UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
137. Tamparan maut nyonya Jo.


__ADS_3

"Ehhh ehhh lu mau kemana Jones ?." teriak Robby karna tiba tiba Jones bangkit dari duduknya lalu berjalan cepat ke arah lemari penyimpanan kunci mobilnya.


"Gua mau jemput istri gualah, istri gua kemarin gua antar kerumah mertua karna kangen dengan mereka, sekarang gua yang kangen jadi gua mau kesana, udah lu semua di sini saja, silahkan bersenang senang, tapi ingat jangan buat berantakan nanti istri gua marah." ucapnya sok bijak, lalu ia berjalan cepat pula ke arah pintu setelah menemukan yang ia cari.


"Bersenang senang ndas mu peang." umpat Robby geram lalu menyusul Jones dengan kecepatan tinggi di ikuti yang lain.


Robby berlari kencang mengejar Jones yang sudah hampir sampai ke mobilnya, pintu sudah ia buka namun Robby mendorong tubuh besar Jones agar menyingkir dari kemudi.


"Lu gila ya, ntar gua jatuh dan luka istri gua bisa takut tau kalau gua kenapa napa." omel Jones kesal.


"Lu yang gila." balas Robby.


"Sana menyingkir, biar gua yang nyetir." Jones.


"Gua saja, lu duduk manis saja di belakang."


"Malas gua, nanti lu lambat istri gua marah lagi kalau gua telat."


"Lu lupa gua siapa, gua bisa antar lu sekejap mata kesana ya."


"Apaan, pake ilmu nenek moyang lu, ilmu hanimun." ejek Jones lalu berputar kearah pintu lain dan duduk di samping Robby


"Terserah lu lah mau ilmu apa." jawab Robby jengah.


Orang gila di lawan lama lama ikutan gila, gumam Robby dalam hati sembari membawa mobil keluar dari area apartemen mewah itu.


Selang beberapa menit merekapun tiba di gerbang rumah mewah mertua, kali ini pintu langsung terbuka begitu melihat siapa yang datang.


Sejak Jones nekat menabrak pintu gerbang Zahra memberikan mandat agar Membuka pintu dan mengizinkan Jones masuk, meski Johan keberatan tapi laki-laki itu tetap kalah pada kekuasaan sang istri.


"Assalamualaikum wrwb.." Jones langsung masuk ke dalam rumah dan berlari kecil kelantau atas melalui tangga, dia tidak perduli dengan pandangan aneh seisi rumah padanya.


"Sayang..sayang..ayo pulang, Aa kangen." memanggil manggil nama istri, di dalam kamar istrinya, kamar yang biasa mereka gunakan kalau menginap di rumah sang mertua.


Napas laki-laki itu tampak memburu mencari Shafa kesana kemari, karna tidak menemukan siapapun di dalam kamar Jones lalu turun kelantai bawah dan menemukan mertua laki-laki sedang duduk di sopa dengan tablet di tangan.


Laki-laki itu bukan tidak tau kehadiran Jones di sana tapi dia pura pura tidak melihat, Robby yang sedari tadi sama sama sampai dengan Jones diam saja membiarkan Jones bergerak sendiri di dalam rumah itu.


"Hei papa mertua, mana istri gua." teriak Jones.


Johan mengangkat kepalanya sebentar kemudian ia turunkan lagi dan kembali pokus pada benda pipih berukuran besar di tangannya itu.


Johan sudah tau kalau sang menantu yang sudah ia anggap mantan itu mulai eror, jadi dia tidak terkejut dengan tingkah aneh Jones, yang jelas jelas menampakkan ketidak warasan.


Bagai mana mungkin dia mencari Shafa di sana sedang sang mertua sudah mengungsikannya jauh darinya, dan Jones sendiri tau itu, tapi yang namanya eror mana dia ingat lagi.


"Woi.. Johan istri gua mana, lu kok diam aja, gua udah nyari di kamar kami ngak ada." teriaknya lagi, laki laki itu berjalan makin mendekat pada Johan.


Zahra yang baru datang dari halaman belakang terkejut dengan kehadiran Jones di sana, bola matanya mengawasi ketiga insan yang duduk berbeda tempat.


Jones berdiri begitu melihat Zahra, laki-laki itu tersenyum lebar berharap dapat pertolongan dari mama mertuanya itu.


"Ma.. istri saya di mana, saya mau jemput pulang." tanyanya.


Zahra tentu bingung, wanita itu tidak habis pikir mengapa Jones bertanya begitu padanya, padahal dia sendiri sudah tau kalau Shafa tidak berada di dalam rumah itu.


"Apa yang terjadi." tanya Zahra pada Robby dan para sahabat yang juga sudah ikut masuk kedalam rumah.


Ketiga laki-laki itu menunduk, mereka bingung harus berkata apa, sementara Jones terus saja mengoceh.


"Koko, ada apa ini." menatap suami yang tetap sibuk sendiri di layar tabletnya.


"Koko tidak tau yank." senyum Johan.


"Kenapa ?." menatap Robby dan yang lain yang masih sibuk dengan pikiran masing masing.


Tidak ada jawaban, sampai ahirnya Robby bangkit dari duduknya dan mengajak Jones pergi, laki-laki itu membujuk Jones dengan sabar karna tidak ingin sang sahabat membuat keributan.

__ADS_1


"Bro..ayo kita pergi." panggil Robby.


"Kemana ?, istri gua belum keliatan." jawab Jones marah karan Robby memaksa berdiri dan ingin membawa keluar dari rumah itu.


"Nyonya muda sudah pulang sama pengawalnya, jadi sekarang kita pulang ya." bujuk Robby lagi.


"O ya.. lu yakin, lu ngak bohong kan." Jones.


"Ngak lah bro, masa gua bohong." Robby.


Zahra menatap kedua insan itu bingung, detik kemudian ia sadar kalau sang menantu sudah mulai eror, wajahnya berubah sedih, dan marah kenapa harus seperti itu.


Wanita cantik itu berjalan mendekat Jones, ada rasa perih di hatinya saat mengingat perjuangan Jones untuk mendapatkan anak sulungnya itu, berulang kali menerjang maut, dari luka luar sampai luka dalam, dari luka lecet sampai praktur ( Patah tulang ).


Sekarang malah rusak mental karna kehilangan setelah mendapatkan, miris memang tapi semua itu terjadi akibat ulahnya sendiri.


"Ada apa Jones." Zahra.


"Mama, aku mau jemput istri ku, tadi sudah ku cari kekamar kami tapi tidak ada." mengadu.


"Kau itu kenapa jadi begini Jones, kau tau sendiri Shapa bagai mana, sana pulang tenangkan dirimu, kau yang berbuat kau sendiri tanggung risikonya, pak Robby bawa dia dari sini, kalian jangan lupa bawa ke psikologi."


"Baik nyonya, kami memang berencana begitu." Robby.


"Apaan psikologis, emang gua gila, lu yang gila, enak saja mau bawa gua ke situ, lagian cuma mau jemput istri doang masa si rujuk ke dokter psikologi huhhh sialan lu ya."


Jones mengomel panjang lebar tampa rem, segala cerita ngalur ngidul di bahasnya membuat semua orang menjadi pusing, Johan yang sedari tadi sibuk dengan tabletnya menjadi makin terganggu dengan kicauan Jones.


Darah Zahra tiba tiba mendidih, laki-laki bergelar dokter spesialis obqin gnikologi itu menjadi tidak terkendali akibat depresi kehilangan istri.


Plakkk.. Plakkk....


"Buat malu kamu ya, putri ku seorang ahli ibadah yang berharap punya suami yang setidaknya bisa mengawalnya ke jalan lebih baik, kok malah dapat suami mental tempe begini." marah Zahra dengan emosin yang tidak terkendali.


Jones yang tadi duduk bersimpuh menjadi tersungkur di atas lantai, darah segar mengalir dari hidung sebelah kanan dan dari sudut bibirnya


"Astagfirullah.." gumam Zahra sembari menutup mulutnya, dia baru sadar kalau sudah menampar Jones menantunya, tangannya itu di kenal bertuah kata orang kampung, kalau dia menampar atau memukul seseorang bisa celaka.


Bahkan bisa sampai demam, karna itu dia tidak pernah memukul atau menampar orang lain, meski dulu sering di tampar atau di sakit oleh Ayah Shafa tapi dia tidak pernah membalasnya.


Johan berdiri mematung, laki-laki itu sama terkejut dengan orang lain, wanita yang teramat di cintainya itu ternyata bisa murka seperti itu sampai membuat orang lain berdarah.


Sebenarnya Zahra tidak berniat menyakiti menantu nya itu, tapi karna kesal atas kelakuan Jones yang mulai waham membuat dia marah dan tampa sadar menampar Jones.


"Cepat bawa Jones kekamarnya." titah Zahra karna Robby dan para sahabat hanya kebingungan menyaksikan Jones yang masih mengeluarkan darah dari hidungnya.


Robby dan Anton segera memapah Jones kekamar atas, kamar yang biasa di tempati menantunya itu.


"Kok kekamar atas yank." protes Johan.


"Lalu kemana lagi koko." hardik Zahra melotot pada sang suami.


Johan diam, tatapan mata Zahra membuatnya bergidik ngeri, bagai mana tidak Jones si menantu saja bisa ia buat terkapar dan bersimbah darah, salah bicara nanti malah ikut sekarat.


Jones di dudukan di atas tempat tidur, kepalanya di tahan agar tetap menunduk karna perdarahan dari hidungnya masih saja mengalir.


"Cepat beli tran****n dan injeksi a******e dan infuset" titah dokter Ryan pada dokter Anton.


Laki-laki itu bergegas meraih handphone dan mencari kontak handphone sahabat lainnya untuk membeli obat yang di sebutkan dokter Ryan.


Sementara Zahra berdiri gelisah tidak jauh dari Jones, menantunya itu masih tidak sadarkan diri sedang darah masih mengalir cukup deras.


"Bagai mana kalau perdarahannya tidak mau berhenti, bagai mana kalau dia kenapa napa ko, aku pasti yang paling bersalah, bagai mana aku menjelaskan pada kakak ko." tangis Zahra di pelukan Johan.


"Stttt tidak apa apa sayang, Jones pasti akan baik baik saja, kalau cuma karna tangan kecil sayang tidak akan membuatnya mati, ingat yank dia dulu sudah sering koma dan sering keritis tapi kan masih selamat dan hidup juga, dia itu punya banyak nyawa cadangan yank, jadi sayang jangan kwatir ya." bisik Johan di telinga Zahra.


Dalam keadaan genting begitu Johan masih sempat mengatakan kata kata seperti itu, gurat wajah Zahra berubah marah, lagi serius dan tegang begitu sang suami malah santai.

__ADS_1


"Koko..,kok malah ngomong gitu sih."


"Yah.. kenyataannya kan yank, udah sayang jangan risau dia tidak akan apa apa." membelai kepala Zahra yang tertutup hijab.


"Andai kenapa napa gimana ko, ingat putri mu sedang hamil, aku tidak mau kakak nanti stres."


"Sudah yank, jangan pikirkan, Jones akan baik baik saja, lagian kakak tidak akan mengingatnya lagi."


"Kenapa tidak, Jones itu suaminya, meski sebesar apa pun kesalahannya mereka masih suami istri koko jangan bertindak sembarang ya." menatap Johan intens dan curiga.


"Koko sudah pernah bilang dulu sebelum Jones menikahi putri koko, dia tidak boleh menyakiti atau pun berbuat kesalahan sedikit saja, koko tidak akan terima kalau dia menyakiti putri koko, dan kenyataannya dia melakukannya."


"Lalu maksud koko."


"Koko sudah mengurus surat cerai mereka."


"Apaaaa..."


"Iya sayang, koko tidak akan memaafkan mereka yang berani menyakiti keluarga koko, apa lagi putri koko, koko sudah cukup sabar selama ini dengan sikap perempuan itu yang selalu menyakiti hati putri koko, dan sekarang Jones ikut juga menyakiti nya." jawab Johan tegas.


"Ko.. putrimu sedang hamil, tidak akan sah perceraian kalau wanita sedang hamil, lagian apa kakak setuju."


"Koko tau, tapi itu lah yang akan terjadi, berkas sudah selesai, tinggal tanda tangan kakak, kakak pasti setuju."


"Koko, aku tidak setuju, jangan paksakan satu hal yang akan membuat putri mu terluka, aku juga kecewa pada Jones, aku marah padanya dan aku juga benci, tapi semuanya bukan murni kesalahannya, jadi koko tidak boleh sembarangan bertindak, bagai mana kalau koko buat salah begitu padaku, apa aku akan langsung meninggalkan koko dan mengurus cerai, ingat koko, pernikahan itu bukan arena permainan."


Zahra melepaskan dirinya dari pelukan Johan, nada kecewa terdengar jelas dari kata katanya, walau bagai manapun dia tetap tidak ingin anaknya yang masih berusia muda harus bercerai dan menjadi janda apa lagi dalam keadaan hamil pula.


Infus sudah terpasang di tangan kanan Jones, obat injeksi sudah di masukkan melalui selang infus, dan perdarahan berlahan berhenti tapi Jones masih belum sadarkan diri.


Wajah tampan laki-laki itu tampak pucat, mata tegasnya terpejam sempurna, ada gurat kelelahan dan kesedihan tergambar di wajahnya, Zahra merasa teramat bersalah karna sudah membuat sang menantu sampai begitu.


Dretttt....


Handphone di saku celana Johan bergetar, laki laki itu terkejut melihat nama yang muncul di layar benda pipih itu, mimik wajahnya langsung berubah culun.


" Waalaikumsalam wrwb.., kenapa sayang, kok nangis hmmm, kakak kenapa nak ?." Johan.


"......................"


" Ahhh ngak lah kak, mana mungkin papa buat begitu, kan papa sudah janji untuk tidak kasar dah menghukum fisik, cuma mental saja kok."


"........."


"Ngak sama dong kak, ya udah jangan nangis lagi ya nak, papa pasti akan menepati janji papa pada putri papa janji kak." bujuk Johan, tapi suara tangis di seberang sana masih terdengar sampai sesegukan, mungkin karna sudah menangis


cukup lama.


🪴🪴🪴🪴🪴


Hai teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini, yang tetap stay menunggu Up dengan sabar meski lama, sekali lagi terima kasih ku.


Jangan lupa mendukung aku ya.


🪴LIKE


🪴RATE


🪴VOTE


🪴HADIAH


🪴KOMEN.


Wo Ai Ni All..


HAPPY READING.

__ADS_1


__ADS_2