
"Nanti juga Uncle tau siapa." masih pokus pada handphone.
"Kok sibuk balas chat dari tadi, sama siapa sih cowok ganteng jadi terlupakan."
"Mama sama adik adik Uncle."
"Ouwhhh... kita sampai nih." Jones memarkirkan mobil di lantai dasar gedung JZ tv itu.
"Duh.. ngak sadar udah sampai hehehe."
"Kamu kan memang gitu, ngak ada sadar sadarnya ada cowok ganteng di sekitar selalu di anggurin."
"Hahhh siapa Uncle."
"Auu ahhh gelap."
"Kasih lampu arus kalau ngak ada senter Uncle." tawa kecil Shafa.
Jones membukakan pintu untuk Shafa, gadis cantik itu keluar tampa melihat kiri kanan karna masih sibuk dengan benda pipih di tanganya.
Brukk.. Shafa menabrak dada bidan Jones, membuat laki-laki dewasa itu menyeringai puas, dia sengaja berdiri di depan Shafa agar gadis itu menabraknya.
"Astagfirullah maaf Uncle." Shafa mundur beberapa langkah ke belakang hingga ia mentok di dinding mobil.
Shafa menjadi gugup karna tidak sengaja bersentuhan dengan Jones, andai Jones bisa melihat wajah Shafa yang merona mungkin Jones akan besar kepala.
"Kenapa kamu kok mundur gitu, wajah kamu sakit ya." tanya Jones cemas.
"Ng.. ngak Uncle, maaf.."
"Sudah .. ngak apa apa, cuma kepala kamu aja ngak akan buat aku cedera." senyum Jones.
Shafa masih saja menunduk.
"Ayo kita ketemu Someone itu." masih penasaran.
"Iya Uncle." Shafa berjalan menuju lift di susul Jones, tidak berapa lama kemudian mereka tiba di lantai enam belas tempat Shafa dan mama serta yang lain janjian.
"Loh.. ngapain lo di sini, jadi bodyguar ?." ejek Robby.
"Jadi calon suami." Jones.
"Cih... mimpi melambung tinggi."
"Dari mimpi di kejar jadi nyata."
"Prettt.. udah, ayo sana tempat kita di sana, dan ingat jangan berantem jangan bilang Shafa dan yang lain ada di sini."
Robby menarik tangan Jones menuju satu ruangan, di sana sudah duduk Johan yang tampak sedang berbincang dengan beberapa orang, Shafa dan Zahra serta anak anak sudah berada di salah satu ruangan lain, mereka tengah siap siap untuk sesuatu yang akan membuat someone terharu.
"Maaf tuan, acara akan kita mulai." ucap seorang produser acara pada Johan.
"Ya cepat, waktu ku tidak banyak."
"Baik tuan." sang produser memberi kode pada kru untuk memulai acara.
Kamera satu, dua, tiga dan dari beberapa sisi sudah aktif, Reality show yang di siarkan secara Live di salah satu studio televisi milik Zahra kini sudah di buka oleh dua host wanita dan pria terkenal.
Mereka adalah pembawa acara yang sedang naik daun saat itu, acara itu mengundang tokoh yang sukses dan sering jadi berita baik di televisi maupun di media sosial lainnya.
Awalnya Johan tidak mau hadir di acara itu sebagai bintang tamu, namun karna tema saat itu merupakan cerita keberhasilannya di dunia bisnis dengan tingkat kekayaan yang lumayan dari pengusaha lainnya, Johan terpaksa terima dan mau karna Zahra juga minta partisipasinya, lalu dengan suka rela Johan patuh serta mau bergabung di acara di stasiun televisi milik keluarganya itu.
__ADS_1
Dan Johan terpilih untuk berbagi informasi dan pengalaman bagai mana cara menjadi pengusaha sukses seperti dirinya dengan maksud untuk memberikan motivasi pada para kaula muda dan masyarakat pada umumnya.
"Maaf tuan, anda adalah pengusaha sukses memiliki segala hal yang tidak di miliki oleh orang lain pada umumnya, tapi masih adakah harapan tuan yang tidak kesampaian." tanya host wanita dengan senyum menggoda.
Pandangan mata wanita itu tidak pernah lepas dari Johan, Johan tau makna dari pandangan mata wanita itu tapi dia tidak perduli, sikap dingin dan acuh Johan membuat orang orang lebih berhati hati dalam berbicara dengannya.
"Tidak ada lagi yang ku mau, selama ini aku banting tulang untuk wanita impian ku dan berharap dia akan jadi milikku, dan itu sudah tercapai."
"Bisakah tuan berbagi tentang kisah pribadi tuan." tanya host pria hati hati.
Johan menatap laki laki itu tajam, untung kamera sedang zoom dan mengarah pada host sehingga wajah kesalnya tidak terlihat di layar televisi yang sedang live itu, tapi meski begitu ia tidak mau di anggap tidak profesional ia ahirnya bercerita.
"Sejak aku tumbuh remaja hanya satu wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta dan tergila gila karnanya, dia cinta pertama ku dan cinta terakhir bagiku, meski awalnya sangat sulit untuk mendapatkankannya tapi ahirnya setelah delapan belas tahun aku bisa bersamanya, kini dia wanitaku istri ku sudah memberikan aku kebahagiaan yang tidak terhingga dengan kehadiran anak anak kami, lengkap sudah kebahagiaan ku."
Johan bercerita singkat tentang kisah cintanya yang ditonton oleh ribuan masyarakat di seluruh negara itu, tayangan Live itu juga di tonton oleh Zahra dan anak anaknya di tempat lain tapi masih di dalam gedung yang sama dan lantai yang sama.
Zahra terharu mendengar penuturan suaminya itu rasa sesal menyerang hatinya saat mengingat perlakuan dingin dan cuek yang dulu ia lakukan pada sang suami.
Air mata Zahra meluncur tidak terbendung, namun tangan tangan kecil menghapus air mata itu, Shafa memeluk sang mama di susul yang lain.
Meski Azka dan Wu bersaudara tidak tau percis maksud kata kata sang papa, tapi mereka bisa melihat air mata sang mama adalah air mata bahagia sebab ada senyum di bibir wanita
cantik itu.
"Mama pasti sangat bahagia juga dengan papakan ma, papa orang yang sangat baik ma, kami juga mencintai papa." Shafa melap air mata yang keluar begitu saja di pipinya, ia juga sangat terharu mendengar kata kata Johan yang begitu mencintai mamanya.
Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat untuk menyatukan cinta Johan dengan Zahra namun karna ketulusan Johan ahirnya bisa bersama.
Jones tau perjuangan cinta Johan meski tidak detail dan hanya garis besarnya saja, dia yang melihat acara itu secara live dari bangku penonton hanya tersenyum simpul.
"Itu perjuangan cinta mu pak bos, sekarang giliran aku berjuang mendapatkan putrimu." gumam Jones tersenyum lebar, namun seseorang bisa mendengar kata katanya.
"Aminn." Jones tau Robby berdoa dengan tulus untuknya, meski tidak mendukung terang tegangan tapi setidaknya Robby tidak lagi menghalanginya untuk mendekati Shafa.
"Beruntung banget istri tuan Johan, udah kaya raya tampan dan cinta mati lagi, tapi masa ngak tergoda dengan pesona ku sih, huhh pasti dia sangat munafik, itu hanya ucapannya saja jangan jangan di luar sana simpanan dia." batin host dengan pakaian seksi itu.
"Jaga sikap mu Jessi, yang kau hadapi bukan orang biasa, atau kau akan kehilangan pekerjaanmu." bisik host laki-laki pada wanita itu, saat break iklan beberapa menit.
Johan duduk dengan kaku, di dampingi oleh produser mereka tampak berbincang sejenak tentang peningkatan stasiun televisi yang kini di bawah kendali Zahra, tapi masih dalam pengawasan Johan.
Acara kembali di mulai dengan kehadiran teman bisnis Johan lainnya, sahabat, saudara bahkan kakak angkat Zahra.
Hengky, hasan dan salman ada di sana, mereka duduk berbincang di bawah bimbingan host berpengalaman, suasana yang tadinya kaku menjadi lebih mencair dengan adanya Hasan yang suka berkelakar.
Tengah asik berbincang tiba tiba musik terdengar sedikit keras membuat semua orang mencari asal suara itu, jangankan Johan dan kakak kakaknya Kedua host juga ikut kebingungan.
"Ada apa ini." tanya nya melalui isyarat mata ke arah kameramen.
Kameramen mengangkat bahu tanda tidak mengerti, namun tiba tiba dinding yang terbuat dari papan atau sejenisnya yang berfungsi sebagai pembatas bergerak sendiri.
Johan terperangah melihat siapa yang ada di balik dinding, Zahra duduk di sebuah kursi mirip kursi bar sebagai vokalis, Shafa di keyboard, Azka di gitar melody, Zay di gitar bass, Zaf drum, Zaig di gitar melody dua, Zee di biola satu, Zaq di biola dua anak laki laki tampak serasi dengan baju couple bersama sang papanya.
Anak perempuan dengan mamanya, ternyata saat ke mall mereka tengah mencari baju couple, saat Johan akan berangkat tadi Zahra meminta agar Johan memakai baju batik berbahan sutra halus dengan motif yang sama dengannya dan kedua putri, Mommy juga Daddy.
πΆ Aku hanya bisa berkata sayang
jangan tinggal aku..
aku hanya bisa berkata sayang
jaga hatimu untuk ku..
__ADS_1
Tiada cinta yang seindah kamu
Tetaplah di sisiku ..
Ku harap kau bisa terima aku dengan
apa adanya.
Sungguh aku tak bisa bila ....
( Sampai selesai ) lagu kekinian katanya π.
Johan masih tertegun duduk di posisinya sementara kakak kakak angkat Zahra berdiri sambil bertepuk tangan bersama host, wajah wajah bahagia terpancar jelas di sana.
Semua penonton yang hadir juga ikut bertepuk tangan saat lagu yang di nyanyikan oleh nyonya Wu itu selesai.
Jones menatap takjub pada Shafa yang mahir bermain keyboard, jari jari tangannya tampak lincah menekan tujt alat musik itu ketika kameramen menzoom ke arah Shafa tadi.
Setelah lagu yang memukau penonton dan semua orang berakhir, Zahra serta anak anaknya meninggalkan tempat mereka bermain musik dan menyanyi tadi, langkah kaki mereka menuju Johan saat secara bersamaan Janeet keluar dari pintu lain bersama Mommy, Daddy, Maili serta kakak kakak angkatnya yang lain.
Janeet yang belum lancar berbicara malah bernyanyi dengan mikeropon di tanganya,meski cara pengucapannya belum jelas tapi orang orang bisa mengerti kalau balita itu sedang menyanyi kan lagu selamat ulang tahun untuk sang papa, sementara Mommy mendorong sebuah tumpeng ukuran sedang yang di letakkan di atas troli.
Happy birthday to you
Happy biryhday to you
Semua orang sama sama bernyanyi saat berjalan ke arah Johan, laki-laki itu menunduk di sudut manta tampak ada air bening menempel di sana, dia sama sekali tidak menduga di usianya yang ke tiga puluh enam tahun akan mendapat surprise party dari orang orang yang ia cintai.
Rasa haru dan bahagia tampak di wajah wajah mereka sekeluarga, Zahra mendekati Johan yang sudah berdiri karna di bangunkan Hengky.
"Barakallah fii umrik suami ku, papa anak anak ku segala doa terbaik untukmu." ucap Zahra meraih tangan Johan menyalam lalu mencium punggung tangan suaminya itu.
Johan menarik tubuh kecil istrinya itu lalu ia memeluknya dengan sangat erat, tubuhnya terasa bergetar menahan gejolak bahagia di hatinya, kemudian ia mencium kening sang istri.
"Terimakasih sayang, koko sangat bahagia." Johan kembali memeluk Zahra, di susul anak anaknya.
"Happy birthday pappa incess." Janeet memeluk leher papanya kemudian ia mencium pipi kiri kanan sang papa.
ππππππ
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
π LIKE
π RATE
π VOTE
π HADIAH yang banyak
πKOMEN yang sebanyak banyaknya.
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.
__ADS_1