
Jones keluar ruangan dengan membawa Shafa di pengkuannya, rasa cemas dan takut terlihat jelas di matanya, kursi roda itu melaju cepat di koridor Rumah sakit di susul Robby dan para bodyguar yang terkejut melihat Jones membawa Shafa dalam keadaan tidak sadar.
"Ada apa bro, nona kenapa." Robby berjalan
cepat mengikuti Jones.
"Lu telp bos cepat." menjawab lain.
"Dokter nona kenapa." Niken dan yang lain juga ikut panik.
"Cepat panggil dokter vita ke ruangan gua." titah Jones langsung membawa Shafa ke ruang prakteknya.
"Biar kami yang angkat nona dokter." pinta
Asiah dan Lila.
"Gua saja." mendekati tempat tidur dengan
kursi rodanya.
"Jones kaki lu belum pulih, biar mereka yang memindahkan nona." Robby.
"Tidak, nanti mereka menjatuhkannya." setelah berkata begitu berlahan Jones berdiri dari duduknya dengan menahan Shafa di pelukannya.
Asiah dan yang lain siaga di samping Jones karna takut laki-laki itu jatuh sebab tidak kuat mengangkat Shafa, tapi mereka salah, meski kakinya sakit namun rasa takut dan cemas Jones mengalahkan rasa sakit di kakinya.
Johan berlari kencang ke ruangan Jones, tadinya setelah mengantar Shafa ia menemani Zahra periksa kehamilan, dan saat Robby menghubungi ia langsung berlari ke ruangan Jones karna Zahra masih melakukan pemeriksaan.
Zahra sengaja meminta sang suami untuk melihat kondisi Shafa lebih dulu, sebab ia begitu Kwatir dengan keadaan putrinya itu.
Johan sempat melihat bagai mana Jones membawa putrinya dan memindahkan putrinya ke tempat tidur pasien.
Johan cukup terkejut dalam keterbatasan tenaga dan kondisi kaki yang masih sakit Jones tetap berusaha membawa Shafa untuk di periksa, laki-laki itu makin terharu melihatnya.
"Sebegitu besar cinta lu pada putri gua Jones, andai lu bukan teman gua, gua pasti sangat bahagia menyerahkan putri gua ke Lu." gumam Johan dalam hati.
"Putri gua kenapa Jones." menatap dingin.
"Gua ngak tau kenapa, tiba tiba Shafa mengeluh perutnya sakit terus pingsan." jawab Jones terbata karna sedang mengatur pernapasannya yang masih tersengal sengal.
Jones menatap Shafa yang masih pingsan dengan wajah lesu bercampur cemas, ada berbagai pemikiran kini sedang berkecamuk di hati dan pikirannya.
"Nona pingsan lagi dokter." dokter Vita datang bersama asisten wanita.
"Iya tolong cepat periksa." pinta Jones sembari menarik tirai pembatas antara tempat tidur dengan meja konsultasi.
"Baik dokter."
"Buka sedikit tirai depan , aku mau lihat USGnya." Jones menghadap samping arah layar monitor USG, ia juga ingin melihat secara langsung apa yang ada di rahim Shafa.
"Baik dokter." setelah memberi sedikit celah, dokter Vita langsung memasang gel dan mengarahkan alat transducer USG tersebut di atas perut Shafa, berlahan ia menggeser alat itu ke arah berlawanan berulang kali agar mendapat hasil yang sesuai.
Jones menarik napas dalam dalam berulang kali, terlihat jelas wajah tegang dan cemas Jones, ia bahkan mengusap wajahnya kasar, Johan yang melihat reaksi Jones jadi takut dan panik.
"Ada apa, lu jangan diam saja." Johan yang duduk di seberang meja tempat Jones duduk ikut menatap layar monitor tersebut.
"Sebentar, kita lihat hasil pemeriksaan dokter Vita dulu nanti gua kasih tau hasilnya." jawab Jones dengan suara berat.
Robby yang ikut di dalam mendampingi Johan ikut merasa tegang, meski dia tidak tau dan tidak mengerti apa apa.
"Bagai mana." tanya Jones pada wanita yang sering merawat dan mengobati Shafa itu.
__ADS_1
"Seperti yang dokter lihat." jawab wanita itu.
"Maksudnya apa." Johan menatap dokter Vita dingin dan tajam.
"Bagai mana hasil pemeriksaan kak Shafa koko." tanya Zahra gugup, ia datang di antarkan oleh dokter lain ke ruangan Jones.
"Tenang sayang, jangan cemas kita dengarkan apa hasil pemeriksaan kakak." Johan bangkit dari duduknya dan menggeser tempat duduk untuk sang istri di sampingnya.
Robby sendiri berpindah, dia berdiri sedikit jauh dari semua orang, karna ia tidak ingin hal pribadi Shafa di dengar olehnya secara langsung karna itu bukan bagian dari urusannya.
"Biar gua jelaskan." Jones mengambil napas dalam dalam dan panjang.
"Di rahim Shafa meomanya sudah sangat mengecil dan sudah tidak perlu di cemaskan, mungkin karna makan obat atau terafy lainnya, tapi itu yang terlihat oleh USG transducer di tempat lain yang tidak terjangkau oleh alat itu kita tidak tau sebesar apa."
Jones kembali menghela napas, suaranya semakin berat, bahkan napasnya terdengar cepat dan sesak, si mata biru itu berkali kali mengerjaberjabkan matanya yang terasa perih menahan air mata yang ingin keluar.
"Jadi maksud dokter." air mata Zahra tumpah membanjiri wajahnya.
"Iya nyonya, kemungkinan di dalam opariumnya masih ada dan mungkin lebih.." Jones tidak melanjutkan kata katanya.
"Maksudnya apa, gua ngak ngerti." Johan.
"Harus di lakukan pemeriksaan lanjut, lebih cepat agar segera di tangani." jawab Jones dan air mata laki-laki itu tidak kalah banyak dari Zahra.
"Maksudnya, jangan buat gua bingung." ulang Johan yang memang belum paham.
"Koko, kemungkinan ada meoma atau kista di bagian rahim Shafa lainnya, kemungkinan ada di dalam Oparium, dan ukurannya juga mungkin besar, untuk memastikannya Shafa harus di periksa lebih detail lagi dengan alat."
Zahra tidak lagi melanjutkan kata katanya karna ia harap Johan sudah mengerti karna, sebab sebelumnya Zahra sudah bercerita dan mengatakan cara pemeriksaannya.
Johan mengusap wajahnya kasar, di lihatnya Jones yang memegang dadanya, laki-laki itu tampak menunduk, air mata laki-laki itu tampak jatuh hingga ke mengenai tangan kirinya yang berada di atas kursi roda.
"Lalu." Johan.
"Lu harus menikahkan Shafa, segera." ulang Jones dengan napas cepat.
"Maksud lu." Johan.
" Carilah laki-laki yang baik dan pantas untuk Shafa, lu harus segera menikahkan dia." kata kata Jones terdengar lirih dan lemah.
"Gua cari suami buat Shafa maksud lu."
" Iya, carilah."
"Dan Lu ?, gua sudah berjanji saat lu koma akan menikahkan kalian." nada bicara Johan terdengar berat dan menekan.
"Gua.. gua ngak bisa menikahi Shafa karna dia tidak menerima gua." jawabnya masih menunduk, tangan kirinya meremas tangan kursi roda
kuat kuat.
"Apa.. dari mana lu tau, putri gua sudah bilang ke lu kalau dia tidak menerima lu." berusaha berbicara tenang karna ada Zahra di sisinya.
Jones diam, air mata laki-laki itu masih mengalir napasnya bahkan terdengar makin cepat, laki-laki itu tampak sangat terluka saat mengucapkan kata kata itu pada Johan.
Bagai mana tidak, perjuangan cinta yang ia lakukan hampir saja berhasil, dia sudah mendapatkan jalan dan restu dari Johan.
Orang tua sekaligus orang yang paling keras menentang keinginannya untuk mempersunting sang pujaan hati, tapi harapannya kandas saat mendengar kata kata Shafa tadi sesaat sebelum gadis itu jatuh pingsan di hadapannya.
"Uncle.. maaf Shafa tidak bisa..." kata kata itu terus saja terngiang di pikiran Jones, hatinya hancur berkeping keping, jiwanya seakan terbang keluar dari tubuhnya Jones terluka.
Tapi Jones lebih terluka lagi saat tau keadaan Shafa yang membutuhkan pemeriksaan dan pengobatan lebih cepat dan lebih intensif.
__ADS_1
"Katakan pada gua, lu yang tidak mau menikahi putri gua kan, lu nyesal hmm." marah Johan.
"Demi Tuhan, gua sangat ingin bersama Shafa gua sangat ingin memilikinya, karna gua sangat mencintai Shafa gua sangat sayang, gua pasti akan segera gila karna harus kehilangan Shafa, gua akan mati bos." menagis tertahan.
"Lalu kenapa lu melepaskan putri gua." menatap tajam dan tidak percaya pada Jones.
"Shafa tidak menginginkan gua, tadi Shafa bilang kalau dia tidak bisa .." Jones tidak melanjutkan kata katanya karna kata kata Shafa juga cuma sampai di situ.
"Lu yakin dengan keputusan lu."
"Gua tidak yakin, gua tidak yakin, tapi gua akan lebih gila lagi kalau sampai terjadi sesuatu padanya, gua tidak akan sanggup, lebih baik gua melihat dia kembali sehat dan masih ada meski gua harus melihat dia bersama orang lain."
Jones menghantamkan tangannya pada tangan tangan pegangan kursi roda, hatinya sangat hancur saat berkata begitu.
"Gua hancur bos, gua hancur oleh hati gua sendiri." bicara pelan dan menyayat hati.
"Lu iklas putri gua menikah dengan orang lain." Johan memperhatikan Jones dari belakang, karna Jones duduk membelakangi di atas kursi rodanya.
"Gua ngak tau, tapi yang gua inginkan Shafa kembali sehat seperti sedia kala." Jones memutar kursi rodanya, ia menyibak sedikit tirai pembatas antara mereka dan tempat tidur di mana Shafa sedang berbaring di atasnya.
"Aku sangat mencintaimu gils, hiduplah untuk ku meski aku tidak bisa memiliki mu, selamanya sampai ajal menjemput aku akan selalu mencintai mu, dan hanya kamu yang akan menjadi penghuni hati ini sampai kapanpun." gumam Jones pelan namun masih terdengar oleh Johan dan Zahra.
Setelah berkata begitu Jones meraih tangan Shafa menciumnya sesaat, kemudian ia menjalankan kursi rodanya menuju pintu keluar.
"Andai Shafa tidak menderita penyakit yang seperti itu, andai dia membutuhkan organ tubuh lain, gua akan menyerahkan organ tubuh gua padanya, tapi dia tidak membutuhkan itu, dia tidak butuh itu bos, gua akan melihat Shafa tetap ada ( hidup ) jadi tolong segera nikahkan Shafa." ucapnya sebelum keluar dari dalam ruangan.
"Jones, lu yakin." Robby.
Jones diam.
"Lu yakin, lu tidak akan menyesal." tanya Johan dia tau Jones sangat terluka, dia tau sahabatnya itu tidak iklas dia tau keputusan Jones membuatnya merana dan menyakitkan.
Dan dia tau Keputusan yang di ambil olehJones sangat berat baginya, tapi Johan tidak mungkin juga memaksa putrinya agar menerima Jones kalau putrinya sendiri yang menolak laki-laki itu.
Jones bungkam, dia keluar dari dalam ruangan dengan luka yang teramat dalam oleh keputusannya sendiri
Mencintaimu adalah Anugerah terindah dalam hidupku, memiliki mu adalah cita citaku yang paling ingin ku gapai saat ini, namun jika takdir tidak berpihak padaku aku hanya ingin melihatmu selalu ada di dunia ini, meski aku bukan orang yang beruntung itu.
Aku mencintai mu gils.
Sangat sangat mencintai mu..
******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading