UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
96. CCTV berjalan.


__ADS_3

Jones memeluk erat tubuh istrinya yang tertidur pulas di dalam pelukannya, berulang kali ia mencium wajah Shafa.


"Tidur lah sayang, mimpi yang indah ya." bisik Jones di telinga Shafa.


Mereka kini sedang berada di pesawat pribadi mertuanya, Jones ingin membawa istrinya ke tempat yang sudah lama di rindukan Shafa, ia ingin mengajak Shafa berbulan madu sekaligus silaturahmi.


Awalnya Johan tidak memberikan izin, tapi karna rayuan Jones Johan pun menuruti keinginan menantu tuanya itu dengan alasan demi kebahagiaan Shafa, kalau sudah begitu Johan bisa apa, tentu saja dia pasrah.


Dua jam lebih tiga puluh menit mereka ahirnya sampai di bandar udara di kota XX, Bandar udara yang baru di pakai dan baru beroperasi, bandar udara itu tidak jauh dari tujuan mereka.


Kalau biasanya dulu di tempuh perjalanan lebih dari dua belas jam sekarang hanya satu jam lebih saja, setelah pesawat mendarat Jones kembali membopong Shafa ke mobil mewah yang sudah menunggu di landasan pesawat, tak jauh dari pesawat mereka mendarat.


Jones tersenyum bahagia begitu melihat Shafa yang masih tertidur pulas, dengan kecepatan tinggi namun masih terkendali mobil melaju membelah keheningan malam itu.


Tepat pukul empat dini hari mereka sampai di tujuan, bibik pengelola villa beserta mang ujang suaminya sudah stay dari jam tiga menunggu sang majikan.


Jones kembali menggendong Shafa ala bridal style menuju rumah mewah dan klasik itu, suasana malam yang berganti pagi di tempat itu terasa nyaman dan tenang.


"Loh.. loh.. loh.. kok pak dokter Jones ada di sini, itu siapa yang di bawa." tanya bibik bingung dengan suara lumayan keras.


Stttt.. semua orang meminta bibik dan mang ujang diam karna takut membangun kan Shafa, dengan wajah penasaran bibik mengikuti Jones ke tempat yang biasa ia tempati dulu saat pelariannya.


Jones hanya tersenyum ke arah bibik dan mang ujang yang tampak penasaran dan kepo tingkat tinggi dan tetap setia mengekori sampai ke kamar kedua insan itu.


Asiah membukakan pintu untuk Jones dan Shafa, Niken menahan bibik agar tidak ikut masuk kamar, dengan wajah lugu bibik bertanya pada ketiga pengawal Shafa.


"Kok pak dokter gendong nona Shafa ?, kok masuk kamar berdua, ngak boleh atuh neng, bukan muhrim kok di biarkan ?." bibik menatap ketiga wanita di depannya satu persatu.


"Ngak apa apa bik, wajar kok." Lila.


"Wajar apa nya neng, ngak boleh itu." bibik.


"Wajar dong bik, suami istri kan." Niken.


"Hahhh suami istri ?." bibik.


"Iya bik, ayo kita ke pergi dari sini, ngak enak di depan kamar tuan dan nyonya, segan." Asiah.


"Ehhh beneran toh." bibik masih tidak percaya dengan pengelihatan dan pendengarannya.


"Iya loh bik, udah ah ayo pergi." Lila menarik tangan bibik pelan.


Mereka lalu meninggalkan tempat itu, membawa bibik yang masih kebingungan, sementara di dalam kamar Jones sudah meletakkan Shafa di atas tempat tidur, lalu ia pun ikut berbaring di sisi Shafa, memeluk dan menciumi berkali kali wajah Shafa yang masih tertidur.


Dari kejauhan terdengar kumandang subuh yang saling bersahutan antara mesjid satu dan yang lainnya, Jones membangunkan Shafa dengan cara menggangu saluran pernapasan istrinya.


Jones sengaja menahan bibirnya lama di bibir Shafa, sementara hidungnya menutupi hidung mancung Shafa.


"Enghhh .. Aa.." menggeliat manja di pelukan Jones.


"Bangun yangk, sudah subuh."


"Enghhhh iya A." masih menggeliat.


Jones gemas melihat Shafa yang tampak ikut dan lucu, ia ingin menciumi Shafa tapi takut kebablasan sehingga ia pun ahirnya menggendong Shafa ke kamar mandi.


Setelah Sholat subuh, Shafa yang sedari tadi belum sadar berada di mana ahirnya konsentrasi nya bayar saat mendengar suara deburan ombak yang terdengar jelas di telinganya.


Untung dia sudah sempat menyelesaikan sholat nya sehingga ia tidak terganggu, Shafa hampir berlari keluar kamar sebelum menyalam suaminya itu, tapi Jones menahan tubuh Shafa di pelukannya.


"Mau kemana de."


"Itu.. ada suara ombak Aa." menunjuk keluar.


"Kalau ada suara ombak kenapa sayang."


"Kita.. kita di." melihat sekeliling.


"Dimana."


"Kampung Aa." mengangkat kedua tangan tinggi tinggi ke udara, senyum bahagia terpancar dari wajah cantik Shafa.


"Lalu."


"Shafa mau.. mau emhhh."


Kata katanya terhenti saat bibir Jones menyekap bibirnya di mulutnya, Jones memijit permukaan bibir Shafa sampai ke dalam, membuat Shafa yang tidak sabar ingin keluar jadi meronta ronta.


"Aa.. Shafa mau.."


"Mau apa yangk, bercocok tanam ya."


"Enghhh ngak ah, Shafa mau."


"Layani Aa dulu baru boleh keluar." Jones mengangkat tubuh Shafa ke atas tempat tidur.


Shafa meronta tidak mau melayani suami tapi Jones terus memaksa hingga ahirnya pergulatan tidak bisa terelakkan.


Bibir Shafa mengerucut saat suaminya menyelesaikan pekerjaannya yang sukses membuat Shafa menjerit jerit kecil di pagi hari itu, Jones tertawa melihat Shafa yang mengomel karna Menghalanginya keluar kamar sebelum melayaninya.


Setelah mandi kilat Shafa langsung merengek ingin keluar kamar karna sang suami tetap tidak mengizinkannya.


"Aa .. Shafa mau keluar." menarik narik lengan baju Jones dengan bibir lancip.


"Kita di sini saja ya, Aa masih ingin pelukan." goda Jones.


Shafa menunduk, ia merasa suami nya itu mempermainkannya tadi janji habis melayani hasrat suami dia boleh keluar sekarang malah tidak tepati janji.


Jones mengangkat dagu Shafa lalu mengecup bibir Shafa mesra, ia melihat mata Shafa sudah berkaca kaca.


"Ada dua syarat." senyum Jones tidak tega melihat air mata Shafa yang hampir meluncur.


"Apa Aa." harap harap cemas.


"Yang pertama Dede cium Aa dulu, yang kedua keluar harus Aa gendong, gimana."


"Ada pilihan lain."


Tes.. air mata Shafa menetes meluncur sempurna di wajah putih dan mulus itu, hati Jones terasa sakit melihat air mata wanita yang sangat ia cintai itu, padahal niat awal hanya ingin menggoda.


"Ayo cium sayang." menyodorkan bibirnya.


Shafa diam, ia memperhatikan wajah tampan suaminya itu lamat lamat, kalau tidak takut dosa dia malah ingin mencakar wajah suaminya itu karna kesal merasa di permainan.


Jones tertawa kecil dia yakin istrinya itu tidak akan mau mengikuti permintaan nya, Jones mencium pucuk kepala Shafa mesra kemudian ia menggendong istrinya itu ala bridal style keluar kamar sambil mencium bibir Shafa lembut.

__ADS_1


"Ngak mau cium Aa yang lakukan." senyum Jones melihat bibir Shafa yang makin mengerucut.


Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, matahari sudah muncul malu malu dari balik lautan luas itu, cahaya yang indah dengan suasana sejuk.


Shafa meronta ronta ingin di turunkan oleh Jones tapi Jones tetap menahan tubuh Shafa hingga sampai ke halaman Villa baru Jones melepaskan sang istri yang sudah tidak sabar ingin berlari ke pantai.


Begitu Jones melepaskannya Shafa tampa pamit langsung berlari ke bibir pantai sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi, ia menjerit jerit bahagia sambil melompat lompat kegirangan.


Dia sudah lupa kalau suaminya sedang ada bersamanya, dia juga lupa kalau harus menjaga imec di depan suami, dia seperti anak ayam yang baru di lepaskan sehingga bercicit kesana kemari karna merasa bebas.


"Melihat mu begini membuat ku sangat bahagia sayang, tapi apakah senyum dan tawa mu ini masih tetap ada begitu aku memeriksamu nanti yangk." gumam Jones dalam hati sambil memperhatikan Shafa yang berlari ke sana kemari.


Pandangan Jones terasa berkabut karna menahan air mata yang hampir keluar, ia tidak bisa membayangkan bagai mana nanti reaksi istrinya kalau tau penyakit yang sedang ia alami Jones hanya berharap agar hasil pemeriksaan nanti tidak ada hal yang harus membuat ia melakukan tindakan patal.


"Aa..." Shafa berlari kencang ke arahnya.


Jones menangkap tubuh kecil Shafa lalu memeluk erat, menciumi seluruh wajah cantik Shafa meski dari balik.cadar.


Jones lalu mengangkat tubuh kecil itu tinggi tinggi di udara sambil berputar putar, Shafa menjerit jerit merasakan tubuhnya yang melayang di udara.


"Aa.. jangan, pusing a." teriak Shafa cemas karna takut jatuh.


Jones lalu berhenti tapi masih tetap menggantung Shafa di udara, sambil mendekatkan wajah Shafa padanya, cadar Shafa tersingkap menutupi kepala Jones sehingga wajah keduanya langsung bersentuhan.


Jones ******* mesra bibir Shafa, ia berharap kebahagiaannya ini akan kekal selamanya cukup sudah penderitaan yang ia alamai saat berjuang mendapatkan Shafa.


Kini lembaran baru yang harus ia buka dan jalani dengan tinta emas untuk merekam jejak bahagia mereka nanti, tampa ada kerikil tajam yang membuat langkah mereka berdua berhenti dan terluka.


"Enghhh.. jangan Aa malu." merona merah.


"Tidak ada yang lihat yangk, wajah kita tertutup." goda Jones.


Jones kembali meninggikan tubuh Shafa di udara dengan senyum lebar, bola mata biru itu menatap wajah cantik Shafa mesra.


"Kamu tau yangk ?, dulu ada anak kecil yang selalu minta di gendong tiap berada di pinggir pantai ini, dia selalu ingin di buat begini, dia ingin di angkat tinggi seperti ini, dan dia akan minta ini itu."


"O ya.. siapa ?."


"Siapa ya hmmm, kasih tau ngak ya." goda Jones menurunkan Shafa lalu memeluk erat tubuh sang istri, Jones menyingkap cadar Shafa lalu mencium bibir candunya itu lembut dan mesra.


"Siapa Aa."


"Gadis kecil dan sangat cantik."


Mata Shafa melotot mendengar kata kata Jones menyebut cantik, apa lebih cantik darinya, bibir mungil Shafa maju beberapa centi kedepan entah apa yang ia pikirkan tapi ia mencoba lepas dari pelukan Jones.


"Kamu tau yangk, dulu dia sering minta di masakin nasi goreng orak arik telor dengan kecap yang banyak serta bawang goreng yang banyak,


"Uncle mau nasi goreng masakin ya..


"Uncle gendong dong..


"Uncle ayo temenin main pasir..


"Uncle PR banyak bantuin dong..


"Uncle mau kelapa muda panjatin ya..


Jones menirukan gaya bicara dan suara anak kecil yang manja dan lucu, sehingga Shafa bingung di buatnya, dan mata Shafa menyipit, mengingat ingat sesuatu, Jones tertawa kecil melihat ekspresi Shafa yang lucu karna kebingungan.


"Hahhh Maksudnya." tanya Shafa makin bingung.


"Maksudnya pikir sendiri dong my wife."


Shafa menutup mulutnya dengan tangan, bola matanya berputar putar mengingat ingat kejadian masa lampau.


Shafa menunduk lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jones, Jones menarik tangan Shafa ke belakang agar memeluk dirinya.


"Sudah ingat sayang." Jones.


"Apa .. Ngak tau, ingat apa Aa." pura pura padahal dia sudah sadar kalau yang di maksud Jones dirinya, tapi dia masih pura pura lupa, meski tidak semua kenangan itu ia ingat.


"Baiklah kalau tidak ingat, ngak apa apa mulai sekarang Aa akan mengingat kan Dede semua kata kata dede dulu." kembali ******* bibir Shafa.


Shafa mendorong tubuh besar Jones, ia malu karna selalu di cium di pinggir pantai itu, kepalanya berputar putar kekiri dan kanan melihat situasi apakah ada yang melihat mereka di sana, sunyi sepi hanya ada mereka berdua, barulah Shafa merasa lega.


Padahal semua orang tidak jauh dari mereka namun memberikan jarak dan bersembunyi karna tidak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu, apa lagi Shafa tipe gadis pemalu tentu ia merasa risih kalau ada yang melihat mereka bermesraan.


Asiah dan lila memeluk Niken, mereka bisa merasakan bagai mana perasaan gadis itu saat melihat orang yang dia cintai bermesraan di depan matanya, meski bukan miliknya.


"Saya ngak apa apa kak." senyum Niken menyadari situasi.


"Ya kamu harus iklas, mereka majikan kita yang baik." Asiah.


"Saya tau kak, melihat dokter Jones bahagia dan nyonya Shafa saya juga ikut bahagia." senyum sumbang, bohong jika hatinya tidak terluka.


"Iya, kamu tidak boleh memperlihatkan perasaan kamu apa lagi di depan nyonya Shafa, ia akan merasa tidak nyaman nanti, dan ingat kamu tidak boleh sekalipun berpikir lagi untuk merebut perhatian apa lagi merebut dokter Jones dari nyonya kita, dan kamu harus ingat kamu bisa begini karna siapa." Lila.


"Iya saya tau kok, saya sadar itu, saya bersumpah tidak akan pernah merusak hubungan mereka dan saya bersumpah akan selalu menjaga hubungan mereka dari apapun yang mencoba ganggu, lagi pula cinta tidak harus memiliki kan."


Niken tersenyum lepas dan tulus, lalu ketiganya juga berjanji hal yang sama sambil berpelukan saling menguatkan.


Jones melepaskan pelukannya lalu membiarkan Shafa bermain sendiri berlari ke sana kemari seperti burung lepas kendali.


"Sayang jangan main terlalu jauh ke tengah ya, Aa ke dalam sebentar." teriak Jones.


"Ya.. ya Aa.." jawab Shafa maju mundur di bibir pantai karna riak ombak yang menepi dan menjauh lagi ke laut lepas.


Jones tersenyum, ia lalu berjalan ke arah Niken dan yang lain yang sudah keluar dari Persembunyian masing masing.


"Temani istri saya ya." punta Jones pada ke tiga pengawal Shafa.


"Iya tuan." jawab serentak ketiganya.


"Jangan panggil saya seperti itu, panggil biasa saja seperti dulu." Jones.


"Maaf tuan, anda suami nona kami yang sudah berstatus nyonya sekarang, jadi kami akan tetap ikuti peraturan yang ada." Asiah.


"Iya saya mengerti, panggilan itun kalau di depan mertua atau keluarga saya saja, lagi bersama istri saya panggil seperti dulu saja, saya risih mendengarnya, saya rasa istri saya juga sering menolak panggilan pormal kalian itu kan, jadi biasa saja." berlalu meninggalkan ketiganya.


Jones masuk dapur, dia mencari bahan bahan yang ia butuhkan untuk di masak, makanan kesukaan istrinya adalah tujuan utamanya.


"Maaf dokter, mau apa." tahya koki dan bibik.


"Saya mau masak nasi goreng putih untuk istri saya mbak." jawab Jones tampa melihat ke arah koki cantik itu.

__ADS_1


"Kita sudah masak untuk sarapan anda dan semua orang lo, ngak perlu masak." ucap wanita itu memperhatikan gerak gerik Jones yang cekatan mengupas bawang.


"Saya masak untuk istri saya, masakan yang itu buat yang lain saja." masih pokus pada pekerjaan nya, tampa menghiraukan wanita itu.


"Ohh iya, apa saya bisa bantu."


"Tidak apa apa biar saya saja, anda silahkan tinggalkan saya sendiri." jawabnya risih, dia tau persis wanita itu menatap nya dengan pandangan lain dan dia juga tau wanita itu sudah lama menyukainya.


Dulu saat pelariannya Dita sudah ada di sana dan bekerja sebagai koki, bahkan gadis itu pernah mengungkapkan perasaan tapi di tolak oleh Jones secara halus karna di hati Jones hanya ada satu nama, Shafana Intani gadis yang membuat nya mengasingkan diri jauh dari kota dan dari semua orang orang.


Dita adalah satu di antara beberapa wanita yang kehilangan saat Jones kembali ke ibu kota, sehingga Dita selalu menunggu Jones datang lagi kesana meski ia sadar hal itu kemungkinan tidak akan terjadi namun ia tetap menunggu.


Dita sangat bahagia begitu tau pemilik Villa akan datang, karna dia belum pernah bertemu dengan Shafa dan keluarganya selama Dia di sana, dia sudah banyak mendengar kalau pemilik Villa itu orang kaya raya dan masih muda serta tampan awalnya dia berpikir akan menggoda pemilik Villa tapi setelah bertemu Jones dia berubah pikiran.


Saat melihat Jones keluar dari mobil tadi Dita sangat bahagia ahirnya orang yang ia tunggu tunggu dan rindu datang juga, namun kebahagiaannya sirna begitu melihat Jones membopong wanita di pelukannya.


"Saya bantu saja pak." bersikeras ingin membantu Jones memasak.


"Maaf, silahkan pergi, saya hanya ingin memasak sendiri untuk istri saya, kalau di bantu orang lain udah ngak seru lagi." berkata dingin.


"Ya wes, nonton ora opo opo toh pak dokter, belum pernah lihat pak dokter ganteng masak." goda bibik berdiri tidak jauh dari Jones.


"Ngak apa apa bik, tapi tolong jaga jarak ya, nanti ada yang lihat dan mertua saya tau ada cewek yang nemenin saya di sini bisa gaswat."


"Pak dokter takut mertua ??." bibik.


"Saya takut istri saya dan takut mertua saya, bibik tau sendiri mertua saya seperti apa orangnya." pokus pada masakannya.


"Emang tuan besar seperti apa pak dokter ?."


"Coba bibik tahya pada bodyguar istri saya." senyum Jones.


"Kasih kisi kisinya dong pak dokter." bibik berkata sementara matanya mengawasi Dita, bukan bibik tidak tau cerita tentang adi jaya Johan dia bahkan tau bagai mana epek kalau tuan nya itu marah, tapi dia ingin Dita dengar sendiri dari Jones secara langsung.


"Kisi kisi ? seperti mau ujian semester saja bibik hehehe." Jones.


"Serius lo pak dokter, bibik ngak tau" bibik.


"Hhhh bibik pernah dengar mertua ku murka, kalau sudah murka dia akan melenyapkan nyawa siapapun yang mencoba mengganggu nya, apa lagi mengganggu keluarga nya, meski aku menantunya tapi kalau aku buat salah aku bisa saja di jadikan nya sate, yahh tapi pastinya di selidiki dulu, apa lagi di sini kan banyak CCTV yang tidak terlihat oleh kita, belum lagi CCTV berjalan yang selalu berkeliaran."


"CCTV berjalan, maksudnya dokter." Dita bergidik mendengar kata kata Jones, matanya langsung mengelilingi seluruh tempat itu mencari keberadaan CCTV yang di maksud Jones.


"Mata mata ada di mana mana, itu masih beberapa bodyguar, masih ada yang lain yang selalu mengawasi dari jauh."


"Ohhh ya." Dita masih shoc, namun setengah percaya juga dia merasa tidak mungkin ada orang yang di katakan laki-laki itu.


"Kalau bu Dita tidak percaya, silahkan buat satu kesalahan, tapi percayalah setelah itu bukan hanya nyawa bu Dita saja yang akan terancam nyawa keluarga bu Dita juga." berkata dingin.


Jones membawa makanan yang sudah selesai ia masak lengkap dengan air hangat serta susu coklat kesukaan Shafa, ia meninggalkan bibik dan Dita di sana dengan keadaan bingung.


"Bik, betul kata bang Jones." Dita.


"Pak neng, atau tuan, cara manggil neng itu pun satu kesalahan, bibik ngak mau terseret seret kalau neng buat salah, jadi hati hati kalau bicara, dan masalah yang neng bilang tadi memang benar tuan besar itu orang nya sebenarnya sanagt baik, tapi kalau tuan di ganggu apa lagi keluarga nya tuan akan sangat marah dan kejam dalam menghukum orang yang salah."


"Ohhh ya, iya bik aku akan hati hati." terdiam.


Dita dan bibik memperhatikan Jones yang berjalan ke arah istrinya yang asik bermain di pinggir pantai, awalnya dia hanya sendiri bermain pasir dan air laut tapi ke tiga bodyguard sudah basah kuyub akibat di seret paksa Shafa agar ikut mandi air laut.


Suara tawa dan canda ke empat wanita itu menjadi ramai memecahkan keheningan tempat itu yang hanya terdengar suara deburan ombak saja, dan bertambah ramai akibat suara ombak yang betadu dengan suara keempatnya, apa lagi suara Shafa yang terdengar lepas dan melengking saat tertawa.


Jones meletakkan semua masakannya di atas dipan yang ada di pinggir pantai itu, Jones ikut tertawa melihat istrinya yang sudah seperti anak kemarin sore berlarian kesana kemari, Shafa lupa status nya yang sudah tidak gadis lagi alias sudah bersuami.


"Sudah sudah, jangan lama lama mandi air lautnya sayang, nanti masak lo." tawa Jones mendekati Shafa.


Niken dan dua lainnya segera menjauh melihat kedatangan Jones di sana, namun mereka masih mendengar kata kata laki-laki itu yang mengatakan nanti masak, apa nya yang masak ?, mereka saling pandang tidak mengerti.


"Apa yang masak Aa, Shafa ngak masak." menyiramkan air laut pada Jones dengan gayung kecil di tangannya.


Shafa mengira Jones akan menghindar tapi ia salah, malah Jones terkesan ingin ikut basah basahan dengan sang istri.


"Dede masak, masak kacang." tertawa cekikikan.


Shafa bengong mendengar kata kata Jones dia tidak mengerti sama sekali maksud suaminya itu, ia berdiri mematung, begitu pun tiga perempuan yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Jones masih tertawa cekikikan, tawanya terdengar garing dan berbau mesum bagi yang paham, Niken, Asiah serta Lila menutup mulut masing masing, dengan wajah merah padam mereka berjalan menjauh dari pasangan pengantin baru itu.


Mereka mulai menangkap apa maksud kata kata Jones sehingga mereka menjauh, takut kata kata Jones semakin ngawur mereka tidak ingin mendengar semua kata kata mesum Jones yang tidak sadar ada orang lain dengar.


"Jadi kalau cewek kacang rebus kalau cowok apa." tawa Niken cekikikan.


"Bukan kacang rebus, kacang asin, air laut kan asin." Asiah memeluk pohon kelapa karna tidak tahan dengan tawanya sendiri.


Hahahahhaha tawa ketiganya.


"Kalau cowok telor asin dong." lila menjepit pahanya karna takut ngompol.


"Kamu kenapa gitu hahhh, macam udah pernah di perawani saja sampe menjepit paha." tawa Niken.


"Husss aku masih ting ting tau hahaha."


Tawa ketiga wanita itu makin terdengar kencang membuat lima bodyguar lainnya bingung melihatnya, mereka berjaga tidak jauh dari majikannya.


Andy yang di perintahkan untuk ikut menjaga Shafa diam saja melihat interaksi ketiga wanita itu, mereka bertiga hampir tidak pernah terlihat tertawa sampai begitu seru membuat mereka Bingung apa yang di tertawa kan.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2