UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
171. Di gigit serangga.


__ADS_3

"Aa..enghhhh." mata Shafa masih terpejam, wanita cantik itu masih berpikir kalau suaminya ada bersamanya.


"Nyonya muda." panggil Melani lembut.


"Shafa malas mandi A, nanti aja ya." jawabnya, kedua tangannya masih terangkat di udara menunggu tangan kekar Jones membawanya kepelukan hangat laki-laki itu.


"Nyonya muda.." panggil Melani lagi.


"Enghhhh.. ehhhh kkk kamu ?, ehh maaf dokter sa..saya.." Shafa menoleh kekiri dan kekanan mencari cari.


"Kenapa nyonya ?, mencari apa, mbak Niken ? dia masih tidur nyonya." senyum lembut Melani.


"Enghhhh.. ngak dokter, ngak apa apa."


"Nyonya mau kekamar mandi ?, saya bantu ya ?." tanya Melani penuh perhatian, karna waktu sholat subuh memang sudah sampai dan dia hapal betul kebiasaan majikannya itu.


"Enghhhh iya dokter tolong bantu saya turun." pinta Shafa yang sudah, membuka selimut dan berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Baik nyonya.." Melani membantu Shafa turun dari tempat tidur, wanita hamil itu memang sedikit kesulitan setiap bangun dari tempat tidur karna bobot tubuhnya bagian tengah yang lumayan berat.


"Tumben kak Niken kesiangan, biasanya jam segini udah bangun." ucap Shafa melihat ke arah Niken yang masih tertidur pulas tanpa beban.


"Mungkin karna kecapean nyonya, apa perlu saya bangun kan."


"Tidak usaha dokter, kasian kak Niken, mungkin memang kakak kecapean." jawab Shafa.


Wanita itu tersenyum simpul melihat betapa pulasnya bodyguar nya itu, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, selama sembilan tahun mereka bersama.


Biasanya Niken akan bangun lebih dulu menyiapkan segala sesuatu keperluan Shafa, meski Niken hanya di tugaskan untuk menjadi pengawal pribadi Shafa tapi sudah menjadi kebiasaan mereka melayani dan menyiapkan kebutuhan wanita kesayangan mereka itu.


"Nyonya, saya sudah siapkan air hangat untuk mandi nyonya." ucap Melani berniat membantu Shafa melepaskan bajunya.


"Ngak usah dokter, Shafa ngak mandi, nanti pagi aja, Shafa mau sholat subuh takut nanti telat."


"Tapi nyonya, nyonya harus mandi." kukuh Melani, dia sudah menjauhkan tangannya dari kancing baju belakang Shafa.


"Kenapa dokter, Shafa ngak perlu mandi Shafa whudu aja."


"Apa nyonya tidak gerah, saya lihat tadi nyonya sedikit keringatan, apa ngak lebih baik mandi dulu sebelum sholat biar segar dan nyaman."


"Apa iya Shafa keringatan dokter, kok Shafa malah merasa kedinginan tadi." bingungnya.


"Iya nyonya, nyonya tidak menyadarinya ya." senyum Melani.


"Emhhh ngak."


"Ya udah nyonya mandi deh, nanti air hangatnya dingin kalau kelamaan."


"Ya.. "


"Saya bantu buka bajunya nyonya."


"Ehh ngak usah dokter Shafa aja."


"Maaf saya buka kancing bajunya nyonya." tanpa kata lagi Melani langsung menarik resleting baju Shafa sampai kebawah.


Kulit punggung Shafa yang putih bersih serta lekuk pinggangnya langsung terpampang di depan Melani, membuat mata dokter itu membulat sempurna.


Glek..


"Makasih dokter, saya mau mandi dokter keluar aja." Shafa menurunkan bajunya sampai terlepas dari bawah.


Tubuh putih wanita hamil itu masih tebungkus oleh baju dalaman mirip linger, linger kainnya tipis, transparan dan kebanyakan memakai satu tali di bahu.


Tapi dalaman yang Shafa pakai mirip baju tanpa lengan namun panjang dan bahannya sedikit tebal, namun bentuk tubuh dan warna kulit Shafa tetap terlihat jelas.


Glek..


Shafa yang berdiri di depan cermin tiba-tiba terkejut, pandangan matanya pokus pada pantulan tubuhnya yang terlihat di kaca besar dan panjang itu.


"Ehhhh apa ini." mendekatkan tubuhnya pada kaca.


Melani yang melihat kebingungan Shafa matanya ikut melotot saat melihat tangan Shafa menyentuh sesuai di leher jenjangnya yang putih mulus.


Deg ....


"Kok ada ginian ya, aneh..apa Shafa di gigit serangga, ahh ngak mungkin kan, ngak mungkinlah." gumam Shafa namun masih terdengar oleh telinga Melani.


Bercak merah kehitaman terlihat jelas di lehernya, masih baru, bercak yang setiap hari di lukis oleh Jones setiap kali mereka bercinta, bercak yang tidak pernah hilang di tubuh Shafa.


Selama mereka menikah, bercak itu selalu menempel di leher, dada, perut bahkan paha Shafa, putar, hilang bercak yang satu maka akan tubuh yang lainnya di berbagai tempat di tubuh Shafa, Jones paling suka melukis tubuh istrinya itu dengan lukisan abstrak.


"Ehhh ada lagi ?, satu lagi, kok bisa ?." bingung Shafa saat melihat bercak itu juga menempel di dadanya.

__ADS_1


"Ad..ada apa nyonya ?." tanya melani memberanikan diri.


"Ini dokter, kok ada ya, dulu Aa yang biasa buat ini, tapi kan .. masa ia sih." kebingungan.


"Mungkin serangga nyonya." Melani.


"Enghhhh mungkin juga dokter." jawab Shafa tetap bingung.


"Nyonya, apa ngak lebih baik nyonya langsung mandi saja." Melani.


"Enghhhh iya dokter, tapi dokter keluar dulu ya, Shafa ngak enak kalau ada orang lain saat mandi, maaf dokter."


"Ohh ngak apa apa nyonya, saya juga wanita, saya akan menemani nyonya siapa tau nyonya butuh bantuan."


"Tidak usah dokter, saya bisa sendiri, dokter keluar aja."


"Baiklah nyonya, saya tunggu di depan pintu, kalau nyonya butuh bantuan panggil saja saya nyonya."


"Baik dokter."


"Nyonya..beneran ngak butuh bantuan." tanya Melani lagi saat ingin membuka pintu kamar mandi.


"Iya dokter, maaf Shafa ngak terbiasa mandi ada orang lain, dulu Shafa mandi sama Aa aja."


"Ohhh ya maaf." Melani.


Melani keluar dari kamar mandi, dokter itu menutup pintu kemudian ia bersandar di dinding samping pintu kamar mandi, sekilas ada senyum di bibirnya sekilas kemudian mimik wajahnya berubah cemas entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Shafa masih memperhatikan tubuhnya di depan kaca, perutnya yang semakin menjulang tinggi, wanita itu membelai perutnya lembut.


Wajah Shafa berubah sedih mengingat suaminya, rindu itu semakin dalam bersemayam di dalam relung hatinya membuat bulir bulir air matanya berlahan meluncur.


"Aa.. Shafa kangen aa." tangisnya berlahan, sambil terus membelai belai perutnya, dia sudah melupakan tanda aneh di lehernya.


Tubuh mungilnya terlihat lucu dia seperti anak remaja yang terpaksa menikah karna hamil duluan.


"Tunggu, tadi pagi saat bangun kok Shafa merasa melihat Aa ya, Aa cium Shafa lagi, Shafa .. apa Shafa mimpi ya." gumamnya.


"Ahhh mungkin Shafa memang mimpi, Shafa mandi aja deh, nanti waktu subuh abis." gumamnya.


Setelah mandi Shafa langsung keluar, di lihatnya Niken masih tertidur pulas kening Shafa berkerut, tidak biasanya seperti itu apa dia terlalu cape menjaganya sehingga begitu.


"dokter sudah sholat ?." Shafa.


"Sudah nyonya."


"Baik nyonya." Melani.


Shafa berjalan pelan ketempat biasa ia Sholat, setelah menunaikan sholat subuh Shafa keluar kamar, perutnya sejak tadi terasa lapar sampai di dapur ia termenung melihat maid yang biasa kerja di rumah mamanya sedang berkutat di dapur.


"Shafa lupa Daddy udah pulang ke negaranya, hahh Shafa lapar banget, Shafa ngak mood makan masakan orang lain selain Daddy dan Aa, ishhhh betul kata mama, anak anak Aa manja manja banget sama grenpa sama Daddynya, maunya masakan Daddy sama Aa aja."


Shafa menatap hidangan di atas meja tanpa selera, sudah dua hari Axton pulang selama dua hari itu nafsu makan Shafa langsung menurun drastis, namun ia masih sanggup berjalan kesana kemari dan masih lincah.


"Kenapa nyonya ?, nyonya ngak berselara makan juga ?." tanya Lila yang sudah muncul di ruang makan bersama Melani, Nisa dan Niken.


"Iya kak, kenapa ngak ada yang bisa ngimbangi masakan Daddy dan Aa ya, hahhh Shafa bingung."


"Itu pasti kemauan si kembar, maunya di manja oleh masakan grenpa." Nisa.


"Umhhh iya kak, masakan mama aja yang super lezat sekarang ngak enak lagi." keluh Shafa.


"Itu karna mama bukan kesayangan kakak lagi, jadi apapun yang mama masak kakak ngak suka lagi."


Zahra datang tiba tiba di ekori Johan dari belakang, Johan sengaja singgah sebentar di apartemen Shafa sekaligus mengantarkan Zahra untuk sekedar menyapa sang buah hati sebelum ia kekantor.


Sejak ada Melani, mereka bisa berlega hati dan lebih tenang meninggalkan Shafa di apartemen suaminya.


Hanya Zahra yang setiap hari datang berkunjung menemani Shafa walau hanya beberapa jam, kadang dia pulang ke rumah besar di antar oleh bodyguar Shafa kadang ia pulang di jemput Johan.


"Mama..ngak gitu kok ma, Shafa tetap sayang sama mama, sayang banget lagi, tapi memang lidah Shafa maunya masakan Daddy saja." jawab Shafa menunduk.


"Hmmm iya kak, mama paham, mama cuma bercanda kok, kakak jangan sedih ya nak." jawab Zahra mencium pucuk kepala Shafa.


"Jadi papa ngak di sayang nih, mama aja, emang papa ini patung dari tadi di cuekin." cucut Johan pura pura merajuk.


"Sayang pa, Shafa sayang papa, meski papa jahat sama Shafa." masih tetap menunduk.


"Hmmm maaf nak, papa minta maaf, jangan nangis dong." jawab Johan mengerti dengan makna kata kata Shafa.


"Ya udah kakak makan ya, tadi mama masak ayam saus padang kesukaan kakak." bujuk Zahra membuka tempat sayur yang ia bawa dari rumah.


Shafa menatap masakan yang di bawa mamanya, dia menarik nafas dalam dalam, Zahra menyendokkan nasi dan ayam yang ia bawa ke piring Shafa.

__ADS_1


"Makan nak.." Zahra.


"Iya ma.."


Shafa menyendokkan nasi serta lauk kemulutnya tanpa selera, sang mama sudah bersusah payah memasak untuknya tentu saja ia menghargai mamanya, meski tidak suka ia tetap makan.


"Kok udah kak, ngak enak ya." tanya Zahra dengan raut wajah sedih, dia menghitung jelas makanan yang masuk kemulut anaknya baru empat sendok tapi sudah berhenti.


Dia tau putrinya itu tidak selera, dan Zahra tau percis apa yang di inginkan putrinya itu, tapi apa daya Axton sudah kembali lalu apa selama Axton tidak ada Shafa harus puasa.


Sebagai orang tua Zahra tentu berupaya agar sang putri tetap makan meski sedikit.


"Shafa udah kenyang ma."


"Baru juga empat sendok nak, makan lah sedikit lagi." bujuk Zahra.


"Nanti aja lagi ma, Shafa ngak lapar."


Hmmmm terdengar helaan napas Zahra dan Johan bersamaan, ada rasa kesal di hati Johan kenapa Axton harus kembali


Apa salahnya Axton menetap sementara waktu setidaknya sampai Shafa melahirkan.


Johan tau dia egois, sebagai putra mahkota satu satunya di negaranya Axton tidak mungkin lepas tangan akan segala urusan kenegaraan bangsanya


Axton bahkan sudah berusaha seraya mempunyai untuk menjaga Shafa, mondar mandir kenegaranya dan Indonesia tentu tidak mudah.


Membutuhkan tenaga dan waktu yang harus di atur sebaik mungkin agar segala sesuatu berjalan dengan baik, urusan kenegaraan, bisnis, keluarganya dan menantunya.


"Maaf nyonya, bagai mana kalau saya coba memasak untuk nyonya muda, siapa tau nyonya muda suka, saya sudah memperhatikan cara masak tuan Axton beberapa minggu ini." tiba-tiba Melani angkat bicara.


"Cih... masakan istri gua aja ngak mempan, apa lah lagi lu." cebik Johan ke arah Melani.


"Koko.. ngak boleh gitu ahh, kita ngak tau kan apa kakak suka atau ngak, apa salahnya di coba, seperti kata dokter Melani mana tau kakak suka." Zahra melotot pada Johan.


Seperti biasa dia selalu kalah telak kalau bicara dengan sang istri, dia hanya bisa


Mampu mengunci mulutnya yang gatal ingin protes dan tidak setuju kalau Shafa di masakin oleh Melani.


Sejak ada Melani mendampingi Shafa entah mengapa Johan selalu tidak suka dan selalu ingin memusuhi dokter itu, meski ia sendiri bingung kenapa dia membenci Melani tanpa ada alasan.


"Sudah dokter jangan dengarkan suami saya, silahkan masak, siapa tau memang kakak suka." titah Zahra menatap Melani.


"Ba..baik nyonya." jawabnya gugup, lalu ia berjalan ke dekat kompor yang berada satu tempat dengan ruang maka dan meja makan.


"Maaf nyonya muda, apa nyonya ingin sesuatu, maksud saya nyonya ingin saya masakin apa untuk nyonya." tanya Melani lembut.


Sejenak Shafa diam, detik kemudian ia menatap Melani lalu berkata kalau ingin Melani masak nasi goreng orak arik telor.


Senyum Melani mengembang di bibirnya yang merona merah, tidak menunggu lama nasi goreng permintaan Shafa sudah tersaji di depan Shafa.


Tanpa kata Shafa langsung melahap nasi goreng buatan Melani, Johan dan Zahra melotot melihat Shafa begitu antusias memakan masakan Melani.


Dia bahkan tidak menawarkan nasi goreng itu pada kedua orang tuanya, Johan dan Zahra yang duduk berhadapan dengan Shafa cuma bisa menelan ludah.


"Kok bisa sih.." gumam Johan bingung.


"Tambah.." ucap Shafa menyerahkan piring kosong ke arah Melani yang berdiri sejajar dengan para bodyguar.


Hahhhh..


Johan melotot pada Melani, dia sangat bingung kenapa tiba tiba putrinya mau makan msakan orang lain.


Beberapa bulan ini Shafa hanya mau makan makanan Axton lalu kenapa tiba tiba Shafa makan masakan dokter Melani yang baru tinggal bersama mereka.


Melani pura pura tidak melihat tatapan tajam Johan, dengan senang hati ia mengambil nasi goreng yang masih ada, ia sisakan di dalam kuali penggorengan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🌻 LIKE


🌻 RATE


🌻 VOTE


🌻 HADIAH yang banyak


🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2