
"Bangun dong sayang, ayo bangun istri Aa, cinta Aa kasih Aa." Jones mencium seluruh wajah Shafa sambil mengurung tubuh sang istri di bawah kungkungannya.
Shafa tidak berreaksi wanita itu tetap saja pulas, karna merasa gemas Jones lalu membenamkan bibirnya kedalam bibir **** Shafa.
Cukup lama Jones menahan mulutnya di dalam mulut Shafa sehingga saluran pernapasan Shafa menjadi terganggu dan membuat ia ahirnya terjaga dari tidurnya.
"Aa.. kenapa sih." cicitnya manja.
"Barrakallah fii umrik my wife, segala doa terbaik buat mu sayangku, dan semoga rumah tangga kita kekal di dunia sampai akhirat, Amiin ya Allah." Jones menarik pelan tubuh kecil Shafa lalu ia dekap di dada bidangnya.
"I love you sayang, sangat sangat mencintaimu." bisiknya pelan di telinga Shafa.
"Terimakasih Aa, semoga semua doa Aa di izabah olehnya Aminn ya Robbal Alaminn." membalas pelukan Jones.
Jones melonggarkan pelukannya mencium dan mengecup mesra bibir ranum nan **** Shafa pesona kecantikan sang istri makin menggoda meski batu bangun tidur membuat Jones makin memperdalam ciumannya.
Jones melepaskan pelukannya, lalu meraih tumpeng mini yang ada di atas nakas di samping tempat tidur, posisi Shafa sudah bersandar di headboard tempat tidur Jones lalu meletakkan tumpeng itu di atas pangkuan Shafa.
Shafa memotong sedikit tumpeng lalu menyuapkannya pada Jones, Jones pun melakukan hal yang sama memotong tumpeng dan menyiapkan pada sang istri.
"Aa punya hadiah istimewa buat istri Aa." memindahkan tumpeng dari pangkuan Shafa yang tinggal separuh lagi, kemudian Jones mengeluarkan kotak kecil dari kantong celananya lalu menyerahkannya pada Shafa.
"Apa ini A..?"
"Buka dong yank." mengecup bibir Shafa
lembut.
Perlahan Shafa membuka pembungkus kotak setelah itu ia membuka tutup kotak bola matanya yang indah berkedip kedip melihat isi kotak kecil itu, berulang ulang ia menatap Jones lalu berganti ke kotak berisi kertas kecil yang ada di sana.
"Ini .. " menatap Jones bingung.
"Hmmm ya sayang." senyum lebar.
Shafa mengeluarkan lembar demi lembar potongan kertas berjumlah tiga lembar itu, Shafa tau percis kalau kertas kertas itu hasil USG tapi dia bingung milik siapa.
Wajah Shafa langsung berubah sedih, air matanya langsung mengalir tidak terbendung, hatinya serasa teriris dan terasa sakit, laki laki yang menikahinya yang katanya atas nama cinta malah membemberikan kado hasil USG di hari ulang tahunnya.
Shafa menunduk sedih, wanita itu menggeser duduknya sedikit menjauh dari Jones membuat Jones bingung.
"Loh kenapa sayang, sayang tidak suka hadiah Aa hmmm." tanya Jones ikut bergeser mengikuti Shafa.
"Jangan dekat Shafa, jangan sentuh Shafa Aa jahat hiks Aa jahat." tangis Shafa pilu.
"Aa jahat.. kok jahat sayang." bingung Jones, berharap sang istri langsung memeluknya dan bahagia melihat hasil USG malah sebaliknya.
"Aa jahat, katanya sayang katanya cinta lalu ini." mendorong Jones yang ingin memeluknya kuat, Shafa juga mengembalikan kado darinya.
"Astaga.. ya Allah my wife.." Jones baru mengerti maksud kata kata dan tangisan Shafa.
Laki-laki itu langsung menunduk,Jones menahan pinggang Shafa dengan sebelah tangan sedang tangan lainnya menyingkap baju atasan Shafa, Jones mencium berkali kali seluruh permukaan perut istrinya penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Aa.." bingung dan terkejut.
"Ssttt jangan marah marah dong Mommy, kami jadi takut loh." menurunkan suara anak kecil.
"Aa.." makin bingung dan belum nyambung.
Jones menjajarkan tubuhnya pada Shafa, laki-laki itu kembali mencium dan memeluk tubuh sang istri, ternyata Shafa salah paham, ia mengira kalau hasil USG itu milik orang lain.
"Mana mungkin Aa memberikan hasil pemeriksaan orang lain pada istri Aa yank, ini milik kita hasil USG sayang, yang ada di gambar ini anak anak kita." mencium bibir Shafa sekilas, tangan kanannya mengelus perut Shafa yang sudah mulai membuncit.
"Aa.." suara mulai berat karna antara percaya
dan tidak.
"Iya sayang Aa, ini hadiah ulang tahun untuk dede, Mommynya kembar kita."
Shafa menangis Jones juga ikut menangis, tangis bahagia pasangan suami istri itu terdengar nyaring di telinga, Shafa memeluk Jones seperti Jones memeluknya cukup erat namun masih menahan agar perut Shafa tidak terjepit.
"Di perut Shafa ada bayi Aa." sesegukan.
"Iya sayang ku, tepatnya di rahim sayang, ada anak anak Aa kembar lagi, salah sendiri perut sudah mulai buncit dan ngak datang bulan kok ngak sadar sih yank, malah di bilang lemak, makanya perhatikan diri sendiri juga jangan pokus ke buku saja." kekeh Jones sembari ikut membelai perut sang istri.
"Anak Shafa, tiga ?." masih menangis.
"Anak Aa tiga." mencium kening Shafa.
"Bayi Shafa.." tetap menangis.
"Bayi Shafa..."
"Iya sayang, bayi dede, bayi Aa, bayi kita sayang, anak anak kita." senyum Jones menghapus air mata Shafa.
"Tapi ini beneran kan A, kok Shafa ngak mual, muntah morning sickness seperti ibu hamil lainnya." menatap Jones.
"Ya iya sayang Aa, kan dede yang minta kalau hamil ngidamnya Aa aja, ya jadinya Aa yang alamin dede ngak." tawa Jones.
"Hahh ...kapan ?."
"Hmmm istri Aa kok polos banget sih, tiap pagi Aa mual muntah dan pusing dede ngak paham paham ya, malah Aa yang lebih nafsu makan rujak dan buah buahan dede ngak curiga, dede mah nafsunya gitu aja sih.." goda Jones.
"Nafsu apa Shafa.." bingung.
"Nafsu makan pisang mentah." tawa Jones.
"Mana ada.." rajuknya.
"Ngak deh, Aa semua." mencium kening Shafa.
"Aa.. beneran Shafa punya bayi."masih ragu.
"Ya sayang Aa, kalau tidak percaya sebentar Aa kasih bukti lainnya."
__ADS_1
Jones turun dari atas tempat tidur, laki-laki itu berjalan kearah meja rias, dia lalu membuka salah satu pintu lemari kecil yang ada di bagian bawah meja rias itu, lalu mengeluarkan tas ukuran sedang dari sana.
Kemudian ia bawa ke dekat Shafa, setelah mengeluarkan alat tersebut dan menyabungkannya ke listrik, Jones lalu membaringkan Shafa di atas tempat tidur kemudian ia membuka baju bagian atas Shafa.
Jones meletakkan alat sensor USG di atas perut sang istri, air mata Shafa kembali tumpah saat melihat hasil pemeriksaannya.
"Shafa bodoh ya Aa, Shafa ngak tau kalau Shafa hamil, Shafa ngak sadar kalau Shafa mau punya adek bayi." tangisnya.
"Siapa bilang istri Aa bodoh, dede pintar sangat pintar buktinya dede lulus kuliah kedokteran umur dua puluh tahun, hanya saja dede terlalu pokus belajar sehingga lupa dengan diri sendiri, Aa berharap nanti anak anak kita akan mewarisi kepintaran Mommy nya."
"Aminn.." tersenyum bahagia.
"Aminn ya Allah.."
"Tapi Shafa mau mata Aa untuk mata bayi Shafa, mata dan hidung Aa."
"Kenapa gitu ?, hidung dede dan mata dede juga indah, Aa suka banget dengan mata dede, mata yang membuat Aa jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Shafa suka warna bilu, mata bayi Shafa harus bilu seperti Aa, hidung mancung seperti Aa."
"Hidung dede juga mancung."
"Tapi kecil."
"Itu karna dede juga kecil yank, masa anak anak kita nanti kecil hidungnya besar sih yank."
"Mereka ngak boleh kecil, Shafa aja."
"Baiklah Mommy, yang penting kita sehat sehat ya." ucap Jones menirukan suara anak kecil.
Malam itu Jones menemani Shafa begadang karna tidak bisa tidur lagi karna merasa terlalu bahagia atas kehamilannya.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.