UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
150. Lima belas menit.


__ADS_3

"Aa cinta dan sayang banget pada dede, sangat sangat cinta, Aa ngak bisa berjauhan terlalu lama begini yank, tapi Aa bingung bagai mana cara meyakinkan papa dede agar mau memaafkan Aa."


Jones memeluk Shafa positif, tiba-tiba Jones merasa sangat takut kehilangan istrinya itu, takut kalau Johan tidak akan pernah mau memaafkannya.


"Yank.. apapun yang terjadi Aa mohon jangan pernah berpaling dari Aa ya, jangan ada kata berpisah di antara kita, Aa memang banyak dosa dan salah pada dede Aa sadar itu, tapi semua itu mutlak bukan kesalahan Aa, Aa di jebak Aa minta maaf ya."


Jones masih mengulang kata yang sama, entah mengapa rasa takutnya makin besar, padahal sudah bertemu dengan istri atas bantuan mama mertua bukannya itu sudah ada jalan terang, karna ada dukungan dari Zahra.


Secara tidak langsung Zahra memberi jalan padanya untuk.terus berjuang, halangan terbesarnya berarti cuma Johan.


Shafa tidak menjawab dia menyandarkan kepala di dada Jones, marah ya dia masih marah pada suaminya itu, selama menikah yang ia tau hanya cinta, kasih,sayang, perhatian serta di manja oleh Jones, tapi hanya karna aduan sepihak Jones kalap mata lalu murka dan memaki Shafa.


Tentu saja Shafa shoc dan sedih, sekali saja Jones tidak pernah bersuara tinggi dan kasar tapi kali itu untuk pertama kali Shafa merasakan dan mendengarnya.


Belum lagi luka di kakinya yang cukup dalam dan besar yang mengakibatkan Shafa kekurangan darah sampai harus transpusi sedang Jones meninggalkan dia seorang diri tanpa perduli panggilan Shafa.


Meski Shafa memahami kalau semua karna kepatuhan Jones pada sang mama tapi tidak seharusnya Jones langsung percaya pada aduan mama Dara sedang Jones tau mamanya tidak pernah suka pada Shafa.


Jones menurunkan Shafa dan kembali mendudukkan di atas sopa, laki-laki itu kembali jongkok di hadapan Shafa, ia teringat pada sesuatu di kaki istrinya itu.


"Aa mau apa ?." tanyanya bingung melihat Jones membuka kaus kakinya.


Mata Jones terbelalak melihat belas jahitan di kaki istrinya yang panjang, ulu hatinya terasa sakit dan perih melihat luka itu, ia lalu mencium telapak kaki Shafa dengan penuh penyesalan.


"Pantas papa dede sangat marah pada Aa yank, luka di kaki dede sebesar dan sepanjang ini, untung pengawal dede cepat datang, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada diri Aa, Aa pasti akan membunuh diri Aa sendiri dan tidak akan pernah memaafkan diri Aa sendiri." gumam Jones masih memeluk kaki Shafa.


"Aa ngapain sih, jorok tau." menarik kaki.


"Nanti Aa akan berterimakasih pada Niken dan yang lain karna sudah menjaga dede, Aa berhutang banyak terimakasih pada mereka." gumamnya lagi, menahan kaki Shafa di dadanya.


"Maaf yank..maafkan Aa yank." tangisnya.


"Aa..jangan gitu, ngak boleh, kaki Shafa jorok." menarik paksa kakinya, entah apa lagi ini, tadi mereka sudah saling mengisi dan saling memuaskan.


Mereka sama sama tertawa bahagia kenapa sekarang mewek lagi, yang hamil dia kenapa Jones yang sensitif, bingungkan.


"Aa.. bangun dari sana, jorok."


Jones tetap tidak bergeming, dia masih memeluk kaki Shafa dan menciumnya berkali kali,membuat Shafa menjadi risih.


"Aa.. bangun, kalau ngak Shafa marah nih."


Jones langsung bangkit mendengar ancaman Shafa, dia lalu memeluk Shafa erat, tubuh laki-laki itu terasa bergetar menahan sesak di dadanya, rasa penyesalan yang tinggi.


"Maaf yank.. Aa benar benar bodoh yank, maaf yank." Jones meminta maaf terus terusan.


"Iya Aa.. Shafa sudah memaafkan Aa sebelum Aa minta maaf." jawabnya membalas pelukan Jones.


"Janji tidak meninggalkan Aa ya yank, tunggu Aa datang menjemput kalian, Aa akan berjuang kembali mendapat maaf papa, Aa tidak akan menyerah, dukung Aa dengan doa sayang ya." pinta Jones menangkup wajah Shafa dengan kedua telapak tangannya.


Shafa senyum tapi tidak membalas permintaan Jones, Jones tidak melepaskan pelukannya dia malah makin memeluk Shafa semakin fosesif entah lah apa yang di pikirkan laki-laki itu hingga ia merasa berat melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Maafkan Shafa Aa, Shafa sudah menandatangani usulan surat cerai yang sudah di buat oleh papa, Shafa sadar setelah menikah hak Aa mutlak pada Shafa, papa tidak bisa lagi mengendalikan Shafa, dan Shafa harus patuh pada Aa sesuai ajaran agama, tapi papa adalah orang tua yang sangat baik, papa sudah memberikan kami kebahagiaan, papa juga sudah menjaga kami dengan sangat baik, papa sangat menyayangi kami, Shafa berhutang budi pada papa, karna papa kami bisa menikmati hidup bahagia begini." gumam Shafa dalam hati.


Air matanya juga ikut tumpah, namun ia berusaha menahan isak tangis, kalau di tanya mana yang harus di pilih patuh pada papa atau suami Shafa pasti bingung menjawabnya itulah mengapa Shafa hanya bisa diam setiap kali Jones meminta Shafa untuk tidak meninggalkannya.


Sedang asik berbincang dan saling melepas rindu suara Zahra kembali terdengar di telinga kedua insan itu.


"Kak.. ayo pulang nak, sudah lebih tiga jam kita di sini nanti papa curiga lalu marah, bisa bisa papa percaya pada mama lagi, bahkan kakak, Niken dan pada pak Robby."


Zahra sengaja tidak mendekat dia hanya berdiri di tempat tadi ia memanggil Shafa waktu pertama.


"Iya mama." jawab Shafa dengan suara pelan.


"Sebentar lagi ya ma." Jones.


"Jones..ini sudah terlalu lama, kamu mau kami semua kena marah koko."


"Lima belas menit saja ma, tolonglah."


"Oke lima belas menit, lepas itu jangan banyak alasan lagi." jawab Zahra lalu meninggalkan keduanya di sana, dia sudah yakin pasti Jones meminta waktu lagi tapi Zahra tidak akan memberi waktu lama, untung Jones meminta waktu hanya lima belas menit jadi mereka tidak perlu berdebat karenanya.


"Yank.. sekali lagi maafkan Aa ya, Aa janji tidak mengulangi lagi." mencium kening dan bibir Shafa dalam.


Jones terus saja meminta maaf dan meminta pengertian Shafa untuk tetap menunggunya, menunggu sampai ia bisa membawa Shafa tinggal bersama nya lagi dan Shafa hanya tersenyum menanggapi permintaan suaminya.


Zahra kembali setelah lima belas menit, kali ini dia bersama Niken, sedang barang barang mereka sudah di jemput oleh para bodyguar, mereka menghabiskan uang yang cukup banyak di toko itu untuk menghina kecurigaan Johan.


Karna kalau hanya belanja sedikit kenapa lama sekali tinggal di toko yang sama, tentu saja Johan akan curiga dan akan menyuruh orang orangnya mencari tau


"Yank.. jaga diri baik baik ya, ingat dede harus makan, Aa janji akan masak makanan kesukaan dede setiap hari dan akan Aa titip sama Robby, dan kalau dede mau makanan lain katakan pada Robby ya yank."


"Aa juga harus jaga diri ya, Aa jangan sampai sakit ya." membalas pelukan Jones.


Pasangan suami istri itu saling menguatkan satu sama lain, baik Jones atau Shafa mereka sama sama berat melepaskan pelukan masing masing seakan mereka lama sekali baru bertemu lagi.


"Ayo kak.." ahirnya Zahra muncul karna tidak sabar menunggu Shafa.


Wanita cantik itu menghela napas dalam dalam melihat putrinya yang masih berada di pelukan Jones, yah.. mereka seperti sedang melakukan hubungan backstreet saja.


Jones melepaskan pelukannya, lalu ia menatap mata Shafa dalam dalam sekan merekam cahaya warna dan kelincahan bola mata istri yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


"I love you so much my wife, sangat." kembali mencium kening Shafa berulang kali dan mesra.


Tentu saja Zahra tidak melihat karna dia membelakangi keduanya, mana mungkin dia melihat adegan yang tidak pantas di lihat seorang ibu pada anak menantunya, dan dia yakin Jones pasti melakukan itu.


"Mama.. terimakasih sudah membawa istri ku kemari, terimakasih ma, dan aku titip istri pada mama, aku janji akan menjemput sesegera mungkin." pinta Jones pada Zahra.


"Ya.. aku tau, kamu juga harus jaga diri, ingat cuma kamu yang bisa memperbaiki semua ini, jangan benci pada koko, dia hanya ingin melindungi keluarganya." berbicara tampa berbalik menatap Jones dan Shafa.


" Iya ma, aku akan berusaha keras mendapatkan maaf papa." janji Jones.


"Hmmm iya.., sekarang kami akan pergi."

__ADS_1


"Iya ma.." Jones kembali mencium kening, bibir serta seluruh permukaan wajah Shafa, kemudian memeluk sebelum ia membiarkan Shafa pergi.


"Shafa pulang Aa." pamitnya.


"Iya yank.. jaga diri hmm cup cup, ingat dede harus makan, ini Aa sudah membawa makanan kesukaan dede dan tadi Aa sudah belanja beberapa baju untuk dede, nanti di pakai ya."


"Iya Aa.." menatap Jones, kelopak mata wanita itu berkedip kedip menahan air mata yang hampir tumpah.


"Bu Niken terimakasih sudah menjaga istri gua, tolong sampaikan juga terimakasih gua pada bu Lila dan Nisa, gua titipkan istri gua pada kalian ya, gua tidak bisa membalas kebaikan kalian dan hanya Tuhan yang akan membalasnya."


Jones menyerahkan tas belanjaan serta tas bekal nasi Shafa yang ia masak tadi pagi untuk sang istri pada Niken.


"Baik tuan.., anda jangan kwatir kami pasti akan selalu menjaga nyonya muda, itu merupakan tugas kami." Niken.


Setelah neraka begitu mereka lalu membawa Shafa menjauh dari tempat Jones berada berat hati Jones melepaskan tangan sang istri tapi apa daya dia harus sabar dan membiarkan Shafa meninggalkannya seorang diri di dalam outlet itu.


Setelah Shafa, Zahra dan Niken pergi selang beberapa menit kemudian Jones baru keluar dari dalam outlet tanpa sepengetahuan penghuni outlet itu sendiri, karna mereka sedang sibuk menghitung keuntungan mereka dan bersiap membuka outlet untuk umum.


Sementara itu Shafa yang berjalan meninggalkan outlet berkali kali meminta kepala melihat kebelakang kearah pintu kaca outlet itu, ia berharap bisa kembali melihat suaminya di sana.


"Kak.. jalan yang benar nanti jatuh." tegur Zahra lembut, dia mengerti perasaan putrinya, tentu saja dia memahaminya.


"Iya mama.." suara tercekat di tenggorokan.


Tidak lama mereka sudah berada di halaman mall besar dan mewah itu, mobil mewah milik mereka sudah menunggu di sana dengan para pengawal lengkap.


Para pengunjung mall, yang melihat rombongan itu tampak tagjub dan berdecak kagum, mereka yakin kedau wanita yang di kawal itu sudah pasti orang orang hebat dan kaya raya, kalau tidak mana mungkin seheboh itu pengawalannya.


Shafa duduk diam di kursinya dengan pandangan lurus kedepan, ia masih merasa berat hati harus berpisah dengan suaminya, Zahra merasa iba melihat putrinya yang murung.


"Maafkan Shafa Aa, Shafa tidak tau apa Shafa bisa memenuhi permintaan Aa, maaf Aa, Shafa juga tidak tau apa kah yang tadi adalah terahir kali Shafa melayani Aa, Shafa bingung Aa, Shafa ngak berani melawan papa karna Shafa juga tidak mau Aa kenapa napa."


Gumam Shafa dalam hati, wanita hamil itu membelai perutnya sembari memejamkan mata untuk menghindari air mata yang akan mengalir keluar.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2