
Shafa tertidur pulas di atas ranjang pengantin saat Jones memasuki kamar itu, senyum bahagia terpancar dari wajahnya, Jones melihat jam yang tertera di pergelangan tangannya, masih pukul enam belas sore, ia membuka jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya.
Berlahan ia naik ke atas tempat tidur, niat awal ingin membangunkan sang istri untuk sholat ashar berjamaah, tapi karna melihat wajah pulas sang istri ia malah ingin menggoda istrinya itu.
Berlahan Jones menarik tubuh mungil Shafa kedalam pelukannya, lalu ia menciumi berkali kalia wajah cantik sang istri namun tidak terganggu sama sekali.
"Nyenyak banget sih bobok nya yangk." gumam Jones, mengecup bibir Shafa sekilas.
Enghhh..
Shafa menggeliat manja di dalam pelukan Jones, laki-laki itu semakin gemas di buatnya, ia makin mengeratkan pelukannya.
"Enghhh jangan Mei mei, tata sesak nih."
"Iya tata, boleh kiss ya." Jones menirukan suara anak anak seakan itu Janeet.
"Ngak, Meimei ntar ences geli tata." mata masih terpejam tidak curiga mendengar suara Jones.
"Sedikit saja tata."
"Ngak."
Cup.. mmmhhhh, Jones mencium Shafa mesra membuat gadis itu mendorong tubuh Jones sekuat tenaga hingga Jones terjungkal sampai kebawah tempat tidur.
Bruk..
"Aduh.. duh.. patah tulang punggung ku." keluh Jones memijit mijit bokong dan pinggangnya.
"Uncle ?." teriak Shafa terkejut melihat Jones yang berada di bawah tempat tidur dengan posisi duduk.
"Uncle ngapain di siti." tanya Shafa bingung, dia lupa kalau baru saja mendorong suaminya itu hingga terjatuh.
"Ngak apa apa sayang, nyemplung." jawabnya asal mencoba berdiri.
"Nyemplung kok di situ, paretlah." polos.
Jones tersenyum aneh, ia kembali berjalan ke arah tempat tidur berlahan ia mendekati Shafa, Shafa mundur, Jones naik ketempat tidur.
"Uncle ngapain ?."
"Ngapain ya ?." tersenyum jahil.
Shafa mendorong tubuh Jones agar menjauh darinya, namun Jones tetap tidak bisa di dorong olehnya.
"Uncle, Shafa mau Sholat ashar lihat mukena Shafa." celingak celinguk pura pura mencari, sebenarnya ia ketakutan karna di dekati Jones.
Jones yang mengerti ketakutan istrinya itu tersenyum geli, ia malah makin mendekati Shafa dengan merangkak di atas tempat tidur.
"Uncle, jangan dekat dekat sana mandi, asam ?."
"Masa ngak boleh dekat sih sayang, aku suami kamu lo my wife, dosa kalau suami di kasarin, kamu tau itu kan ?." mesum.
"Enghhhh itu.. an.." Jones menangkap tubuh istrinya lalu ia peluk mesra.
"Jangan takut sayang, aku ngak mau ngapa ngapain kamu kok, tadinya aku mau bangunin kamu untuk Sholat ashar tapi karna kamu imut banget saat tidur aku malah jadi pengen tidur juga sambil meluk kamu."
Mempererat pelukannya, Jones mencium pucuk kepala istrinya dengan rasa sayang dan cinta yang besar, ia lalu melonggarkan pelukannya.
"Bobok kok pake hijab begini sayang, di buka dong biar ngak panas." membuka hijab Shafa, namun tangannya di tahan oleh sang istri.
"Jangan Uncle."
"Kenapa ?, kita sudah menikah, aku suami kamu sayang, suami boleh dong lihat rambut istrinya, aku juga sudah pernah lihatkan ?."
"Enghhh udah jam empat, Shafa sholat dulu, Uncle sudah Sholat ?." mengalihkan pembicaraan.
"Aku datang karna ingin sholat berjamaah dengan kamu sayang, tadi siang sholat berjamaah pertama kita setelah menikah, selanjutnya aku yang akan menjadi imam kamu di rumah tangga dan saat sholat."
"Enghhh iya, kalau gitu siap siap." berusaha melepaskan diri dari pelukan Jones tapi tidak bisa.
"Siap siap apa sayang ku." goda Jones.
"Sholat Uncle, apa lagi."
__ADS_1
"Aku kira siap siap ??." menaik turunkan
alisnya.
"Apa ?."
Jones kembali menarik Shafa ke pelukannya, di kecupnya kening Shafa mesra hingga berulang kali, kemudian ia cium bibir sang istri tapi cuma sekilas karna takut kebablasan dan tidak mau melepaskan bibir Shafa.
"Barakkallah Fii umrik My Wife, kesayangan ku, cinta dunia akhirat ku, bidadari syurga dan duniaku, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan, kebahagiaan, dan panjang umur untuk mu sayangku, dan semoga rumah tangga kita selalu dalam lindungan Allah swt Aminn yaa Robbal Alaminn."
Jones memeluk Shafa dengan erat, Shafa yang terkejut mendengar ucapan selamat ulang tahun dari suaminya merasa bahagia, setelah papa mamanya Jones adalah orang ke tiga yang mengucapkan kata kata itu.
"Aaminn Ya Allah, Aminn ya Robbal Alaminn." jawab Shafa dalam pelukan Jones.
"Pernikahan kita adalah momen terindah dalam sejarah hidupku sayang di mana kelak kita bisa mengingat momen ini bersamaan, saat hari kelahiran kamu dan saat hari pernikahan kita, andai ingin kita rayakan maka akan satu acara."
"Shafa ngak rayakan ulang tahun Uncle."
"Berramai ramai tidak, tapi saat kita berdua boleh dong yangk, atau kita bisa rayakan di panti Asuhan seperti biasa."
"Hmmm iya Uncle."
"I love you my wife, my Angel, my life." kembali menciumi seluruh wajah Shafa dengan rasa sayang dan cinta yang besar dan tulus.
"Tadi Uncle bilang apa, siap untuk apa."
"Nanti lah aku kasih tau apa, sekarang sayang mandi dulu biar kita Sholat, atau mau mandi bareng hmmm." goda Jones.
"Ngak." berlari ke kamar mandi.
Setelah sholat ashar berjamaah, Shafa mengusir Jones keluar dari kamar karna selalu di goda oleh suaminya itu, karna takut sang istri murka Jones terpaksa keluar kamar dengan wajah muram.
"Kenapa lu." Robby.
"Gua di usir." adunya sambil menghempaskan pantatnya di kursi di samping Robby.
"Hahahaha belum apa apa lu udah di usir, ngenes mu ngak ilang ilang ya, kenapa lu di usir pasti karna otak lu yang ngeres minta di layani sore sore." ejek Robby.
"Gua sih pengennya gitu, ngak sabar gua, lagian si bos ngapa buat resepsi lagi malam hari, dia ngak tau ya gua mau malam pertama, sengaja pasti." omel Jones.
"Mana si bos, gua mau ngadu putrinya KDRT
ke gua, gua tadi di gebukin."
"Hahahahaha lu apa in nona sampe di gebukin, sana ngadu sama bapaknya di ballroom si bos masih ada tamu ngak mau pulang ehh salah ngak bisa pulang."
"Kenapa tamunya ngak bisa pulang ?."
"Biasa inces Janeet, kalau lihat yang bening bening dan tampan pasti ngelendot, katanya lu udah laku , udah nikah sama tata nya jadi dia ngak mau ngelendot sama lu lagi."
"Hahhh apes banget nasib tu orang pastinya, asal jangan minta ikut ke kamar kami saja nanti, bagus
lah dia ngelendot sama tu orang hahaha."
"Bagus ndasmu, si bos udah risih ngak bisa ke mana mana gara gara itu."
"Nasibnya lah."
Jones kembali ke kamar saat waktu sholat magrib datang, setelah sholat MUA datang untuk merias Shafa karna acara resepsi akan di mulai.
Jones duduk di sopa seorang diri, ia memperhatikan wajah cantik istri yang di rias bagai boneka, sangat cantik, Shafa memakai gaun berwarna biru layaknya princes di cerita dongeng anak anak, sangat anggun dan mewah, membuat Jones semakin gemas melihat istrinya itu.
Andai tidak ada orang lain di sana sudah ia terkam, meski sang istri kembali memakai cadar tapi aura kencantikannya malah makin terpancar dari balik cadarnya.
"Pak dokter sudah ngences nya, hahaha ilernya berserakan tuh." goda Iza sang MUA lokal.
"Ehhh berserakan ya, ngak tuh mengalir, lupa tampung peke ember." senyum Jones, bola matanya masih pokus pada sang istri.
Mereka semua tertawa mendengar candaan Jones, Shafa yang tidak mengerti hanya mengerutkan kening.
Jones memakai baju dan jas warna senada dengan Shafa, ketika mereka di sandingkan di pelaminan mirip raja dan ratu negeri dongeng.
Mata semua orang tertuju pada kedua pengantin baru yang duduk di pelaminan super mewah itu, yang satu tampan dan gagah yang satu sudah pasti cantik rupawan.
__ADS_1
Sanak saudara dan para undangan silih berganti naik turun pelaminan untuk memberikan ucapan selamat, kaki Shafa sampai kebas dan pegal karna berdiri lama.
"Papa bilang undangannya cuma tiga ribuan, ini mah sudah puluhan ribu, kaki Shafa mau patah." cicit Shafa melirik papa dan mamanya yang tak kalah tampan dan cantik.
Bahkan mama Dara juga ikut tampil elegan di balut gaun mewah warna senada dan model sama dengan Zahra serta keluarga lain.
Mama dara tentu bangga dan bahagia dapat menantu keturunan sultan, secara otomatis harkat dan martabatnya dan keluarga pasti terangkat, siapa yang tidak mau berbesan dan masuk kekeluarga kaya raya itu.
Hanya saja mama dara tetap tidak suka pada Shafa karna mama dara masih menganggap Shafa sebagai pembawa sial karna Jones berulang kali terluka sampai hampir meningal dunia karna Shafa dengan alasan itulah mama dara membenci Shafa.
"Ahirnya bro, usaha tidak menghianati hasil ya kan, dapat juga si jantung hati, meski harus guling guling kesana kemari yang penting jadi." goda Arjuna teman kerja Jones.
"Ssttt mau belah duren nih, jangan lupa obat ya." Ryan menyenggol Jones.
"Cihhh ngak butuh gue." bisiknya.
"Bro maaf gua ngak kasih apa apa sebagai kado, tapi gua lagi dapat promo nih, harga murah, ******, lu masih mau pacaran kan ?." goda Anton.
"Sialan lu, dengar bini gua bisa mabok
darat gua ntar." omel Jones.
"Paling ngak di bukain pintu kamar, takut
punya lu kegedean, secara lu kan bule." Hans.
"Bule cangko,an ya." Ryan.
Mereka tertawa cekikikan, untungnya mereka menarik Jones sedikit jauh dari Shafa kalau tidak bisa merah wajah dan telinga Shafa mendengar ocehan receh mereka.
Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh delapan menit, Shafa sudah tampak kelelahan karna tidak tega melihat istrinya yang selalu duduk berdiri dan mengaduh sakit pada kaki ahirnya Jones meminta izin pada papa mertuanya untuk istirahat lebih dulu.
Sesuai kesepakatan awal setelah menikah Jones akan langsung membawa Shafa ke apartemennya, meski kamar mereka sudah di siapkan tapi Jones tetap kekeh tidak mau menginap di sana ia memilih membawa Shafa pulang ke apartemen miliknya.
Johan mengerti kalau Jones ingin berdua saja dengan Shafa karna itu dengan terpaksa Johan membiarkan Jones membawa Shafa ke apartemen malam itu juga, karna jarak apartemen Jones dan hotel tidak jauh karna itu juga Johan membiarkannya.
"Kenapa muka lu masam gitu, seperti jeruk purut ?." tanya Robby menoleh ke bangku penumpang di mana Jones dan Shafa duduk.
"Jangan banyak tanya." omel Jones.
Tangannya membelai sayang kepala sang istri yang berbantalkan pahanya, karna kelelahan Shafa langsung tertidur begitu duduk di dalam mobil pengantin hadiah dari Hengky untuk
mereka berdua.
"Hohohoho." Robby cekikikan melihat Shafa yang tertidur, baru dia sadar penyebab wajah muram laki-laki itu.
"Gagal malam pertama ya bro." bisik pelan.
"Sialan lu." berbisik juga.
Reza yang sedang pokus ke stir dan jalan raya cuma bisa jadi pendengar budiman, dia takut ikut komentar karna takut salah, padahal ia juga ingin tertawa melihat wajah ngenes Jones.
@hahahaha kacian de lu Jones ngenes,
apes 🤣🤣🤣🤣.
***********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.