
Sudah seminggu Shafa tinggal di apartemen, tinggal di sana membuat Shafa lebih tenang, selama seminggu itu pula Axton dan Johan serta Zahra ikut tinggal.
Kamar apartemen itu cuma ada tiga, Johan dan Zahra menempati kamar tamu sementara Axton tidur di ruang kerja Jones, sedang kamar yang satunya lagi untuk kamar para bodyguar wanita.
Axton tidak rela kalau ruang kerja Jones di jadikan kamar oleh orang lain karna itu dia mengalah dan tinggal di sana, sementara opa Wu oma Wu dan yang lain tetap tinggal di rumah besar untuk menemani cucu cucu mereka.
Sudah hampir dua minggu Axton tinggal di apartemen Jones selama Axton di sana pola makan Shafa terjaga dengan baik, wajah tirusnya sudah berangsur berubah dan berisi.
Johan dan Zahra sesekali pulang kerumah besar menemani anak anaknya yang lain, sebenarnya Shafa sudah melarang papa mamanya tinggal berlama lama dengannya karna kasihan pada adik adiknya.
Kalau adik adiknya di bawa ke apartemen tentu saja tidak muat karna kamar yang terbatas, lagi pula kasian opa dan oma Wu kalau harus di tinggal di rumah sebesar itu hanya berdua tanpa cucu cucu mereka tentunya kedua lansia itu tidak akan setuju.
Sedang asik makan siang bersama asisten Axton datang menghampiri dengan wajah lesu dan cemas.
"Tuanku.." asisten Alvin.
"Ada apa Alvin ?." tanya Axton mengerutkan keningnya.
"Maaf taun ku, ada panggilan penting dari Kastil." menunduk hotmat.
"What.. mereka tau aku di sini." tanya Axton kwatir.
"Saya rasa tidak tuan ku, paparazi memang masih mengikuti kita sampai kemari tapi anak buah tuan Johan berhasil menyingkirkan mereka." Alvin.
"Lalu apa masalahnya ?."
"Nyonya besar membutuhkan tuan sekarang, apakah tuan ingin mengangkat telepon dari nyonya."
"Baiklah.." Axton lalu permisi pada semua orang yang ada di ruang makan.
Hati Johan langsung tidak enak, dia gelisah, sepertinya dia bisa membaca apa yang akan di sampaikan Axton setelah bergabung kembali di meja makan nanti.
"Kenapa ko..?" Zahra.
"Ngak apa apa yank." Johan menatap Shafa yang sedang sibuk makan udang lobster saus padang yang di masak Axton.
Johan menatap putrinya itu iba, bagai mana kalau Axton tiba tiba pulang, bagai mana putrinya, itulah yang ada di benak Axton.
Zahra mengikuti arah mata Johan, meski bingung apa yang ada di benak Johan tapi ia tetap diam.
"Daddy kenapa ?." tanya Shafa begitu Axton duduk di sampingnya lagi.
"Enghhh ngak apa apa Be, makanlah lagi, Shafa mau nambah ngak ?." senyum Axton menutupi keresahannya.
"Udah nambah dua kali udangnya Daddy nanti Shafa kena colestrol kebanyakan makan udang." senyumnya memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
"Tapi kan udang Be, pakai nasi dong." tawarnya lagi.
"Ngak ahhh Dad..perut Shafa udah ngak muat lagi." lanjut mencolek saus dengan daging udang.
"Enak ya kak, papa ngak di bagi." pura pura merajuk.
"Kan Daddy sudah bilang, spesial buat Shafa papa ya ngak dapat, semuanya Shafa habiskan ya kan Dad." jawabnya cuek, meski sudah menikah dan sedang hamil tapi sifat manjanya pada sang papa tidak pernah hilang.
"Tentu saja Be, Daddy masak hanya untuk kamu kok." senyum laki-laki mencibir kearah Johan.
Dua laki-laki besanan itu ahir ahir ini memang sering adu mulut kalau berkaitan dengan Shafa, ada saja yang mereka ributkan, dari makanan yang boleh dan tidak boleh di makan Shafa.
Semua menjadi pertengkaran kecil bagi mereka berdua, dua orang itu bahkan berlomba lomba memanjakan Shafa, menuruti semua keinginannya.
Zahra hanya diam dan tidak menanggapi pertengkaran keduanya, hanya Shafa yang selalu jadi penengah di antara keduanya.
"Huhhh.. ayah dan anak sama saja, Jones pergi datang ayahnya yang lebih rese, sialan." umpat Johan.
"Hahahah makan saja tuan Johan yang terhormat, maaf kalau masakan kamu tidak masuk daftar menu." ejek Axton.
"Biarlah.. yang penting putriku mau makan, sebentar lagi kalau putriku lahiran tuan ku juga di tendang." balas mengejek.
"Cihhh... tidak ada yang bisa mengambil tempat saya di hati menantu saya ini, kalau lahiran pasti semuanya saya bawa kenegara saya." jawab Axton tidak mau kalah.
"Memang tuanku bisa." ejek Johan.
"Bisa dong apa yang ngak bisa saya lakukan tuan Johan, anda mau mencoba menguji saya ?, ingat dua negara bisa berperang lo." senyum sinis Axton.
"Cihhh selalu itu saja ancaman anda tuan ku, anda pikir saya takut no..seujung kuku pun saya tidak takut apa lagi gentar." balas Johan tidak mau kalah.
"Apa sih yang papa dan Daddy ributkan, bising tau, Shafa lagi makan lo, nanti mood Shafa hilang." cucut Shafa dengan mata mendelik pada kedua laki-laki itu yang selalu punya bahan untuk di ributkan.
"Tuh..diam tuanku, putri ku sedang makan." Johan.
"Di sini yang ngajak ribut siapa sih, heran aku." Axton.
"Yang pasti bukan gua." Johan.
"Koko.., gimana sih ribut terus." kini giliran Zahra yang marah.
"Ahhhh iya yank." kikuk.
"Rasain.." ejek Axton.
Huhhhhh...
__ADS_1
Setelah makan, mereka semua pindah keruang tamu, Johan terus saja memperhatikan tingkah Axton yang aneh menurutnya.
"Kenapa tuanku.." Johan ikut ikutan memanggil Axton tuan ku seperti yang panggilan bodyguar dan asisten Axton.
Karna bagi johan panggilan tuanku itu terlalu pormal, dan aneh di dengar di negara ini panggilan itu menjadi ejekan tertentu untuk Axton.
Johan tidak perduli Axton itu seseorang yang di hormati dan di muliakan di negaranya, kalau mengejek ya di ejek saja sama dia.
Axton sendiri menikmati pertengkaran tak bermakna yang setiap waktu ia lakukan dengan Johan, baginya itu kenikmatan tersendiri membuat Johan marah dan jengkel.
"Saya lagi bingung tuan Johan, saya di minta pulang oleh ibu saya karna beliau sedang sakit, paparazi juga sedang mencari saya sampai kenegara ini karna saya di curigai menikah lagi di sini, hahh pusing saya tidak bebas kemana mana."
keluh Axton.
"Hallo anda sedang curhat tuanku." ejek Johan padahal dia juga ketar ketir andai Axton pulang.
"Dasar cicak, kadal .., yang nanya dia yang buly dia, pantas putra ku sering berantem dengan mu, huhhh kamu sudah tidak ada lawan sekarang ini lalu ajak saya lawan berantem anda tuan, tidak punya nyali sama yang seumuran?." ejek Axton.
Benar saja, Johan memang tidak punya otak, masa ia mengajak lansia berantem Axton yang berumur lima puluhan sedang Johan hampir tiga puluhan mana imbangkan.
"Suruh putra mu bangkit tuanku, dia lawan imbang ku." ucap Johan tanpa sadar.
"Huhhh jangan kamu sampai lari kalau putra ku benar benar bisa bangkit ya, nanti kencing berlari." ejek Axton.
Zahra yang sedari tadi diam saja mendengar perdebatan mereka tiba tiba tertawa terbahak bahak.
"Kenapa yank.." bingung Johan.
"Kencing berlari, hahahah, kencing belum lurus kalau dulu pak Axton." tawa Zahra mengingat pertama kali Johan menyatakan cinta pada nya sewaktu Johan masih memakai celana biru baju putih.
Wajah Johan langsung berubah merah menyadari maksud kata kata Zahra, dia merapatkan duduknya agar mendekat pada sang istri lalu berbisik.
"Jangan buka kartu koko dong yank, mau tarok mana wajah tampan koko."
"Hahahaha au ahhh, kalau koko tidak berhenti berantem sama pak Axton aku bilangin nih.."
"Aihhh jangan dong yank, kasihani lah suami sayang ini." memelas.
"Nyonya Ara, katakan saja, saya punya batu Rubi yang umurnya sudah ratusan tahun, saya akan hadiahkan pada nyonya nanti." menyogok Zahra.
"Yank.." memelas.
"Gimana ya, bilang ngak hahaha." pura pura berpikir.
"Ngak boleh, rubinya buat Shafa, papa kan bisa beli buat mama kalau cuma rubi, Shafa siapa yang belikan ?." tiba tiba Shafa muncul sambil membawa satu mangkok besar ice cream di tangannya.
"Tenang Be.., Daddy masih ada yang lain umurnya lebih dari itu, jauh lebih cantik." senyum Axton, dia tau pasti tawarannya tidak akan di terima Zahra, dia hanya menggoda Johan saja.
Semua perhiasan yang ia sebutkan memang sudah ia niatkan untuk Shafa, untuk siapa lagi kalau bukan menantunya itu.
"Ngak mau, semua untuk Shafa pokoknya." mata Shafa mulai berembun.
"Ya..ya ..ya Be, semua untuk menantu Daddy, tidak untuk yang lain." jawab Axton gugup melihat Shafa mulai mengeluarkan senjata andalannya.
"Janji Daddy.." menautkan jari kelingking nya ke jari Axton.
" Ya ya ya janji Be.."
Wajah Shafa menjadi cerah, senyumnya merekah sempurna, Johan dan Zahra kebingungan melihat tingkah Shafa yang tiba tiba berubah sembilan puluh derajat.
"Sejak kapan kakak jadi serakah yank." bisik Johan.
"Entah ko, aku juga bingung."
"Daddy.., Shafa kan single mom sekarang, Anak Shafa banyak, Daddy kan cuma punya anak Shafa nanti, jadi semua harta Daddy untuk Shafa ya." celetuk Shafa polos sambil terus menyendokkan ice cream ke mulutnya.
Hahhh..
Axton, Zahra dan Johan sama sama terperangah mendengar kata kata Shafa, Axton hampir tertawa terbahak bahak tapi melihat wajah Zahra dan Johan yang serius membuatnya menutup mulut.
Shafa sendiri tetap pokus dengan makanannya, tanpa beban dan tanpa dosa dia sudah membuat kedua orang tuanya shoc.
"Kak.. ngak salah ya." Johan.
"Harta suami Shafa sudah habis papa situ, kalau anak anak Shafa lahir terus siapa yang kasih makan dan biaya hidup kami." jawabnya cuek.
Hahhhh ..
Giliran Zahra menahan tawa, senjata makan tuan bukan, di tembak dua belas pas oleh putrinya Johan bisa apa.
"Enghhhh itu itu.." garuk garuk kepala.
"Papa marah sama siapa kok suami Shafa yang kena getahnya." ucap jutek tidak menoleh pada papa nya sama sekali.
"Ehhh itu, itu salah mereka kak, ngak becus berbisnis, ya mereka kan punya utang pada papa ngak sanggup bayar papa sita dong, itu hukum dalam berbisnis." membela diri.
"Ishhh bilang aja karna papa marah pada mama Dara terus papa lampiaskan pada usaha Aa, Shafa janda miskin sekarang." ucapnya lagi mengerucutkan bibirnya.
Axton tidak tau harus berkata apa lagi, dia merasa lucu mendengar perdebatan ayah dan anak itu, harusnya Axton sedih saat Shafa mengatakan janda miskin.
Tapi melihat wajah bodoh Johan yang kalah berdebat dengan putrinya membuat Axton tidak tahan dan ingin tertawa tapi tetap takut Shafa marah, ahirnya ia hanya bisa menekan perutnya yang terasa sakit dan tegang menahan tawa.
__ADS_1
"Kalau kakak mau semua bisnis itu papa kembalikan deh." Johan berharap dengan berkata begitu putrinya akan berhenti mendebatnya tapi ia salah.
"Kembalikan saja langsung pada yang punya." tetap cuek.
Glek..
Johan tutup mulut laki-laki itu kalah telak, Zahra mengelus punggung Johan menenangakan suaminya itu, bagai mana coba cara mengembalikannya, siapa yang bisa.
Axton membuang muka, dia yang tadi galau karna di paksa pulang galaunya sedikit berkurang.
"Sudah ahhh, kakak ngak ngantuk ya, yuk mama antar ke kamar kakak." bujuk Zahra, dia sengaja mengajak Shafa kekamarnya agar anak dan papa itu berhenti berdebat.
"Ya ma.., Shafa istirahat dulu papa Daddy." pamitnya.
"Ya Be.., jangan lupa minum air putih ya, Shafa baru makan ice cream."
"Ya Daddy, papa ngak bilang apa gitu ke Shafa." menunggu kata kata dari sang papa.
"Selamat istirahat sayang papa, jangan ngences ya." tawanya.
"Papaaaaaa.." teriak Shafa.
"Ehh ehhh papa salah ngomong kak, hehehe maaf putri papa yang cantik." tawa Johan lagi.
"Hihhhh papa." menghentakkan kakinya kemudian berjalan ke kamarnya di temani Zahra.
"Hahhh untung mamanya punya cara kalau ngak gua benar benar mati kutu." ucap Johan mengelus dada.
Axton tersenyum lebar, dia menatap Johan kagum, ayah tiri yang sangat menyayangi putri sambungnya, sungguh sangat langka.
Mengenai semua harta Jones yang di sita Johan untuk memberi pelajaran pada mama Dara dan keluarga Axton sudah tau itu makanya dia bersikap biasa saja mendengar perdebatan ayah dan anak itu.
"Sejak kapan putri ku jadi begitu, dia selalu tidak perduli dengan uang dan harta Jones selama ini, uang gaji Jones setiap bulan masuk kerekening nya saja dia tidak pernah tau, dan tidak perduli aku yakin kak Shafa tidak pernah cek, uangnya cukup banyak setau ku."
"Hahahaha anggap saja kelakuan aneh bumil, biasa itu." tawa Axton.
"Memang taun pernah di resehin ibu hamil makanya tau kelakuan aneh ?."
"Tidak pernah sih, tapi saya sudah tua saya bisa lihat dari tingkah laku keponakan dan adik serta kakak saya sulu saat mereka hamil."
"Ahhh ya juga." Johan
"Tuan Johan, tadi saya di hubungi oleh Mommy saya di suruh kembali, sementara saya tidak tega meninggalkan Shafa." ucap Axton serius setelah yakin Shafa sudah berada di kamarnya dan tidak mendengar pembicaraan mereka.
"Itu yang aku takutkan tadi tuan Axton, bagai mana putri ku kalau anda kembali." ucap Johan tak kalah serius.
"Hahhh lalu bagai mana ini." Axton.
"Apa tidak bisa tunda dulu, tunggu Shafa benar benar pulih dan tenang." sorot mata Johan memohon.
"Tidak tuan, Mommy benar benar sakit, lagi pula paparazi mengikuti saya sampai kemari, saya takut nanti Shafa tidak nyaman, saya akan memfublikasikan tentang Shafa dan calon cucu cucu saya nanti kalau Shafa sudah siap, kalau paparazi tau sekarang akan sangat repot."
"Lalu bagai mana ?." Johan.
"Saya terpaksa pulang, tapi bagai mana cara memberitahukan Shafa."
"Kalau memang harus pulang ngak apa apa tapi ku mohon jangan lama lama, aku takut nanti kak Shafa sakit lagi, kalau masalah alasan katakan saja yang sebenarnya."
"Ya baik lah, saya usahakan tidak lama, sekaligus mengalihkan perhatian paparazi juga."
"Baik tuan kapan rencana anda berangkat." Johan.
"Malam ini, atau tengah malam nanti." Axton.
"Hahhh cepat banget, tidak bisa kah besok saja."
"Lebih cepat lebih baik tuan Johan, nanti saya cepat kembali, bantu doa semoga Mommy saya cepat sembuh agar saya bisa cepat kembali."
"Baik lah, semoga berjalan lancar dan Mommy anda cepat sehat."
"Aminn..tolong bantu saya bicara pada Shafa."
"Tentu saja tuan."
☘☘☘☘☘☘
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
☘ LIKE
☘ RATE
☘ VOTE
☘ HADIAH yang banyak
☘KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.