
"Kau tau sayang.., hatiku sangat hancur saat mendengar tangisan mu saat itu, kalau bukan karna Daddy menahan tanganku agar tidak bangun, saat itu juga mungkin rencana mama akan gagal total."
Jones memeluk Shafa mesra, wanita muda itu masih sibuk memutar mutar jari telunjuk di dada bidang Jones yang telanjang.
Jari lentik dan kecil itu seakan berpungsi jadi pensil yang sedang menggoreskan lukisan abstrak di dada suaminya itu sehingga Jones berulang kali menarik napas menahan sesuatu.
"Yank.. mau nambah ya ?." goda Jones.
"Nambah apa A ?." tangannya tetap bertingkah.
"Kau menggoda Aa yank."
"Enghhhh ngak tuh.."
"Terus tangannya ngapain itu."
"Ngak ngapa ngapain, emang kenapa ?." tanya Shafa polos.
"Kamu memanggil nya bangun yank, lihatlah ." tunjuk Jones dengan ekor matanya ke arah bagian bawah tubuh.
Shafa mengikuti arah mata Jones, lalu ia tersenyum melihat tongkat sakti berukuran jumbo itu sudah berdiri tegak menunggu komando.
"Kenapa dia A.." pura pura bingung.
"Kenapa ??, kok balik nanya sih dede masih kurangkan ? makanya menggoda Aa." membawa tangan Shafa kesana.
Shafa tidak menolak, dia membiarkan tangannya singgah di sana sesuai keinginan Jones.
"Ini di apain Aa ?." tanya Shafa dengan mata membola menatap tak berkedip.
"Terserah dede aja deh, Aa pasrah ?." senyum Jones menahan rasanya.
"Hmmm.kalau begitu simpan ajalah, Shafa lapar." melepas pegangannya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Hahhh .. yank, terus itu bagai mana nasibnya ?." tanya Jones melihat Shafa yang mulai turun dari atas tempat tidur dan berjalan pelan kekamar mandi dengan tubuh berbalut selimut.
"Terserah Aa atur aja gimana baiknya nasibnya dia, Shafa lapar, Shafa mau mandi dulu, abis itu giliran Aa, Shafa mau makan masakan Aa." ucapnya sambil menutup pelan pintu kamar mandi.
"Yank.. kok ngak mandi bareng aja sekalian biar cepat." Jones langsung melompat dari atas tempat tidur dan berlari kencang ke arah lamar mandi sebelum Shafa benar benar menutup pintu kamar mandi.
"Aa.. kok ikut masuk sih." protes Shafa melihat suaminya sudah ikut bergabung dengannya di kamar mandi.
"Kan Aa udah bilang mandi bareng tadi, biar cepatkan."
__ADS_1
"Ahhh ngak caya, yang ada malah makin lama." cucut Shafa sambil matanya mengarah ke bagian bawah Jones yang masih on.
"Hahaha sambil sambilan dong cinta ku, ini udah lama nganggur." memegang si tongkat posesif, sedang pandangan matanya menatap Shafa genit.
"Ishhhh salah siapa." cebik Shafa ikut menatap milik suaminya yang makin menantang.
"Aihhh Aa kan cuma di perintah yank, ayolah kasian dia yank."
"Shafa capek dan lapar, Shafa udah lama ngak makan." ucapnya, padahal pandangan matanya menjurus ke sesuatu yang masih panjang dan besar.
"Achh.. ya udah, maaf ya.. kamu terpaksa aku cekik lagi." gumam Jones pura pura sedih.
"Kok cekik Aa, sakit dong, emang bisa di cekik ?." bingung.
"Ya bisa yank, abis gimana lagi dede ngak mau bantuin sih, padahal dede yang bangunin, ngak tanggung jawab pula."
"Hehehe.. ya udah yuk, tapi ngak pake lama ya A.." kekeh Shafa, geli melihat ekspresi suami, padahal dia sendiri menginginkannya.
Jones keluar dari kamar mereka dengan posisi Shafa berada di punggungnya, meski tengah hamil besar tapi wanita muda itu tetap ingin di gendong belakang oleh Jones.
Jones tentu tidak kesulitan menggendong istri kecilnya yang super manja itu, dia berjalan dengan santai ke kitchen yang berhubung langsung ke ruang keluarga.
Semua orang yang ada di ruangan itu sama sama berdiri begitu pasangan suami istri itu keluar dari kamar mereka.
Jones tidak perduli melihat tatapan semua orang, apa lagi tatapan membunuh Johan, dia tidak perduli sama sekali.
"Emhhhhh.. Jo..Jones itu beneran lu, lu .. lu.. masih.."
"Masih hidup ??, ya iya bro.. masa iya hantu gendong cewek cantik yang sedang hamil ini." kekeh Jones mendudukkan Shafa di atas kursi ruang makan.
Secepat kilat kaki panjang Johan berjalan mendekat tanpa bisa di kendalikan oleh sekitarnya, dengan emosi tingkat tinggi Johan hampir meraih tubuh Jones andai tidak terhalang oleh putri bungsunya.
"Papa.. jangan sakiti suami Shafa." tangisnya berdiri di depan Jones, seakan menjadi perisai.
"Kakak.. menyingkir dari hadapan laki-laki itu." bentak Johan tanpa sadar.
"Heiii.. kecil kan suara lu di depan istri gua, lu ngak lihat istri gua ketakutan." suara Jones ikut menjnggi namun penuh penekanan.
"Sialan.. bedebah lu." emosi Johan masih belum terkendali tapi melihat titik air mata di wajah putihnya ia ahirnya diam, laki-laki tampan bermata sipit itu menyugar rambutnya kebelakang.
"Koko.., kan aku sudah bilang tadi semua ini aku yang atur, kalau salah salahkan aku saja, kalau mau marah marah pada ku saja." Zahra berdiri di samping suaminya dengan tatapan dingin pada sang Ceo.
"Sayang.., kenapa harus begini ?, sayang tau tidak betapa tersiksa dan betapa merasa bersalahnya koko karna si brengsek ini." kesal Johan menatap istrinya.
__ADS_1
Zahra yang di tatap tajam untuk pertama kalinya selama mereka menikah awalnya tidak perduli karna memang dia salah, tapi tatapan tajam itu bagai pedang yang di hunus tiba-tiba dan langsung menancap di ulu hatinya tak ayal bola matanya yang indah ahirnya memerah juga menahan tangis.
Dada Johan naik turun menahan amarah, kalau saja Shafa tidak berada di hadapan Jones menjadi tameng laki-laki itu sudah pasti Johan menghajarnya sampe babak belur.
Pandangan mata Johan kembali mengarah pada wanita cantik yang menatap nanar kearahnya, dari sudut mata wanita itu terlihat genangan air yang siap meluncur tanpa aba aba.
Seketika hati Johan menciut melihat wanitanya yang tampak ketakutan serta bersedih hati atas kelakuannya.
"Yank...maaf ya, jangan nangis hmm, maaf koko ngak marah ke sayang kok."
ucapnya menarik tubuh mungil dan ramping itu masuk kedalam pelukannya.
"Sudahlah..aku pulang saja hiks.." setelah berkata seperti itu Zahra langsung berjalan menuju pintu keluar apartemen di susul Johan yang ketakutan melihat air mata buaya sang istri.
Zahra bukan benar-benar menangis sedih karna mendengar suara dan amarah Johan dia hanya ingin menghindari pertengkaran atau keributan lainnya saja karna itu ia membawa dirinya serta pak bucin menjauh dari sana, meski hatinya juga sempat dongkol.
Aldo mengikuti tuannya keluar dari apartemen sedang Robby berjalan lambat ke arah meja makan di mana sang sahabat berdiri dengan senyum khasnya di sana.
Robby berjalan dengan ekspresi sulit di wajahnya. " Bro.. itu benar benar lo ?? gua ngak sedang bermimpi kan ?."
"Iya bro .. ini gua, maaf sudah membuat lu bingung, gua cuma ikuti naskah dan skenerio dari mama mertua gua." senyum Jones menerima pelukan sang sahabat.
"Sialan lu bro.., gua benar benar kehilangan arah gara gara lu, gua ..gua ngak menyangka ini, maaf bro gua tidak bisa membantu lu dulu, maaf gua benar benar merasa ngak berguna."
"Sttt.. siapa bilang, lu sudah banyak membantu keluarga gua dan istri gua, gua yang harus minta maaf ke lu, karna gua sudah banyak merepotkan lu, terimakasih banyak sudah menjadi teman dan saudara buat gua." Jones menepuk nepuk punggung Robby pelan.
Kedua insan itu larut dalam keharuan.
"Aa.. Shafa lapar.., masih lama pelukkannya??." tegur seorang wanita yang memang sudah kelaparan.
"Ehhh ya..ya sayag, sebentar Aa masakin ya." jawab Jones.
****
🌻 LIKE
🌻 RATE
🌻 VOTE
🌻 HADIAH yang banyak
🌻 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.