UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
173.Ngiler.


__ADS_3

"Daddy cemburu sama dokter Melani ?." tanya Shafa bingung.


"Hahhh Daddy cemburu sama anak bau pipis itu ??, ohh no, no Be Daddy bukan tandingan dia bukan." cebik Axton menatap Melani sinis.


Tatapan Melani juga tak kalah sinis dengan Axton, entah mengapa baru beberapa minggu tinggal bersama Shafa sebagai dokter pribadi wanita cantik itu Melani tampaknya sudah punya musuh.


Mana kedua musuhnya sama sama orang nomor satu di negara masing masing, berani betul dokter Melani menyulut perang dengan keduanya.


Interaksi keduanya tidak lepas dari pengawasan Zahra, sedang Johan sibuk dengan handphone di tangannya.


"Bau pipis ?, emang dokter sering ngompol ya, kok Daddy tau ?." menatap Melani dan Axton bergantian.


Melani diam saja, pura pura tidak mendekar perkataan Shafa sedang Axton menjadi kikuk, bingung dengan kata katanya sendiri, dan bingung harus jawab apa.


"Itu cuma istilah kak, pak Axton bilang gitu bukan berarti dokter Melani memang bau pipis tapi karna di anggap dokter Melani masih belum dewasa, begitu maksudnya." Zahra.


"Ohhh Shafa pikir dokter memang sering ngompol dan bau pipis."


Melani tetap pura pura tidak mendengar, dia seakan tuli, bahkan dia menggeser posisi berdiri sedikit jauh dari semua orang agar terhindar dari pertanyaan konyol Shafa.


Axton nyengir kuda sembari garuk garuk kepala yang tidak gatal sama sekali, perkataannya yang sembarangan tentu di salah artikan oleh menantu polosnya.


"Kak.., jadi keluar siang ini, agar papa cepat pulang kantor ?." tanya Johan yang baru pulih dari mati surinya.


Karna sibuknya dengan handphone di tangannya dia sampai tidak mendengar pembicaraan Shafa dan yang lain.


"Jadi dong pa, Shafa kan udah lama ngak keluar." memanyunkan bibirnya.


"Ohhh syukur lah, jadi papa bisa berbagi dengan Daddy kakak untuk pengeluaran nanti." senyum licik Johan melirik Axton.


"Tidak perlu tuan Johan, untuk menantu saya apapun sanggup saya lakukan, saya bahkan sudah membawa surat sertifikat tanah dan harta benda saya yang lain untuk saya berikan pada menantu saya ini, anda jangan kwatir." sinis Axton.


"Cihhh anda pikir, saya ngak sanggup ?? huhhh saya juga punya banyak harta bahkan untuk anak anak saya yang banyak itu saya mampu menurunkan harta yang saya miliki sampai sepuluh kali turunan." jawab Johan tak kalah sinis.


"Cuma sepuluh turunan, hmm harta saya bahkan sampai ahir masa akan tetap ada." balas Axton.


"Papa dan Daddy ngomong apa sih, kok Shafa ngak ngerti ya." menatap Axton dan Johan bergantian.


"Bukan apa apa kak, biasalah musuh papa udah datang ngak enak kalau ngak ribut." cebik Zahra pada suaminya yang tidak pernah mau kalah bicara dengan Axton.


"Sudah yank, sayang ikut koko kekantor saja, nanti sebelum makan siang kita jemput kakak."


"Baik ko, kak, kakak mama sama papa pagi dulu ya, pak Axton kami pamit ya." senyum Zahra.


"Ya ma,pa hati hati."


"Oke nyonya Ara." Axton.


Sepeninggal kedua orang tua Shafa, wanita cantik itu langsung menarik mertuanya agar ikut ke ruang tamu, Axton pastinya menuruti apa yang di mau menantu manjanya itu.


"Dad..Daddy.."


"Iya Be, kenapa." senyum Axton menghempaskan bokongnya di sopa mewah ruang tamu.


"Daddy.. Shafa kan udah sehat, kapan Daddy bawa Shafa ke stockhom ( Swedia ) Shafa kangen banget sama Aa." cucutnya manja.


"Nanti ya Be, kalau papa kamu kasih izin." jawab Axton gugup.


"Kenapa harus tunggu izin papa sih, kita pergi aja diam diam, kalau tunggu izin papa pasti lama."


"Baik Be, nanti Daddy pikirkan caranya ya, sekarang kamu istirahat dulu ya, Daddy juga mau istirahat, kan Daddy baru sampe Be." mengalihkan pembicaraan.


"Ahh ya, maaf Shafa lupa Daddy, Daddy istirahat deh, nanti siang kita jalan jalan biar Daddy kuat bawa belanjaan Shafa yang banyak hehehe."


"Aasiap menantu Daddy." mengacungkan kedua jempolnya pada Shafa.


*****


Siang itu Shafa berjalan menggandeng papa dan mertuanya di sisi kiri kanannya sedang Zahra dan dokter Melani serta ketiga bodyguar berjalan di belakang ketiganya.


Sedang bodyguar laki-laki lainnya berada di sisi kiri kanan mereka dan memberi jarak beberapa meter agar tidak terlalu mencolok dan menjadi perhatian pengunjung Mall, meski kebanyakan orang tau siapa yang berkunjung ke Mall mewah itu.


Wajah cantik Shafa tampak sumringah di balik niqabnya, dia menyeret kedua laki-laki itu kesana kemari sesuka hatinya dari outlet satu ke outlet lainnya.


Kedua laki-laki itu cuma pasrah di bawah kendali Shafa, wanita cantik itu menghabiskan uang Daddy dan papanya entah sudah berapa banyak, hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Shafa bukan wanita yang hobby belanja, membeli baju sampai banyak, tas ,sepatu bahkan perhiasan serta yang lainnya selalu di belikan


Sewaktu ia masih remaja mama papanya lah yang membelikan karna dia lebih suka di belanjakan kedua orang tuanya itu dan setelah menikah Jones yang mengurus segala kebutuhan dirinya.


Tapi kali kali ini semua orang terkejut dengan sikapnya, Shafa yang cuek dan tidak perdulian kini berubah, dia tiba tiba ingin belanja sesuka hatinya.


Bukan cuma untuk dirinya saja yang ia beli untuk mama dan para bodyguar nya juga tidak luput dari pembelanjaannya terutama dokter Melani.

__ADS_1


Shafa sudah memilih banyak baju, sepatu, tas serta asesoris lainnya yang ia butuhkan, tentu saja semua barang itu merupakan barang brandad, dengan harga puluhan juta bahkan ratusan juta.


Kedua laki-laki super sabar itu mengira acara belanja Shafa sudah selesai ternyata mereka salah.


"Kita mau kemana lagi Be."tanya Axton dengan suara mulai lemah.


Lemah bukan karna menantunya menghabiskan ratusan juta tapi karna dia memang sudah lelah, sejak tadi mengikuti kemauan Shafa.


Kalau Axton lelah lalu bagai mana dengan Johan, wajahnya sudah pias haus, lelah itulah yang ia rasakan, laki-laki yang mana yang betah di ajak belanja.


Mending mereka di suruh membajak sawah dari pada menemani istri, keluarga belanja, Zahra, Niken,Nisa dan Lila biasa saja mengikuti Shafa kesana kemari hanya Melani yang tampak kelimpungan dia sama saja dengan duo laki-laki yang bersama Shafa.


"Shafa mau beli perhiasan, kok tiba tiba Shafa pengen beli kalung baru ya Daddy, tadi maunya udahan belanjanya, tapi lihat toko perhiasan Shafa jadi ngiler."


"Hahhh kok ngiler sih kak."


"Yah ngiler pa."


Shafa tidak mau melepaskan tangan Daddy dan papanya, sampai acara memilih perhiasan selesai dia masih mengandeng tangan sang papa dan Daddynya.


"Sudah kak, kakak sudah memilih perhiasan yang kakak mau, sekarang kita istirahat dulu ya, papa sudah letih."


"Iya Be Daddy juga, maaf Be seumur hidup Daddy baru kali ini Daddy mengikuti perempuan belanja, ternyata wahhh.." peluh membasahi dahi laki-laki tua itu hingga ia lap berulang kali.


"Kenapa ?, Daddy dan papa kapok ya."tanya Shafa dengan suara kecil nada kecewa.


"Ehhh ngak..ngak Be." Axton.


"Tidak kak, sama sekali tidak papa kan udah biasa jadi bodyguar mama belanja jadi papa ngak terkejut lagi."


"Bagus kalau begitu, karna besok Shafa mau belanja lagi."


Hahhhhhhhh ...


Axton dan Johan sama sama menjerit tertahan mendengar kata kata Shafa, sampai sampai belanjaan di tangan kedua laki-laki itu terlepas dan jatuh ke lantai.


Shafa cuek bebek, dia berjalan santai mendahului papa Daddy, sedang Zahra dan yang lain bingung harus tertawa atau bahagia, belanja dan belanja siapa yang tidak mau di belikan tanpa harus mengeluarkan uang sama sekali.


"Sepertinya nyonya muda ingin menyiksa tuan besar nyonya." kekeh Niken pelan di sisi Zahra.


"Hehehe aku juga mikirnya begitu Niken, biarin aja biar kapok, tapi baguslah kakak yang belanja kita dapat ciptratannya."tawa Zahra.


Zahra memperhatikan kedua laki-laki itu yang tampak prustasi menghadapi tingkah Shafa yang tiba tiba berubah.


Melihat Shafa yang berjalan menjauh Axton dan Johan mengambil barang barang yang terjatuh tadi dan langsung menyusul Shafa berjalan cepat.


Habis sudah keegoan Johan yang maha tinggi akibat ulah sang putr.


Selama ini meski sering menemani Zahra belanja belum pernah ia membawa belanjaan Zahra yang banyak, biasanya kalau sudah banyak akan langsung di ambil alih para bodyguar.


Tapi kali ini Shafa tidak mengizinkan bodyguar membawa selanjaan miliknya, sehingga tangan kedua laki-laki itu penuh dengan belanjaan Shafa.


Seseorang yang sedari tadi ikut didalam rombongan tidak tau harus tertawa atau kasihan melihat kedua laki-laki itu, tapi di sebalik hatinya yang terdalam ia merasa miris melihat kedekatan kedua laki-laki itu dengan Shafa.


"Stop.. stop Uncle Andy, kita berhenti di depan." titah Shafa pada Andy yang sedang menyetir di keramaian jalan.


"Kenapa Be." tanya Axton bingung.


"Ada apa nak." Johan.


Kedua laki-laki itu duduk mengapit Shafa di sisi kiri kanan sang Princes, sedang Zahra duduk diam di belakang ketiga orang itu, dia duduk berdampingan dengan Melani tapi dengan jarak jauh.


Karna kursi Zahra dan Melani memang di batasi meja kecil di antara mereka sedang kursi yang di duduki Shafa serta Johan, Axton kursi panjang yang bisa menampung tiga orang.


"Shafa mau itu papa, Daddy." menunjuk gerai penjual rujak buah dan beraneka minuman.


"Apa itu Be." tanya Axton bingung.


"Huhh itu aja anda ngak tau, penjual rujak tuan ku." cebik Johan.


"Ohhh penjual rujak, apa itu rujak ?." bingung Axton karna dia memang belum pernah mendengar jenis makanan seperti itu sebelumnya.


"Tadi Ohhh, sekarang bingung jenis makanan apa itu." Johan.


"Udah ahh, pusing Shafa lihat Daddy sama papa berdebat terus, ayo turun." Shafa meminta Daddynya membuka pintu mobil.


"Loh... kok turun kak ?." Johan.


"Shafa kan mau makan rujak ya harus turun dong pa."


"Tapi kak, apa itu higienis ?, lihat tempat nya kak."


"Bersih kok pa.." Shafa langsung turun dari mobil setelah Axton turun.

__ADS_1


"Kita bungkus aja ya kak, panas kak, kakak makan di rumah aja ya nak." bujuk Johan melihat situasi di tempat itu yang kurang nyaman menurutnya.


"Ngak pa, Shafa mau makan di sini ya pa, Daddy Shafa mau makan di sini dad.." mulai mengeluarkan senjata andalannya si air mata.


"Ehhh ya Be, tentu saja Be apa yang nyaman buat menantu Daddy saja Daddy pasti nurut."


"Loh.. kok malah di dukung sih, apaan anda ini." marah Johan.


"Terserah anda, kalau anda tidak nyaman silahkan pulang biar saya yang jaga menantu saya." Axton.


Huhhh ..


Johan sangat marah karna Axton mau menuruti Shafa, meski sebenarnya dia juga pasti akan menurut, tapi dia benci mengapa harus Axton yang terlihat baik dan memanjakan sang putri padahal dia juga sangat memanjakan putrinya itu.


"Pak.. pesan rujak uleknya ya, Shafa mau yang pedas gila." pinta Shafa yang sudah duduk di kursi plastik di bawah pohon di samping gerai rujak itu.


"Jangan pedas kali kak, nanti perut Shafa sakit." protes Johan.


"Pak.. pesan untuk semua, pedas gila juga." bukannya menuruti perkataan sang papa dia malah memesan untuk semua orang.


"Kak.. papa ngak mau nak, papa ngak doyan."


Shafa tidak menjawab tapi dari sorot matanya terlihat sudah berkaca kaca, Johan menelan ludah kasar, laki-laki itu hanya bisa pasrah dengan keputusan Shafa dari pada melihat putrinya banjir air mata.


Empat mobil mewah yang membawa rombongan itu, berhenti di pinggir jalan di bawah pohon mahoni yang terawat di kota besar itu.


Axton, Johan dan para wanita duduk di kursi plastik yang di sediakan sedang para bodyguar laki-laki duduk di atas rumput karna kursi yang terbatas.


Huhhhss hashhhh hushhh hahhhh


Wajah Axton, Johan dan Melani memerah menahan rasa pedas di mulut mereka, Niken mengambil tissu dari dalam mobil untuk melap keringat yang membanjiri wajah tuan tuannya dan mereka.


Hanya Shafa dan para wanita yang enteng memakan rujak itu, meski mereka merasakan pedas tapi mereka masih bisa menahannya.


Para bodyguar laki-laki sudah seperti An***g yang baru di kejar pemburu, mereka berulang kali mengeluarkan lidah karna tidak tahan dengan rasa pedas.


Shafa tersenyum puas di balik niqabnya, entah di rencanakan olehnya atau tidak tapi dia berhasil membuat semua laki-laki menderita karna kepedasan.


"Kenapa ya gua merasa di kerjain putri gua Upssss pedas banget." menginas nginas mulutnya dengan tangan.


"Anda wajar dapat hukuman dari menantu saya, lah saya salah apa coba, kenapa saya juga ikutan terkena imbasnya." keluh Axton ikut mengibas ngibaskan mulutnya dengan tangan.


"Hahhhh nasib kita dua apes." kekeh Johan.


"Ini karna anda, saya ikutan menderita." lirih Axton.


"Hehehe setidaknya gua punya teman sependeritaan, tapi gua senang melihat tawa putri gua yang hilang beberapa waktu ini kembali lagi."


"apapun akan gua lakukan demi melihat tawanya dan demi melihat dia bahagia, meski gua akui mungkin sulit melihat ia bangkit lagi." ucap Johan menunduk sedih.


Axton menarik napas dalam dalam, dia tidak tau harus merespon seperti apa pada besan sombong dan arogant itu, yang bisa ia simpulkan laki-laki itu benar-benar sangat menyayangi putrinya meski hanya putri sambung.


"Semua orang tua pasti ingin membahagiakan anak anaknya, namun kadang kita salah mengambil langkah yang tidak sesuai dengan keinginan anak anak kita, sehingga kita membuat mereka terluka dan pada ahirnya kita juga ikut terluka" Axton.


Hahhhh..


"Sekarang mari kita bekerja sama untuk membuatnya bahagia, semoga tidak lama lagi kebahagiaan yang hakiki akan segera datang padanya, Aminn." Axton.


"Aminn.." Johan.


Kedua laki-laki itu menatap Shafa yang masih sibuk mengunyah buah buahan yang di kuahi bumbu rujak, wanita hamil itu tampak bersemangat memakan rujaknya tampa ada keluhan.


Shafa bahkan minta tambah rujak pada penjual, penjual yang sudah berumur separuh abat itu sangat bahagia dengan kehadiran rombongan elit itu, yang langsung memborong jualannya.


Bahkan Axton membayar lebih makanya yang mereka nikmati, laki-laki dermawan itu tampa segan segan mengeluarkan uang sepuluh juta pada penjual sebagai hadiah karna membuat menantunya puas dengan rujak buatannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🌻 LIKE


🌻 RATE


🌻 VOTE


🌻 HADIAH yang banyak


🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2