
"Aa ngak kerja ?." tanya Shafa bingung melihat suaminya tidak bergerak dari tempat tidur.
"Ngak yank, Aa malas hehehe."
"Malas ?, kok bisa ?."
"Aa mau di rumah seharian bersama istri Aa, mau pelukan seharian yank."
"Kita sering pelukan seharian, masih kurang ?."
"Sangat kurang yank."
"Tapi Shafa mau belajar."
"Terus .."
"Nanti Aa ganggu Shafa."
"Ngak dong yank, cuma Aa garai saja." menaik turunkan alisnya.
"Sama saja Aa, sama sama merusuh kan menggangu juga namanya." cucutnya.
"Serupa tapi tak sama yank." kekeh Jones.
Ishhh...
Jones memeluk tubuh sang istri mesra, mencium berkali kali seluruh wajah cantik istrinya, cinta yang semakin besar di hati Jones membuat ia setiap hari semakin bucin.
Sebenarnya pagi itu Jones merasa kurang fit karna muntah terus sejak malam tapi Shafa tidak tau karna tidurnya terlalu lelap dan Jones juga sengaja keluar kamar agar sang istri tidak mendengar suara muntahnya dan agar istri tidak kwatir tentunya.
"Aa.. Shafa lapar." mengusap usap hidung mancung Jones.
"Kita pesan aja ya yank, dede mau apa hmm." mengecup bibir pink Shafa.
"Ngak mau, Shafa mau Aa masakin, Shafa pengen ayam pedas manis, rujak jambu sama jus mangga." renggeknya.
"Ya ampun yank, jangan makan rujak pagi pagi dong nanti sakit perut, yang lain aja ya biar Aa masakin."
"Ngak mau, Shafa mau makan itu pokoknya titik sebesar itik." melepaskan pelukannya dari Jones.
"Sayang, yang lain aja ya hmm."
"Ngak.." membalikkan badan membelakangi suaminya yang mulai ketakutan.
"Ya .. ya Aa buat kan jangan marah dong my angel ." bujuk Jones membalikkan tubuh Shafa agar berhadapan dengannya.
"Aa .. Shafa mau rujak."
"Iya sayang Aa buatkan, dede tunggu di sini dulu ya, sambil belajar hmm."
"Oke.."
Jones mengecup kening dan kening Shafa kemudian turun dari atas tempat tidur dengan kondisi tubuh lemah, bukan tampa alasan Jones meminta Shafa tetap di kamar dia hanya tidak ingin istri tau kondisi tubuhnya yang lemah dan muntah yang berulang kali.
Shafa mematuhi permintaan Jones dia duduk manis di atas tempat tidur sambil memangku buku pelajaran, sedangkan suaminya berusaha kuat agar bisa memasak keinginan Shafa sampai selesai.
__ADS_1
"Tuan.. ada lagi yang bisa kami bantu." Lila.
"Tidak ini sudah hampir selesai, bagai mana persiapan nanti malam ?." Jones tetap pokus dengan potongan buah.
"Sudah aman tuan." Niken.
"Ya sudah, terimakasih kalian boleh pergi, nanti kalau saya perlu saya hubungi."
"Baik tuan." ketiganya pun berlalu meninggalkan Jones seorang diri di dapur mewah miliknya itu.
Sesekali Jones harus berlari menuju wastapel untuk mengeluarkan isi perutnya yang sudah hampir habis dan hanya di isi susu ibu hamil yang sengaja ia beli diam diam untuk sang istri, tapi malah dia juga ikutan minum.
"Sayang, dede makan nasi dulu ya pake ayam pedas manisnya nanti baru makan buah oke." meletakkan nasi dan lainnya di atas meja, setelah itu ia meraih tubuh Shafa langsung menggendongnya menuju sopa.
"Shafa suap sendiri aja Aa, Aa makan aja." menelan ludah melihat makanya yang tersaji do depan matanya.
"Aa ngak lapar sayang, dede makan aja lebih dulu ya." ucapnya menahan mual.
"Ngak mau, Aa makan juga."
"Ya udah dede makan duluan aja, Aa ambil susu dulu." ucapnya dan langsung berdiri kemudian berjalan setengah berlari menuju pintu kamar.
Shafa awalnya bingung tapi karna makanan sudah sangat menggugah seleranya dia tidak curiga sama sekali apa yang terjadi pada sang suami.
Setelah makan bersama Shafa kembali menyibukkan diri dengan buku bukunya sementara Jones pamit ke dapur mengantarkan piring kotor mereka.
Sesampai di dapur Jones langsung berjalan cepat menuju wastapel dan kembali memuntahkan isi perutnya.
Jones duduk lemas di atas lantai bersandar di dinding dapur dengan kaki menjulur kedepan, napasnya tampak sesak, wajah memucat, setelah sepuluh minggu kehamilan Shafa setiap hari dia mengalami morning sickness yang seharusnya di alami oleh wanita hamil pada umumnya.
Setelah memulihkan tenaga Jones lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mereka, laki-laki itu naik ke atas tempat tidur dan langsung merebahkan kepalanya di atas pangkuan Shafa.
Shafa yang baru saja berniat menyusul Jones karna binggung di tinggal dalam waktu cukup lama jadi kebingungan akibat ulah sang suami yang tiba tiba ingin bermanja.
"Aa kenapa ?." suara berat dan cemas.
"Ngak apa apa sayang."
"Kenapa pucat." suara berat.
"Ngak apa apa istri Aa, cuma aga pusing aja kok yank, dede pijitin kepala Aa dikit ya." pintanya.
"Enghhhh.. Aa beneran ngak apa apa ?." mulai menangis tapi kedua tangannya berada di dari dan kepala Jones.
" Ngak apa apa sayang Aa, jangan nangis dong, Aa ngak apa apa kok."
"Tapi Aa pucat ?."
"Kulit Aa kan memang aga pucat yank, udah biasa kok, jangan khawatir istri Aa." senyumnya meraih tangan kanan Shafa lalu membawanya ke bibir **** dan tebal miliknya.
Cup..cup..
"Jangan kwatir, Aa ngak apa apa."
"Enghhhh.. beneran A.."
__ADS_1
"Iya sayang, bobok bentar juga baikan kok."
"Ya udah ayo bobok Aa."
"Ya .. Aa bobok di sini bentar ya." menunjuk paha sang istri.
"Ya Aa." kembali memijit kepala Jones.
Wanita itu masih takut dan cemas melihat sang suami yang tidak biasanya bersikap begitu, Jones makin mengantuk akibat pijitan tangan kecil dan lembut milik sang istri.
Meski pijitan tangan Shafa hampir tidak terasa di kepalanya karna kurang tenaga tapi cukup membuat kepala Jones jadi ringan.
Tepat jam satu siang kedua insan itu terjaga dari tidurnya, keduanya segera bergegas menuju kamar mandi untuk membasuh diri dan mengambil wudhu.
Setelah sholat djuhur berjamaah keduanya keluar apartemen Shafa ingin ke mall membeli sesuatu yang di rahasiakan Shafa, meski Jones bertanya berulang kali tapi Shafa tetap tidak mau mengatakan apa yang ingin ia beli.
Para bodyguar sudah menunggu di pintu luar apartemen, setelah majikan mereka keluar mereka pun berjalan mendampingi keduanya.
Awalnya Jones mengira kalau dia akan ikut menemani sang istri berbelanja kebutuhannya tapi ternyata dia malah di tinggal sendiri di mobil, Shafa ngotot tidak ingin di temani oleh Jones tampa alasan.
"Ahhh kalau gua tidak boleh ikut kedalam ngapain gua ikut kemari coba." kesal Jones kebingungan karna di tinggal pergi sang istri.
Laki-laki itu meraih benda pipih mahal dan mewah yang biasa ia gunakan dari kantong celananya, kemudian ia mencari kontak yang ingin ia hubungi.
"Assalamualaikum wrwb, di mana lu ?."
"Waalaikumsalam......." seseorang.
"Cepat kemari gua butuh lu berdua."
".........."
"Gua ngak mau tau, datang sekarang, atau anak anak gua bisa lahir ngences nanti kalau ngak di turutin." ancamnya, lalu mematikan panggilan.
*********
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🪴 LIKE
🪴 RATE
🪴 VOTE
🪴 HADIAH yang banyak
🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1