UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
136. Waham.


__ADS_3

Naya diam seribu bahasa saat Shafa melontarkan berbagai pertanyaan, wajah putih mulusnya memerah akibat tamparan tangan Arkhan, air matanya seakan kering tidak ada air mata di wajahnya.


"Kak, kita pergi saja ya dari sini, bang Arkhan jahat hiks ya kak." bujuk Shafa untuk ke sekian kalinya.


Naya menganguk, sejak tadi diam dia hanya menatap keluar kamar lewat jendela kaca yang menembus sampai ke halaman samping, meski malam sudah mulai larut tapi cahaya di luar masih jelas memperlihatkan seisi halaman.


"Kak bereskan barang barang kita, telpon papa Shafa mau bicara." pintanya pada Nisa.


"Baik nyonya." Nisa.


Setelah berbicara dengan sang papa dan mendapatkan izin keluar dari sana mereka pun meninggalkan Penhouse milik Arkhan dengan cara diam diam agar sang pemilik tidak tau kalau sudah di tinggalkan.


Bodyguar bayangan yang selalu mendampingi dari luar penhause sudah menunggu di luar, para bodyguar yang berjumlah lima orang itu menyiapkan dua mobil mewah guna membawa sang majikan meninggalkan tempat itu.


Sementara mereka sedang dalam perjalanan Arkhan sendiri mondar mandir di kamarnya, dia marah pada dirinya sendiri kenapa begitu ceroboh sampai menampar istri yang sudah ia nikahi hampir tiga tahun.


Wanita yang sedang mengandung anaknya, anak ke tiga yang berhasil di kandung Naya sampai berumur delapan bulan di dalam rahimnya sedang anak pertama dan kedua keguguran pada kehamilan di bawah tiga bulan.


"Sialan, kenapa tangan ku ini begitu cepat bertindak, sial sial.., gimana kalau dek Shafa membenciku , gimana kalau Naya ngadu yang ngak ngak padanya ?? ahhh pusing .., tapi tidak mungkin Naya tidak akan mengadu hal hal yang buruk, ngak mungkin." bicara sendiri.


Laki-laki itu berkali kali membuka pintu dan menutup kembali, dia ingin menjemput istri dan menjelaskan serta meminta maaf pada Shafa kalau dia hanya silap.


Arkhan melihat kearah kamar yang tampak sudah gelap, yang berarti para penghuni sudah tidur, dia lalu mengurungkan niat untuk menjemput Naya dan akan bicara besok hari saja.


Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan gelisah, miring kiri miring kanan serba salah, sesekali tangannya meraba di sisi tempat biasa Naya tidur.


Air mata laki-laki itu tiba tiba berurai, kenangan saat pertama kali bertemu dan di pertemukan Shafa terlintas di benaknya, kenangan kenangan lain juga ikut menyerang hatinya.


Penyesalan tergambar jelas dari wajahnya, dia benar benar gelisah, sebentar duduk sebentar rebah, dia ingin keluar menjemput Naya tapi takut mendapat murka dan amukan Shafa.


Yang paling bodoh dia lebih takut lagi kalau kalau Shafa membencinya dan ahirnya menjauhinya harusnya dia lebih takut istri meninggalkan dirinya dari pada wanita lain yang sudah berstatus menikah dan sedang hamil itu.


Memang sejak Shafa beranjak dewasa Arkhan sudah jatuh cinta padanya namun karna tidak ada dukungan dari keluarga apa lagi dari Zahra Arkhan terpaksa memendam perasaannya.


Sampai Shafa mengalami luka dan di sakiti Jones Arkhan pun berniat memiliki Shafa lagi, karna dia memang sangat terluka melihat penderitaan Shafa saat itu, sampai sampai dia lupa kalau dia juga sudah memilih istri.


Istri setia sholehah dan penyabar, yang hanya tinggal di dalam rumah dengan dua orang maid gerak gerik yang di batasi, waktu Naya hanya mengurus suami dan rumah saja.


Arkan bahkan sangat jarang membawa Naya jalan jalan, Arkhan sibuk mengerjakan proyek yang di serahkan Johan padanya untuk ia kelola, anak perusahaan yang di pimpin olehnya juga menyita waktu, meski ada waktu libur Arkhan hanya mengurung diri di rumah.


Arkhan tidak bisa tidur malam itu, sampai subuh menjelang dia baru tertidur, tepat pukul sembilan pagi ia terjaga dengan mata masih mengantuk, pandangan matanya menyapu kesetiap sudut kamar mencari keberadaan Naya tapi tidak ada.


Laki-laki itu sedikit kecewa, biasanya kalau dia bangun kesiangan sang istri pasti membangunkannya dengan sabar meski kadang mendapat bentakan Arkhan.


Arkhan bergerak malas, dia masuk kamar mandi dengan gontai, setelah beberapa menit dia keluar lagi, memperhatikan meja rias atau tempat tidur tapi yang dia cari tidak ada.


Biasanya Naya sudah menyiapkan pakaian serta perlengkapan lainnya di atas meja atau tempat tidur tapi kali ini nihil.


Arkhan menarik napas dalam dalam, ahirnya ia mengambil dan memilih sendiri pakaiannya lalu memakainya.


Setelah rapi Arkhan keluar kamar, ia berjalan ke arah dapur yang bersebelahan dengan ruang makan, namun laki-laki itu makin bingung karna tidak menemukan apapun di atas meja makan, bahkan dapur terkesan bersih dan tidak ada apa apa di sana.


Hati Arkhan menjadi was was dan langsung panik laki-laki tampan itu berlari kencang kearah kamar Shafa, tampa permisi dia lalu masuk kedalam kamar dan kekwatirannya terbukti, kamar itu kosong.


Dia memanggil manggil Naya, Shafa bergantian mencari kesana kemari namun nihil, dia tidak menemukan siapapun di sana.


Dalam keadaan panik Arkhan menerima notifikasi pesan masuk ke handphonenya, mata laki-laki itu melotot sempurna melihat pengirim pesan, jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, baru membaca nama pengirim pesan dia sudah keringat dingin belum membaca isi pesannya.


"Assalamualaikum wrwb


Selamat pagi ananda Arkhan, apa kabar, segar setelah menampar dan menyakiti wanita hamil yang mengandung anakmu sendiri, apa kau bahagia sekarang, dia yang selalu kau cuekin yang selalu kau pandang sebelah mata karna mencintai putri ku sekarang sudah pergi, selamat sekarang kau bebas, dan jangan kau coba cari, kau tidak akan menemukannya di manapun, jangankan Naya anakmu juga tidak akan pernah kau lihat bentuk wajahnya, jangan kau pikir kalau putriku berpisah dengan si bedebah itu kau bisa bersama dan memilikinya, NO.. aku tidak akan memberikan putriku padamu, jangan mimpi, kau pikir aku akan membiarkan putriku menjadi istri kedua mu ?, NO jangan mimpi, itu tidak akan pernah terjadi, o iya jangan buruk sangka pada mantan istri mu, dia tidak pernah mengadu pada siapapun karna selain putri ku dia tidak punya sanak saudara, mungkin kau lupa Naya anak yatim piatu yang hanya di urus oleh pondok pesantren, dia bahkan tidak pernah mengadu pada putriku bahkan dia tulus ingin membantu mu mendapatkan putriku, tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi, NO tidak akan."


Tangan Arkhan bergetar hebat, handphone mahal itu terjatuh ke lantai seiring tubuhnya juga yang ikut jatuh dan luruh di atas lantai.


Setelah membaca pesan, sebuah cuplikan video singkat masuk lagi ke handphonenya, laki-laki itu menatap layar handphonen dengan mata sayu, di sana memperlihatkan bagai mana Arkhan meminta Naya membujuk Shafa untuk jadi istri keduanya.

__ADS_1


Pembicaraan mereka ruang makan saat itu ternyata di rekam, vidio itu bukti nyata kelakuan Arkhan pada istrinya.


Arkhan menjerit kuat dan histeris, dia tidak menyangka sama sekali istri yang ia anggap sebelah mata dan penurut itu benar benar akan meninggalkannya.


Sejuta penyesalan bersemayam di hatinya, apa daya kalau sang adi kuasa sudah bertindak cuma bisa pasrah pada saat itu, karna percum menghiba Arkhan tidak akan mendapatkan informasi apa pun dari manapun, tunggu waktu yang tepat baru ia bertindak mencari sang istri.


Sudah satu minggu lebih Naya dan yang lain meninggalkan penthause, Arkhan tampak seperti orang gila, dia menyesali semua perbuatannya tapi tidak lagi berarti


Jarna dia sama sekali tidak bisa menemukan sang istri di manapun di kota itu, bahkan Arkhan sudah meminta orang nya untuk mencari di negara asal mereka tapi tidak menemukan jejak semuanya.


Di tempat lain, Shafa dan Naya tinggal di negara lain, di mana pulau pulau terbanyak di dunia ada di sana, negara yang bersahabat dengan siapapun yang mengunjunginya, negara yang di sebut negara bahagia karna angka korupsi dan kejahatan di sana cukup rendah.


Shafa dan yang lain sudah satu minggu tinggal di penthouse yang baru di beli oleh Johan untuk putri tercintanya agar merasa nyaman dan terlindungi.


Para bodyguar juga bisa mengawasi serta menjaga sang majikan di tempat yang sama meski tidak bisa bebas masuk kedalam penthouse.


Bodyguar laki laki tinggal di ruang khusus di dekat pintu gerbang penthouse itu agar lebih mudah menjaga para penghuninya.


Selama seminggu kedua bumil itu menyibukkan diri membaca dan menghafal ayat ayat suci Alquran, karna mereka berdua memang hafizah, Naya dan Shafa berpikir dari pada merenungi nasib terus menerus lebih baik mengajak anak anak yang ada di rahim mereka untuk mengahapal ayat ayat suci tersebut.


"Kak Shafa bosan di rumah, kita jalan jalan besok yuk." ucap Shafa setelah mereka membereskan alat Sholat dan alat baca mereka.


"Terserah adek, kakak juga pengen keluar dek." jawab Naya lembut.


"Oke kak, Shafa akan bilang sama kakak kakak untuk siap siap."


"Ya dek." tersenyum simpul.


"Kak, kakak kangen abang ya." tanya Shafa tiba tiba karna melihat raut wajah Naya yang tampak sedih, wanita hamil itu bahkan terlihat kurusan karna nafsu makan yang kurang.


"Dek Shafa sendiri ngak rindu sama Daddy si kembar." balik bertanya.


"Shafa, rindu ?." menunjuk wajahnya sendiri.


"Hmmm, rindu kan ?, tiap malam malah ngigau, belum lagi minta bantal tangan kakak kakak bodyguar dek Shafa." goda Naya.


"Ya.. sering malah."


"Masa kak."


"Hmm, ya ,ngak percaya tanya kakak kakak adek." senyum Naya.


Shafa diam, sejak berpisah dengan Jones Shafa memang merasa kehilangan, meski dia tidak tau pasti rasa rindu di hatinya merupakan perwakilan rasa sayang dan cinta yang sudah tumbuh sejak lama tapi tidak dia sadari karna dia memang tidak tau percis bentuk cinta itu seperti apa.


Yang dia tau, Jones mencintainya memanjakan nya dan menyayanginya sepenuh hati, tanpa paham bagai mana membalasnya.


Raut wajah Shafa berubah sendu, wanita hamil itu menunduk sedih, tidak bisa ia pungkiri dia memang merindukan suaminya itu, merindukan sentuhannya, merindukan rayuannya, canda tawanya yang membuat Shafa bahagia sepanjang waktu.


Ya Shafa merindukan suaminya itu, merindukan masakannya yang super lezat, meski hanya nasi goreng atau lauk seadanya Shafa rindu itu, masakan terlezat yang pernah ia makan adalah masakan suaminya.


Air mata wanita itu berutai, tat kala ia kembali mengingat kata kata kasar Jones, kata kata marah Jones, bagai mana laki-laki itu meninggalkannya di apartemen seorang diri tanpa perduli dengan keadaannya.


"Hiks.. Shafa rindu Aa tapi Shafa benci." cicitnya.


"Dek, jangan bicara begitu, ingat suami adalah imam kita, sesalah apapun dia selagi bisa kita maafkan maka maafkan lah dek, lagian adek cuma di fitnah, lihat kakak, kakak ngak pernah di anggap bahkan sekarang di tampar tapi kakak ngak benci, bagai mana mungkin kakak benci pada ayah dari anak yang ada di rahim kakak, bagai manapun bang Arkhan ayahnya, kakak tidak boleh mengajarkan anak kakak membenci papanya dari ia dalam kandungan."


"Kakak ngak marah pada bang Arkhan, bang Arkhan sudah tampar kakak lo."


"Marah dek, sakit, kecewa, tapi kakak ngak boleh benci dek." jawab Naya bijak.


"Lalu apa kakak mau balik sama bang Arkhan kalau bang Arkhan jemput kakak."


"Untuk sekarang kakak ngak tau dek, kakak ngak bisa jawab, biarlah waktu yang menentukanny nanti, kakak ngak mau mendahului takdir, andai memang kami tidak berjodoh lagi kakak akan terima itu, dan kakak akan membesarkan anak kakak penuh kasih sayang."


Shafa terdiam, dia makin kagum dengan sikap dewasa dan mengayomi sang kakak, Shafa juga sudah tau bagai mana rumah tangga sang kakak beberapa tahun ini, bagai mana perlakuan Arkhan pada Naya.

__ADS_1


Awalnya timbul penyesalan di hati Shafa karna dia lah yang menjodoh kan mereka, tapi lagi lagi kata kata bijak Naya menenagkannya.


"Ayo makan dek, kok diam aja sih." ucap naya membuyarkan lamunan Shafa.


"Shafa ngak mau makan itu kak." jawabnya.


"Lalu mau apa."


"Nasi goreng seperti buatan Aa." cicitnya sedih.


"Kakak ngak ngerti masaknya dek, gimana dong." bingung melihat Shafa yang tiba tiba hilang nafsu makan.


"Biar saya coba buat ya nyonya." Niken.


"Henghhhh ya kak, yang banyak bawangnya ya, telornya dua orak arik seperti buatan Aa." meletakkan kepala di atas meja makan dengan bertumpu pada kedua tangannya.


"Baik nyonya, saya coba ya." Niken mulai menyiapkan berbagai bahan yang di butuhkan.


Di tempat lain.


"Sayang, ayo makan, Aa sudah buatkan nasi goreng spesial ala suami, ayo makan yangk." Jones menggeserkan piring pelan ke sisi sebelah kanan di mana Shafa biasa duduk.


Robby, Ryan, Anton dan asisten saling pandang, ahir ahir ini Jones makin aneh, dia selalu bicara sendiri, bahkan bertindak di luar nalar.


Memasakkan makanan kesukaan Shafa hampir tiap hari ia lakukan meski di larang dan di ingatkan oleh kawan kawannya kalau yang ia masakkan tidak tinggal bersamanya kini.


Tapi kalau mereka berkata begitu Jones akan sangat marah, dia tidak terima kalau mereka mengatakan demikian, karna dia selalu berkomukasi dengan sang istri setiap hari menurutnya.


"Ini makin parah bro, kita harus membawanya kedokter spesialis psikiatri." dokter Anton.


"Iya gua setuju." dokter Ryan.


"Iya jangan sampai makin parah,bisa bahaya nanti." Robby.


"Tapi bagai mana caranya dokter, takutnya pak Jones melawan dan brontak." Asisten.


"Gampang itu, kita buat dia tidur dulu." dokter Ryan.


"Iya sebaiknya segera kita bawa, jangan sampai wahamnya makin hebat." dokter Anton.


"Lalu kapan waktu yang pas." Robby.


"Nanti sore gimana, biar aku buat janji dengan doktetnya." dokter Ryan.


"Baik, gua akan atur perjalanannya." Robby.


Sejak Jones bertingkah begitu mereka empat serangkai memang aktif menjaganya bergantian karna takut Jones bertindak aneh.


🌴🌴🌴🌴🌴🌴


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🌴LIKE


🌴RATE


🌴VOTE


🌴HADIAH yang banyak


🌴KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2