
"Maafkan Shafa Daddy, saat ini Shafa belum bisa memberitahu tentang Aa karna Shafa sendiri belum tau apa Shafa bisa mempertemukan Aa dengan Daddy, kalau Shafa ngak bisa mempertemukan kalian setidaknya Daddy bisa mencarinya sendiri." gumam Shafa dalam hati.
Sebelum pesawat tinggal landas Shafa masih sempat melihat Axton melambaikan tangan dari landasan pesawat sebelum laki-laki itu meninggalka tempat.
Sudah dua hari Shafa dan Naya berada di rumah utama, Janeet juga sudah lebih lebih baik dan sehat, gadis kecil itu langsung sembuh begitu bertemu dengan kakaknya dia juga sudah mau makan dan bermain.
Pagi itu setelah Sholat subuh berjamaah dengan semua keluarga, Shafa menemani Naya naik ke lantai atas, Shafa curiga dengan raut wajah Naya yang tampak menahan sakit.
"Kak.. kakak kenapa ?." tanya Shafa cemas.
"Ngak apa apa dek.." menahan sakit.
"Kalau ngak apa apa kenapa kakak banyak keringat dari tadi, jangan diam aja kak, kakak kenapa.?" desak Shafa.
"Perut kakak sakit dek, sejak malam tadi." ahirnya Naya jujur.
"Apa ada tanda darah campur lendir atau air keluar dari jalan lahir kak ?." tanya Shafa lagi mulai panik.
"Iya dek.., cuma air saja kalau dari malam kakak pikir kakak ngompol." jawab Naya mulai meringis.
"Ini masih keluar kak ?."
"Sepertinya iya dek, kakak ke kamar mandi dulu ya, kakak harus ganti underwear dulu, geli soalnya dek." berjalan pelan ke arah kamar mandi.
"Shafa ikut kak.." menggandeng tangan Naya.
"Jangan dek kakak aja.."
"Tapi kak Shafa kwatir kakak jatuh.."
"Ngak apa apa dek, kakak masih kuat kok, nanti kalau kakak butuh kakak panggil."
"Baik kak, hati hati jalannya.."
"Hamm ya dek." Naya masuk kamar mandi, sekitar lima menit wanita itu keluar lagi dengan wajah pucat.
"Kak.. kakak kenapa ?."
"Perut kakak makin sakit dek, mulas tadi kakak lihat ada darah campur lendir di underwear kakak pas mau ganti." jawab Naya dengan napas mulai tidak teratur.
" Itu tanda tanda akan awal akan melahirkan kak, Ayo kita kerumah sakit sekarang kak, ini ngak boleh di biarkan lama lama."
"Enghhhh ya dek.." berjalan pelan di bantu oleh Shafa menuju lantai bawah.
"Kak Niken, kak Lila beritahu mama dan papa kak Naya udah keluarkan tanda, cepat kak, terus siapkan mobil."
"I..iya nyonya." jawab Niken gugup, wanita itu langsung berlari ke lantai bawah karna Zahra dan Johan sedang berada di taman belakang.
"Nyonya, tuan maaf .., nyonya muda minta saya sampaikan it..itu nyonya Naya sakit ..eh maksudnya mau ke rumah sakit." ucap Niken makin gugup saat melihat tatapan mata Johan yang tajam ke arahnya.
"Maksudnya apa Niken, apa Naya mau melahirkan ?." Zahra.
"Ii ya ehh saya tidak tau nyonya, tapi kata nyonya muda nyonya Naya sudah keluar tanda." jawab Niken menunduk.
"Ahhh ya.. suruh supir siapkan mobil cepat, kita akan kerumah sakit sekarang." Zahra berdiri dari duduknya dengan melepaskan kaki Johan yang sedari tadi nangkring di atas pahanya, karna minta di pijat.
"Sayang.." ingin protes tapi langsung diam karna dapat tatapan tak kalah tajam darinya ke Niken tadi.
%Ayo cepat, kalau koko tidak mau ikut tidak usah di rumah saja." berjalan cepat menuju halaman depan.
"Gimana sih.. tadi ayo cepat abis itu ngak ikut ngak usah, ahhh perempuan." omel Johan, tentu dalam hati mana berani langsung ke orangnya cari mati apa.
Shafa memapah Naya sampai ke dalam mobil, kemudian ia juga masuk kedalam bersama Niken, Nisa dan Lila, sementara Zahra berada di mobil lainnya dengan Johan.
Mobil keluar dari pekarangan rumah mewah itu dengan kecepatan tinggi namun masih terkendali.
Seseorang yang sedari tadi berada di luar pagar segera mengikuti mobil Shafa, raut wajahnya tampak cemas, dia menginjak gas sama kencang dengan mobil di hadapannya, mobilnya bahkan menyalip mobil Johan.
"Huhhhh.. giliran begini panik lu kan." omel Johan memeluk pinggang Zahra positif.
"Arkhan ko ?."
"Hmm siapa.lagi yank, sudah tiga hari dia di gerbang meminta izin masuk, tapi karna putri koko tidak izinkan ya.. biarin aja, kapok dia kan hahahaha, makanya jangan main tangan sembarang." oceh Johan lagi.
"Huhhh papa dan anaknya sama aja sama sama keras kepala." cebik Zahra melirik Johan.
"Lahhh kok koko ikut kena imbas nya."
"Yahhh sama kan, kalau kakak keras tidak mengizinkan Arkhan bertemu Naya, koko juga sama koko memisahkan putri koko dengan Jones, nah sama kan."
"Lahh.. itu beda persi yank."
"Sama, ngak ada bedanya, sama sama keras kepala dan mau menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain." jawab Zahra ketus.
"Waduh.. kalau anak anak sudah buat tingkah pasti papa nya yang di salahkan, giliran anaknya baik budi baru ikut pribadi baik mamanya, kenapa laki-laki tidak pernah bisa menang." keluh Johan sambil menghempaskan napasnya pelan.
"Kenapa ngak terima ?." hardik Zahra.
"Ehhh ngak yank, aah salah iya yank, terima terima laki-laki memang selalu salah." jawabnya takut takut mengangkat kedua tangan layaknya menyerah.
__ADS_1
Sementara itu mobil yang membawa Naya sudah sampai di depan IGD rumah sakit terkenal di kota itu rumah sakit mewah milik keluarga yang sudah di atas namakan ke Shafa sebagai pemilik.
Para dokter dan perawat sudah menunggu sejak tadi, karna itu begitu mobil sampai mereka langsung sigap mendorong brankat pasien ke dekat mobil untuk mempermudah membawa Naya ke dalam rumah sakit.
Naya sudah tidak sanggup lagi berjalan bahkan untuk sekedar pindah ke atas brankat, Niken, Nila, Lila membantu Naya turun dari mobil dengan cara mengangkatnya.
Setelah itu Naya langsung di bawa ke dalam rumah sakit langsung menuju ruang persalinan tanpa melalui IGD karna Naya pasien infartu.
Arkhan yang baru sampai di rumah sakit memarkirkan mobilnya sembarang, laki-laki itu berlari mengejar Naya yang di bawa cepat, namun belum sampai ke tujuan Arkhan sudah di cegat oleh bodyguar Shafa.
"Lepaskan aku, kalian tidak lihat istri ku di bawa keruangan itu, istri ku mau melahirkan." teriak Arkhan berusaha melepaskan diri dari para bodyguar yang bertubuh tinggi besar itu.
"Maaf pak, kami tidak bisa memberi jalan pada bapak lewat karna ini perintah nyonya muda, pak Arkhan di larang mendekat ke sana." jawab salah seorang bodyguar.
"Apa..? aku suaminya, aku berhak mendekat ke sana,aku ingin menemui istri ku, cepat menyingkir." marah Arkhan tapi ia tidak berdaya melawan ke lima bodyguar.
"Lu yakin Naya mau menemui lu setelah apa yang sudah lu lakukan padanya hmm, lu laki-laki yang tidak punya otak dan perasaan, harusnya lu bangga memiliki Naya, tapi lu menyakitimya, lu tidak kasihan padanya sama sekali dia sebatang kara tanpa sanak saudara di dunia ini, hanya kak Shafa yang menjadi saudara sejak kenal, karna itu putri gua tidak terima lu menyakiti kakaknya."
Johan menatap Arkhan tajam, nada bicara Johan dingin, Johan juga sangat marah dengan kelakuan Arkhan pada Naya, apa lagi Johan tau alasan, karna Arkhan jatuh cinta pada Shafa sejak lama.
"Om.. ku mohon tolong biarkan aku lewat om, aku mau minta maaf pada istri ku, aku salah om aku mau minta maaf, aku menyesal om, tante tolong bantu aku bertemu dengan Naya, dia sedang berjuang di sana tante aku ingin menemaninya."
Arkhan berlutut di depan Johan dan Zahra, alih alih di izinkan Johan malah menyuruh para bodyguar menyeret Arkhan jauh dari tempat itu.
"Seret dia dari sini jauhkan sejauh mungkin, menggangu saja." titah Johan pada bodyguar.
"Baik tuan.." jawab bodyguar.
"Om..om..tante..biarkan aku bertemu istri ku, ku mohon." teriak Arkhan kencang, karna tubuhnya kini sudah di seret oleh dua bodyguar.
"Koko..biarkan saja, kita tidak boleh begitu, belum tentu Naya tidak membutuhkan suaminya, ingat ko Naya sedang berjuang melahirkan anaknya, jangan biarkan dia berjuang sendiri." marah Zahra menarik tangan suaminya.
"Bukan koko yang mau begitu, kakak lo yank, koko juga cuma menjalankan perintah." jawab Johan santai.
"Ahhh kalian sama saja." Zahra makin marah, wanita itu lalu berbaik dan berjalan kearah bodyguar yang menahan Arkhan tadi.
"Udah tidak usah usir dia jauh, biarkan saja dulu di situ tapi jangan izinkan dia lewat." titah Zahra pada para bodyguard.
"Tante..tolong aku agar bisa bertemu istri ku." mohon Arkhan.
"Maaf Arkhan kau memang patut mendapat pelajaran bahkan lebih dari ini, kau tenang saja setelah anakmu lahir tante akan memperlihatkannya padamu." jawab Zahra dingin lalu dia kembali pada Johan yang setia menunggu di tempat ia berdiri semula.
Shafa berdiri di depan pintu air mata wanita itu tumpah seketika melihat Naya yang terus meringis kesakitan di ruangan bersalin tadi, Shafa sempat masuk kedalam tapi karna pusing ia memilih keluar.
"Kak.. bagai mana kak Naya nak.." Zahra menyentuh bahu Shafa pelan.
"Tadi sudah di Vt ( vaginal touh ) dokter ma, katanya pembukaan sudah enam sampai tujuh posisi bayinya baik ma, tapi kak Naya menangis terus katanya sakit banget." adu Shafa ikut menangis.
"Tapi ma .. kasian kak Naya ma."
"Kita berdoa saja semoga persalinan kak Naya berjalan dengan lancar kak, jangan nangis lagi ya nak." bujuk Johan.
"Ayo kita . dulu, nanti kakak cape." Zahra menunjuk sopa mewah yang ada di depan ruangan bersalin.
"Tidak apa apa ma, mama dan papa duduk aja dulu, sebentar lagi Shafa duduk." tetap berdiri di depan pintu, namun membelakangi.
Zahra dan Johan duduk di sopa sementara Shafa tetap bertahan di depan pintu, hampir satu jam Shafa mondar mandir di depan pintu ruangan operasi namun pintu masih tertutup.
Ahirnya Shafa duduk seperti yang di perintahkan oleh Zahra dan Johan, raut wajah Shafa benar benar takut dan cemas memikirkan kondisi Naya yang berjuang seorang diri didalam sana.
"Dek.. dek Shafa tolong izinkan abang bertemu istri abang dek, tolong.." teriak Arkhan yang berjalan mendekat kearah Shafa namun tidak sampai delapan meter Arkhan kembali di hadang oleh para bodyguar.
"Tidak.. abang jahat, abang pukul kakak Shafa, Shafa ngak mau." jawab Shafa menangis kencang.
Shafa yang terkejut mendengar dan melihat Arkhan menangis kencang karna dia sangat kecewa pada laki-laki itu, wanita yang ia jodoh kan pada sang abang sepupu malah menyakiti tentu saja Shafa marah.
"Dek.. abang minta maaf, abang salah, tolong lah dek, abang mau minta maaf pada istri abang, abang mau mendampingi nya melahirkan anak abang dek." berlutut di lantai.
"Ngak.., abang jahat."
"Maaf dek, abang minta maaf.., abang janji tidak ulangi langi, Shafa boleh hukum abang dengan cara apapun tapi tolong izinkan abang bertemu dengan istri abang."
Shafa tidak menjawab karna pintu yang berada di belakangnya tiba tiba terbuka dari dalam, lalu muncul seorang perawat wanita muda dari sana.
"Maaf .. nyonya Shafa ya.." tahya perawat itu pada Shafa.
"Iiya kak, ada apa ?." jawab Shafa gugup.
"Nyonya Naya mencari nyonya, kondisi nya sangat lemah." jawab perawat sedih.
"Ada apa suster.." Zahra berjalan mendekat.
"Maaf nyonya, persalinannya tidak maju, kami sudah membujuk agar operasi saja tapi beliau tidak mau, mungkin nyonya Shafa bisa membujuknya." jawab perawat itu sopan.
Bagai di sambar petir, jantung Arkhan hampir berhenti mendengar perkataan perawat itu, lututnya bergetar, air matanya kembali tumpah, laki-laki itu sedari tadi menahan diri agar tidak berontak dan menerobos para bodyguar karna masih menghargai Johan.
Namun kali ini dia tidak perduli lagi, Arkhan berontak dia mendorong dan menendang para bodyguar yang menghalanginya, apa pun yang terjadi dia harus bisa bertemu dengan istrinya dan menemaninya di dalam.
Shafa tidak perduli dengan keributan yang di lakukan Arkhan dia masuk mengikuti perawat kedalam ruangan persalinan tanpa mendengar permintaan Arkhan yang berteriak teriak agar Sholat membawanya masuk menemui Naya.
__ADS_1
"Sudah ..lepaskan dia, biarkan dia menemui istrinya." titah Zahra pada para bodyguard.
"Sayang.." panggil Johan ingin protes.
"Biarkan ko, berikan dia kesempatan." jawab Zahra menatap Johan dingin.
"Andai sayang tau kenapa dia menampar Naya, apa sayang masih mengizinkan masuk ?."
Deg.. Arkhan terkejut mendengar perkataan Johan tapi dia tetap melangkah masuk kedalam ruangan.
"Maaf pak anda tidak bisa masuk." ucap perawat laki-laki yang menjaga pintu ruangan.
"Saya suami pasien, saya ingin masuk menemui istri saya apa tidak bisa." Arkhan marah Arkhan.
Perawat itu melihat kearah Zahra seraya meminta pendapat apakah Arkhan boleh masuk atau tidak karna Shafa tadi berpesan tidak ada yang boleh masuk selain dirinya atau mamanya.
"Biarkan dia masuk." Zahra.
"Baik nyonya." jawab perawat hormat.
"Kenapa koko bilang tadi begitu, memangnya kenapa Arkhan menampar Naya.."
"Arkhan ingin menikahi kak Shafa, dia ingin poligami, memang dia siapa cihhh."
"Maksudnya ko ?."
Johan lalu bercerita pada Zahra kejadian di Sydney, sampai Arkhan menampar Naya, Arkhan raut mengaku pada Naya kalau dia mencintai Shafa sejak lama dan meminta Naya membujuk Shafa jadi istri keduanya.
Zahra tentu sangat terkejut mendengar penjelasan Johan, pantaslah Johan sangat marah dan tidak suka pada Arkhan.
"Apa kakak tau ko .."
"Tidak .. jangan sampai kakak tau, kalau kakak tau dia pasti akan terpukul dan merasa bersalah, kita tutup cerita ini sampai di sini yank, cukup kita yang tau."
"Iya.. betul ko, jangan sampai kakak tau." jawab Zahra.
Sementara itu Arkhan yang masuk kedalam ruangan melihat istrinya yang terbaring lemah di atas tempat tidur, wanita itu masih memakai niqabnya sehingga wajah pucatnya tidak terlihat oleh orang lain hanya pandang matanya yang tampak layu dan sayu.
Kaki Arkhan seperti di paku lututnya bergetar dadanya terasa panas dan sakit, bayangan ketika tangannya yang besar mendarat di wajah cantik Naya kembali terlintas di benaknya.
Bayangan bayang masa masa bersama di Sydney, dari malam pertama sampai hari hari yang mereka lalui dengan kaku, Arkhan tidak pernah memperhatikan Naya layaknya suami suami pada umumnya.
Arkhan juga tidak pernah membawa Naya keluar dari rumah untuk hanya sekedar berjalan jalan, atau membawanya pada acara acara tertentu pesta pernikahan atau acara kantor.
Naya istri yang penyabar, setia, baik, sopan, mandiri, patuh dan cantik meski tidak secantik Shafa tapi Naya kalau di suruh berjalan di atas Catwalk memakai pakaian rancangan desainer dia pantas dan cocok.
Karna tubuhnya yang tinggi dan ideal andai Naya tidak memakai baju syarii mungkin banyak mata laki-laki yang di manjalan oleh kemolekan tubuhnya, sehingga Arkhan saja tidak bosan menyentuh tubuh sang istri meski katanya tidak cinta karna cintanya hanya untuk Shafa.
"Shafa.. dek.." panggil Naya dengan suara lemah namun masih terdengar oleh orang di sekitarnya.
"Kak.. hiks..kakak yang kuat ya, kakak semangat kakak kalau udah lemah begini operasi saja ya kak, Shafa mohon.." tangis Shafa memegang tangan kanan Naya yang bebas,sedang tangan kirinya terpasang selang infus.
"Dek.. jangan kwatir, kakak ngak apa apa, ngak perlu operasi." mata Naya menyipit menyembunyikan senyumnya yang manis di balik niqab.
"Tidak kak, kakak harus operasi, kakak udah lemah banget, mau ya kak." bujuk Shafa.
"Tidak apa apa dek."
"Kak..hiks.."
"Dek.. kakak mau minta tolong ke Shafa bisakan dek, kakak mohon." balik memegang tangan Shafa.
"Kalau bisa, Shafa pasti mau, apa itu kak."
"Kalau terjadi sesuatu pada kakak, kakak minta tolong, Shafa yang rawat anak kakak ya, kakak mohon dek." pinta Naya dengan air mata berurai.
Deg..
Arkhan shoc mendengar permintaan Naya pada Shafa, sedang Shafa sendiri tidak kalah terkejut, Shafa tidak menyangka akan mendengar permintaan seperti itu dari kakak senior sekaligus kakak angkatnya itu.
ππππππ
pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πͺ΄ LIKE
πͺ΄ RATE
πͺ΄ VOTE
πͺ΄ HADIAH yang banyak
πͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
__ADS_1
Happy Reading.