UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
127. Ngidam.


__ADS_3

Shafa dan Jones bercerita panjang lebar sampai pagi, meski lelah dan mengantuk laki-laki itu tetap sabar menemani sang istri begadang, setelah sholat subuh baru lah mereka tertidur pulas sambil berpelukan dalam senyum.


Uwekkk .. uekkk ...


Jones tersentak dari tidurnya dan langsung berlari menuju asal suara, laki-laki itu terkejut mendengar suara muntah berasal dari kamar mandi, hati Jones terasa nyeri melihat istri yang terduduk lemah di atas lantai kamar mandi sehabis muntah.


"Sayang.. kok bisa muntah yank, kan udah janji Aa aja yang muntah, jangan muntah lagi ya, biar Aa saja yank." ucap Jones, laki-laki itu memeluk tubuh kecil istrinya penuh rasa sayang.


"Ngak tau A, Aa.. Shafa jorok.." keluhnya.


"Jorok kenapa sayang.."


"Shafa ngompol hiks.."


"Ngak apa apa sayang, jangan nangis, ayo bangun Aa ganti bajunya ya." memeluk dan membawanya berdiri.


"Shafa mandi dulu A."


"Ya sayang, Aa mandikan hmm."


Jones membuka baju yang di pakai sang istri lalu memandikannya, dada Jones terasa panas melihat pemandangan indah di depan matanya mammae istrinya terlihat makin montok dan besar belum lagi perutnya yang tampak buncit menambahkan kesan ****.


Jones menahan keras hasrat yang bergelora di dadanya, laki-laki itu memandikan sang istri dengan cepat kemudian memakaikan pakaiannya.


"Aa.. Shafa lapar, Shafa mau makan." duduk manja di atas pangkuan Jones dengan posisi tubuhnya menghadap dada Jones, kedua tangannya mengelantung di leher suaminya itu.


"Sayang mau makan apa hmm." menciumi pucuk kepala Shafa mesra, tangan kanannya mengelus punggung Shafa tangan kirinya memeluk.


"Shafa mau makan goreng pisang kuah pecal." cicitnya di dada Jones, hidung mancung wanita itu mendusel dusel dada berbulu itu membuat empunya meringis menahan segala rasa.


"Hahhhh apa itu yank.."


"Pisang goreng pake bumbu pecal pedas Aa." msraba raba dada Jones.


"Astaga makanan apa itu yank." bingung Jones karna belum pernah mendengar makan pisang goreng dengan bumbu pecal.


"Pokoknya Shafa mau itu, minta sama mama saja Aa, biar di buatkan." pintanya dengan suara pelan.


"Oke yank, dede rebahan dulu ya, Aa mau ambil handphone dulu."


Enghhhh..


Jones meletakkan tubuh Shafa di atas tempat tidur, mencium keningnya lalu mengambil handphone dari atas nakas.


Setelah menghubungi mama mertua melalui handphone papa mertua tentunya Jones lalu ikut merebahkan diri di sisi istri.


"Loh.. istri Aa bobok ya hmmm." mencium gemas pipi gemoy Shafa.


"Jangan sampe hyperemsis ya sayang Aa, jangan sampe pipi gemoy istri Aa jadi tirus lagi, baru tadi malam tau kalau hamil paginya langsung muntah dan lemas, andai gua tidak katakan kalau istri gua sedang hamil, tapi ya apa hubungannya gua ngak bilang bentuk perut istri gua tetap tidak bisa di sembunyikan." gumam Jones bicara sendiri.


Jones melihat jarum jam di atas meja rias, jam menunjukkan pukul delapan pagi, harusnya pagi itu dia berangkat kerja tapi melihat kondisi istri yang lemah Jones terpaksa membatalkan semua kegiatannya hari itu, laki-laki itu juga lelah dan mengantuk ahirnya dia ikut tidur menyusul sang istri ke alam mimpi.


"Koko mau kemana ??."


"Mau panggil si pemalas itu yank." berjalan pelan ke arah kamar menantunya.


"Koko.. jangan, biarkan saja, ngak sopan main nyelonong saja ke kamar anak perempuan yang sudah menikah." marah Zahra menarik tangan sang suami.


"Tapi sayang."


"Telpon saja ko, jangan di ketuk."


"Ngak apa apa dong sayang, lihat sudah jam sebelas, jangan jangan putri koko belum di kasih makan."


"Iya ko tau udah jam sebelas, tapi telpon saja koko." hardik Zahra.


"Baiklah nyonya Jo." Johan mengalah laki-laki itu langsung menghubungi Jones lewat panggilan telepon.


"Apaan sih nelpon gua, lagi enak tidur juga ganggu aja." omel Jones.


"Hallo .. mana putri gua, lu pasti belum kasih putri gua makan kan ?."


"Apaan sih, nelpon langsung merepet kayak mak mak penjual kangkung di pasar malam."


"Hehhh itik.. sejak kapan pasar malam di isi mak mak penjual sayur, di negara mu kali ya." bentak Johan.

__ADS_1


"Serahlah.., apa.." jawab Jones pelan karna tidak ingin pujaan hati terbangun.


"Putri gua mana, kami udah bawa peranannya." Johan berkata menahan emosi karna selalu di garai oleh sang menantu.


"Bentar.."


Tut... panggilan terputus sepihak.


"Manusia ngak ada akhlak." omel Johan.


"Kenapa ko ?." Zahra.


"Menantu sialan sayang itu, main matiin telepon tampa kata." adu Johan.


Hahhhhh..


Bukannya dapat pembelaan Zahra malah geleng geleng kepala melihat tingkah sang suami yang selalu ribut dengan sang menantu.


"Hai papa mertua, mama mertua." Jones muncul dari kamar mereka, wajah laki-laki itu tampak sayu karna masih mengantuk.


"Mana kak Shafa, Jones ?." Zahra.


"Masih tidur ma."Jones duduk di kursi makan, tangannya menuang air mineral ke dalam gelas lalu meminumnya.


"Loh sudah jam sebelas." Zahra.


"Ahh ya, tapi istri saya masih tidur mama, tadi malam istri saya tidak bisa tidur karna terlalu bahagia mengetahui kehamilannya." cerita Jones singkat pada papa mertua dan mama mertuamya.


"Lu sudah kasih tau ?." Johan.


"Sudah dong papa mertua, kado ulang tahun seperti rencana gua." jawab Jones bangga.


Hmmm ..


Johan cuma mendehem, karna dia tidak tau harus bilang apa, kalau bukan putrinya yang jadi istri sahabatnya itu tentu sudah.


"Tadi katanya mau makan goreng pisang kuah pecal sudah di bawa nih." Zahra.


"Sebentar lagi ya ma, kasian istri saya baru tidur lagi, tadi pagi muntah muntah sampe lemas." ucap Jones sedih.


"Iya .. biasanya gua, entah mengapa bangun tidur tadi pagi langsung muntah, padahal biasanya ngak." Jones.


Sedang sibuk menceritakan sang istri, tiba tiba wanita cantik berambut panjang dan baju kusut khas bangun tidur berjalan pelan dan gontai sambil menyeret selimut di tangannya, matanya kadang terpejam kadang melek.


"Aa.. aa.." memanggil manggil suami pelan namun masih terdengar jelas di telinga papa, mama dan suaminya.


"Sayang...loh kok keluar begitu." berlari mengejar Shafa.


"Aa.. Shafa sendirian, takut." cicitnya.


"Astaga kakak.." teriak Johan dan Zahra.


"Sayang.." teriak Jones, hampir saja Shafa terjatuh karna menginjak selimut di tangannya.


Jones langsung menangkap tubuh mungil istrinya dan langsung membopong ke kamar mereka, meski Shafa putri Johan tapi Jones tetap tidak mau kalau papa mertuanya itu melihat seluruh wajah Shafa tampa hijab.


"Ya ampun kakak, dari dulu sampe sekarang ngak berubah, masih saja berjalan sambil tidur."


Zahra geleng geleng kepala, Johan tampa kata karna shoc melihat putri bungsunya yang hampir jatuh di depan matanya.


Beberapa menit kemudian Shafa dan Jones kembali lagi keruang makan, di mana mama dan papa masih duduk menunggu sang putri.


"Mama, papa.." panggilnya dengan suara parau, matanya masih tampak sembab.


"Sayang papa, ayo sini duduk dekat papa, mama tadi udah buatkan pesanan kakak." berdiri dan menarik pelan tangan Shafa, lalu mendudukkan di samping Zahra dan dirinya.


"Mama buatkan ?, goreng pisang sama bumbu pecal ma." tanya Shafa dengan mata berbinar.


"Iya sayang, bukan cuma itu goreng pisang sama ketan juga." senyum Zahra memeluk putrinya itu.


"Iya ma.. enak itu." teriak Shafa spontan.


Bola matanya mencari apa yang di ceritakan sang mama, namun bukannya yang di ceritakan yang di suguhkan lebih dulu tapi nasi lengkap dengan lauknya.


"Kok ini ma, pa." protes.

__ADS_1


"Makan ini dulu, baru makan pisang goreng sama yang lain." titah Johan.


"Tapi papa Shafa mau itu, Shafa ngak mau yang lain papa." Shafa.


"Tidak kak, kakak makan nasi dulu sedikit saja ya, biar ngak sakit perut." Zahra.


"Ngak mama, Shafa mau pisang goreng." muali mengeluarkan senjata andalan, yaitu air mata.


"Sayang.. makan nasi dulu ya, setelah itu dede bebas makan sebanyak yang dede mau, makan dikit saja yank." bujuk Jones.


"Ngak Aa, Shafa mau pisang goreng." tangisnya.


Ahirnya semua orang kalah, Shafa makan dengan lahap pisang goreng kesukaannya di masa kecil lengkap dengan bambu pecal.


Setelah makan dan kenyang Shafa baru ingat kalau dia akan menyampaikan berita bahagi tentang kehamilannya pada kedua orang tua, Zahra dan Johan tersenyum bahagia mendengar cerita putri mereka itu.


Meski mereka sudah tau lebih dulu tapi mereka pura pura terkejut agar tidak terkena semburan api larva kemarahan Shafa karna di anggap sekongkol dengan sang suami menyembunyikan kehamilannya.


"Ahhh ternyata papa sudah tua, sudah mau jadi Grandad, papa bahagia mendengarnya, sehat sehat anak papa dan cucu cucu papa ya, ingat tidak boleh cape dan harus jaga kesehatan."


"Iya papa." Shafa.


"Kàkak kalau pengen apa apa kasih tau mama ya, jangan di pendam, kamu juga Jones tolong jaga Shafa jangan biarkan dia terlalu cape."


"Iya mama." jawab Shafa dan Jones.


"Hahah gimana ya nanti kalau cucu papa sudah besar pasti mereka bingung kok Grandad dan Daddy sama tua ya, mereka pasti bingung." tawa mengejek Jones.


"Papa...." Shafa kesal dengan candaan sang papa yang terkesan mengejek suaminya.


"Cih.. maksud lu ..?"


"Lu tau lah maksud gua apa hahaha." tawa Johan.


"Sialan .., emang kenapa rupanya."


"Ngak apa apa sih geli aja, cucu cucu gua pasti mikir, kasian Daddy ternyata kalau ngak sama Mommy ngak laku laku." ejek Johan.


"Papa.. jangan gitu dong, kalau papa ejek Aa sama aja papa ejek diri papa sendiri, kenapa nerima Aa jadi suami Shafa." cucut Shafa kesal.


"Loh kok larinya kesitu yank, kalau papa ngak terima Aa jadi mantunya, si baby ngak ada dong di sini, Aa juga sudah pasti mati bunuh diri kalau sempat dede menikah dengan orang lain, Aa ngak akan rela." Jones membelai perut Shafa berulang kali, menunjukkan kemesraa di depan papa dan mama mertuamya.


"Abisnya papa sama Aa gaduh terus, ngak cape apa, udah pada tua juga." omel Shafa.


"Tau tuh .. suami kakak yang duluan." jawab Johan bela diri.


"Lu yang duluan." Jones tidak mau kalah.


"Kan..kan.. memang ngak ada sopyan sopyan nya lu jadi orang." Johan.


"Au.. ahhh siapa yang ngak sopan, terserah lu dah." jawab Jones cuek.


"Sudah .. sudah, ribut aja bising tau." pawang papa Johan bersuara kedua laki-laki itu jadi diam tanpa kata kata.


🌴🌴🌴🌴🌴


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2