UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
72. Sangat Rindu.


__ADS_3

Johan menarik tirai pembatas antara meja konsultasi dengan tempat tidur pemeriksaan, ia ingin melihat kondisi putrinya setelah kepergian Jones dari tempat itu.


Laki-laki itu terkejut saat membuka tirai, Shafa sudah duduk di atas tempat tidur itu dengan posisi kaki berselonjor ke depan, air mata gadis itu mengalir dalam diam.


"Sayang papa." panggil Johan.


"Papa.. Papa." tangis Shafa, menyambut pelukan sang papa, yang kemudian di susul mamanya.


Ternyata saat Jones berbicara pada papa dan mamanya Shafa sudah sadar, namun ia diam saja dan tetap memejamkan matanya karna kepalanya masih terasa pusing.


Hatinya ikut hancur mendengar semua kata kata yang di ucapkan oleh Jones, laki-laki itu mengira Shafa mendatanginya karna ingin menolaknya dia tidak tau justru sebaliknya.


Shafa terluka, dia juga beranggapan kalau laki-laki itu tidak benar benar menginginkannya karna itu dia tetap diam menyimak dan mendengar setiap kata kata yang keluar dari mulut Jones, meski kata kata laki-laki itu sempat membuat Shafa gamang.


"Kakak dengar semuanya." tanya Johan.


"Henghhhh.. iya papa huaaa." menagis pilu.


"Kakak sayang sama dokter Jones ?." Zahra.


"Mama.. mama huaaa." menjawab dengan tangis gadis itu hanya dapat memeluk mamanya erat, dia tidak tau percis bagai mana hatinya tapi yang ia rasakan adalah rasa sakit yang dalam saat mendengar Jones meminta papanya menikahkan dia dengan orang lain.


"Papa.." sesegukan.


"Iya sayang, katakan." membelai kepala sang


putri penuh kasih sayang.


"Shafa ngak mau papa, Shafa ngak mau menikah." tangisnya kencang.


"Jangan bilang begitu sayang, kakak akan papa nikahkan dengan laki-laki yang baik dan sayang sama kakak, papa berjanji."


"Tapi papa." tetap menangis.


"Percaya pada papa sayang, di dunia ini dia bukan satu satunya laki-laki, pasti akan papa temukan laki-laki yang sayang dan cinta pada kakak."


"Kakak, kakak menolak dokter Jones ?, kakak minta di antar menemui dokter Jones untuk mengatakan itu ?, dan hasil istiqarah kakak bukan dokter Jones ?." tanya Zahra bertubi tubi.


Shafa diam, dia tidak menjawab kata kata mamanya dia hanya menggeleng geleng, dia masih menangis sesegukan di pelukan Zahra, Johan yang tidak tega melihat putrinya itu bersedih ikut memeluknya lagi.


Johan memeluk keduanya secara bersamaan, ia memeluk istri dan putrinya itu, tangan Johan mengepal kuat, rahangnya mengeras dia merasa tersinggung dan sakit hati pada sahabatnya itu Meski Jones sudah mengatakan alasannya tapi harusnya Shafa tidak mendengarnya.


"Dokter Jones sayang dan cinta pada kakak kok nak, dia pasti salah paham." Zahra mencoba menenangkan Shafa.


"Tidak mama, Uncle tidak benar benar sayang Shafa, Uncle tidak mau sama Shafa karna Shafa belum dewasa." Jawab Shafa makin sesegukan.


"Sudah sayang, papakan sudah bilang tadi dia bukan satu satunya laki-laki di dunia ini, pasti akan ada laki-laki yang lain yang akan sayang dan cinta pada kakak dengan tulis." Johan.


"Shafa ngak mau menikah papa."


"Kakak akan menikah, Kalau kakak tidak menikah penyakit kakak jadi taruhannya, kakak harus patuh pada papa hmmm." Johan mengelus kepala Shafa berusaha menenangkan dan meyakinkan


putrinya itu.


Shafa diam, Zahra melonggarkan pelukannya dan menatap Johan tajam, laki-laki itu mengangguk dan mengisyaratkan agar Zahra menenangkan putri kesayangan mereka itu.


" Gua akan membalas lu Jones, gua akan membuat lu menderita, lu sudah berani melukai hati putri gua, gua akan membuat lu menangis darah nanti menyesali perbuatan lu." geram Johan bibirnya menyunggingkan senyum sinis.


Di tempat lain.


Jones sudah sampai di apartemen mewah miliknya dia pulang di antarkan oleh Robby, laki-laki itu diam terus sejak pulang dari rumah sakit sampai ke dalam apartemennya.


Robby membiarkan Jones diam, dia tau sahabatnya itu mengambil keputusan yang sangat menyiksa dirinya sendiri, dia tau sahabatnya itu melakukannya demi kesehatan dan keselamatan Shafa, dia bahkan terlalu mencintai Shafa sampai melupakan kesehatannya sendiri.


"Lu terlalu munapik Jones, lu ingin nona sembuh dan sehat, lu sendiri tidak memperhatikan kesehatan lu." marah Robby.


Ia memperhatikan gerak gerik Jones di atas kursi rodannya, laki-laki itu tetap duduk diam namun tangannyan terus saja menekan dan meremas sandaran tangan kursi roda, air mata Jones sudah tidak terlihat lagi, tapi mata itu memancarkan keputus asaan yang dalam.


"Lagian lu yakin nona menolak lu apa lu sudah mengatakan perasaan lu secara langsung kemudian nona menolaknya ?."


Jones diam.

__ADS_1


"Lu ngak punya mulut lagi hahh, lu ngak anggap gua sama sekali." ucap Robby menahan amarahnya.


"Tinggalkan gua sendiri."


"Lu akan bunuh diri kalau gua pergi ?."


"Jangan urusin hidup gua."


" Lu munapik dan bego, baru kali ini gua bertemu manusia paling bego sedunia." melemparkan bantal kursi pada Jones.


"Pergi." marah Jones.


"Tidak, gua akan tetap di sini, gua akan melihat dengan mata kepala gua sendiri bagai mana kehancuran lu karna kebodohan lu."


"Pergi .. gua bilang pergi ini apartemen gua."


"Gua tidak perduli."


"Gua mohon pergilah, gua butuh waktu sendiri." bicara pelan dan menunduk.


"Lu sendirian kok, gua tidak ada di sini, anggap saja begitu." berbicara pelan ia menatap iba Jones, kemudian ia berjalan ke sopa besar di dalam ruang tamu mewah itu, Robby merebahkan tubuh lelah nya di sana.


Robby sengaja menemani laki-laki itu di sana karna takut Jones silap dan berbuat nekat, dia di sana juga atas perintah Johan yang juga mengkhawatirkan keadaan Jones.


Lima hari kemudian.


Jones meminta asisten pribadinya menemani ke taman kompleks perumahan mewah milik Johan, hari itu merupakan hari minggu yang cerah


dan hangat, ia mengatakan pada sang asisten kalau ia ingin jalan jalan pagi sambil berjemur.


Sang asisten mengerti maksud dan tujuan yang sebenarnya, apa lagi kalau bukan ingin melihat Shafa, kalau hanya berjalan pagi mengapa harus ke kompleks perumahan tempat tinggal gadis itu, ke taman kotakan bisa.


Apa lagi jarak antara rumah besar dengan apartemen Jones cukup jauh, jadi siapa saja pasti bisa menebak maksud laki-laki itu.


Jones sangat merindukan Shafa meski ia merasa sakit hati akan penolakan Shafa tapi rasa sayang di cintanya pada gadis itu sungguh tidak bisa ia hilangkan bahkan cintanya benar benar mempropokasi hidupnya.


Jones duduk di kursi rodanya, ia duduk di bawah pohon mahoni di temani sang asisten, mata biru laki laki itu yang tertutup kaca mata hitam memandang sekeliling taman mencari cari seseorang yang ia rindukan.


Dia sudah sengaja duduk di sana agar tidak begitu terlihat oleh orang yang lalu lalang, di tempat ia duduk sedikit tersembunyi karna masih ada tanaman beberapa bunga di depan pohon itu sehingga orang lain yang ada di bawah pohon tidak akan terlihat langsung kalau tidak di perhatikan.


Jones menarik napas dalam dalam, ia membuka masker dan kaca matanya karna ingin minum air mineral yang ia bawa dari apartemen.


"Kakak..kak Ones..." Janeet berlari kencang ke arah laki-laki itu, di susul seseorang yang ikut berlari mengikuti gadis kecil itu dari belakang.


"Meimei jangan lari nanti jatuh."


Deg..


Byurrr.. air yang sudah masuk kedalam mulut Jones melompat keluar karna Janeet yang langsung naik ke atas pangkuannya.


"Kak Ones, Annett tangen ( kangen )." membelai wajah Jones yang sudah gundul dan bersih.


Wajah laki-laki itu memerah, menahan rasa sakit di tenggorokannya di tambah rasa malu canggung melihat kehadiran Shafa, Zahra bahkan Johan.


Mata Johan menatap Jones penuh selidik, namun Jones pura pura tidak melihat kehadiran mereka di sana, sementara Johan sendiri sudah tidak tahan ingin tertawa karna melihat wajah culun Jones yang seperti wajah anak tertangkap basah mencuri uang bapaknya.


"Mampus lu, lu kira gua tidak tau lu di sini menunggu putri gua lewat, gua sengaja bawa putri gua lewat di sini, dan gua yang menunjukkan keberadaan lu pada Janeet biar lu ketauan." tawa Johan dalam hati.


"Uncle.." gumam Shafa.


"Gils.. aku sangat merindukanmu, baru lima hari aku sudah rindu berat gimana kalau kamu menikah dengan orang lain, dan membawa kamu pergi aku benar benar akan gila dan pasti gila." gumam Jones memperhatikan mata Shafa.


"Hemmm ngapain lu di sini." tegur Johan.


"Enghhh itu anu .. gua sedang berjemur." jawabnya tampa pikir panjang.


"What.. berjemur ? di bawah pohon ?." ejek Johan, Zahra, Shafa dan asisten Jones sama sama menahan tawa.


Jones sendiri celingak celinguk melihat ke sisi kiri kanan tempat itu, tidak ada cayaha masuk ke bawah pohon itu cahaya matahari untuk ia berjemur di sana.


"Enghhh itu .." Jones menggaruk garuk

__ADS_1


kepalanya.


"Hai dek.. abang cariin ternyata di sini." teriak seseorang dari jauh.


"Bang Arkhan ??."


"Assalamualaikum wrwb, tante, Om apa kabar ?." sapa laki-laki muda nan tampan rupawan itu mengulurkan tangan menyalam Zahra dan Johan.


"Waalaikumsalam wrwb, sudah sampai Arkhan ?, kok langsung ke mari." Zahra.


"Sudah tante barusan, habisnya udah kangen sama dek Shafa, kamu ya dek abang datang bukannya di tunggu in malah di tinggal pergi." mengomel pada Shafa.


"Maaf bang Shafa pikir abang masih lama sampainya coba abang telepon Shafa tadi pasti Shafa sambut, sambut dengan tari tarian, tapi yang nari adek Twins hehehe."


"Ahhh kalau adek twins yang nari ngak seru lah, sudah ngak usah sambut dengan tarian peyuk aja ayo cepat." merentangkan kedua tangannya dan bersiap memeluk Shafa.


"Abang.. jangan.." teriak Shafa.


" Ishhh pelit."


"Abang bau, bau ikan asin, bau asam, bau blacan bau bunga kantil." omel Shafa menutup hidungnya.


"Ishhh mana bau, abang baru mandi pun sebelum kemari, adek ngak kira kira ya, bukannya abang di peluk malah di bilang bau, sekalian aja adek bilang abang bau .. bau bunga bangkai biar puas." menatap Shafa penuh arti.


Duar.. duar.. duar...


Mungkin hanya Johan yang sadar dan melihat bara api di mata Jones yang menyala dan Johan menatap sinis laki-laki itu.


"Lu pasti akan sanagt menyesal Jones." gumamnya.


"Abang memang bau wekk." mengibaskan tangannya dan berjalan mendahului papa dan mamanya.


"Dek.. kemana ?." Arkhan.


"Urus.."


"Hemmm berani berani kamu ganggu anak gua di depan hidung gua." hardik Johan.


"Melarikan Shafa saja aku berani di depan om apalah lagi mengganggunya." jawab Arkhan tertawa riang , ia lalu berlari kecil mengejar Shafa yang jantungnya dag dig dug sehabis ketemu Jones.


"Owhhh bagus, lu ngak usah larikan putri gua lu bawa saja baik baik gua izinkan tapi setelah sah." setengah berteriak.


"Siap om, aku akan menghalalkan Shafa segera." balas berteriak menjajarkan langkahnya di sisi Shafa yang tampak marah padanya.


Wajah Jones kembali memerah, menahan marah cemburu dan rasa sakit, namun ia masih dapat mengendalikan diri.


"Kak Ones, tata ngak mau sama kak ones ya ? Annett mau sama kak Ones, mau main." ucap Janeet bermanja manja.


"Emhhhh ya ya.. ayo kita main." jawab Jones dengan suara berat.


Saingan saingan..


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’ KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2