
Malam itu semua keluarga sudah berkumpul dan sudah menyelesaikan makan malam bersama Mereka semua kini tengah berkumpul di ruang utama rumah itu.
Ruangan yang cukup luas dengan peralatan rumah yang sangat mewah, mereka duduk bersama di atas karpet super tebal dan mewah Zahra sengaja menggelar karpet di dalam ruangan untuk tempat mereka duduk dan berkumpul agar lebih kekeluargaan dan akrab.
Shafa duduk di antara barry dan anak anak yang lain, tidak jauh dari mereka Rafa dan keluarganya duduk saling berhadapan dengan Johan dan kakak kakak angkat Zahra lainnya.
"Kau lihatlah, semua keluarga kumpul, bahkan pak Hengky dan petinggi Kings grup lainnya, mereka keluarga besar yang terkenal dan berkuasa di negara ini, kita harus bisa masuk ke keluarga mereka kalau ingin meningkat jadi kau harus bisa mendapatkan putri tuan Johan." bisik Handoko pada Rafa yang sibuk dengan handphonenya.
"Iya papa, papa tenang saja." jawabnya masih pokus pada handphone.
"Simpan handphone mu Rafa, ngak sopan tau jangan sampai mereka menilai mu buruk." mama Rafa mendelik.
Laki-laki muda dengan wajah rupawan itu menyimpan benda pipih di tanganya ke saku jaket warna hitam yang ia pakai.
Laki-laki itu memakai baju Semi koko warna putih Gading dengan celana hitam, penampilannya sangat menarik meski tampak dewasa namun cukup memikat.
Rafa memperhatikan gerak gerik Shafa yang duduk berjarak dengan anak anak kakak angkat mamanya, mereka terus saja menggoda gadis remaja itu terutama Barry anak Hengky.
"Dek .. nikah sama kakak saja ya, kakak janji sayang sampai ahir jaman." rayu Barry.
"Jangan dek sama kakak saja, kakak alim dan terpercaya." goda Lufi.
"Dek.. kakak jomlo akut karna menunggu kamu besar, emang tega lihat kakak jomlo terus." Amir anak Salman.
"Ahhh jangan pilih mereka dek, pilih saja kakak jamin bahagia dunia akhirat." Miko anak Ridwan.
"Ihhh kakak semua ngomong apa sih, kita saudara lo, ngak ahh jangan bercanda lagi." bisik Shafa pada kakak kakaknya.
"Hei.. jangan kalian goda terus adiknya, dia sudah mau di ambil orang lain." Djoko.
"Ngak bisa Uncle, dek Shafa milik kami, kami belum mau kasih dek Shafa kalau belum yakin sesuai dengannya." Miko.
"Sudah sudah jangan ribut, kita mau bicara." hardik Rhaja.
Para anak muda segera mengunci mulut masing masing, kini tatapan mereka kompak mengarah pada Rafa, mereka sama sama menatap laki-laki itu tajam seakan memberi peringatan agar menjauhi adik mereka itu.
"Hus...jangan menakuti calon Shafa." bisik Hasan pada anak anak.
"Cihh masih di pelototin ngilu dia, ngak guna di jadikan suami adik kamu Uncle, mending Shafa pilih salah satu dari kami saja." Barry.
__ADS_1
"Huss ngak bisa dan ngak boleh." Hasan.
Setelah berkata begitu mereka pun pokus pada pembicaraan serius antara Johan dan Hartono yang sudah tahap membahas lebih lanjut karna pak Hartono meminta agar proses pernikahan di percepat karna Rafa sudah siap dan merasa cocok dengan Shafa.
"Aku sudah bilangkan pak Hartono, kalau mereka harus saling mengenal dulu, saya menerima bapak dan keluarga di sini hanya untuk saling kenal dulu, kalau Shafa sudah setuju dan mau baru kita bahas tanggal dan acara pernikahannya kapan." Jawab Johan.
"Tapi saya rasa nak Shafa pasti sudah siap juga, iyakan nak Shafa ?." tersenyum ke arah Shafa.
Gadis itu bingung mau jawab apa dia hanya diam sembari menatap papanya, mata indahnya tampak memberi isyarat pada sang papa.
"Gimana menurut kakak, kakak mau kenal Rafa dulu atau bagai mana baiknya ?." tanya Salman karna sang papa yang di kode tidak bisa
berkata kata.
"Nghhhh kalau Shafa terserah papa saja, Shafa ikut apa kata papa Uncle ?."
"Nah.. dengar sendiri apa kata putri kami pak Hartono dia serahkan semua pada papanya, papanya ingin mereka saling mengenal lebih dulu jadi mari kita kasih waktu untuk mereka." Hasan.
"Bagai mana kalau dua minggu, setelah cocok kita langsung nikahlan mereka pak, saya akan mempersiapkan hantaran, mahar dan pernikahan yang mewah." pinta Hartono semangat berapi api.
"Sementara kita belum akan menggelàr pesta karna umur Shafa belum genap delapan belas tahun, buku nikah belum keluar kalau belum cukup umur, jadi kalau dalam dua minggu Shafa sudah merasa cocok dan mau maka akan kita lanjutkan Nikah di bawah tangan saja dulu dan setelah umurnya genap delapan belas tahun baru buku nikah di keluarkan namun andai Shafa belum siap maka sesuai perjanjian awal aku tidak akan memaksa putri ku menikah dengan anak mu."
ucap Johan dingin.
"Memang belum delapan belas tahun karna putriku pintar dan bahkan sekarang sudah semester tiga." jawab Johan pamer sekaligus bangga.
"Owhhh beruntung betul kami kalau punya menantu nak Shafa pintar dan solehah." nyonya handoko tersenyum lebar menatap Shafa.
"Iya ...jadi makin ngak sabar ingin melamar nak Shafa iya kan Rafa." Handoko menyikut tangan Rafa yang sibuk memperhatikan intekrasi Shafa dan para laki-laki yang mengapitnya meski berjarak.
"Ehh iya Daddy, maaf paman boleh saya melihat wajah calon istri saya." tiba tiba pertanyaan itu meluncur dari mulut Rafa yang tampa takut dan segan meski sudah di beri tatapan maut oleh para kakak kakak Shafa.
"Maaf setau saya calon suami berhak melihat wajah calon istri yang akan di nilahi kalau wanitany memakai cadar seperti Shafa." lanjut Rafa.
Suasana jadi hening, semua mata tertuju pada Rafa yang sangat berani dan lantang berbicara begitu di hadapan Johan dan keluarga lainnya.
"Bagai mana boleh kak, Rafa ingin melihat wajah cantik gadis Aunty." tanya Maili.
"Iya .. ya ya ya, aku setuju ayo buka maskernya dek ehhh salah cadarnya." seru Barry semangat.
__ADS_1
"Betul ayo buka dek, dah lama ngak lihat wajah dek Shafa pasti makin cantik." goda Miko lebih semangat dari Barry dan yang lain.
"Loh kenapa kalian yang heboh mau lihat wajah adik kalian, yang lamar itu Rafa yang mau lihat Rafa kenapa kalian yang heboh." heran Hasan.
"Ahh Uncle udah lama ngak lihat wajah Shafa pengen lihat dong, udah berubah belum makin cantik atau masih wajah imutnya dulu." Barry.
"Ahhh kalian ini, namanya Shafa sudah besar wajahnya tentu sudah berubah ngak mungkin gitu gitu sajakan." Djoko.
"Makanya mau lihat Uncle." semangat Barry.
"Maaf kak, dalam lamaran memang boleh melihat wajah wanita bercadar tapi wanita juga bisa menolak membuka cadar kalau ia anggap ngak perlu, dan maaf beribu kali maaf Shafa tidak bisa membuk cadar Shafa." ucapnya menunduk.
"Jangan sungkan nak Shafa, toh kalau sudah jadi nanti pasti akan lihat wajah nak Shafa setiap hari iya kan Rafa."
"Nghhh iya Daddy, ngak apa apa." senyumnya pada sang Daddy.
"Ya sudah kalau Shafa ngak mau ngak apa apa toh kalian juga masih taaruf." Zahra.
" Mohon maaf nyonya, bagi kami ini sudah final dalam dua minggu ini kami akan tetap mempersiapkan semuanya, karna malam ini kami juga sudah membawa cincin tunangan, mohon nyonya terima permintaan kami."
Mama Rafa mengeluarkan sebuah kota kecil dari dalam tasnya lalu ia membuka kotak itu terlihatlah sebuah cincin berlian mewah yang langsung ia serahkan pada Shafa membuat gadis itu bingung harus apa, ia menatap mama dan papanya meminta pendapat.
*******
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
💝 LIKE
💝 RATE
💝 VOTE
💝 HADIAH yang banyak
💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.