suatu saat nanti aku akan membuatmu ingat lagi."
"Uncle ngadi ngadi tuh." ucap Shafa tidak terima
"Baiklah gils, tapi aku akan segera datang melamar mu, ingat kamu ngak boleh nolak ya, aku akan meruntuhkan hati papamu yang membatu itu dulu." ucap Jones serius.
"Iya Uncle Shafa tunggu ya, ehhh Uncle lamar Shafa untuk siapa ?, ponakan Uncle ?, ngak mungkin untuk Uncle kan." tanya Shafa tertawa lepas sembari berjalan meningalkan Jones tampa mendengar jawabannya.
Deg..
"Sialan gua kok mati kutu sih." umpat Jones pada dirinya sendiri.
"Ya untuk kamulah, masa untuk ponakan aku yang umurnya seumuran kembar." ucap Jones sedikit berteriak karna Shafa sudah berjalan sedikit jauh darinya.
Shafa melambaikan tangan kearah Jones entah apa maksud lambaian tangan gadis itu tapi ia tengah tertawa kecil bersama Niken.
"Ada aku pak dokter, kamu malah mengejar nona ku dan tidak dapat balasan lagi, tapi ngak apa sekarang aku akan iklas mendukung mu, karna aku tidak bisa memiliki kamu maka aku ingin melihatmu bahagia dan aku akan membantu kamu untuk meraih cintamu dokter, sebagai balasan aku yang sudah menyakiti mu."
Gumam Niken dalam hati, ia sangat bersyukur mempunyai majikan yang baik seperti Shafa
dan dia berjanji tidak akan pernah lagi menghianati Shafa sampai kapanpun.
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman -pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘ KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading