
"Robby.. lu cari tau lebih lanjut tentang anak pak Hartono, gua dengar anaknya itu lulusan Al-Azhar Mesir ?." Johan.
Deg..
"Untuk apa bos." tanya Robby tak enak hati.
"Gua berencana menerima lamaran pak Hartono untuk anaknya, dari sekian kandidat gua rasa dia cocok." jawab Johan dengan suara berat.
"Apa.. lamaran, nona Shafa ??." dokumen di tangan Robby terjatuh berserakan di lantai kantor ruangan Johan.
"Kenapa sih lu." umpat Johan karna terkejut melihat berkas yang berjatuhan.
"Maksud bos, bos akan menjodohkan nona Shafa dengan anak pak Hartono ??."
"Iya." jawabnya singkat.
"Bos.. lu benar benar tega ya, apa lu ngak anggap perjuangan Jones sedikitpun."
"Gua nyuruh lu selidiki anak si Hartono bukan gua ngak mau dengar komentar yang lain."
"Sory bos, gua ngak bisa lu cari aja yang lain, gua ngak mau menghianati saudara gua sendiri, lu lihat saja bagai mana cintanya Jones pada nona lu lupa ya bos." tanya Robby memandang tak percaya dengan sikap Johan yang keras kepala.
"Sialan.. lu anak buah gua, orang gua lu harus nurut perintah gua." marah Johan dengan suara keras.
"Iya .. gua sadar gua anak buah lu, gua sadar gua bekerja pada lu, lu silahkan nyuruh gua kerjakan yang lain, ngepel lantai lap kaca atau membunuh orang lain gua akan kerjakan tapi perintah lu yang satu itu sory gua ngak bisa patuhi."
"Brengsek lu, terserah lu gua akan suruh orang lain saja." membanting berkas yang ada di atas meja ke lantai.
"Gua ngak mau menghianati Jones, lu memang manusia es tidak punya hati." marah Robby langsung keluar dari ruangan Johan.
"Sial.. sial..." emosi Johan memijit kepalanya.
Sementara itu Robby yang sudah masuk kedalam ruangannya membanting berkas yang ia bawa dari ruangan Johan.
__ADS_1
"Dasar manusia es lu Johan, lu ngak mikir gimana perasaan Jones, yaa ampun malang betul lu Jones apa yang harus gua katakan kalau jumpa sama lu, jangan sampe lu nekat berbuat yang aneh aneh lagi pada diri lu."
Oceh Robby yang prustasi memikirkan nasib Jones, sementara Johan meminta anak buahnya yang lain menyelidiki anak pak Hartono yang dulu pernah melamar Shafa tapi di tolak oleh Johan karna belum ingin menikahkan putrinya itu.
Tidak menunggu lama ia sudah mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapannya, setelah yakin dengan pilihannya dari sekian orang calon ahirnya Johan memilih Rafa anggara anak pak Hartono.
Andy di tugaskan untuk menghubungi orang tua calon menantunya itu, pak Hartono yang mendapat undangan makan malam di sebuah restoran kelas atas di kota itu menyambut dengan bahagia undangan tersebut.
Sesuai perjanjian mereka bertemu dan berbincang membahas perihal lamaran pak Hartono untuk anaknya.
"Meski aku sudah setuju dengan perjodohan ini aku tetap ingin putriku juga setuju, kalau putriku mau maka lanjut kalau setelah bertemu anak pak Hartono putriku tidak bersedia maka aku juga secara otomatis membatalkannya."
Kata kata Johan yang tegas dan keras membuat pak Hartono yang tadinya bersemangat menjadi melemah, karna takut Shafa menolak anaknya.
Siapa orang yang tidak ingin berbesan dengan pengusaha sukses itu para pengusaha dan pejabat pemerintah saja berlomba lomba melamar Shafa begitu mereka tau Johan punya anak perempuan dan mereka tau sudah dewasa.
Setelah pertemuan itu Johan bercerita pada Zahra ia mengatakan kalau putra pak Hartono adalah seorang lulusan Al-Azhar Mesir orang yang taat agama dan pintar dalam berbisnis, Johan pernah beberapa kali bertemu dengan Rafa yang tengah mendampingi ayahnya saat rapat karna Hartono adalah relasi bisnis Johan.
"Iya sayang, koko sudah menyuruh anak buah kita menyelidiki latar belakang anaknya itu, menurut informasi dia juga tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun."
"Hmmm terserah koko deh, kalau itu yang terbaik menurut koko."
"Yah itu pun kalau Shafa menerimanya yangk, kalau ngak ya ngak jadi."
"Kalau gitu kita akan pertemukan mereka
dulu ya ko ?."
"Iya yangk, semua tergantung Shafa."
"Iya ko, lalu bagai mana dengan dokter Jones ?." pertanyaan Zahra sontak membuat Johan terdiam dia sendiri bingung bagai mana cara menghadapi sahabatnya itu nanti.
Perkataan Robby waktu itu cukup membuat Johan berpikir keras, ia akui kalau ia egois tapi semua ia lakukan demi putrinya itu dan demi egonya juga tentunya, bagai mana mungkin sahabat menjadi menantu.
__ADS_1
Seperti kata bang Naga bonar
"APA KATA DUNIA"
"Entahlah sayang, koko juga bingung, tapi rasanya koko ngak bisa terima Jones jadi pendamping putri kita, koko ngak bisa yangk, meski koko juga tidak tega memikirkan Jones tapi apa boleh buat."
Kata kata Johan terdengar lirih, meski tidak tega tapi Johan harus tetap mengambil keputusan walau ia tau resiko pertemanan dan persaudaraan merekalah yang akan menjadi taruhannya.
Belum lagi sejak berbincang dengan Robby waktu itu Robby terkesan dingin pada Johan sebagai tanda protes akan sikap Johan yang menurutnya tidak berperasaan.
Zahra menghela napas, ia juga sebenarnya tidak rela Jones menjadi menantunya sudah jelas dari umur Zahra malah lebih tua dari Jones lalu apa kata dunia ?.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1