UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
84. Stres bin Error.


__ADS_3

"Ehh kak Jones, wahh kedatangan yang lagi viral nih." sapa seorang wanita cantik.


Wanita itu tadinya ingin keluar dari dalam puskesmas, saat ingin pergi ia mengurungkan niatnya karena melihat kehadiran Jones dengan seorang wanit bercadar, Jones menggandeng tangan gadis itu mesra.


"Kirana ya ?, ehh kamu kerja di sini?." tanya Jones yang tidak kalah terkejut melihat wanita yang dulu pernah mengungkapkan cinta padanya.


"Iya kak, apa kabar ?." mengulurkan tangan.


"Kabar baik." mengatupkan kedua tangan di depan dada seperti yang biasa Shafa lakukan kalau ada laki-laki yang ingin berjabat tangan dengannya.


Kirana bingung dengan sikap Jones yang tiba tiba membalas salamnya dengan cara lain, namun kebingungannya langsung sirnah saat melihat sosok wanita yang berada di sisi Jones.


"Syukur deh, mau apa kemari kak ?, ada yang perlu kirana bantu ?." tanya wanita itu ramah.


"Kami mau bimbingan catin, sekaligus ambil surat keterangan berbadan sehat." menggenggam tangan Shafa mesra.


"Oh itu ya kak, mari saya antar ke ruangan Kia, tadi kami di hubungi oleh pihak Kua XX ada yang mau bimbingan, apa kakak yang di maksud mereka." tanyanya lagi sambil berjalan pelan mendahului Jones dan Shafa.


"Kurang tau, karna kami tidak minta di hubungkan kemari." jawab Jones apa adanya.


"Ibu Mida ini dokter Jones yang di hubungi oleh Kua tadi." ucap dokter Kirana memperkenalkan Jones pada seorang wanita paruh baya.


"O iya dokter Kirana, dokter Jones apa kabar." mengulurkan tangan pada Jones dan di sambut sama dengan Kirana oleh Jones, ahirnya wanita paruh baya itu menyalami Shafa saja.


"Ibu Mida kenalkan Shafa calon nyonya saya." ucap Jones memperkenalkan Shafa pada wanita itu, Jones menatap mesra gadisnya.


Hatinya terasa sakit karna sedari tadi Kirana hanya memperkenalkan dirinya saja bahkan Kirana tidak mau menyambut uluran tangan Shafa, membuat ia ahirnya bersikap dingin


pada wanita itu.


"Assalamualaikum wrwb saya Shafa bu."


senyum Shafa di balik cadarnya.


"Bu Mida dek, mari duduk di sini dokter, dek Shafa." mempersilahkan Jones dan Shafa duduk di dua buah kursi stenles, lalu wanita itu duduk saling berhadapan dengan keduanya.


"Terimakasih bu." Jones menarik salah satu kursi untuk gadisnya lalu mempersilahkan gadis itu duduk di tempat yang ia sediakan.


"Sepertinya ngak usah bayak cerita dan penjelasan bimbingan ya dokter kan dokter sudah lebih tau, secara dokter atasan langsung kami bagian kebidana, dokter obgin kok." senyum wanita itu.


"Tidak apa apa bu ikuti saja prosedurnya." Jones.


"Baik pak." ibu Mida.


Setelah proses bimbingan dan tanya jawab giliran Shafa yang gemetaran, karna bidan senior itu mengatakan calon pengantin wanita harus di imunisasi.


"Dek Shafa, seperti yang sudah di jelaskan tadi dalam bimbingan ini dek Shafa harus di injeksi vaksin Tetanus toksoid satu, dalam kehamilan nanti akan menjadi imunisasi dua dan tiga, begitupun selanjutnya pada kehamilan berikutnya." jelas bu Mida.


"Injeksi ??, Shafa di suntik ??." tanya Shafa dengan mata melotot ketakutan.


"Iya di suntik Tetanus toksoid satu." bu Mida.


"Hahhh boleh ngak suntik ya, Shafa takut." memelas.


"Ya ngak bisa dong dek, setiap catin memang harus di suntik." senyum bu Mida.


Mata Kirana memperhatikan gerak gerik Shafa yang tampak sangat ketakutan, tampa sadar tangan Shafa menarik narik lengan baju Jones.


"Tidak apa apa sayang, jarumnya kecil kok."


bujuk Jones.


"Shafa takut Uncle, jangan suntik ya." meminta pertolongan pada Jones, matanya tampak menyipit.


"Ngak apa apa sayang, jangan takut, ada aku di sini ibu Mida tidak akan menyuntikannya dalam, iya kan bu." menatap bu ida memberi kode.


"Iya dek, mana mungkin di suntik dalam dalam." senyum wanita paruh baya itu.


"Tapi Shafa takut Uncle, ngak usah ya." memohon dengan mata memicing.


"Ingat kata ibu Mida tadi, ini imunisasi pertama lo sayang masa langsung loncat imunisasi ke dua nanti kalau sayang hamil." membujuk.


Shafa diam, dia berpikir keras apa yang di sampaikan oleh bu Mida memang benar, dan sebenarnya dia juga tau hal itu karna sudah di pelajari di bangku kuliahnya.


"Masa calon nyonya dokter Jones yang notabene dokter obgin takut suntik sih, ngak apa apa dong di suntik." senyum bu ida merasa lucu dengan tingkah Shafa.


"Shafa takut." rengeknya, makin menarik lengan baju Jones.


" Ngak apa apa sayang, kamu ngak boleh takut dong, masa calon ibu dokter takut suntik, nanti maunya nyuntik orang di suntik ngak mau." tawa kecil Jones menggenggam tangan Shafa.


Jones sudah bisa membayangkan bagai mana bentuk wajah takut calon istrinya itu, dari sorot matanya Jones tau pasti lucu dan menggemaskan sehingga ia pun menyingkap cadar kekasih hatinya itu, dan benar saja bibir gadis itu maju beberapa centi kedepan, dan bola matanya berkedip kedip berkali kali.


Jones tidak dapat menahan tawanya.


"Uncle.. ketawa lagi Shafa takut hiks."


marah Shafa.


"Hahaha maaf sayang, abis kamu lucu banget sih jadi pengen gigit." menarik pelan hidung


mancung Shafa.


Ibu Mida memperhatikan wajah Shafa sangat cantik dan wajahnya imut seperti remaja, begitupun dengan Kirana dan dua wanita lainnya mereka takjub dengan kecantikan gadis itu.


Kirana yang sempat menyepelekan Shafa karna memakai cadar dan mengira wajah gadis itu masih kalah dengannya ternyata ia salah.


"Pantas kak Jones jatuh cinta, cantik banget." Kirana.


"Wahhh cantik banget calon nyonya dokter Jones, saya sampe pangling lo, tapi wajahnya kok seperti masih muda banget ya." bingung bu Mida yang mengira Jones hanya berbeda dua atau tiga tahun dengan calon istrinya.

__ADS_1


"Bu Mida ngak baca tahun lahirnya rupanya, sekitar sembilan hari lagi baru genap delapan belas tahun pernikahan kami tepat di hari ulang tahunnya." jelas Jones.


"Astaga, saya ngak lihat tadi hehehe." bu Mida.


"Ya sudah sekarang sayang di suntik ya, aku


biar keluar hmm."


"Ngak Uncle di sini, hadap sana." titah Shafa.


"Baik sayangku." memiringkan tubuhnya.


"Baik, jangan di tegangkan tangannya ya dek." ucap bu Mida mendekatkan jarum suntik ke arah Shafa sementara satu orang perawat membantu Shafa menyingkap lengan baju atas Shafa.


"Adu..duhhh duhh." Jerit Shafa.


"Belum lo dek." tawa bu Mida dan asistennya.


"Kok belum sih bu."


"Iya belum, belum sekali lagi." tawa kecil.


"Hahh dua kali, katanya satu kali ?." protes Shafa yang tidak sadar kalau sudah selesai di suntik.


"Ini jarumnya masih kecil dek, nanti suntiknya


jauh lebih besar, lima puluh cc lagi." tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang baru datang dan masuk ruangan itu tampa pamit.


"Marina.. ahh lu handbody lotion."Jones.


" Sialan lu kak." Marina teman satu angkatan Jones di bangku kuliah kedokteran.


"Emang ada jarum suntik sebesar itu." tanya


Shafa bergidik ngeri.


"Ada.. ngak percaya tanya kak Jones." tawa Marina di sambut yang lain.


"Ada Uncle ?." serius bertanya.


"Jangan dengarkan sayang, otaknya sudah


rusak." tawa Jones.


"Ishhh memang ada kan kak, kakak lagi yang suntik dengan Spuit lima puluh cc, kakak kan punya hahahaha." Marina.


"Sialan lu, jangan nakut nakutin sayang gua, bisa gagal malam pertama gua." hardik Jones


ke arah Marina.


"Uncle punya suntik itu ??, Shafa takut buang jauh jauh ya, Shafa ngeri." bergidik, dia sama sekali tidak paham arti dari candaan mereka.


"Yaa jangan di buang dong sayang, masa depan itu, nanti kamu rugi ngak kebagian."


"Apa hubungannya." Shafa.


"Ada dong yangk, sudah ahh jangan dengar kan mereka, mereka ini sudah stres bin error." Jones.


"Shafa ngak mau, Uncle harus buang jarum suntiknya Shafa takut."


Hahahaha


Gelegar gelak tawa tidak bisa di hindari, bahkan Kirana yang sebelumnya jutek dan kurang suka melihat Shafa menjadi geli melihat ke polosan Shafa yang mengira Jones punya suntik lima puluh cc betulan.


"Sialan lu Marina, gara gara lu nih." menatap


tajam Marina yang sama sekali tidak takut padanya.


"Hahaha polos banget sih." Marina memegangi perutnya karna tidak tahan menahan tawa.


"Sudah yangk, aku ngak punya Spuit ( jarum suntik ) sebesar itu, Spuit sebesar itu memang ada tapi untuk alat bantu NGT, jadi jangan takut." ucap Jones mengelus tangan gadisnya mesra.


"Beneran ??." Shafa.


"Iya yangk, sayang lupa jenis jenis spuit dan ukurannya ya, kan udah di pelajari."


senyum Jones.


"Engghh ya Shafa kira ada, Shafa kan takut kalau beneran ada " gumamnya tapi masih terdengar oleh Jones dan yang lain.


"Ya sudah ayo kita pulang, dari pada si lampir


ini makin merusak otak sayangku." hardik Jones pada Marina.


"Hahaha emang gue pikirin." Marina.


" Emang lu punya pikiran, lu kan ngak ada otak, sialan kalau gua tau lu di sini gua ngak akan datang ke sini." omel Jones pada Marina teman kuliah sekaligus istri teman akrabnya dokter Ryan yang sama gesreknya dengan Ryan suaminya.


"Wahhh lu mana bisa gak kemari, udah takdir


lu jumpa dengan gua di sini, o iya dek Shafa jangan mau dekat dekat dengan kak Jones ya bahaya perutmu nanti seperti balon, besar...."


tawa Marina.


Hahhh .. Shafa melongo, kali ini dia mengerti maksud kata kata Marina, sehingga wajahnya langsung merah merona.


"Marina, gua gantung juga laki lu nanti."


marah Jones.

__ADS_1


"Silahkan dokter Jones, dengan segala hormat, gua mah apa lah, paling kalau laki gua di gantung tinggal ganti casing." tertawa terbahak bahak.


"Emang handphone ganti casing." gerutu Jones, laki laki itu membimbing Shafa agar keluar dari ruangan itu.


"Terimakasih bu Mida sudah melayani kami dengan baik, mana kotak sarannya dan kotak informasi aku mau kasih penilaian nih, biar akreditasinya kacau, tapi aku mau protes juga karna kalian miara dokter stres di sini." cebiknya pada Marina.


"Jangan dong abang.., nanti puskesmas kami dari Paripurna jatuh ke Dasar kan ngak lucu."


tawa Marina.


"Cihhh dasar gesrek." omel Jones.


Jones menggandeng tangan gadisnya ke luar dari tempat itu, namun baru sampai di pintu Marina sedikit berlari mendekati Shafa lalu berbisik di telinga gadis itu.


"Hati hati dek, kalau malam pakai celana ya, nanti masuk angin, perut kamu jadi besar seperti busung lapar." tawanya dan langsung berlari meninggalkan Jones yang sudah hampir meledak karna Marina yang selalu menakuti Shafa.


"Dasar mak lampir lu ya." Jones.


"Kak.. bilang sama babang ( dokter Ryan ) aku, nanti suruh menghukum aku di kasur, aku rela dan iklas." tawanya dengan nyaring.


"Cih ngak sudi gua, ngak laki ngak bini sama rusaknya." omel Jones.


Jones lalu membawa Shafa keluar dari tempat itu menuju parkiran, di sana sudah menunggu


asisten Rio dengan setia, begitu atasan datang


Rio langsung membukakan pintu untuk Jones


dan Shafa.


Sepeninggal Jones dan Shafa.


"Beruntung banget ya dokter Jones dapat gadis itu sudah cantik anak orang kaya raya lagi." ucap asisten bu Ida.


"Kaya raya gimana sih, penampilannya biasa saja tidak ada gambaran anak orang kaya." Kirana.


"Ahhh katanya tau kalau kak Jones lagi viral karan lamaranya, berarti kamu ngak nyimak sampe habis beritanya dong, sampe ngak tau kalau kak Jones akan menikahi anak konglomerat anak orang termasuk tiga besar terkaya di negara ini." Marina.


"Masa ??." Kirana.


" Iya , dan perjuangan kak Jones untuk mendapatkan nona Shafa sangat mengharukan." lalu Marina menceritakan apa yang ia tau tentang perjuangan cinta Jones sampai mendapat izin dari orang tua Shafa.


"Tapi kok gadis itu manggil kak Jones Uncle sih, calon suami kok di panggil Uncle."


bingung Kirana.


"Iya kan, sejak tadi dek Shafa manggil dokter Jones Uncle, saya Juga heran." bu Mida.


"Kalau itu saya ngak bisa jawab, karna panjang ceritanya, bahaya kalau saya terlalu banyak cerita yang jelas meski nona Shafa memanggil Uncle pada kak Jones mereka sama sekali tidak punya hubungan darah, jadi intinya Uncle itu hanya sekedar panggilan saja." jelas Marina.


Ooo ucap mereka serentak.


Jones membawa Shafa makan siang di restoran miliknya, karna ingin menunjukkan pada Shafa kalau ia punya usaha lain jadi Shafa tidak perlu khawatir Jones akan kehabisan uang setelah acara pesta pernikahan mereka.


Padahal Johan sudah mengatur acara pernikahan mereka dengan mewah memakai uang Johan sendiri, meski begitu Jones tetap merasa kalau pesta mereka adalah bagian dari tanggung jawabnya, karna itu Jones tidak mau kalau Johan yang menanggung sendiri biaya pestanya.


Meski tidak seberapa Jones tetap memberikan uang untuk membantu biaya pernikahan dan pesta dirinya dan calon istri.


"Sayang .. kamu mau makan apa." menatap mesra Shafa, ia sengaja membawa Shafa ke ruangan khusus untuknya kalau datang ke restoran itu.


"Apa saja Uncle." jawabnya lesu.


"Kok apa saja sih sayang, minta dong kamu maunya apa, atau mau aku masakin hmm." bujuknya.


"Shafa lagi ngak mood Uncle, apa saja yang di kasih deh, asal jangan ada unsur ikannya." menopang wajahnya di atas meja.


"Kok ngak mood hmm, masih kepikiran kata


kata mereka sayang ?."


"Henghhhh.. Uncle ngak beneran mau suntik Shafa dengan jarum lima puluh cc kan ?." matanya berkedip kedip tanda masih takut.


"Ya ampun sayang hahahah, masih percaya dengan omongan mereka, ngak ada yang spuit seperti itu, adanya pisang mentah mau ??."


canda Jones.


"Apa enaknya pisang mentah Uncle, hhhh tapi kalau di rebus atau di buat keripik enak juga ya." menelan ludah.


"Yahhh meleleh dong sayang hahaha."


Shafa membuang napas kasar, karna dia makin bingung mendengar kata kata Jones, belum habis pikiran nya tentang jarum besar sudah datang pikiran tentang pisang mentah.


**************


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2