UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
145. Ucok .


__ADS_3

"Ti..tidak kak, Shafa ngak bisa, Shafa ngak mau, jangan bilang begitu kak, kakak ngak akan kenapa napa." tangis Shafa memegangi tangan Naya yang semakin lemah.


"Kakak mohon dek."


"Tidak Shafa ngak mau hiks, anak Shafa banyak Shafa ngak akan sanggup merawat anak kakak, jadi kakak harus kuat, kakak harus semangat, jangan ngomong sembarangan kak, Shafa ngak mau dengar itu." tangis Shafa menggenggam tangan Naya.


Arkhan berjalan cepat dan langsung memeluk Naya, wajah tampannya sudah bersimbah air mata, tubuh laki-laki itu bergetar di atas dada Naya, untuk beberapa saat mereka hanya diam.


Naya terkejut karna kehadiran Arkhan suaminya tanpa kata dan tanpa aba aba langsung memeluk, Shafa juga ikut terkejut tapi dia tidak berreaksi apapun.


Jauh di dalam hati Shafa merasa lega ahirnya Arkhan datang dan berusaha mendekati Naya, meski Shafa menolak kehadiran Arkhan untuk meminta maaf pada Naya tapi itu hanya sandiwara Shafa saja.


Dia ingin melihat sehebat apa dan seperti apa Arkhan berusaha berjuang untuk mendapatkan Naya lagi, Shafa ingin melihat sejauh mana usaha laki-laki itu, apa kah tulus atau hanya semu.


"Dek.. kenapa bilang begitu, abang masih ada, abang ngak akan memberikan anak abang pada siapapun, karna kita akan merawat dan menjaganya bersama hingga anak kita dewasa, dan adek ngak akan kenapa napa." tangis Arkhan masih memeluk Naya.


"Bang..." panggil Naya lemah, dia hanya ingin memastikan apakah laki-laki yang memeluk dirinya itu memang suami yang ia rindukan beberapa minggu ini.


"Dek.. jangan bicara sembarang, adek tidak akan apa apa, adek pasti akan baik baik saja, adek harus kuat, karna anak abang butuh adek abang juga butuh adek, jangan membuat abang semakin terpuruk dek."


Arkhan mengangkat kepalanya lalu melepaskan pelukannya, ia menyingkap cadar Naya, dokter dan perawat yang ada di sana hanya jadi penonton dan pendengar budiman.


Mereka seperti menonton sinetron tapi tayang life, detik berikutnya Arkhan membelai wajah Naya lembut, hatinya luruh, rasa sesal yang teramat besar menyesak dadanya.


"Jangan berpikir macam macam dek, ingat adek mau melahirkan anak kita, adek harus semangat, Abang janji akan merawat dan menjaga adek dan anak kita, abang akan turuti semua mau adek, abang akan patuh pada adek."


Arkhan masih menitilkkan air matanya, di tatapnya lamat lamat bola mata sayu sang istri, mata itu seperti tanpa dosa tidak sedikit pun menyimpan dendam, tulus dan sejuk seperti tanpa beban.


"Dek.. abang minta maaf, abang salah, abang khilaf dek, abang janji tidak ulangi lagi kesalahan abang, abang tidak akan kasar lagi, abang tidak akan menyakiti adek lagi, abang minta maaf dek." bisik Arkhan di telinga Naya.


Naya tetap diam, sejenak ia tethanyut oleh kata kata manis Arkhan, meski sakit hati dengan kelakuan dan perbuatan Arkhan padanya tapi sedikit pun tidak ada dendam di dalam hatinya.


Andai bukan Shafa yang membawa dia pergi mungkin dia akan tetap bertahan di rumah itu meski di sakiti, karna Naya selalu berdoa pada sang kuasa agar merubah sikap dan sifat suami,.dia juga sudah memaafkannya.


"Dek .. kondisi adek ngak bisa melahirkan norma, adek sudah sangat lemah, operasi saja ya dek, abang mohon." mencium kening Naya mesra.


Naya menggeleng.


"Abang tidak tahan melihat adek begini, jadi abang mohon operasi ya dek." masih membujuk.


"Aku ngak apa apa bang.." ahirnya Naya bersuara juga meski hanya beberapa kata, dan dengan nada bicara lemah.


"Tidak ...adek harus operasi, jangan memaksakan diri dek." bujuk Arkhan sabar.


"Tapi.."


"Dokter, siapkan ruang operasi untuk istri saya, saya akan membawanya kesana." pinta Arkhan pada dokter perempuan yang akan membantu Naya melahirkan.


"Sudah pak, ruangan operasi sudah stanbay sejak tadi, kalau bapak mau ikut kedalam silahkan pak tapi tolong ganti bajunya dulu, baju sterill untuk ruang operasi." jawab dokter ramah.


"Baik..di mana bajunya, di mana saya bisa ganti." berdiri tegak, setelah mencium kening Naya.


"Di sana pak, silahkan ikut perawat." dokter.


"Dek .. abang ganti baju dulu ya."


"Bang..." panggil Naya lemah.


"Sttt... tidak ada kata tidak, tunggu abang ganti baju, nanti abang gendong ke dalam, abang janji temani adek sampai selesai di dalam sana, abang ngak akan kemana mana."


Setelah berkata begitu Arkhan segera mengajukan perawat untuk berganti baju, tak lama kemudian ia kembali setelah memakai baju steriil khusus di pakai di ruang operasi.


Arkhan menggendong Naya kedalam ruangan operasi, setelah meletakkan istri di atas tempat tidur operasi kemudian dia duduk disebelah kanan Naya, di dekat kepala sang istri.


Shafa sendiri sudah keluar dari ruang bersalin, dia duduk di luar bersama mama, papanya menunggu sampai Naya selesai operasi, sebenarnya Johan malas menunggu di sana tapi karan Zahra menangis tidak ingin pulang Johan ahirnya bertahan.


Di dalam ruangan operasi.


"Nyonya .. mau di bius umum atau epidural." dokter lalu menjelaskan perbedaan jenis kedua bius itu.


"Efidural saja dokter saya ingin melihat mata istri saya tetap terbuka dan melihat saya." bukan Naya yang menjawab tapi Arkhan.


Dokter anestesi melihat pada naya meminta pendapat, dan di anggukan oleh perempuan itu, segala jenis tindakan sebelum operasi sudah di lakukan sampai semua persiapan selesai.

__ADS_1


Arkhan duduk membelakangi semua tim operasi, dia duduk menghadap wajah sang istri, tangan kanannya membelai wajah Naya lembut, air matanya kembali tumpah.


Di pelukannya tubuh bagian atas sang istri, sembari tangannya membelai kepala Naya yang tertutup hijab, Arkhan membiarkan niqab Naya terbuka agar nafas istri bisa bebas apa lagi selang oksigen terpasang di hidungnya.


Hanya ada dokter ahli anestesi di sana dan asisten dokter itu yang berjenis kelamin laki-laki, bagi Arkhan tidak apa apa kalau saat itu mereka melihat wajah istrinya demi kebaikan Naya.


Sebenarnya Naya sudah menolak niqab nya di buka Arkhan tapi karna Arkhan terus meminta Naya hanya bisa pasrah.


"Jangan takut sayang.., rileks ya, abang di sini." bisiknya tanpa basa basi mencium bibir masin istrinya yang sudah beberapa minggu tidak ia cicipi.


Mata Naya melotot karna terkejut, di cium kening tidak apalah, tapi cium bibir di depan banyak orang bagai mana bisa suaminya melakukan hal itu.


Tapi Naya tidak punya tenaga untuk mengeluarkan suara untuk protes, karna sebenarnya dia sangat takut, apa lagi mendengar suara alat alat yang beradu dengan alat lain dan meja stenles.


Sebenarnya Arkhan jauh lebih gugup dan kwatir dia juga takut, sama hal dengan Naya, apa lagi Arkhan mabuk kalau melihat darah namun demi sang istri dan demi mendapatkan maaf serta simpati Naya dia rela bertahan di sana meski bau darah sudah menusuk hidungnya.


Meski kepala sudah pusing, ulu hati nyeri hingga mual dan ingin muntah Arkhan tetap bertahan, Naya bisa membaca raut wajah Arkhan yang berubah ubah seperti menahan sesuatu hingga membuat Naya tidak tega.


"Bang.."


"Hmmm..ya sayang." mencoba tersenyum.


lagi lagi Arkhan memanggil nya sayang, kata kata yang selalu di harapkan oleh Naya, hari itu Arkhan sudah berulang kali mengatakannya membuat Naya bahagia.


"Abang ngak tahan di sini tunggu di lu.."


"Sttt... abang tahan kok, jangan berpikir macam macam, abang akan tetap di sini." mencium mulut Naya berulang kali.


"Bang.." malu.


"Sttt.. jangan banyak bicara, adek pokus pada diri adek dan tetap semangat serta kuat ya." tangan Arkhan terus saja membelai kepala Naya mesra.


Oekk..oekkk...oekkk


Tiba-tiba suara bayi terdengar memggema di dalam ruangan itu sehingga mengejutkan Arkhan dan Naya.


Arkhan menatap mata Naya yang masih sayu, senyum bahagia terpancar di wajah keduanya, Arkhan segera berbalik dan..


Ahhhh.. uueek..


Dia segera berbalik menatap wajah Naya, di ciumnya lagi kening serta seluruh wajah Naya untuk membantu nya menghilangkan bayangan darah dan baunya agar tidak jadi muntah.


"Sayang.. anak abang." ucap nya dengan suara bergetar, antara haru, bahagia, cemas dan rasa pusing serta mual beradu menjadi satu.


Naya tersenyum mengangguk.


"Alhamdulillah.. selamat ya nyonya, tuan putra anda sangat tampan dan sehat, normal tanpa cacat apapun." ucap dokter abgin.


Wanita itu lalu menyerahkan bayi merah itu pada perawat untuk di bersihkan lalu di periksa lebih lanjut oleh dokter spesialis anak, untuk kemudian di serahkan pada kedua orang tuanya sebelum di bawa keruang bayi.


"Maaf tuan, apa anda ingin menggendong bayi anda." tanya perawat.


"Iya tentu saja suster.." jawab Arkhan menyambut putranya dengan tangan bergetar.


"Alhamdulilah ya Allah.. terimakasih atas karunia mu pada kami, engkau telah memberikan anak laki-laki yang tampan untuk kami, sehat sehat ya nak, kelak kau dewasa kau lah yang akan mengganti Ayah menjaga bunda dan adik adikmu." bisik Arkhan mencium pipi gembul putranya itu.


Kemudian ia mendekatkan wajah sang bayi yang baru menampakkan diri kedunia beberapa menit lalu pada ibunya.


Naya mencium kening bayi tampan itu bahagia, dia tidak menyangka ahirnya ia melahirkan anak untuk suaminya anak yang tampan dan sehat.


"Azankan bang.." pintanya lirih.


"Iya sayang, abang ambil whudu dulu." jawabnya patuh.


setelah menyerahkan bayi pada perawat Arkhan bergegas kelamar mandi, hanya beberapa menit Arkhan keluar dan langsung menggendong bayinya kemudian mengazankannya.


Setelah meletakkan bayi kembali ke dalam incubator Arkhan kembali pada Naya, namun alangkah terkejutnya laki-laki itu ketika mendapati mata istrinya yang terpejam.


"Dokter..istri saya kenapa ?, kenapa dia menutup matanya." tanya Arkhan cemas sembari memanggil manggil nama Naya.


"Tidak apa apa tuan, nyonya Naya hanya tertidur anda jangan kwatir." jelas dokter anestesi.


" Kenapa bisa..aku kan sudah bilang aku tidak mau istri ku tidur, kenapa malah kalian buat istri ku tidur."marahnya panik.

__ADS_1


"Maaf tuan, nyonya mungkin terlalu lelah apa lagi kondisi nya cukup lemah sehingga nyonya tertidur." jelas dokter obgin sambil tetap pokus menjahit luka di atas perut Naya.


"Kalian jangan bohong.." air mata laki-laki kembali tumpah, dadanya terasa sesak dan sempit, sekilas ia mengingat kata kata Naya pada Shafa tadi.


"Tidak tuan.., tenang lah biarkan kami bekerja dan siapkan tindakan kami." jawab dokter obgin lagi berusaha tenang karna Arkhan panik dan marah marah.


"Sayang..buka matamu dek, abang kan udah bilang jangan tidur, kenapa kamu tidur, sayang bangun jangan seperti ini, abang takut dek." mencium tangan Naya berulang kali.


"Tenang lah tuan, nyonya Naya hanya tertidur, tadi saat tuan mengazankan bayi anda nyonya berkata ingin muntah, lalu kami memberikan bius tambahan, kami sengaja membuat nyonya tidur agar lebih rileks." jelas dokter anestesi.


"Kenapa ingin muntah, apa yang kalian lakukan pada istri ku." marah Arkhan berburuk sangka.


"Ya ampun tuan, kami melakukan tindakan sesuai prosedur anda jangan kwatir, kami tau istri anda dan anda siapa kami tidak akan cari mati." jawab dokter obgin sabar.


Ya .. mereka semua tau kalau Naya dan Arkhan berasal dari keluarga Wu tentu saja mereka lebih berhati hati dalam bertindak.


"Lalu kenapa istri ku belum bangun." jawabnya melemah, tangannya yang besar meraba wajah Naya yang terasa dingin karna berada di ruangan berAc.


"Obat bius nya belum habis tuan, tentu saja nyonya belum bangun, sebentar lagi tindakan selesai nyonya akan kita pindahkan ke ruang observasi, kalau kesadaran nyonya sudah mulai kembali kita akan pindahkan lagi keruang perawatan, apakah tuan bisa mengangkat nyonya." tanya dokter obgin.


Karna melihat wajah Arkhan yang tampak pucat dan kelelahan, laki-laki itu sangat acak acakan apa lagi sudah beberapa hari makan, minum dan mandi tidak teratur.


"Tentu saja aku bisa." jawab Arkhan tegas.


"Bayi anda akan kami pindahkan keruang bayi, meski bayi anda berat badan nya normal tapi bayi anda terlahir prematur karna itu kita tetap merawatnya di dalam incubator." jelas dokter spesialis anak.


"Tidak..bawa anak saya kekamar rawatan istri saya, nanti kalau istri saya bangun pasti cariin anak kami, di sana ada adek dan tante saya yang akan menjaga sampai saya dan istri ke sana." Arkhan.


"Baik tuan.., kami akan memindahkan bayi anda kesana." jawab dokter anak pasrah, siapa yang berani melawan keluarga Wu.


Arkhan menunggu sampai Naya mulai siuman di ruang observasi, setelah yakin kondisi Naya baik dokter dan perawat memindahkan Naya kekamar rawatan yang sudah di siapkan.


Shafa tampak heboh melihat bayi merah dalam Incubator itu, dia ribut tidak menentu memanggil dan bolak balik menarik narik tangan bayi laki-laki itu karna gemas, meski tidak kuat dan kasar tentu saja sang bayi terganggu.


"Bangun ucok hihihi..bangun kamu jelek banget sih, ayo bangun tak gigit sini iihhhh." Shafa cekikikan setiap bayi itu membuka mata kemudian kembali tidur lagi.


"Heiii bangun ucok..ini bukan rahim ibu mu, ayo bangun cepat, jangan pemalas, bantu kakak tendang ayah mu yang jahat itu, seperti ini tiunggggg.., kita patah patahkan tulang tulangnya." panggilnya lagi menganggu sang bayi.


"Heiii ucok..bangun kau ucok.." menoel noel pipi semok bayi itu.


"Kak.. kok heboh kali seh kasian bayinya kak Naya kalau di ganggu terus." Zahra yang sedari tadi duduk sambil makan buah yang di kupas Johan merasa lucu dengan tingkah anak perempuannya itu.


"Abis gemesin sih ma, Shafa jadi pengen gigit."jawabnya.


"Kakak kok panggil ucok sih, aneh lo.." Johan.


"Abis namanya kan belum ada pa, dalam bahasa daerah kita di kampung anak laki-laki yang belum ada nama nya kan di panggil ucok, terus Shafa panggil apa dong."


"Ahhh iya juga, kalau cewek butet ya hahaha." tawa Johan.


"Husss jangan ribut, kak Naya belum benar benar sadar, lihat Arkhan sudah seperti cacing kepanasan." menunjuk Arkhan yang tampak gelisah di atas kursimya.


Apa pun yang di katakan Shafa tidak membuat Arkhan terganggu, dia mendengar semua celotehan Shafa tapi dia malas menjawab apa lagi sekedar menanggapi, Arkhan hanya pokus pada Naya saja.


πŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒπŸ‚πŸƒ


pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸͺ΄ LIKE


πŸͺ΄ RATE


πŸͺ΄ VOTE


πŸͺ΄ HADIAH yang banyak


πŸͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2