UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
162. Pergilah Aa, nanti Shafa susul.


__ADS_3

Pintu ruangan ICU tempat Jones terbuka dari dalam, Axton muncul sembari mengusap air matanya berkali kali, dia mendorong brankat pasien di bagian depan, di bagian belakang ada dokter Ryan dan dokter Anton serta tiga orang lainnya.


"Jones... Jones.. biarkan aku melihat anak ku, tolong biar kan aku lewat ku mohon." teriak mama Dara menangis kencang dan pilu.


Bodyguard Axton membentuk barisan panjang dan ketat tanpa celah, sehingga tidak siapapun yang bisa melewati mereka.


"Biarkan aku lewat ku mohon, biarkan aku melihat anak ku." tangisnya lagi.


Namun para bodyguar tetap tidak membiarkan lewat, tubuh mereka yang tinggi besar mana mungkin bisa di lawan oleh wanita tua sepertinya sehingga ia cuma bisa berteriak teriak saja.


Jack, Piyo dan Nayla cuma bisa menangis sesegukan tanpa bisa membantu mama Dara keluar dari pagar betis yang di buat oleh para bodyguar.


"Diam di sana perempuan laknat, kau iblis wanita yang di turunkan dari neraka, kau pasti itu, menyesal aku mengenal wanita seperti mu, brengsek, mana ada seorang ibu yang menghancurkan kebahagiaan anaknya, kalau pun ada cuma kau orangnya." maki Axton kasar pada mama Dara.


"Ku mohon Axton biarkan aku melihat putra ku, ku mohon."


"Tidak..tidak akan, tidak akan ku biarkan kau melihat putra ku meski hanya ujung rambutnya, tidak akan pernah, kalian semua jangan biarkan wanita sialan itu mendekat kemari."


"Baik tuan ku." jawab para pengawal serentak.


"Axton ku mohon." tangis mama Dara tersungkur di lantai, air matanya mengalir deras suara tangisnya terdengar pilu menyayat hari.


"Tidak, kau tidak akan pernah melihatnya, akan ku bawa putra ku keluar dari negara ini, akan ku bawa putra ku kenegara ku, dan kau tidak akan pernah menemukannya, itu hukuman yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu." marah Axton.


"Tidak.. jangan kau bawa dia, aku tidak rela, kau yang salah karna meninggalkan ku kau yang salah."


"Aku menggalkan mu demi keselamatan mu, hanya waktu dua minggu aku kembali kau sudah tidak ada bahkan kau menjual rumah yang aku berikan padamu salahmu tidak memberitahukan aku kalau kau sedang hamil anakku, sekarang jangan banyak bicara, jangan bermimpi bisa melihat anak ku." balas Axton semakin murka mendengar ucapan mama Dara.


"Tuan.. pesawat sudah siap, kita jangan buat keributan di sini, ini rumah sakit." ucap asisten pribadi Axton dalam bahasa Inggris.


"Huhh.. sialan, dia benar benar membuatku muak." tiba tiba tatap Axton bertemu dengan tatapan mata Shafa yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Deg..


Seketika raut wajah Axton berubah, bagai mana cara menghadapi menantunya itu bagai mana cara menjelaskannya.


Axton mendorong pelan tempat tidur pasien di bantu oleh para dokter teman teman Jones, dari wajah mereka terpancar luka dan kesedihan yang dalam.


Brangkat pasien itu berhenti tepat di hadapan Shafa dan kedua orang tuanya, Shafa terpaku, diam, seperti katanya tadi ada yang hilang dari dirinya.


Sekarang itu benar benar terjadi, dia sudah mendengar semua apa yang di katakan mama Dara dan Axton mereka adu mulut saling sahut menyahut tentang siapa yang berhak dan siapa yang tidak pada Jones.


Tentu saja dia langsung mengerti siapa ada di atas brankat pasien yang tertutup lain putih dari ujung rambut sampai kaki, Dia diam seribu bahasa.


Tidak ada air mata saat itu, tapi tubuhnya bergoncang menahan semua beban di dadanya.


"Be.. maafkan Daddy, Daddy akan membawa suami mu ke negara Daddy, sementara ini tinggallah bersama mama papamu, satu minggu lagi setelah semua urusan Daddy selesai Daddy akan datang menjemputmu." ucap Axton lembut.


Laki-laki itu menatap Shafa iba, ada luka yang dalam di hatinya melihat mata bening itu berubah sendu mendung dan hampa.


"Kenapa kau membawanya tuan Axton, biar kami juga mengurusnya di sini, di sini juga banyak saudara dan teman temannya." tiba tiba Robby muncul dengan napas tersengal sengal.

__ADS_1


Air mata laki-laki itu bercucuran deras tidak terkendali, siapapun tau Robby setelah Johan, Andy dia adalah sosok laki-laki yang di kenal orang berhati batu dan berhati dingin.


Air matanya hampir tidak pernah terlihat oleh siapapun termasuk Johan, tapi kali ini laki-laki itu tanpa sadar memperlihat kan sisi lemahnya yang lain, di saat sahabat tercinta meninggalkannya untuk selamanya.


Apa lagi dia di bawa kenegara ayahnya yang baru mereka kenali dalam dua hari terakhir ini


Siapa yang percaya itu ayahnya hanya karna wajah yang mirip saja belum tentu ada hubungan darah bukan, bahkan Jones sendiri belum melihat wajah Axton dan belum tau kalau dia masih punya ayah karna sejak di bawa kerumah sakit dia belum sadar.


Tapi tadi semua orang sempat mendengar pertengkaran Axton dengan mama Dara sehingga kecurigaan itu menghilang.


"Maaf tuan, saya harus membawa putra saya, di sana dia di rindukan rakyatnya yang tidak pernah di ketahui oleh siapapun keberadaannya, selama ini saya tidak tau kalau ada dia, sudah cukup dia tinggal di negara ini sekarang giliran dia tinggal bersama ku walaupun begini jadinya."


"Tapi tuan, anda tidak bisa begini, ini tidak adil, bagai mana dengan nyonya muda istrinya." jawab Robby.


Ia menahan berangkat pasien agar tidak di bawa oleh Axton serta bodyguarnya yang sedari tadi sudah bersiap menggantikan para dokter sahabat sahabat mereka mendorong brankat itu.


"Saya akan menjemput Shafa nanti karna kami akan melakukan upacara penobatan Jones sebagai putra mahkota di negara saya sekaligus upacara penobatannya sebagai ahli waris putra saya nanti, setelah semua urusan saya selesai." jawab Axton sedih.


"Maaf Be, Daddy terpaksa melakukannya, berpamitanlah pada suamimu Be, meski surat cerai sudah di layangkan papamu ke pengadilan agama, sebelum ketuk palu mengatakan kalain berpisah Jones tetap suamimu, sebelum Daddy membawanya kalau kamu ingin berpamitan silahkan Be." ucap Axton.


Shafa tetap diam, Zahra sudah sesegukan sedari tadi sementara Johan yang berada sekitar dua meter dari mereka ikut diam, dia tidak menyangka akan seperti ini jadinya.


Laki-laki itu ahirnya melorot di lantai sedang tubuh besarnya bersandar di dinding rumah sakit.


"Be.. pesawat Daddy sudah siap, kalau kamu ingin berpamitan silakan Be, kami bisa menunggu lama." Axton.


Zahra menyentuh tangan Shafa menuntutnya untuk membuka kain penutup tubuh laki-laki itu.


Wajah pucat Jones terlihat jelas di sana, matanya terpejam rapat, di kepalanya masih menempel perban, di sudut matanya masih terlihat genangan air mata yang hampir mengering.


"Lihatlah sayang, dia sudah pergi, kamu harus kuat ya Be, Daddy mohon, masih ada Daddy, papa mamamu dan yang lain, kami yang akan menjaga mu nanti, ingat di rahimmu ada keturunan Abraham kamu harus menjaganya dengan baik demi suamimu ini."


Ahirnya tangis Axton pecah juga, meski tidak terisak seperti Zahra dan Robby tapi laki-laki itu benar benar terlihat rapuh.


Para dokter teman teman Jones serta para perawat yang sudah berjejer di depan ruangan masing masing untuk meyaksikan keberangkatan Jones semuanya ikut terisak.


Ada sekitar dua puluhan orang di sana karna tempat itu wilayah terlarang untuk umum dan yang bukan petugas eksekusi di sana maka tidak banyak orang yang bisa ikut melepaskan Jones.


"Kak.. kak.. Shafa, anak mama." panggil Zahra suaranya bergetar menahan tangis.


Di tepuk tepuknya pelan punggung Shafa untuk mengembalikan kesadaran sang putri yang sedari tadi tampak diam dengan pikiran mengambang.


Johan berdiri, dia bisa melihat jelas orang yang ada di atas tempat tidur pasien itu benar Jones, wajahnya tampak tenang di mata Johan, hanya terlihat pucat saja.


Laki-laki itu tetap menyandar di tembok rumah sakit tanpa berniat mendekat karna kakinya seperti tidak sanggup melangkah.


Ulu hatinya tiba tiba merasa sakit perih dan dia juga pusing, degup jantungnya tidak beraturan membayangkan putrinya akan hidup seorang diri tanpa suami, menghadapi kehamilan dan melahirkan sendiri tanpa suami.


Dia menahan air mata yang sedari tadi ingin keluar.


"Tidak.. tidak.. bukan ini yang gua mau, bukan, meski gua ingin mereka berpisah tapi bukan ini ahir yang gua mau, tidak tidak, tunggu bukannya semua ini juga salah gua salah gua."

__ADS_1


Johan terus merituki dirinya, laki-laki itu pada ahirnya merasa bersalah karna dia lah penyebab utama Jones menjadi nekat, karna sudah tidak ada harapan bisa bersama istrinya.


Kalau Johan memberikan kesempatan pada Jones masalah mama Dara kan bisa di atasi.


Tinggal kirimkan Jones dan Shafa kekampung memenuhi janjinya pada Nazwan untuk tinggal di sana semua ini tidak akan terjadi, ya dia yang sangat egois.


"Be..kami berangkat ya." ucap Axton meraih penutup wajah Jones ingin menutup wajah pucat putranya.


Tangan Shafa menahan, lalu tiba tiba ia menyingkap cadarnya ke atas kepala, semua orang yang ada di sana sama sama terkejut.


Bagi yang belum pernah melihat wajah Shafa tentu saja berdecak kagum dan tagjub apa lagi para sahabat Jones mereka tidak menyangka bisa melihat wajah istri sahabat mereka itu secara langsung.


Shafa menunduk pelan, di ciumnya kening, pipi kiri lalu kanan terahir bibir mungilnya singgah beberapa detik di bibir Jones tanpa air mata dia berkata.


"Pergilah Aa, nanti Shafa susul ya, kita bisa bertemu di sana, Shafa yang akan jadi bidadari Aa di sana itu janji Aa dulu, nanti saat kita bertemu Shafa akan tangih janji Aa."


Axton mengis sesegukan mendengar kata kata Shafa setelah menutup wajah Jones Axton mendorong cepat brankat itu di bantu para bodyguarnya.


"Kami pergi Be, jaga dirimu ya." ucap Axton pelan, sambil berjalan di samping brankat Jones.


Zahra menahan tubuh Shafa yang hampir jatuh melihat suaminya yang langsung di bawa Axton tanpa memberikan kesempatan untuk menatap lama lama wajah suaminya itu.


"Tunggu..biarkan gua ikut, gua mau ikut melaksanakan pardu kipayah sahabat gua, gua mohon, gua mau ikut." teriak Robby kuat tapi Axton tidak perduli.


Mereka tetap berjalan cepat membawa Jones, Robby mengejar tapi dengan cepat para pengawal mencegah dengan menahan tubuhnya.


Mama Dara, Piyo dan Jack serta istrinya juga menangis histeris memangil manggil nama Jones, kalau Jack dan Piyo masih bisa melihat wajah Jones di sela tubuh para bodyguar yang membentuk pagar betis.


Karna tubuh mereka yang cukup tinggi lain hal dengan mama Dara dan istri Jack mereka sama sekali tidak bisa melihat Jones untuk terahir kalinya.


☘☘☘☘☘☘


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


☘ LIKE


☘ RATE


☘ VOTE


☘ HADIAH yang banyak


☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2