
"Dede .. bangun sayang, udah hampir pagi Sholat subuh yuk, nanti keburu siang lo yank." mencium kening Shafa mesra.
"Umhhh.. Shafa ngantuk Aa." memasukkan tangan ke mulutnya.
"Jadi ngak sholat ya, oke Aa turun dulu ya dede bobok aja lagi." pura pura sambil melepas tangan Shafa dari mulutnya.
"Enghhh ngak Aa Shafa ikut." meregangkan ke dua tangannya ke atas.
"Tapi masih ngantuk yank."
"Ngak lagi." membuka pintu lebih dulu dari Jones, sedangkan sang suami membiarkan saja istrinya keluar sendiri.
"Acsshhhh dingin Aa." Shafa masuk lagi kedalam mobil sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Makanya jangan keluar sendiri, ngak lihat suaminya udah megang hoodie untuk dede." Jones memasangkan hoodie itu pada Shafa.
"Tapi mau cepat Aa, Shafakan ngak tau Aa udah megang hoodie." rajuknya.
"Iya deh ayo kita turun yank.".Jones membuka pintu, dengan sabar Jones lalu membimbing Shafa turun dari dalam mobil mewah hadiah dari Hengky mobil yang di dalamnya sudah di lengkapi tempat tidur dan kamar mandi mini kalau ingin buang air kecil.
"Kita langsung ke musholla sana sayang." tanya Jones karna Shafa masih sibuk memeluk diri sendiri karna kedinginan.
"Dingin banget Aa, kita di mana sih." melihat sekeliling, bola matanya melotot sempurna saat melihat tempat itu.
"Coba ingat di mana yank."
"Ehhh rumah makan mbak Yu ??, kita di xx ya Aa." senyum Shafa bahagia di balik cadarnya.
"Sepertinya, mau sholat dulu atau mau lihat pemandangan yank."
"Sholat dulu." jawabnya sambil menarik tangan Jones agar sang suami berjalan cepat, Shafa sudah tidak sabar melihat pesona alam itu.
Setelah sholat subuh berjamaah Shafa langsung berlari keluar di ikuti Jones berjalan santai di belakang,.
"Wahhh segar banget udaranya hmmm, suasana sama pemandangannya juga masih sama seperti dulu." gumam Shafa tapi masih terdengar oleh orang yang berada di sekitarnya.
"Dinginnya masih sama ngak yank ?." tanya Jones memeluk Shafa dari belakang namun di tolak sang istri karna malu di lihat banyak orang, namun Jones tetap memeluk erat tubuh Shafa.
"Aa malu, segan banyak orang."
"Mana cuma orang orang kita sama pelayan restoran yank ngak ada orang lain di sini." tetap memeluk Shafa.
Shafa melihat sekeliling memang benar hanya ada mereka saja, tapi di pinggir jalan Shafa melihat beberapa pelayanan restoran tengah berdiri di pinggir jalan guna menghalangi mobil masuk kepekararangan restoran.
"Loh kok pengunjung resto di larang masuk Aa, kita pakai restorannya semua ya."
"Iya yank, atas perintah papa, apa boleh buat yank itu termasuk syarat waktu Aa minta izin bawa sayang pulang kampung."
"Hahh buang buang uang saja sih Aa, udah buka aja blocnya, banyak orang yang mau sarapan Aa, tempat ini tempat paforit banyak orang."
"Nanti saja sayang setelah kita pergi dari sini." meletakkan kepalanya di atas bahu Shafa.
Shafa diam, dia tidak bisa marah dan menyalahkan suami serta pengawalnya walau bagai manapun mereka di bawah kendali sang papa, lalu mau bilang apa lagi hanya bisa pasrah.
Shafa memandang panorama pagi nan dingin dari bibir tebing bersama Jones dan di awasi penuh oleh para bodyguard yang tidak jauh dari mereka.
"Indah banget kan yank, lihat danaunya sangat jernih dan alami, pohon pohon yang hijau membuat pernapasan menjadi segar dan terasa nyaman."
"Umhhhh sejuk dan nyaman." menarik napas dalam dalam sembari memejamkan mata.
"Udah yank, ayo kita sarapan." menggandeng tangan Shafa berjalan memasuki restoran.
Sesampai di dalam Jones menarik kursi untuk Shafa dan mempersilahkan Shafa duduk sementara ia sendiri duduk berseberangan di hadapan Shafa di batasi oleh meja di antara mereka.
Tidak berapa lama kemudian pesanan yang sudah Jones pesan sebelum nya pada Niken dan yang lain untuk memasak makanan kesukaan Shafa dan di bantu oleh pemilik restoran serta pelayanan restoran.
"Wahhh makanan kesukaan Shafa, makasih kak." ucap Shafa pada Niken dan yang lain.
__ADS_1
"Sama sama nyonya." senyum Niken.
"Baiklah ayo makan sayang, susunya di habiskan ya, mumpung panas."Jones.
"Iya Aa."
Shafa memakan makanan nya dengan lahap namun santai, Jones menatap Shafa mesra, senyum kebahagian selalu tergambar di wajah tampannya, sekitar sepuluh menit mereka menyelesaikan sarapannya.
"Sayang, kamu ingat ngak dulu pernah melamar seseorang di tempat ini."
"Shafa ?, melamar seseorang ?, siapa ? kapan ?." pertanyaan beruntun dari Shafa yang kebingungan mendengar kata kata Jones.
"Hmmm siapa ya, menurut sayang ?." balik bertanya.
"Kalau Shafa tau ngak nanya." rungut Shafa.
"Coba ingat ingat.."
"Siapa masa Shafa sih."
"Yakin ngak dede ??, Uncle .. udah punya istri ?, papa sudah punya istri mama, Uncle mana ?, Uncle menikah dengan Shafa aja ya ??." senyum Jones menaik turunkan alisnya sembari menirukan suara anak kecil.
"Hahhh ngak ahh mana ada, kapan ?, tanggal berapa bulan berapa tahun berapa dan jam berapa." tanya Shafa asal dan bertubi tubi, ia malu sendiri saat kenangan itu tiba tiba melintas di benaknya.
"Hmmm pura-pura lupa nih." goda Jones.
"Ngak, Shafa ngak bilang gitu mana ada anak kecil melamar orang dewasa."
"Ada .."
"Ngak."
"Ada.. istri kecil Aa."
"Ngak ahhh Aa asal buat cerita." makin malu.
Semua orang yang mendengar percakapan keduanya hanya menunduk dan tersenyum, Andy sendiri saat itu mendengar jelas kata kata lamaran Shafa dan bagai mana reaksi Johan saat itu Andy juga masih mengingat dengan baik.
Hatsyimmm.. Hassyimm..
Jones langsung bangkit dari duduk dan berjalan cepat ke arah Shafa, ia panik karna mendengar suara bersin sang istri, Jones meminumkan air hangat pada Shafa karna dia yakin istrinya pasti kedinginan sampai bersin bersin lagi.
"Ayo minum airnya yangk, kamu pasti kedinginan." suasana dingin pagi itu memang sangat terasa sampai ketulang, Shafa yang sudah kelelahan karna perjalanan yang mereka lakukan tentu anti body nya lemah dan akan sangat mudah di serang penyakit.
Setelah hampir dua jam di sana Jones langsung membawa Shafa ke mobil untuk melanjutkan perjalanan, dia tidak ingin lama lama disana sehingga membuat Shafa makin kedinginan.
Setelah menempuh perjalanan darat sekita dua jam mereka pun sampai di kota xx, dan mereka langsung menuju bandara di mana pesawat pribadi keluarga Wu sudah menunggu di sana.
Menempuh perjalanan satu setengah jam mereka pun sampai di ibu kota, Jones ingin membawa Shafa kembali ke apartemen tapi papa mertua tidak mengizinkan, dengan alasan Janeet mencari cari sang tata sampai deman padahal dia dan Zahra yang sudah sangat rindu pada putri nya itu.
Jones terpaksa mengalah dan mengikuti permintaan Jones agar kembali ke rumah utama, baru sembilan hari tidak bertemu Shafa setelah menikah membuat kedua orang tua merindukan sang putri.
"Selamat datang kembali di rumah kita kesayangan oma, makin cantik tapi kok kurusan hmm." tanya Mommy Wu sembari memutar mutar tubuh Shafa, memeriksa sang cucu.
"Kurus lah oma, tiap malam begadang." jawab Shafa tampa sadar kalau jawabannya akan membuat orang yang mendengar jadi piktor.
"Loh kok begadang kak." goda Maili.
Johan sudah memgepalkan tangan dengan gigi menggerutuk, mata sipitnya menatap Jones tajam lebih tajam dari silet.
Jones sendiri garuk garuk kepala mendengar kata kata polos sang istri yang kapan saja bisa membuatnya celaka dua belas.
"Berkunjung ke rumah famili dan mereka tiap malam begadang, buat api unggun dan bakar bakar ikan sama ayam mami, seru deh, belum lagi ayah ngajak cerita sampe larut malam." jawab Shafa spontan.
Hahhhh Jones menarik napas lega, hampir saja bogem Johan mendarat di wajah tampannya, yang lain pun ahirnya ber ohhh riah.
Setelah berbincang dan makan siang bersama Shafa pamit ke kamarnya di temani sang suami, namun sebelum ke kamar Shafa Johan memberi isyarat agar Jones menemuinya nanti di ruang kerjanya.
__ADS_1
"Dede cape yangk." memeluk dan mencium bibir Shafa lembut dan mesra.
"Umhhh ya Aa."
"Kalau gitu boboklah, nanti Aa bangunin saat waktu ashar tiba." mengelus kepala Shafa.
Hanya beberapa menit Shafa tertidur pulas di pelukan Jones, laki-laki itu kembali mencium bibir Shafa serta seluruh permukaan wajah cantik istrinya itu kemudian pelan pelan ia menarik tangannya yang di jadikan bantal oleh Shafa menggantikan nya dengan bantal betulan, kemudian Jones turun dari atas tempat tidur.
Jones keluar dari kamar ia berjalan menuju ruang kerja Johan, setelah mengetuk pintu Jones masuk tampa di suruh masuk oleh pemilik rumah.
"Bagai mana putri gua." tanya Johan dingin.
"Bagai mana apanya papa mertua, umhhh itu .. yah sudah pasti putri lu ngak perawan lagi." senyum tengil Jones membuat Johan naik darah.
Spontan Johan melemparkan kotak jam mahal yang ada tepat di atas meja di hadapannya, Jones benar benar menantu sialan dan tidak punya sopan santun bagai mana mungkin ia membahas hal itu pada ayah dari istrinya, tentu saja Johan murka.
"Sialan lu, dasar ngak punya otak dan sopan lu ya." wajah Johan memerah tapi membuat Jones takut.
"Loh jadi maksud papa mertua apa, ngomong yang jelas dan biar gua paham, maklumlah kebanyakan liburan otak gua terlalu encer jadinya gua bukannya pintar malah .."
"Diam mulut lu, gua tanya bagai mana kondisi kesehatan putri gua lu jawab yang benar."
"Ohhh itu toh, Alhamdulillah baik papa mertua." senyum senyum, padahal dari awal Jones sudah tau dan mengerti maksud pertanyaan Johan, namun Jones malah menjawab asal karna ingin menggoda mertuanya itu.
"Kapan lu periksa putri gua."
"Dua hari kedepan, setelah istri gua beristirahat dengan baik dan cukup, setelah istri gua juga sudah siap untuk di periksa." wajah Jones langsung berubah muram begitu mendengar pertanyaan Johan.
"Baik, kalau gitu cepat lu periksa putri gua setelah ia siap dan sudah fit."
"Oke." jawab Jones singkat lalu berdiri dari duduknya meninggalkan Johan sendiri di dalam ruangan.
Jones sendiri langsung masuk kamar Shafa yangbkini juga sudah menjadi kamarnya, Jones naik ke atas tempat tidur pelan pelan karna tidak ingin membangunkan Shafa, Jones meraih tubuh Shafa agar kembali masuk kedam pelukannya.
"Aku mencintaimu gils, sampai kapanpun dan sampai maut menjemput ku, aku sangat mencintaimu sayang
semoga tidak seperti yang ada di pikiran ku saat memeriksa mu nanti sayangku." gumam Jones dalam hati, tangan dengan aktif membelai rambut serta wajah Shafa bergantian.
Rasa sayang dan cinta laki-laki itu makin memuncak dan makin besar pada Shafa, apa lagi setelah mereka menikah beberapa hari lalu.
************
Nah tau dong apa jawabnya kuisnya ya kan hehehe yang mengikuti kisah papa Johan dan mama Ara pasti tau jawabannya.
Selamat pada
Whya fajria
Prisilya
Komen di chat aku ya Prisilya say kasih no HP nya dong biar aku kirim pulsanya 🥰🥰.
Maaf lagi ya karna selalu telat Up..
Jangan lupa dukung aku terus ya
LIKE, VOTE, HADIAH DAN RATE SERTA KOMEN YANG MEMBANGUN..
Love u All..
Happy Reading.
.
__ADS_1