UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
179. Mata Biru.


__ADS_3

Suasana di ruang makan tampak tegang, berulang kali Johan mengatur pernapasannya agar kembali normal, dia ingin menjerit, memaki dan menendang apa saja yang ada di sana.


Namun karna rasa takutnya pada sang istri mengalahkan emosinya yang membuncah.


Johan terduduk lemah, di sopa ruang tamu, tubuh ia sandarkan pada sopa sedangkan Zahra mengusap dada suaminya itu perlahan untuk sekedar menennagkannya.


Robby, Aldo dan semua bodyguar yang tidak tau apa apa masih melonggo dan masih tidak sadar situasi.


Axton sendiri duduk santai di hadapan Johan, meski sebenarnya dia juga kasihan melihat Johan yang terkejut dan shoc melihat seseorang yang di anggapnya sudah tidak ada namun muncul kembali kepermukaan bumi.


Jangan lupa hati dan perasaan Johan yang terus di liputi perasaan bersalah pada sang putri karna merasa ikut bersalah dengan kejadian yang menimpa Jones.


Sementara itu di dalam kamar.


Orang itu menurunkan Shafa berlahan di atas tempat tidur, bola mata hazel Shafa dan mata coklat orang itu beradu.


Shafa masih diam menatap wajah orang yang menggendongnya, bingung tentu saja sama hal dengan orang orang yang ada di luar sana.


"Sayang.., maaf..maaf..Aa membuat sayang sakit, maaf yank." ucap laki-laki itu mencium seluruh permukaan wajah Shafa ciuman basah di seluruh wajah wanita muda itu.


Ciuman yang selalu ia rindukan siang dan malam sejak di tinggal pergi oleh sang suami.


Ya .. Laki-laki yang menciumnya itu adalah suami yang telah di bawa pergi oleh sang Daddy setelah di katakan gagal jantung dan meninggal oleh sahabat Jones sesama dokter.


Suami yang ahir ahir ini membuat ia bermimpi setiap malamnya, suami yang sangat ia rindukan, suami yang ia cintai, sayangi, meski rasa sayang dan cinta terlambat ia sadari dan sudah lama bersemayam di hatinya.


Shafa baru sadar setelah Jones pergi dan ia baru paham kalau cinta itu sudah tumbuh subur di hati sejak lama.


Cup..cup..


Jones kembali memberikan ciuman bertubi tubi pada seluruh wajah Shafa, posisi Shafa yang berada di bawah Jones membuat wanita muda itu tidak bisa melepaskan tatapan matanya dari laki-laki itu.


Masih tanpa suara ia terus saja menatap Jones, Jones tau istri kecilnya masih bingung apa pun kata kata yang keluar dari bibirnya tidak berpengaruh.


"Yank.. Aa pulang, Aa di sini bersama sayang, jangan marah ya, dede kan pernah bilang dede akan memaafkan Aa kalau buat salah asalkan kesalahan Aa tidak patal, Aa tidak menghianati dede dan rumah tangga kita."


Laki-laki itu terus berkicau di telinga Shafa tapi wanita itu tetap diam tidak bergeming sama sekali.


Cup..cup..


Gemas dengan diam istri Jones ahirnya membenamkan bibirnya di bibir mungil Shafa, di sesapnya bibir ranum Shafa lembut, berlahan di masukkannya lidahnya kedalam mulut sang istri.


Ciuman Jones semakin lama semakin menuntut lebih dan lebih, Shafa malah sudah memejamkan matanya menikmati sapuan bibir dan lidah Jones di bibir dan rongga mulutnya.


Enghhhhh.. emhhhhh....


Suara kecapan terdengar sayup sayup di dalam kamar, Jones melepaskan pagutannya sebentar karna ia ingin membuka jubah yang ia pakai, bukan hanya jubah yang sudah lepas dari tubuhnya tapi semua kain yang melekat.


Sehingga tongkat sakti yang panjang dan besar itu pun sudah bebas dari sarangnya, sementara Shafa masih memejamkan matanya.

__ADS_1


Senyum terpatri di bibirnya, bayangan sang suami masih menari nari di pelupuk mata, entah apa yank ada di pikiran wanita muda itu hingga ia pun tidak sadar kalau tubuhnya sudah polos seperti tubuh Jones.


Erangan penuh kenikmatan menggema, Jones menggerakkan tubuhnya lembut naik turun di atas Shafa, perut Shafa yang membumbung tinggi tidak menghalangi penyatuan mereka


Arhhhhh..


Jones mengeram kuat saat larva hangat masuk menerobos kedalam rahim sang istri yang sudah di isi janin.


"Enghhhh yank.., kenapa diam saja hmm, ngak kangen sama Aa yank."


Jones mencium kening dan seluruh permukaan wajah Shafa, terahir bibir basah itu singgah di bibir Shafa.


Jones turun dari atas Shafa, di tatiknya selimut menutupi tubuh polos mereka sampai ke leher, Laki-laki itu lalu menarik pelan tubuh Shafa agar masuk kepelukannya.


"Yank.. kok diam sih, masih marah sama Aa." membelai wajah Shafa lembut.


Hembusan napas Jones menerpa hangat di wajah Shafa membuat wanita itu terkesiap dan terjingkat karna terkejut.


Eehhhh..


"Aa.. a.. " suara Shafa tercekat di tenggorokan kedua tangan Shafa refleks terangkat dan meraba wajah Jones, di telusuri seluruh wajah suaminya itu dengan kedua tangannya.


Wajah putih mulus tanpa bulu halus yang biasa menghiasi wajahnya terasa lembut di tangan, tapi mata itu ??, wajah itu benar wajah suaminya tapi matanya.


Ehhhh... sontak Shafa mendorong tubuh besar Jones tapi tidak bergeser sama sekali, Shafa langsung panik dan takut melihat sosok yang masih memeluknya Fosesip.


"K..kaamu..siapa, jangan dekat dekat." Shafa beruasa mendorong tubuh Jones tapi tetap tidak bisa.


"Masa lupa sama suami sendiri sih yank, lalu apa itu ? jangan dekat dekat ?, nih udah dekat pun yank, kita dua ngak makan baju lagi, sayang lupa barusan Aa jenguk anak anak Aa kedalam hmm"


Jones menaik turunkan alisnya menggoda sang istri yang semakin panik, ia mengangkat selimut dan melihat ketubuhnya benar saja ia kini tanpa busana.


"Kkaaamu.. hiks.. jangan." Shafa bingung apa yang terjadi padanya, tadinya ia memang merasakan sensasi bercinta dengan sang suami seperti beberapa malam yang lalu, sehingga apa yang terjadi tadi ia merasa itu juga mimpi.


Beberapa kali ia harus mandi wajib karna ia merasa bermimpi melakukan itu dengan Jones di dalam mimpi tanpa tau kalau sebenarnya ia sama sekali tidak bermimpi dia benar benar melakukan itu bersama Jones.


"Yank..ini Aa, jangan nangis dong yank." semakin menarik Shafa kepelukannya.


"Ehhh.. ta..tapi." menatap manik mata Jones dalam dalam.


"Ohh.. sayang ragu sama Aa hmm."


Jones yang paham tatapan mata Shafa kematanya langsung duduk dan bersandar di headboard tempat tidur, satu tangan Jones mengarah ke mata kanannya lalu mengeluarkan kontak lensa dari sana demikian pula sebaliknya kemata kiri.


Shafa kembali terkesiap, mata biru itu mata suaminya, tanpa sadar ia ikut bangkit duduk menghadap Jones, dia lupa kalau ia sama sekali tidak menggunakan kain untuk menutup tubuhnya.


Dada yang menjulang tinggi dan berisi serta perut buncit yang mulus tak bercela terekspos pasti di depan mata Jones.


"Dede menggoda Aa hmm, mau lagi yank ?." senyum Jones menatap Shafa mesra.

__ADS_1


Shafa tidak perduli dengan tubuhnya yang terbuka, kedua tangannya malah sudah berada di wajah Jones menangkup dengan tangan kecilnya.


"Aa ??." panggilnya masih tidak percaya dan yakin laki-laki bermata biru itu ada di depannya.


"Hmmm iya sayang, ini Aa, kenapa masih ngak percaya ya." menarik lembut tubuh Shafa agar kembali merapat padanya.


Jones lalu meraup bibir ranum itu mesra, memijit dan memberikan gigitan gigitan kecil di atas bibir Shafa, bahkan Jones sengaja merapatkan hidung mancung miliknya pada hidung mancung nan mungil milik Shafa.


Shafa seperti kelelep di dasar samudra yang dalam, ia hampir kehabisan pasokan oksigen yang masuk ke paru parunya.


Enghhhh.. enghhhh..


Jones langsung melepaskan tautan bibirnya pada bibir Shafa, memberikan waktu pada sang istri untuk meraup udara sebanyak banyaknya.


"Masih bingung yank, hmmm nambah lagi istri Aa." ucapnya lembut di depan wajah Shafa dengan kedua tangannya berada di bagian belakang kepala Shafa.


Bola mata indah itu berkedip kedip, ia masih bingung dan tidak percaya suaminya ada di depan matanya, kedua tangannya kembali menyentuh wajah Jones berulang ulang.


Mata biru itu adalah pusat perhatian Shafa yang utama, lama kelamaan ia makin yakin kalau orang yang ada di depannya benar suaminya.


"Aa .. hiks." panggilnya lirih dengan air mata berurai.


"Iya sayang, ini Aa yank, maafkan Aa ya, maaf sudah membuat dede sakit selama ini, maaf sudah membiarkan dede sendiri selama ini, maaf sudah membuat dede bersedih, Aa juga ngak mau begini caranya tapi mama yang memberikan ide kata mama Aa harus nurut semua apa yang di bilang mama kalau Aa mau kembali pada sayang, cuma itu caranya."


Jones membelai wajah cantik Shafa lembut, dia sama tersiksanya dengan Shafa, berjauhan dalam beberapa waktu benar benar membuatnya hampir gila.


Belum lagi saat ia menyamar menjadi dokter pribadi Shafa, hatinya sangat sakit dan sedih saat melihat istri menangis setiap waktu karna merindukannya.


Belum lagi Shafa yang selalu harus cabut pasang infus karna lemah akibat tidak makan makanan yang bergizi dan selalu sakit sakitan.


Sementara ia tidak bisa menghibur apa lagi menyentuh istrinya itu, dalam hal ini mungkin Jones lah yang paling menderita dari Shafa.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


🍁 Maaf lama baru Up teman teman, aku kehilangan semangat menulis soalnya hehehe, ngak tau kenapa tapi aku merasa malas meneruskan cerita ini, tapi kalau ngak di teruskan rasanya ada yang mengganjal, padahal ide ide selalu ada tapi ya gitulah hehehe, sekali lagi maaf ya teman teman, tapi aku akan usahakan menyelesaikan cerita ini sampai tamat kok meski mood lemah.


🍁 Biar tetap semangat yuk dukung aku ya dengan cara seperti biasa.


🍁 LIKE


🍁 RATE


🍁 VOTE


🍁 HADIAH


🍁 KOMEN yang banyak ya


Wo ai ni All.

__ADS_1


__ADS_2