
"Hahahaha lu di lamar anak kecil lagi, nasib lu memang apes ya." ejek Johan.
"Tapi semuanya anak lu." balas Jones sinis.
Johan kena batunya, laki laki itu terdiam, niat hati untuk menyakiti malah sakit sendiri, Johan memeluk pinggang sang istri dan bersiap siap membawanya pergi dari hadapan Jones di mana Janeet masih menempel seperti prangko pada laki-laki itu.
Namun sebelum pergi.
"Bagus juga dia datang, tidak perlu repot repot mencari menantu, Nah datang sendiri, kalau begitu secepatnya kita akan menikahkan mereka." tersenyum lebar, melirik Jones
"Hahhh menikahkan mereka tapi ko." Zahra.
"Tidak apa apa sayang, cinta akan tumbuh sendiri di antara mereka, seiring waktu , tidak perlu berjuang mati matian kalau ahirnya pasrah di tengah jalan." mencebik ke arah Jones yang tertunduk lesu di atas kursi rodannya.
Zahra mencubit pinggang suaminya itu karna baru sadar kalau Johan sedang menyindir seseorang, Zahra merasa iba melihat Jones yang tampak tidak berdaya di atas kursi rodannya.
"Kak Ones Annett main sama tata aja ya, kak Ones jangan sedih." mencium pipi kiri dan kanan Jones kemudian balita itu, membelai lembut wajah Jones yang tampak kusam.
"Hmm iya inces, hati hati ya." balas mencium.
Setelah Janeet pergi.
Tampa kata dan tampa pamit Jones juga meninggalkan tempat itu berlahan lahan, namun ekor matanya masih mengawasi interaksi Shafa dan Arkhan yang tampak tertawa bahagia.
"Mereka serasi banget ya, yang satu masih muda cantik dan sholehah yang satu lagi tampan dan enerjik, nah gua apalah." ucap Jones memandang lurus kedepan di iringi asisten dari belakang.
"Yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya, yang kita dengar belum tentu yang baik, sekarang ini yang perlu pertegas hati pak, belum tentu mereka berjodoh, karna yang ku dengar nona menolak menikah dengan siapapun." asisten.
"Apa.." menghentikan kursi rodanya.
"Iya pak, nona meminta terapy saja, kata nona tidak perlu menikah untuk kesembuhannya cukup usaha dengan obat medis, herbal dan doa, Jodoh maut dan rezeki sudah di gariskan oleh Allah, itu pendapat nona."
"Itu tidak benar, tidak cukup dengan obat obat dan doa saja, bagai mana kalau perkiraan gua benar tidak tidak Shafa harus menikah, Lu tau dan dengar dari mana ??."
"Setelah bapak pergi dan pak Robby aku mendengar nyonya Zahra berbincang dengan dokter Vita, nyonya meminta dokter Vita meresepkan obat obatan sementara untuk nona muda." Asisten.
"Dan apa kata bos Johan."
"Kalau itu saya kurang tau pak."
Jones menarik napas, mereka ahirnya meninggalkan tempat itu dengan pikiran kacau di hati Jones, sepanjang jalan pikiran Jones kemana mana, melihat kehadiran Arkhan yang tiba tiba sungguh membuat laki-laki itu panas dingin.
"Assalamualaikum bu Niken." sapa Jones lewat pesan singkat.
"Waalaikumsalam wrwb ya pak dokter." Niken.
"bu Niken tau ada orang baru di kediaman
utama." tanya Jones.
"Orang baru pak ?."
"Iya .. tadi saya bertemu di taman kompleks namanya Arkhan."
"Ohh iya pak, masih saudara jauh dari nyonya Zahra, lagi kuliah di boston semester ahir." jelas Niken, padahal bukan itu maksud pertanyaan Jones.
"Owhh ngapain dia ke sini."
"Itu saya kurang tau pak."
"Kamu yakin ?."
"Iya pak."
Jones tidak puas dengan jawaban perempuan itu, setelah sampai di apartemen Jones langsung masuk kedalam kamarnya, laki-laki itu berpindah duduk di atas tempat tidur.
Ia duduk menyandar di kepala ranjang, tatapan matanya lurus kedepan, bayangan Shafa yang tertawa lepas dengan Arkhan terus menari nari di pelupuk matanya.
"Kamu ngak punya rasa sama sekali pada ku ya gils, kamu sama sekali tidak perduli padaku, bahkan kamu tidak menyapa ku tadi." bicara sendiri sambil menatap photo Shafa di layar handphonenya.
"Punya Uncle, rasa mau muntah, gimana mau punya rasa, Lu nya sendiri pendam rasa, cihh lu kira nona muda pecinta jadi paham dengan isyarat hati Lu, sampe lebaran habis di dunia ini nona tidak akan mengerti kalau lu ngak kasih tau isi hati lu, dasar oon lu." Robby muncul di kamar Jones membawa bubur ayam di dalam rantang.
" Sialan Lu, ngapain lu kemari, sana gua ngak mau lihat muka lu yang menjengkelkan itu, muak gua." sinis Jones.
__ADS_1
"Gua mau ajak lu makan bubur ayam, lu belum sarapan sehabis menguntit tadi kan." ejek Robby.
"Menguntit kepalamu."
"Cih.. apa ada orang berjemur di bawah pohon, mimpi di paret paret hahaha."
"Kampret lu, sana enyah dari hadapan gua."
"Oke gua pergi, tapi beneran lu ngak mau bubur ayam ini, enak lo." menunjukkan rantang yang belum di buka.
"Ngak, pergi sana."
"Oke.. jangan nyesel ya, soalnya ini bubur ayam buatan nona muda,sudah pasti enak pake banget." berjalan ke arah pintu kamar.
Tampa sadar Jones langsung bangkit dari duduknya, secepat kilat di rampasnya rantang itu dari tangan Robby.
"Ini punya gua, lu keluar dari kamar gua." memeluk rantang itu di dadanya.
"Huhh sialan, main rampok aja lu, bagi..gua juga belum makan, lu ngak tau aja gimana perjuangan gua bawanya ke mari." omel Robby kesal.
( Prett ..perjuangan apa, abis di masak Shafa kamu yang minta sedekah dengan alasan mau di kasih sama istri, ehh ternyata di bawa ke Jones
π€£π€£ ).
"Gua ngak perduli dan ngak mau tau." jawab Jones berusaha berdiri dan melangkah pelan sangat pelan ke sopa yang ada di kamarnya.
"Kaki lu masih sakit banget ya." tanya Robby yang merasa ngilu melihat Jones berjalan seperti Robocop.
"Udah lihatkan, pake tanya."
"Gua lihat tapi kan gua ngak ngerasa, yang ngerasa sakit atau tidak itu Lu peang." berjalan mendekati Jones.
"Udah gua bilang pergi kenapa masih di sini sih." menghardik.
"Lu ngak dengar gua bilang apa tadi, gua juga lapar, emang Lu aja yang betah puasa terus."
"Sana ambil di dapur, ini punya gua."
"Sakit tau."
"Sana, gua ngak mau bagi kenapa hahh, mau gua simpan sampe besok, lusa, besoknya lagi lusanya lagi, keberatan lu ?."
"Astaga bro.. lu waras ? lu kata harta karun apa di simpan sampe berhari hari."
"Sana jangan banyak bacot." duduk membelai Robby, ia kemudian membuka rantang dan memakan sendiri bubur ayam itu.
Robby senyum senyum sendiri, ia keluar dari dalam kamar tampa pamit pada Jones yang sibuk dengan makanannya.
"Bapak sudah makan." asisten Jones.
"Sudah, lu kalau belum makan makan saja."
"Bagai mana dengan dokter."
"Seperti biasa, kalau sudah di bilang masakan nona pasti di kuasai sendiri."
"Iya pak, katanya nyerah tapi ngak sanggup melepaskan."
"Hmm iya, bagai mana kondisi emosinya ahir ahir ini, dia ngak bikin ulahkan."
"Tidak pernah pak, dokter kalau sudah di sini hanya berkurang di kamar, diam dan tidak banyak bicara kadang saya takut meninggalkannya sendiri karna dokter sering duduk di depan dinding kaca, saya takut beliau nekat."
"Hahhh entahlah, gua juga bingung melihat sikapnya, dia sebenarnya sangat cinta sama nona hanya saja dia ilfil dengan dirinya sendiri, padahal belum tentu nona menolaknya."
"Tapi menurut pak Robby gimana."
"No comen."
"Ahh ngak asik."
"Lu kayak mak mak tetangga sebelah ya, suka gosip, cocok jadi pembawa acara gosip lu di tivi."
"Boleh juga pak, tolong promosikan sama nyonya Zahra, siapa tau butuh host gosip." tertawa.
__ADS_1
"Cih .. ngarep, lu jaga si ngenes itu baik baik, kalau ada apa apa cepat hubungi gua."
"Baik pak."
Robby berlalu, sambil berjalan ia mengetik sesuatu dan kemudian mengirimkannya pada seseorang.
****
Malam itu Jones tidak bisa tidur, sejak pertemuan tadi pagi hari Jones semakin terikat pada Shafa ia semakin merindukan gadis itu, padahal dia sendiri yang sudah meminta Johan untuk menikahkan Shafa dengan orang lain.
Tapi begitu menyadari kehadiran Arkhan laki-laki itu langsung panik dan ketakutan, sedari tadi ia mengotak atik handphonenya.
Sebentar mengetik pesan dan sebentar kemudian di hapus, ia yang melihat kalau gadis itu onlane sejak tadi menjadi penasaran gadis itu sedang chat dengan siapa.
Di dadanya timbul percikan percikan api cemburu saat membayangkan sang gadis yang tertawa riang saat chat dengan Arkhan atau mungkin lelaki lain.
Dia lupa Shafa gadis seperti apa sehingga karna cemburu ia malah berpriduga lain tentang gadis itu, lalu karna bingung ia malah tampa sengaja mengirimkan pesan yang sudah ia ketik tadi.
"Hai gils.. apa kabar."
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
"Ehhh apa ini." gumam Jones.
"Gils...kamu kenapa ?."
ππππππ
"Ehhh maksudnya." bahagia.
Lalu Jones menekan tombol bergambar vidio untuk melakukan vidio call dengan teman chatnya itu dan tidak lama kemudian vidio call tersambung.
"Assalamualaikum wrwb, ehhh astaga.." Jones terkejut karna tiba tiba melihat rongga aneh di vidio callnya dan lama lama berubah ke bentuk bibir kecil yang imut dan mengemaskan.
"Inces.." panggil Jones saat tau siapa pemilik bibir lucu itu, yang kemudian terlihatlah seluruh wajah gadis kecil itu.
"Kak Ones, apa kabar Annett tangen."
"Kakak juga kangen sayang, kok inces pake handphone tata, tata mana ?." mencari cari di antara sela wajah Janeet.
"Tata mana ya." balik bertanya.
"Loh..kok tanya kak Ones." suara Jones hilang saat mendengar suara Shafa yang sangat ia rindukan itu.
"Meimei.. jangan kirim gambar gambar aneh lagi ya nanti tata malu sama kawan tata, kalau handphonenya sudah selesai di simpan lagi ya."
"Henghhhh iya tata." memperhatikan wajah Jones, sedang Jones hampir pingsan karna melihat sesuatu yang menurutnya sangat indah.
π€£π€£
Hayooo coba tebak Jones lagi lihat apa.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
πLIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
π KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading
__ADS_1