UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
86.Sang Pemilik Hati.


__ADS_3

Jones pulang ke apartemen dengan keadaan gelisah, ia sedikit kecewa pada kedua calon mertuanya itu terutama Johan, ia benar benar merasa kalau mereka terpaksa menikahkan


Shafa dengan dirinya.


"Kenapa sih lu, dari tadi ngak mau diam kayak cacing melewati aspal jalan raya." omel Robby yang risih merasakan pergerakan Jones yang berlebihan di sampingnya.


"Menurut lu, mereka ngak iklas melepas Shafa


ke gua, sebegitu kwatirnya mereka."


"Bro.. bukan ngak iklas, tapi kewajiban mereka menginginkan lu, terutama bos menurut gua dia sebenarnya bukan ngak percaya pada lu tapi karna nyokap lu yang terlihat tidak suka pada nona, hal itu lah yang membuat bos kwatir, lu harus maklum itu, namanya mereka orang tuanya kalau gua di posisi bos mungkin gua juga akan melakukan hal yang sama."


"Iya gua tau itu, tapi gua merasa ngak enak, apa lagi gua dengar gua bukan prioritas masih ada calon dua orang lagi." menghela napas.


"Bego lu ya, sebelumnya juga ada calon lain, lu malah ngak di anggap waktu itu, sekarang nona sendiri yang memilih lu melalui petunjuk yang ia dapat harusnya lu senang dong, lu mengalahkan pilihan keluarganya."


"Iya gua senang kok, tapi menurut lu Shafa benar-benar tidak punya perasaan ke gua ?."


"Jones mau lu apa sih, pernikahan lu tinggal beberapa hari lagi loh, kan bos besar dan nyonya sudah bilang tadi silahkan perjuangkan cinta nona , sekarang tinggal buat nona suka dan cinta sama lu, lu kan tau nona belum pernah dekat sama laki-laki mana tau nona perasaannya ke lu."


Jones terdiam, hingga mereka sampai ke apartemen mewah milik laki-laki itu, di benaknya muncul berbagai pertanyaan dan hanya dirinya sendiri yang bisa jawab.


Robby mengantar Jones hanya sampe parkiran apartemennya, karna sang asisten pulang lebih dulu sebab tukang renovasi datang ke apartemen Jones untuk merenovasi beberapa bagian apartemen, sebab Jones akan langsung membawa Shafa ke apartemen setelah mereka menikah nanti.


Setelah melakukan sholat magrib Jones lalu menghubungi sang pemilik hati, setelah tiga kali panggilan baru lah sambungan telepon di angkat oleh Shafa.


"Assalamualaikum wrwb."


"Waalaikumsalam wrwb."


"Udah Sholat sayang." Jones.


"Udah Uncle, baru saja."


"Kenapa sayang, kok suaranya gitu, kamu sakit ya ? tadi aku tinggalkan baik baik saja." tanya Jones cemas mendengar suara sangau Shafa.


"Ngak Uncle, karna baru bangun menjelang magrib mungkin."


"Betul ?? jangan sungkan sayang kalau sakit bilang sakit ya, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi loh jangan sampe sayang ku sakit dong."


"Iya Uncle, Shafa ngak apa apa."


"Syukur lah, o iya sayang kamu ngak nyesel kan akan menikah dengan ku." tanya Jones tiba tiba yang ahirnya menutup mulutnya.


"Uncle kok nanya gitu ?, atau Uncle yang ragu ??." balik bertanya dengan suara dingin.


"Ehhh ngak sayang ngak, aku cuma mau memastikan saja, ehh salah mau tanya saja." jawabnya cemas.


Sejenak mereka sama sama diam.


"Sayang, jangan marah ya cuma nanya saja kok." ucap Jones terbata bata.


"Ngak marah kok Uncle kenapa marah, Shafa tidak menyesal sudah mengambil keputusan menikah dengan Uncle, tapi kalau Uncle yang ragu dan menyesal ngak apa apa kita batalkan saja, masih ada waktu kok."


"Tidak.. tidak.. tidak sayang aku tidak.."


Tut.. sambungan telepon terputus, Jones langsung kalang kabut, dia memaki dirinya sendiri mengapa harus bertanya seperti itu, padahal gadis lugu seperti Shafa kalau sudah mengambil keputusan maka akan di pertahankannya.


"Sayang angkat telepon ku, angkat Sayang, jangan marah ku mohon, aku ngak berniat begitu sayang." bicara sendiri sambil mondar mandir menatap layar handphonenya.


"Sayang ku, jangan marah yangk." kaki Jones yang masih terasa sakit sesekali saat berjalan langsung lemas, ia terus saja merutuki kebodohannya.

__ADS_1


"Cinta ku, angkat telepon ku sayang ku." mengirimkan pesan.


"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu yangk, aku sangat mencintaimu aku hanya menginginkan kamu menjadi istri ku dunia dan akhirat."


"Maafkan aku sayang."


"Aku mencintaimu yangk."


"Aku sangat mencintaimu, hidupku akan sulit tanpamu sayang, jangan marah ya."


"Tolong jawab pesan ku, atau angkat telepon ku sayang." begitu banyak pesan yang di kirimkan oleh laki-laki itu tak satupun yang di balas bahkan di baca pun tidak.


Jones menunggu sekian lama, bahkan entah sudah berapa kali laki-laki itu menghubungi lewat panggilan telepon tapi tetap tidak di angkat.


Jones semakin gelisah, waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, saat Jones merasa tidak kuat lagi menanggung perasaan takut dan cemasnya, ahirnya laki-laki itu berjalan keluar kamar tergesa gesa lalu ia menyambar kunci kontak mobilnya yang di simpan oleh Reza si asisten di meja dekat pintu kamar Jones.


Laki-laki itu berjalan cepat keluar apartemen tampa memberitahukan Reza kalau ia sedang keluar atau pergi.


Jones menginjak gas mobil dengan sedikit kuat ,dengan kecepatan di atas rata rata ia menyetir menuju rumah besar.


Sesampainya di rumah besar Jones memarkirkan mobilnya sembarangan membuat para pengawal bingung dengan sikap laki-laki itu tapi mereka hanya diam saja, namun tetap mengikuti Jones dari belakang karna takut terjadi sesuatu di dalam rumah sebab sikap Jones yang buru buru.


"Kenapa lu." tanya Daddy wu melihat Jones


masuk rumah dengan kecepatan tinggi.


"Opa .. Shafa mana ?."


"Di kamarnya, kenapa ?." Daddy Wu.


"Dari tadi aku telepon tidak di angkat." sedikit berlari menaiki tangga menuju lantai atas.


"Woi.. lu jangan naik, lu belum resmi." teriak


Jones tidak menjawab tapi ia terus melangkah menaiki anak tangga hingga sampai ke atas, Johan dan Zahra keluar dari kamar karna mendengar suara ribut Daddy Wu memanggil manggil nama Jones.


"Kenapa Lu ??." hardik Johan menagkap kerah baju Jones, Johan berdiri tepat di depan pintu kamar putrinya itu.


"Shafa ngak angkat telepon gua dari tadi, gua takut ada apa apa dengannya." jawabnya berusaha mendorong tubuh Johan agar menyingkir dari depan pintu.


"Shafa ngak apa apa kok, tadi masih Sholat magrib." kata kata Zahra terhenti ia baru sadar putrinya itu tadi tidak keluar makan malam karna katanya ingin makan di kamar saja sebab sedang mengerjakan tugas.


Zahra masuk kedalam kamar, di ikuti Johan dan tidak ketinggalan Jones juga, mereka bertiga seperti berlomba memasuki kamar itu untuk menemui Shafa.


"Ya Allah kak Shafa, kamu kenapa nak." teriak Zahra panik, di susul Johan dan Jones yang juga ikut berteriak memanggil gadis itu dengan panggilan masing masing.


Shafa tergeletak di atas lantai dengan posisi masih memakai mukena dan tidak sadarkan diri, wajahnya tampak pucat.


Secepat kilat Jones melewati calon papa mertuanya, dengan sigap Jones mengangkat tubuh lemah itu ke atas tempat tidur, Jones yang panik tidak tau harus berbuat apa, dia terus saja memanggil manggil nama sang gadis.


"Sayang kamu kenapa, kok bisa pingsan begini." panggil Jones menepuk nepuk pelan wajah Shafa.


"Ya Allah, Shafa deman tubuhnya sangat panas." ucap Zahra berusaha melepaskan


mukena Shafa.


"Panggil dokter cepat." titah Johan pada maid yang ikut masuk bersama Mommy dan Daddy Wu.


"Gua di sini, gua juga dokter." Jones.


"Lu sudah hampir gila bagai mana lu mau memeriksa dan mengobati putri gua." marah Johan.

__ADS_1


"Sudah jangan ribut, Shafa cuma deman, ambil kompres saja dulu." ucap Zahra.


Jones tidak bergerak dari sisi Shafa, ia terus saja menggenggam tangan kecil calon istrinya itu, Jones duduk di pinggir tempat tidur, wajahnya tidak kalah pucat dengan gadisnya.


Maid datang membawa baskom berisi air beserta waslapnya, Jones lalu mengambil baskom itu dan langsung mengompres Shafa, tidak berapa lama kemudian dokter datang memeriksa Shafa.


"Nona hanya kecapean tuan, nona cuma butuh istirahat dan banyak minum air putih karna nona juga sepertinya dehidrasi." ucap dokter wanita itu, kemudian ia menuliskan resep.


Jones masih saja setia duduk di sisi gadisnya, ia sama sekali tidak melihat kehadiran dokter itu karna sedari tadi ia sibuk dengan pikiran nya meski dokter itu menyapanya, namun dia tidak perduli, genggam tangannya juga tidak ia lepaskan dari gadisnya.


Setelah selesai memeriksa kondisi Shafa dokter itu permisi pulang, kini hanya tinggal Johan dan Jones serta tiga bodyguardnya di kamar itu.


"Lu pulang saja, ngak bagus lu di sini kalian


belum resmi." Johan.


"Please jangan usir gua, biarkan gua di sini,


kalau pulang jantung gua ngak bisa di


kendalikan." mohon Jones.


"Ya sudah, lu tetap di sini dan mereka akan mengawasi Shafa, tapi lu jangan dekati putri gua lu di sana saja di sopa, biar kakak kakaknya


yang menjaga." menunjuk Niken dan yang lain yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Shafa.


"Please gua di sini saja, gua tidak akan macam macam gua janji." Jones.


Johan menarik napas dalam dalam, dia mengerti dan tau betul bagai mana perasaan calon menantunya itu, karna dia juga pernah merasakan bagai mana cemas dan takutnya ia saat orang yang ia cintai dalam keadaan sakit.


"Ya sudah, kalau ada apa apa lu panggil gua nanti, ingat jaga putri gua dan jaga fitrahnya jangan sampai lu macam macam."


"Gua ngak mungkin macam macam, emang gua berani yang ada gua bisa di ceramahi sampe tahun depan." ucap Jones tampa menoleh pada Johan sama sekali.


Johan pergi, ia memerintahkan Niken dan yang lain untuk terus berjaga, karna hari juga sudah larut, sementara Jones masih sibuk menganti kompres Shafa.


Panas badan gadis itu berangsur turun, namun ia belum juga bangun, napas nya yang teratur dan tenang menandakan ia kini tengah tertidur pulas, Jones membelai sayang rambut panjang gadis nya itu kemudian pelan pelan ia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai beralaskan karpet tebal.


Tubuh Jones menempel pada sisi tempat tidur, sementara kedua tangannya menggenggam tangan kanan Shafa, lalu Jones meletakkan kepalanya di atas tempat tidur Shafa, tidak


berapa lama kemudian ia pun tertidur dengan posisi duduk.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2