
Para bodyguard bersiap menghadang Jones dan Rombongan namun tatapan mata Robby membuat mereka menjaga jarak, walau bagai manapun Robby tetap atasan mereka.
"Kenapa pak, kalau bapak ingin menghadiri acara ini silahkan cari tempat dan duduk jangan mengganggu seperti ini." tanya penghulu pada Jones.
Johan diam saja, di tatapnya Jones dengan tatapan dingin, Arkhan berbalik menatap Jones dengan tatapan sinis.
Sementara pengantin wanita tetap menghadap kedepan, wanita itu sama sekali tidak bergeming dari duduknya.
"Gils.. ku mohon jangan menikah dengannya, AKU SANGAT MENCINTAIMU GILS jangan menikah dengannya SHAFANA INTANI aku mencintaimu aku mencintaimu, ku mohon menikahlah
dengan ku."
Teriakan Jones menggelegar di seluruh ruangan itu, padahal laki laki itu tidak pakai pengeras suara tapi suaranya sudah sangat kencang.
Penghulu terkejut, Johan menunduk, Arkhan berbalik kearah Johan, Zahra yang tak Jauh dari Johan membuang muka, Mommy, Daddy dan Maili juga ikut ikutan membuang muka.
Suasana jadi makin hening, diam, sunyi senyap yang terdengar hanya suara deru napas Jones yang masih ngos ngosan, tidak satupun yang berani bersuara karna sang penguasa juga
diam membisu.
"Uncle.. Uncle kenapa, buat malu." tiba tiba suara seseorang terdengar nyaring dari arah lain, gadis itu menutup matanya dengan kedua tangannya karna merasa segan melihat banyak keluarga dan banyak orang di sana.
Jones ikut terkejut, suara wanita yang sangat ia kenal itu bukan berasal dari depan tapi dari arah lain, kepala Jones berputar mencari sumber suara dan mata laki-laki itu terbelalak sempurna melihat Orang yang ia cari berdiri tak jauh dari
tempatnya berdiri.
"Gils.." gumam Jones bingung, seketika ia melihat ke arah pengantin wanita yang masih membelakanginya.
Tampa berpikir panjang Jones berjalan cepat ke arah Shafa, dia sudah tidak perduli siapa wanita yang duduk di bagian depan ruangan itu dia tidak perduli siapa pengantin wanita itu yang penting pengantin wanita itu bukan Shafa.
"Gils.. aku mencintai mu, aku sungguh sungguh mencintaimu, ku mohon menikahlah dengan ku."
Jones menekuk kakinya bersimpuh di depan Shafa seraya memohon pada gadis itu, Shafa yang merasa malu tidak tau harus apa ia lalu menoleh kekiri dan kanan melihat reaksi orang orang terutama reaksi keluarganya.
Shafa melihat ke arah Zahra, sang mama hanya mengangkat bahunya, begitu juga dengan Johan sang papa juga ikut mengangkat bahunya memberi kode dengan maksud terserah.
"Gils .. ku mohon terima aku ya, ku mohon aku mencintaimu aku sangat mencintaimu." laki laki itu meraba raba ke kantong celananya, mencari cari sesuatu di sana.
Shafa masih terdiam mematung.
"Gils .. ku mohon, menikahlah dengan ku." pintanya lagi dengan mata memohon.
"Dek.. jangan diam aja, jawab dong, kalau mau bilang mau kalau ngak ya bilang ngak, jangan lama lama, abang mau nikah." teriak Arkhan.
Shafa tetap diam.
"Gils.. ku mohon." ulang Jones.
__ADS_1
Shafa menatap Jones lalu ia pun mengangguk anggukan kepalanya tanda setuju, tanda menerima lamaran laki-laki itu, dengan wajah menunduk karna malu, andai Jones bisa melihat wajah merah sang gadis ia pasti akan gemas
dan greget.
Jones ingin melompat karna kegirangan, namun kakinya terasa kebas dan kaku, karna sedikit lama berlutut, namun ia masih mencari barang yang Selalu ada di kantong celananya.
"Dasar bego, nih barang lu." Robby menyerahkan kotak kecil yang tadi sempat terjatuh dari kantong celana Jones.
Jones membuka kotak bentuk hati berwarna maron itu, kemudian ia mengeluarkan sebuah cincin yang sangat indah dari dalam kotak itu tamoa pamit dan berkata kata Jones langsung memasang cincin tersebut ke jari manis Shafa.
Shafa yang masih malu karna tingkah Jones hanya diam saja melihat laki-laki itu memasangkan cincin itu.
Setelah memasang cincin ia berusaha bangkit dari bersimpuhnya dengan susah payah, namun karna kakinya keram dan kebas ia sedikit kesusahan sehingga Robby ikut membantu Jones berdiri.
"Gils.." panggil mesra Jones.
"Jangan berdiri lama lama di situ, gua gerah melihat lu." ucap Johan dengan wajah datar dan dingin menatap Jones.
Laki-laki menurunkan handphone yang sejak tadi terangkat di tangannya, setelah mematikan tanda vidio di handphonenya itu ia lalu menyimpan benda pipih tersebut ke kantong celana.
Kemudian Johan pun berpindah duduk, yang awalnya saling berhadapan dengan Arkhan kini ia berada di sebelah penghulu ia malah bertindak sebagai saksi.
"Sialan si bos ternyata merekam video lu bro." bisik Robby di telinga Jones, karna ia sempat melihat kamera handphone Johan yang menyala.
"Apa gua di jebak ?." Jones.
"Astaga ternyata ini sudah di rencanakan, gils kamu pasti ikut ya." menatap mesra Shafa.
"Ikut apa Uncle, sudah duduk sana, nanti abang marah lagi." titah Shafa berlagak tidak mendengar dan tidak perduli dengan kata kata Jones.
"Ehh gils tunggu." berjalan pelan mengikuti
Shafa.
"Uncle mau kemana, tempat laki-laki di sebelah sana, bukan di sini." menunjuk tempat duduk yang banyak kaum adamnya di sana.
"Tidak gils aku mau duduk dekat kamu."
"Jangan, malu tau."
"Kok malu, kita kan baru jadian, aku ingin membahas pernikahan kita, aku juga mau menikah dengan mu gils, kalau bisa sekarang setelah mereka selesai ijab kobul."
Beberapa orang yang mendengar celotehan Jones tersenyum geli mendengar kata kata laki-laki itu, karna tampa rem dan tampa malu.
"Uncle.. jangan bahas itu di sini dan jangan bahas dengan Shafa, Uncle ngomong sama papa saja." duduk di kursi tempat duduknya tadi.
"Tapi gils aku ingin.."
__ADS_1
"Duduk di sana Uncle please.." menatap Jones serius dan dengan sorot mata tegas.
"Hhmmm baiklah gils, tapi setelah acara selesai kita harus bicara ya."
Henghhhh angguk Shafa.
Dengan berat hati Jones terpaksa berjalan ke arah tempat yang di tunjuk Shafa tadi di sana sudah duduk Ryan, Anton dan Robby ketiga sahabat itu langsung mengacungkan jempol padanya.
Jones tersenyum sumringah penuh kebahagiaan, langkahnya yang masih pincang di perhatikan oleh Shafa dari tempat duduknya, hati gadis itu terasa nyeri melihat kaki Jones yang belum benar-benar pulih dan malah di bawa berlari saat datang tadi.
"Maaf Uncle, semua ini ide papa, karna Uncle yang tidak pernah berani bilang suka sama Shafa, kalau tidak begini Uncle masih saja diam dan memendam rasa Shafa mana tau kalau Uncle suka sama Shafa kalau ngak Uncle bilang, maaf juga karna Shafa Uncle menderita." gumam Shafa dalam hati.
Jones duduk gelisah di kursinya, ia terus saja mencuri pandang pada gadis yang sudah di lamarnya tadi, gadis itu bahkan sudah memakai cincin pemberiannya.
"Lu bisa diam ngak, nona ngak akan kemana mana jadi lu ngak usah takut." Robby.
"Reseh banget sih lu, gua kangen tau gua mau dekat tapi malah di usir, lalu apa tadi sayang ku manggil si Arkhan abang ?, gua malah tetap di panggil Uncle." cicit Jones.
"Ishhh bego lu ya, emang panggilan yang sudah terbiasa itu mudah merubahnya semudah membalik telapak tangan." omel Anton.
"Hhhh iya juga." Jones.
Sementara itu Shafa sendiri masih merasa malu dengan sikap dan tingkah Jones yang melamarny tiba tiba di depan banyak orang, awalnya yang ia bayangkan bukan kejadian seperti itu tapi Shafa malah membayangkan kalau Jones akan datang menculiknya lalu membawanya pergi.
Tapi malah lain dari perkiraan Shafa dan kedua orang tuanya.
********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1