UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
105. Kesepakatan.


__ADS_3

"Katakan, jangan diam aja lu." marah Johan karna Jones tetap diam.


"Sabar koko." meneglus tangan Johan pelan menenangkan sang suami.


"Dia diam saja sayang, koko sudah menunggu dari siang tapi dia ngak mau bicara." kesal Jones.


"Sory papa mertua karna sudah membuatmu menunggu, gua sengaja diam sampe malam, sampe istri gua tidur, gua tidak ingin istri gua curiga dengan pembicaraan kita."


"Maksud lu apa, cepat katakan jangan bertele tele." makin marah.


"Iya tolong jelaskan bagai mana hasil pemeriksaannya Jones." Zahra.


Jones menarik napas dalam dalam sebelum mengatakan apa yang harus ia katakan pada kedua mertuanya itu.


" Kista coklat di ovarium sebelah kiri, diameter 11, 6 centi meter, harus segera di lakukan tindakan operasi kalau tidak.... kalau tidak aku takut akan menjalar ke organ lain."


Jawab Jones dengan sekali tarikan napas laki-laki itu mengusap wajahnya kasar, Zahra terpekik pelan mendengar penjelasan Jones sedang Johan kebingungan dalam diam karna tidak mengerti apapun yang di maksud Jones.


"Maksud lu apa, gua ngak ngerti."


Johan memeluk Zahra, di elusnya punggung istrinya, meski tidak mengerti penjelasan dari Jones tapi dia dapat pahami kalau yang di katakan Jones bukan penyakit biasa namun serius


Jones lalu menjelaskan pada Johan namun tidak detail, Johan makin terdiam karna masih bingung, dia kesal pada menantunya itu kalau bisa operasi kenapa harus banyak cerita.


" operasi ya operasi kenapa lu bingung." kesal Johan.


"Masalahnya tidak segampang yang lu kira papa mertua." balasnya.


"Terus apa lagi." Johan.


" Kalau harus operasi apa kamu akan, .."


"Saya akan angkat ovarium istri saya mama." jawab Jones tegas.


"Kamu jangan gila, Kamu tau dan sadarkan konsekuensinya." tanya Zahra dengan linangan air mata.


"Saya akan lebih gila lagi kalau terjadi sesuatu pada istri saya kalau masih di tunda dan berlarut larut, dan saya sadar dengan konsekuensinya, jauh sebelum saya menikahi istri sewaktu saya mengejar istri saya dan sadar kemungkinan penyakit apa yang ada padanya, saya sudah siap.dengan konsekuensi itu, mama tenang saja."


"Masalah tidak semudah yang di ucapkan, kalau sampai ovariumnya di angkat Shafa bisa saja tidak punya keturunan, kamu .. kamu pasti." tangis Zahra.


"Mama, sayakan sudah bilang siap dengan konsekuensi dan siap menerima istri saya apa adanya, ada atau tidak anak di antara kami saya akan tetap mencintai dan menjaga istri saya seumur hidup saya, mama jangan kwatir, saya akan setia padanya sampai saya mati."


Sampai di sini Johan baru paham dengan situasi, meski ia pernah mendengar dari Zahra tentang kemungkinan penyakit yang di alami Shafa sampai ia harus di periksa dengan alat USG transvaginal tapi ia masih kurang yakin kalau


putri nya mengalami ipenyakit serius dan meski sudah di jelaskan oleh Jones.


Johan mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa harus putri gua tuhan." gumam Johan dengan suara tertahan.


"Kamu sudah bilang pada Shafa tentang penyakitnya." Zahra.


"Belum ma, saya Belum berani, lagi pula saya harus bicara dengan kalian dulu, saya ingin kita membuat kesepakatan."


"Kesepakan apa maksud lu."


"Kita harus satu kata kalau istri gua bertanya tentang penyakitnya." Jones.


"Apa rencana lu."


"Gua akan bilang kalau di rahimnya masih ada meoma dan sedikit membesar dari pemeriksaan sebelumnya sehingga butuh operasi untuk mengangkat meoma itu."


"Oke, kita sepakat." Johan.


"Tapi gua mohon jangan sampai istri gua tau yang sebenarnya, gua ngak mau istri gua nanti sedih."


pinta Jones.


"Baik.." kedua mertua mengagguk setuju.


"Lu yakin tidak akan menyakiti putri gua kalau dia benar benar tidak bisa ngasih lu keturunan ?."


"Papa mertua, pernikahan bukan melulu tentang anak, banyak orang menikah rumah tangganya kekal sampai ahir hayat tampa keturunan, lu jangan kwatir, gua akan setia sampai mati."


"Jangan asal janji, karna janji untuk di tepati." Johan.


"Lu tenang saja papa mertua, lu boleh pegang janji gua, lu jangan kwatir." Jones.


"Oke gua pegang janji lu, ingat kalau lu ingkar lu tidak akan pernah bertemu putri gua seumur hidup lu, dan lu harus melepaskan putri gua suka atau tidak." ancam Johan.


"Gua berjanji papa mertua, lagi pula wanita dengan satu ovarium juga masih bisa hamil kok, tidak semua wanita dengan satu ovarium tidak bisa hamil, ada kok yang bisa hamil, dan semoga itu istri gua."jawab Jones.

__ADS_1


"Iya semoga, Amminn .." Zahra.


"Aminn.." Johan.


Setelah berbincang dengan kedua mertuanya dan mendapatkan kesepakatan Jones kembali ke kamar nya buru buru karna takut istrinya bangun.


Jones masuk mengendap endap seperti saat dia keluar tadi, tapi alangkah terkejutnya dia melihat Shafa yang duduk di atas tempat tidur dengan raut wajah bingung dan kesal.


"Sa..sayang, kok bangun." berjalan pelan ke arah Shafa yang masih sibuk mengucek matanya dengan rambut terurai panjang.


"Aa dari mana." tanyanya manja, bercampur nada kesal serta marah.


"Maaf sayang, Aa tadi haus Aa kebawah."


"Di sana kan ada minuman ada yang manis, dingin dan hangat kenapa harus ke bawah."


"Ehhh iya sayang, tapi Aa tadi lapar juga yangk." jawab Jones tergagap sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa ngak bangunkan Shafa."


"Maaf yangk, tadi Aa lihat dede boboknya pulas banget Aa ngak tega bangunkan."


Jones memeluk erat tubuh Shafa, ia lalu menciumi wajah istrinya mesra, sekarang setiap istri nya ngomel dia sudah hapal bagai mana cara membungkamnya, cukup dengan pelukan dan ciuman sang istri sudah diam.


Tapi saat ini, saat nanti ??.


Setelah membuat istrinya kelelahan sehabis pertempuran panas, Jones kembali memeluk tubuh telanjang Shafa di bawah selimut, tangan kekar itu membelai punggung Shafa lembut.


"Aa.. sebenarnya Shafa sakit apa, kenapa sejak siang Shafa tanya Aa ngak mau bilang, apa ada yang Aa rahasiakan dari Shafa ?."


Deg..


Jantung Jones berdegup kencang mendengar pertanyaan Shafa, ia merasa istri curiga dengan nya, atau mungkin istri nya sudah terjaga dari tadi sejak Jones ke ruangan kerja Johan kemudian wanita muda itu mendengar pembicaraan mereka di dalam sana.


Berbagai perasangka terlintas di benaknya.


"Aa.. kok diam aja ?." tanya Shafa dengan mata berkedip kedip.


"Ehhh ngak sayang, ngak ada yang Aa rahasiakan dari istri Aa, hanya saja Aa belum cerita sama dede karna Aa rasa momennya belum pas." senyum Jones mengecup kening Shafa lekat lekat.


Laki-laki itu bingung harus mulai dari mana sandiwaranya, ia memasukkan kedua tangannya ke bawah ketiak Shafa kemudian menarik pelan tubuh kecil Shafa agar naik sejajar dengannya.


"Takut kenapa Aa, apa ada penyakit yang berbahaya."


"Terlalu berbahaya saat ini belum yank, tapi kalau di biarkan lama lama bisa bahaya, bahaya pada dede dan calon anak kita nanti kalau dede hamil."


"Maksudnya apa Aa."


"Sayang, hasil USG transvaginal tidak ada apa apa, tapi saat Aa memeriksa rahim dede ternyata meoma dede masih ada, itu kan menggangu siklus haid serta sering buat dede kesakitan, nah kalau dede hamil meomanya bisa terjepit bisa salah satu yang mengalah anak kita atau mungkin meomanya akan tertekan dan bisa pecah, bahaya pada dede dan bahaya pada anak kita, dalam kasus ini yang sering kalah adalah anak yang di dalam rahim ibunya, karna bisa terjadi abortus ( keguguran )."


"Masih ada Aa, kata dokter vita udah mulai mengecil dulu." tanya Shafa terkejut.


"Betul sayang tapi belum hilang total, bisa besar lagi yangk." mengelus pelan rambut panjang Shafa.


"Lalu gimana Aa." mulai mewek.


"Cup..cup..cup.. jangan takut istri Aa, tidak apa apa kita cuma perlu mengangkat meoma itu agar dede cepat sehat tidak terganggu lagi haidnya."


"Shafa operasi Aa, atau ada cara lain."


"Iya sayang, yang paling cepat operasi, selama ini kan udah makan obat tapi meoma nya ngak hilang total." senyum Jones berusaha menenangkan istri.


"Tapi Aa, Shafa .. Shafa."


"Ngak apa apa yangk, dede jangan takut, banyak pasien Aa seperti itu kok yangk."


"Makan obat aja kan bisa Aa."


"Tapi bisa lama yangk, karna adanya meoma seorang wanita bisa ngak hamil juga lo yangk, karna terhalang sama meomanya, dede mau kan mengandung anak Aa, dede mau punya bayikan." bujuk Jones lembut.


Shafa mengangguk tanda setuju ingin punya anak bersama suami namun dia masih saja ragu "Kan meomanya ngak di mulut rahim Aa."


"Ngak dong yangk, kalau di mulut rahim pas buat adek adek bisa sakit dong, apa lagi nanti kalau meomnya makin besar saat koitus pasti sakit, dede ngak mau kan ?."


Shafa terdiam.


"Jadi Shafa akan operasi Aa ?."


"Iya sayang."


"Kapan ?."

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik istri ku."


"Siapa yangk operasi ?, Aa ?."


"Iya sayang, Aa yang akan melakukannya, di bantu teman Aa, gimana bolehkah, dede siap ya, dede mau hamil anak Aa kan." tanyanya dengan suara berat dan tercekat di tenggorokan.


Padahal apa yang ia sampaikan bisa saja kebalikan dari semuanya, namun untuk mendapatkan persetujuan dari Shafa ia terpaksa berbohong demi kebaikan sang istri.


Dia tidak ingin Shafa tau kalau ovariumnya akan di angkat, kalau sampai Shafa tau ia takut akan menjadi beban mental untuk istrinya, dia takut Shafa akan merasa minder dan sedih.


Shafa diam membisu, ia malah makin merapatkan kepalanya kedada telanjang Jones, membuat Jones menahan napas karna semakin Shafa merapatkan kepala semakin rapat dada Jones dan dadanya beradu.


Benda kenyal empuk legit dan montok di dada Shafa menempel sempurna dan ketat di dada Jones membuat kejantanan laki-laki itu kembali bangkit dan bergerak gerak ringan di paha Shafa.


"Aa.. ada yang gerak gerak, apa itu." tahyanya polos, meski sudah sering merasakan tongkat sakti Jones dia masih sering lupa apa itu.


"Apa ya, belut kali." kekeh Jones sembari menahan hasratnya.


"Apa belut.." Shafa terjingkat, dia langsung duduk, matanya melotot ke bawah selimut, tampa sadar dan malu Shafa melemparkan selimut menjauh darinya dan dari Jones.


"Ishhhh Shafa takut uwekkkk." menutup mulut yang hampir muntah, Shafa sangat takut belut dari kecil binatang yang paling ia takuti adakah makhluk itu sama hal dengan mamanya.


Seketika mata Jones ikut melotot dengan pemandangan indah di depan matanya, jarang sekali Shafa tampa busana secara sadar di depannya, meski setiap malam, setiap hari bercinta Shafa pasti akan menutup tubuhnya setelah selesai.


Bahkan sewaktu bercinta dia sering marah saat Jones melempar selimut yang mereka pakai, Shafa tidak mau waktu bercinta tampa sehelai benang menutup tubuh mereka berdua, sedangkan Jones tidak puas kalau tidak melihat tubuh polos istri di bawahnya.


"Sayang, menggoda Aa ya hmm."


"Enghhh ngak ngak Aa emhhhh achhhhh a.. aaa." belum selesai bicara Jones sudah membuat Shafa mengerang.


Laki-laki itu memeluk pinggang Shafa, dengan posisi setengah duduk Jones melahap mammae istrinya yang tergantung indah di tempat, Jones seperti bayi kelapan yang menyedot dan menghisap susu ibunya.


"Emhhh Aa, enghhh udah, tadi kan udah Aa."


"Ya sayang, itu tadi sekarang mau lagi." gumam Jones dengan suara bergetar dan terputus putus karna mulutnya sedang berada di dada Shafa.


Puas bermain di sana dan menempelkan tato abstak di sana Jones menuju bibir ranum Shafa pelan dan pasti ia kembali mengajak bermain sang istri.


"Yangk, balas dong ciuman aa, jangan diam aja biar makin enak buat adek adeknya." gumam Jones dengan suara serak.


Shafa yang sudah kembali terbuai mulai membalas ciuman Jones meski belum begitu lihai dan bahkan tergolong amatiran, namanya juga pemula.


Meski sudah dua minggu menikah tapi Shafa memang belum mahir membalas ciuman panas suaminya.


"Aa.. tunggu aa, belut nya mana." bergidik.


Jones membawa tangan Shafa ke bagian bawahnya, lalu meletakkan tangan kecil sang istri pada tongkat sakti miliknya.


"Ini sayang, tapi ini bukan lagi belut sudah berubah jadi anaconda." kekeh Jones membaringkan Shafa di Bawahnya dan posisi tangan Shafa masih berada di tongkat miliknya.


"I love you sayang love you." erang Jones saat tingkatnya menerobos masuk ke gua sempit Shafa.


Malam itu mereka melakukan sampai hampir subuh, Jones tetap segar sehabis bercinta sedang Shafa sudah hampir layu dan tidak berdaya.


****


Sudah lima hari sejak pemeriksaan awal yang di lakukan Jones, hari itu pemeriksaan kembali di lakukan untuk persiapan operasi.


Setelah memastikan kondisi Shafa maka operasi di rencanakan dua hari setelah pemeriksaan terahir.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸͺ΄ LIKE


πŸͺ΄ RATE


πŸͺ΄ VOTE


πŸͺ΄ HADIAH yang banyak


πŸͺ΄KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2