
Hari ini adalah hari ke empat Melani meninggalkan Shafa, setelah semalam Shafa makan masakan mama Dara sampai hari itu Shafa belum juga makan makanan lain.
Zahra dan yang lain makin bingung, setelah masakan Axton, beralih ke Melani sekarang Shafa mau makan dengan masakan mama Dara, meski tidak banyak tapi bisalah menambah nutrisi dan tenaga wanita hamil itu.
Tapi bagai mana cara menyampaikan pada mama Dara meminta wanita itu untuk memasak sesuatu lagi untuk Shafa, dan bagai mana kalau Johan tau laki-laki itu pasti tidak akan setuju.
"Bagai mana pak Axton, apa yang harus kita lakukan, saya tidak tega melihat kakak begitu terus." Zahra menunduk sedih dengan air mata bersimbah melihat kondisi putrinya yang makin lemah.
"Mau tak mau suka tak suka kita terpaksa meminta Dara memasak untuk Shafa, saya juga tidak mau terjadi apa apa pada menantu saya, dan saya yakin Dara juga akan memasak untuk Shafa dengan senang hati."
"Tapi bagai mana dengan bos Jo, kalau dia tau pasti akan murka." Robby.
"Biar itu menjadi urusan saya pak Robby, sekarang sebaiknya anda ke apartemen bu Dara sebelum koko pulang, nanti kalau koko sudah di sini bisa ribet."
Zahra, Axton, Robby dan beberapa bodyguar tengah berada berada di ruang tamu untuk membicarakan itu, sedang Shafa berada di kamarnya berbaring lemah di atas tempat tidur.
"Baik nyonya saya akan segera berangkat." tanpa berpikir panjang Robby langsung berjalan kearah pintu apartemen bersama seorang bodyguar laki-laki.
Tidak berapa lama kemudian Shafa datang bersama Niken dan Nisa, kedua wanita itu membimbing Shafa berjalan ke arah sopa di mana mama dan Daddynya duduk bersama bodyguar lain.
"Kak.. mau kemana nak." Zahra langsung berdiri melihat kedatangan Shafa.
"Mau duduk sama mama, dan Daddy saja, Shafa bosan rebahan terus ma."
"Oh ya ..mari sini Be, dekat Daddy." Axton langsung berjalan mendekat pada Shafa dan membimbingnya untuk duduk di sopa di dekat ia duduk tadi.
"Papa mana ma.."
"Papa masih di jalan kak, tadi papa kekantor sebentar ada meeting katanya."
"Oo ya.., mama, papa kok dokter Melani belum pulang juga ya."
"Ehh.. itu, mungkin pemeriksaannya belum selesai kak."
"Emang dokter Melani sakit apa sih ma, kok cheknya lama."
"Mama juga ngak tau kak, mama cuma di kasih tau chek ke dokter spesialis syarat itu aja nak."
"Emhhh ya, tapi kok lama sih, padahal Shafa udah kangen sama masakan kak Melani."
"Kak..?" Axton.
"Iya Daddy kak, dokter Melani bilang jangan panggil dokter tapi boleh panggil kakak Daddy."
"Ohh gitu ya."
Hmmm..
Lagi asik berbincang pintu apartemen terbuka dari luar, Robby muncul dengan wajah serius dan tak terbaca, raut wajahnya tampak aneh dan menyimpan kegundahan.
"Bagai mana pak Robby." Zahra menatap Robby yang berjalan lambat ke arah mereka.
"Emhhh itu nyonya.., enghhhh." Robby menjawab gugup karna ada Shafa di sana.
Zahra dan Axton bangkit bersama lalu berjalan mendekati laki-laki itu yang berdiri beberapa meter dari tempat Shafa berada.
"Ada apa pak Robby ?." Axton bertanya dengan debaran hati tidak menentu.
"Itu tuan, tante Dara sedang sakit, setelah pulang dari sini semalam tante langsung jatuh sakit, kata Jack sebelumnya tante sudah sakit tapi masih di paksakan bergerak dan bekerja, tapi sejak pulang dari sini tante tidak tidak kuat lagi lalu pingsan."
"Tapi semalam baik baik saja, kok sakit." tanya Axton cemas.
"Tidak juga pak, wajah bu Dara semalam sudah terlihat pucat, saya baru mau minta pak Robby membawa dokter untuk memeriksanya setelah bu Dara masak untuk kak Shafa tapi malah tumbang duluan."
Zahra menyesal tidak lebih dulu meminta Robby membawa dokter untuk memeriksa mama Dara malah berharap perempuan itu masak untuk putrinya.
"Sakit apa dia, sudah berobat ?." Axton.
__ADS_1
"Saya tidak tau tuan, katanya cuma lemah saja dan demam, belum di bawa berobat cuma beli obat menurunkan demam dari warung pinggir jalan." jawab Robby lesu.
"Hahhh semiskin itu mereka sehingga untuk berobat ke dokter saja tidak bisa." tanya Axton mengusap wajahnya kasar dan kesal, kesal entah pada apa dan siapa.
"Maaf tuan, harusnya semalam saya langsung bertindak mengerjakan yang tuan minta, tapi saya masih bertele tele karna saya tidak mengira tante sakit." Robby ikut mengusap wajahnya kasar ia menyesal dengan keteledorannya.
"Mama Dara kenapa ma." tiba tiba Shafa sudah ada di dekat mereka tanpa mereka sadari.
Shafa masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan meski mereka sudah menurunkan volume suara mereka.
"Ehh itu kak, enghhhh.." Zahra.
"Mama Dara sakit apa ma, ayo cepat bawa kerumah sakit, Daddy ayo bawa mama Dara periksakan mama Dara Daddy hiks."
Shafa tiba tiba menangis tersedu sedu membuat mereka semua tambah bingung dan panik.
"Iya kak, pak Robby akan membawanya kakak jangan risau." Zahra.
"Bukan pak Robby tapi kita ma, ayo ma, Daddy ayo.." Shafa menarik tangan Daddynya berjalan keluar dari apartemen.
Entah dari mana wanita cantik itu mendapat kekuatan, padahal sebelumnya ia sama sekali tidak bertenaga.
"Ba..baik Be, Daddy dan pak Robby saja Shafa tinggal di sini ya, papa Shafa sebentar lagi pulang nanti bingung cari putrinya." Axton.
"Uncle Robby bisa telepon papa, ayo Daddy kita bawa mama berobat, kalau ngak Aa nanti bisa kecewa pada Shafa karna menelantarkan mamanya."
Shafa terus memaksa ikut hingga ahirnya Axton mengalah, Shafa di temani tiga bodyguarnya serta Robby dan Axton berangkat ke apartemen mama Dara sedang Zahra tetap tinggal menunggu suaminya.
Hanya Zahra yang mampu menundukkan dan mematahkan keegoisan Johan, karna itu ia sengaja tinggal dan berjanji akan segera menyusul kalau Johan sudah sampai.
Di apartemen mama Dara, apartemen yang di berikan Jones untuk mereka melalui Robby, mama Dara tampak terkulai lemah di atas tempat tidur.
Shafa dan yang lain sudah sampai beberapa menit lalu di apartemen dan mereka tengah membujuk wanita itu agar mau di bawa ke rumah sakit.
"Nyonya muda, saya tidak apa apa, cuma lelah saja, saya tidak perlu di bawa kerumah sakit, dan saya juga sudah makan obat."
"Jangan panggil Shafa begitu ma, panggil nama Shafa saja, mama ngak boleh di sini, mama harus ke rumah sakit pokoknya, lagian obat apa ini ma, ini cuma obat sementara."
Obat yang sering di gunakan oleh kalangan bawah yang terdesak dan tidak mampu berobat ke rumah sakit atau pasilitas kesehatan lainnya.
"Tapi nyonya."
"Shafa ma, Shafa.."
"Ya..tapi."
"Sudahlah Dara, dengarkan apa kata menantu kita, lihat dia sudah ada di sini demi kamu, tadinya tubuhnya sangat lemah tapi karna tau kamu sakit dia memaksa ikut kemari, setidaknya hargailah permintaannya."
Axton ahirnya berbicara, meski suaranya tercekat di tenggorokan, bagai mana tidak, melihat wanita yang di cintai terbaring lemah tanpa pengobatan yang baik dan memadai siapa yang tidak terluka hatinya.
"Menantu kita .. ?" mama Dara menangis meraung mendengar kata kata Axton, kata kata yang tidak di duga sama sekali olehnya, dia terharu sekaligus sedih.
"Apa aku pantas di panggil mama mertua, aku .. aku sudah sangat jahat padanya." tangis mama Dara makin pilu menyayat hati, hingga semua orang yang ada di sana ikut menangis.
Johan sendiri terpaku di depan pintu kamar mama Dara, mereka baru tiba dan akan masuk kedalam kamar.
Awalnya Johan tidak mau melihat mama Dara apa lagi membantu membawa kerumah sakit tapi atas nama cinta dan bucin tingkat tinggi Johan ahirnya mau datang, ulah siapa lagi kalau bukan ulah nyonya Wu sang adi kuasa.
Zahra menangis di pintu masuk kamar, mendengar isak tangis mama Dara yang lemah dan berat, Shafa yang duduk di atas tempat tidur mama Dara memijit tangan mama Dara sembari membujuk wanita itu.
Axton sendiri duduk di sisi tempat tidur, dia tidak berbuat apa apa, dia hanya menatap nanar wanita yang merebut hatinya di masa lalu hingga kini, wanita yang mampu membuat ia ahirnya menentang keluarganya dengan menceritakan istri keduanya.
"Jangan ingat masa lalu ma, Shafa sudah lupakan itu, tidak ada manusia yang sempurna ma, kita masing-masing orang punya kesalahan." sifat dewasa Shafa muncul tiba tiba menenangkan mama mertuanya itu.
"Tapi aku banyak salah, sangat banyak hiks.., aku tak pantas di panggil mama oleh mu nyonya." masih menangis.
"Ma.. jangan bilang gitu lagi, Shafa jadi ngak enak hati, sudahlah kita lupakan semua itu, sekarang kita kerumah sakit dulu." mohon Shafa.
__ADS_1
"Tidak usah, saya .. saya.."
"Daddy, Shafa minta tolong gendong mama ya, pakai kain ini sebagai alasnya, Shafa tidak tau apakah mama dan Daddy masih mughrim atau tidak tapi yang pasti mama sudah menikah dengan orang lain, dan Daddy belum menceraikan mama secara sah menurut agama."
Shafa berkata begitu karna Axton pernah berkata kalau dia menikah dengan mama Dara masih menikah siri karna urusan secara pemerintahan belum bisa di lakukan mengingat banyaknya persyaratan yang di harus di penuhi pada saat itu, apa lagi keluarga Axton yang terus membayangi.
Axton menerima kain yang di berikan Shafa dan tanpa permisi langsung mengangkat tubuh lemah dan kurus Mama Dara.
Tubuh itu melayang di udara seperti layang layang, Axton bahkan terkejut saat mengangkatnya, ringan sangat ringan, mungkin berat badan mama Dara hanya sekitar tiga puluh lima, kurang lebih lebihnya begitu.
Hati Axton kembali nyeri, sekurus itu wanita yang ada di dalam gendongnya itu, mama Dara tidak dapat menolak atau memberontak bahkan untuk mengeluarkan suara saja mama Dara tidak lagi mampu.
Terkejut, tentu saja iya, tapi apa dayanya tubuhnya kini sudah di bawa oleh sang pria, pria yang dulu mengisi hatinya dan memberikan kebahagiaan, kemewahan meski sebentar.
Laki-laki yang dulu ia puja, laki-laki yang juga teramat ia cintai laki-laki yang juga sudah menorehkan luka yang dalam di hatinya akibat di tinggal pergi tanpa kabar berita.
Laki-laki yang ahirnya membuatnya mengalami kesedihan, kepedihan karna sempat terlunta lunta dalam pencarian.
Kondisi mama Dara yang tengah hamil muda tanpa sepengetahuan Axton memaksaknya berjuang sendiri tanpa bantuan orang lain, meski lemah dan tidak berdaya tapi ia tidak menyerah kala itu, dia tetap mencari meski harapan kecil akan bertemu.
Mama Dara mencari suaminya kesana kemari hingga ia kehabisan uang dan terpaksa menjual rumah mewah, mobil, dan properti lainnya pemberian suami tercinta hanya demi mencari seseorang yang bergelar suami itu.
Axton hilang jejak membuat mama Dara putus asa, hingga ahirnya ia menyerah dan pada ahirnya ia memutuskan menerima lamaran almarhum suaminya ayah Jack dan Piyo.
Menikah atas dasar yang namanya pelarian tanpa ada rasa cinta, demi menunpang hidup pada laki-laki yang mengaku mapan dan kaya.
Siapa yang tau kemalangan dirinya tidak ada, hanya dia dan sahabat karibnya yang kini entah berada di mana, sahabat yang ia tinggalkan di bali kala itu.
Axton tidak berani melihat mata mama Dara, tapi desiran darahnya mengguncang jiwanya yang juga lara, sakit tentu saja, selama ini mereka saling membenci dan berusaha saling melupakan namun tidak mampu.
Axton benci setelah tau sikap tidak baiknya pada menantu, Dara benci karna merasa di khianati, merasa di tipu di tinggal pergi sedang cinta cintanya tanpa tau yang sebenarnya.
Johan di tarik Zahra agar menyingkir dari pintu, memberi jalan pada Axton untuk lewat, mereka masih sama sama terpaku di pintu mendengar tangis pilu sang wanita yang di anggap iblis tanpa hati namun kini dengan penyesalan yang maha luas.
Shafa berjalan pelan di iringi Zahra dan Johan, mereka sama sama turun dari apartemen menuju lantai dasar di mana mobil mobil mewah Axton, Johan dan Shafa terparkir.
Tanpa kata dan tanpa suara Axton membawa mama Dara ke mobil .... miliknya, lalu meletakkan mama Dara di salah satu kursi mewah yang sudah di atur stelannya agar bisa membaringkan mama Dara dengan nyaman oleh bodyguar Axton.
"Hospital naw.." titah Axton pada supir, dia sendiri duduk di sisi kanan Dara, yang masih tampak pucat dan lemah.
"Yes sir.." tanpa kata mereka langsung membawa mobil beserta isinya keluar dari area parkir.
Axton tersentak, baru ia sadari kalau menantu cantiknya ia tinggal begitu saja di parkiran apartemen, tapi detik kemudian ia tenang karna menantunya juga membawa mobil sendiri dan papa mamanya juga ada di sana.
Shafa naik mobil mama papanya sedang mobilnya sendiri ia berikan pada Jack dan Piyo karna Shafa tidak mengizinkan mereka naik taxi.
Meski berat hati dan dengan rasa takut pada Johan, mereka terpaksa menerima kunci dari Shafa, apa lagi mereka juga tidak punya uang untuk naik taxi.
Kedua mobil itu sama sama meluncur ke tempat tujuan yang sama, beriringan namun dengan kecepatan maksimal, tidak lama kemudian kedua mobil memasuki halaman rumah sakit.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.
Mari tetap semangat dan saling support
Dengan cara :
🍂 LIKE
🍂 RATE
🍂 VOTE
🍂 HADIAH yang banyak
🍂 KOMEN yang sebanyak banyaknya.
__ADS_1
Wo Ai Ni all..
Happy Reading.