UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
38. Di Patuk.


__ADS_3

Shafa duduk di taman Rumah sakit itu dengan isak tangis yang masih terdengar tapi dengan volume yang kecil, sementara Niken dan kedua bodyguard lainnya sibuk menenangkannya.


"Kakak.. kak .. betulan kakak ngak kenapa napa kan huuuu." tanyanya lagi pada Niken.


"Iya nona, nona ngak percaya ya.." Niken.


"Nghhhh.. ngak gitu kak, Shafa takut kak Dino buat begitu ke kakak." tangisnya.


"Ngak nona, jangan kwatir."


"Kakak ngak di patuknya kan ??."


"Patuk ???." Niken, Asiah dan Lila bingung mendengar pertanyaan gadis itu.


"Henghhhh patuk." angguk Shafa.


"Maksud nona, patuk apa." Niken.


"Burungnya." menatap Niken iba, lalu menatap kebagian bawah Niken.


Ooooooooo serentak ketiga wanita itu ber o ria, Asiah dan Lila tertawa terbahak bahak, sementara Niken cengar cengir.


"Saya masih gadis, masih perawan nona, kalau nona tidak percaya ayo kita periksakan." canda Niken tersenyum geli.


"Tapi katanya mau buat gitu ke kakak, huuu Shafa kan jadi takut kak, andai ada apa apa sama kakak gara gara Shafa, Shafa pasti akan merasa sangat bersalah, maafkan Shafa yah kak." tangisnya.


"Ngak sempat kok nona, keburu kami datangin." ucap Lila.


"Maksudnya ??."


Lila lalu menceritakan pada gadis itu bagai mana mereka menemukan Niken tapi tidak terlalu pulgar karna takut Shafa makin histeris, dia juga tidak mengatakan kalau Jones lah yang menolong Niken pertama.kali sehingga gadis itu tidak sempat ternoda.


Shafa malah makin menangis mendengar cerita Lila membuat mereka semua makin bingung bagai mana lagi cara menenangkan gadis itu, Niken memberi kode pada Lila agar pergi membeli sesuatu yang bisa mendiamkan gadis itu.


Mereka sudah lama tinggal bersama tentu mereka cukup hapal bagai mana cara membujuk Shafa kalau lagi ngambek dan marah.


Gadis yang belum genap delapan belas tahun, namun selalu merasa sok dewasa dari umurnya itu terkadang masih sering bertingkah seperti anak anak, karna sebenarnya Shafa juga masih cengeng dan bahkan masih labil.


"Udah dong nona, jangan nangis lagi." bujuk Asiah mengelus elus punggung Shafa pelan.


Mereka bertiga duduk berjejer di kursi panjang taman itu, dari jauh tampak Zahra, Johan dan Jones memperhatikan intekrasi ketiganya sampai Lila tiba membawa sesuatu lalu membagikannya satu persatu.


Shafa menerima benda manis dingin itu dengan ekspresi lucu, dengan cepat ia membuka pembungkusnya lalu segera memasukkan ke dalam mulut tapi tetap dengan isak tangis yang masih terdengar sesekali.


Mereka duduk berempat sambil makan ice cream kesukaan Shafa, awalnya mereka makan dengan diam tapi tiba tiba keempatnya sama sama tertawa mengingat kelakuan Shafa yang tiba tiba marah tampa lihat tempat.


"Nona, lama lama nanti marahnya seperti tuan besar bisa gawat kita." Lila.


"Iya tuh.., mungkin kalau kita buat salah bisa di sambal." Niken.


"Di beteti seperti ikan." tawa Asiah.


"Emang papa Shafa gitu kalau marah kak." berhenti menangis sambil menjilati ice cream sesekali sesegukan.


"Ntah, mungkin." Asiah.


Mereka tertawa bersama lagi, Shafa sendiri mulai tenang tapi begitu melihat wajah Niken ia murung lagi, sementara Johan mengepalkan tangannya mendengar pembicaraan mereka.


"Koko lagi marah kan memang gitu, parah lalu kalau Shafa dan Janeet ngamuk siapa coba gurunya." menatap Johan sambil mengelus perut.


"Betul nyonya, pake heran kenapa anak anaknya begitu wong bapaknya aja seperti kingkong marah masuk kampung." ejek Jones.


"Lu jangan cari gara gara ya, dasar manusia lukcnat, lu mau gua kebiri ?." marah Johan.

__ADS_1


"Jangan dong papa mertua, habis lah nanti kasian calon istri ku ngak kebagian."


"Bukan urusan gua, yang penting bukan putri gua yang lain masa bodo."


"Ya ngak dong papa mertua, calon istri ku ya putri mu, ngak pake yang lain."


"Diam gua sembelih juga lu lama lama."


"Janda anak perempuan lu papa mertua."


"Sudah sudah, pusing aku dengar kalian berdua selalu berselisih paha."


"Paha .." Johan, Jones.


"Ya paha." Zahra.


"Ishhh ogah, masa sama bekicot ini, enakan sama sayang, uwekk muntah gua." menggandeng istri cantiknya pergi dari sana.


"Gua lebih jijik, pergi sana gua mau mandang bulan,bintang dan matahari ku." senyum Jones.


"Pak dokter, lebih baik ke kamar saja kan baru selesai operasi, istirahat dulu, dan sekali lagi terima kasih banyak atas pertolongan dokter pada putri saya. saya ngak tau mau balas dengan apa." ucap Zahra.


"Balas dengan doa dan putrimu saja nyonya." senyum tengil.


"Ooow.. jangan harap." Johan.


"Usahakan sendiri dokter, aku tidak mendukung juga tidak melarang, kalau sampai Shafa tidak terima tolong jangan di paksakan, lagian kan masih banyak cewek yang lain yang jauh lebih baik dari putri kami."


"Terimakasih nyonya, yang cantik dan baik banyak tapi aku hanya menyukai putri nyonya."


"Hmm ya sudah, kami pergi dulu, istirahatlah agar segera pulih." senyum Zahra.


"Jangan senyum senyum ke dia sayang, nanti dia besar kepala di kira dapat restu."


Cihhh ..


*******


Shafa masuk ke ruang perawatan ragu ragu, ia malu karna sempat menghardik laki-laki itu padahal tidak bersalah.


"Kenapa gils, ayo kemari." senyum bahagia laki-laki itu di kunjungi oleh sang gadis.


"Ma..maaf Uncle, tadi Shafa marah marah."


"Ngak apa apa, kamu kenapa kok matanya sembab gitu, abis nangis lagi ya." mencoba duduk dengan segala kekuatan.


"Ngak apa apa Uncle, masih sakit ya Uncle, kata dokter lukanya ngak begitu dalam tapi ada lima belas hecting ( jahitan )."


" Henghhhh sakit, tapi bukan di sini." menunjuk punggungnya.


"Terus di mana Uncle." bingung.


"Di sini, di hatiku."


"Loh kenapa, kok bisa."


"Ya bisa, karna kurang perhatian dan kasih sayang yang paling parah ngak di mengerti."


"Lahhh apa hubungannya."


"Ada dong gils, kalau hati serta pikiran terluka atau kurang bahagia maka semua akan terasa sakit."pura pura kesakitan di area dada.


"Itu pasti karna Aunty, di mana Auntynya Uncle biar Shafa jemput."

__ADS_1


"Ngak usah dia ada di sini kok." menunjuk


hatinya.


Ouhhh


Shafa sejenak terdiam, sampai dokter dan perawat datang memeriksa Jones lagi.


"Bagai mana perasaan anda dokter, ada keluhan."tanya dokter yang memeriksa Jones.


"Sudah lebih baik dokter."


"Syukurlah kalau begitu, jadi besok atau lusa sudah bisa pulang." dokter.


"Loh..emang udah bisa dokter, kan baru di rawat satu hari, terus nanti.di rumah siapa yang rawat Uncle." tanya Shafa bingung.


"Kan ada kamu gils, kamu dong yang rawat, kamu harus tanggung jawab sama aku, gigara siapa coba aku begini." goda Jones.


"Gara gara Shafa Uncle, maaf.." cicit gadis itu menunduk.


Hati Jones seketika terasa sakit, ia hanya ingin bercanda dan bukan bermaksud menyakiti apa lagi menyinggung perasaan gadisnya.


"Aku cuma bercanda gils jangan sedih gitu dong." ucap Jones menyesali kata katanya.


"Tapi Uncle memang benar, Shafa bilang ke papa dulu ya, nanti Shafa jaga Uncle sama kakak kakak." jawab gadis itu masih menunduk.


Jones ingin meloncat kegirrangan mendengar ucapan gadis itu , bibirnya tersenyum lebar


selebar yang ia bisa andai bibirnya bisa selebar tampah mungkin bisa sampai segitu.


"Jangan sama papa gils yang ada aku bisa di bulynya sampai tahun depan, ke mamamu saja." memberi ide agar lancar sentosa.


"Iya Uncle, Shafa keluar dulu." pamitnya.


Jones bersiul siul kegirangan ia sampai lupa ada manusia lain di sana, ia benar benar sangat bahagia karna akan di temani oleh gadis itu sampai beberapa hari kedepan rencananya.


"Hemmm bahagia banget ya, pantas sampai berkali kali ternyata ada udang di balik bakwan." goda dokter bedah sahabat sekaligus teman sejawat Jones.


"Hehehe lu diam aja deh, masih tahap PDKT doain deh lancar." senyum Jones.


"Aminn gua doain semoga jantung lu ngak bakal bermasalah ngadapin bapaknya hahaha."


"Kalau itu gua udah kebal hahaha."


*********


Hai teman-teman author dan teman teman -pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’ KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2