UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
91. Sayangku.


__ADS_3

Jones turun dari mobil sambil menggendong istrinya ala bridal style, ia berjalan pelan karna baju yang di pakai Shafa masih baju pengantin yang panjang dan besarnya pasti berat.


Robby dan asisten senyum senyum berjalan mengiringi dari belakang, Robby ikut ke apartemen Jones untuk membukakan pintu apartemen laki-laki itu, karna tidak memungkinkan bagi Jones membuka pintu sementara Shafa ada di pelukannya.


Setelah Jones masuk, Robby dan asisten langsung pulang membawa mobil Jones lainnya,karna mobil baru hadiah dari Hengky


akan mereka tinggalkan.


Hahahahaha


hahahhahah


Robby dan Reza tidak bisa lagi menahan tawa, sepanjang jalan dari apartemen Jones sampai kemobil kedua orang itu melepaskan tawa yang sedari tadi ingin keluar tapi karna Shafa tertidur pulas mereka menahannya.


"Apes banget lu Jones." Robby.


"Iya .. kasian dokter Jones, padahal udah di


ubun ubun syahwatnya." Reza.


"Lu ngak lihat tadi pas di mobil, Jones mijitin kepalanya terus, udah ngeres dia tapi ngak kesampaian."


Robby dan Reza semakin tertawa.


Jones meletakkan tubuh Shafa di atas tempat tidur berukuran king size model klasik dengan kelambu di sekeliling tempat tidur itu, mirip kamar raja raja, tempat tidur pengantin jaman dulu, dan suasana romantis langsung terasa saat memasuki kamar.


Tapi sayang Shafa tidur dia tidak bisa melihat keindahan kamar yang di desain langsung oleh Jones sebelum pernikahan mereka, karna Jones tau betul istri nya itu pecinta apapun yang beraroma klasik.


Jones membuka cadar Shafa, di belainya penuh kasih sayang wajah Shafa, ia menelusuri setiap inci wajah itu dengan jari telunjuknya.


"Sayangku, bangun dong, masa bobok pake baju gini sih, gerah dong, mana berat lagi." bisik Jones di telinga sang istri.


Shafa sama sekali tidak terganggu oleh bisikan bisikan suaminya itu, karna gemas Jones lalu mencium hidung Shafa lama sehingga Shafa kesulitan mengambil napas.


"Istriku sayang, bangun dong hmm setidaknya ganti baju, atau suamimu mu ini yang ganti." masih berbisik namun sang pemilik tidur masih saja terlelap.


Jones menciumi wajah sang istri kemudian ia meninggalkan Shafa di atas tempat tidur, ia lalu masuk kamar mandi untuk membasuh diri karna gerah akibat keringat setelah beraktivitas seharian menerima tamu.


Tidak berapa lama kemudian ia keluar lagi dengan tampilan segar, ia memakai jubah mandi sampai lutut, rambutnya yang masih basah tercium aroma wangi shampo beraroma mint.


Shafa tiba tiba terbangun karna mencium aroma asing di hidungnya, matanya melotot sempurna saat melihat suaminya itu hanya memakai jubah mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


" Aaaa ...Uncle ..." jerit Shafa kencang.


"Astaga sayang, hampir lompat jantung ku."Jones memegangi dadanya karna terkejut.


"Sana.. sana." usir Shafa mengibas ngibaskan tangannya dengan mata tertutup rapat, tapi bukan Jones namanya kalau tidak menggoda istrinya.


Pelan pelan laki-laki itu berjalan mendekati Shafa, ia lalu naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Shafa hingga Shafa jatuh telentang di atas tempat tidur.


"Nah.. dari tadi di bangunkan ngak mau, begitu bangun langsung menjerit mengusir suami dari kamar." goda Jones, mencium kening Shafa.


"Enghhh in..itu, Shafa.." gugup.


"Kenapa sayang ?, mandi ya ?, ganti baju, baju kamu ini berat lo sayang, gerah kan ?."


Jones mencium bibir Shafa sekilas, kemudian ia menarik pinggang istrinya itu agar kembali duduk, berlahan ia berangsur turun dari atas tempat tidur sambil membawa istrinya di dalam pelukan.


"Mau aku bantuin buka sayang." senyum Jones, sedikit menunduk melihat raut wajah Shafa.


Shafa yang belum sadar ia berada di mana mendorong Jones untuk mundur agar sedikit menjauh darinya.


Dengan mengangkat sedikit gaun panjangnya ia setengah berlari masuk kamar mandi, Jones mengikuti dari belakang tapi begitu sampai di depan pintu ia terkesiap karna Shafa


menutupnya kencang.


"Sayang, sini aku bukain dulu kancing bajunya, nanti sayang ngak bisa buka." sedikit berteriak karna kamar mandi di dalam cukup luas takut istrinya itu tidak mendengar.


"Ngak usah, Shafa bisa Uncle."


"Yakin sayang ?."


"Iya."


"Baik, tapi kalau butuh bantuan cepat kasih tau oke." Jones bersandar di dinding kamar mandi bagian luar, di samping pintu masuk kamar mandi.


Ia tetap berdiri di sana dengan melihat kedua tangannya di depan dada, karna dia yakin sebentar lagi istrinya itu pasti muncul minta bantuan, seperti dugaannya setelah hampir lima menit kepala Shafa nongol di balik pintu.


"Ba.., butuh bantuan kan." senyum Jones lalu ia mendorong pintu agar terbuka.


Enghh ngghhh..


"Sini aku bantu buka sayang, pakai nya aja tadi sampe dua orang, masa bukanya bisa sendiri, minta bantuan suami ngak ada dosanya lo yangk malah suami berpahala udah nolongin istri."


Jones memeluk Shafa, kemudian ia membuka kancing baju Shafa dari belakang seperti yang ia lakukan tadi sore, setelah melepaskan kancing baju Shafa Jones lalu mencium kening Shafa mesra dan lama.


"Mau aku bantu lepas semua sayangku."


goda Jones.


"Jangan, ngak." menutup pintu, tapi tertahan oleh tangan besar Jones.


"Uncle lepas."


"Mandi jangan lama lama ya sayang, nanti


kamu masuk angin, sebentar saja hmmm."


"Iya." menutup pintu pelan.


Jones duduk di atas tempat tidur, ia senyum senyum sendiri membayangkan wajah polos istrinya yang akan keluar tampa baju karna ia masuk kamar mandi tidak membawa baju.


Jones semakin sumringah begitu melihat tas istrinya yang tidak ada di dalam kamar mereka


itu, ia baru ingat kalau tas pakaian sang istri


tidak di turunkan oleh Robby atau Reza dari


dalam mobil.


Sekitar lima belas menit pintu terbuka sedikit, seperti dugaannya kepala Shafa muncul di antaranya wajahnya terlihat lucu dan sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Kenapa sayang." pura pura tidak tau.


"Enghh itu, Shafa lupa bawa baju Uncle bisa


tolong bantu ambil baju Shafa."


"Di mana sayang." pura pura.


"Di lemari."


"Di lemari kita di sini belum ada baju kamu


sayang, bajunya masih di hotel mungkin."


"Hotel ?? ini kan di .." melihat sekeliling.


Shafa keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrobe panjang lewat lutut, ia sudah lupa kalau hanya memakai itu di tubuhnya.


Mata Shafa terbelalak melihat sekeliling kamar yang berbeda dengan kamar hotel, kamar itu sangat indah dan mewah, Shafa sampai berdecak kagum melihatnya, sinar matanya tampak bahagia melihat tempat tidur yang sangat elegan.


"Kamu suka sayang ku." bisik Jones di telinga Shafa, kedua tangannya melingkar di pinggang istrinya itu.


"Enghhh cantik banget." senyum Shafa.


"Kamu jauh lebih cantik dan super istimewa sayang." menyibak sedikit rambut panjang Shafa kemudian ia mencium leher Shafa mesra, sembari meninggalkan jejaknya di sana.


"Uncle, jangan, Shafa mau pakai baju, gimana nih." mencoba keluar dari pelukan Jones.


"Kenapa pakai baju sayang, kamu ngak butuh


baju istri ku karna nanti pasti aku buka."


"Ehhh ngak Uncle enghhh mhhh." Shafa mengelinjang geli saat Jones menjilati leher dan telinganya bergantian.


"Aku tidak mau menunda malam pertama kita sayang, malam ini juga aku mau kita melakukannya." secepat kilat Jones menggendong tubuh Shafa ala bridal style ke


atas tempat tidur.


Jones menyambar bibir sang istri, pelan tapi pasti ia memberikan pijatan pijatan lembut pada bibir Shafa hingga istrinya itu menegang menahan napas, Jones bahkan sudah berada di atas tubuh istrinya itu.


"Bernapas sayang, jangan di tahan napasnya hmmm enghhhhmm." Jones terus saja memasukkan lidahnya kedalam mulut Shafa lidah Jones menari nari di atas bibir Shafa dan di dalam mulut Shafa.


"Unc..le.. engmmm." menarik napas kesusahan.


"Sayang, aku mencintaimu, sangat." mencium dan ******* bibir istrinya lembut, Jones menggigit sedikit bibir bawah Shafa hingga terbuka, Jones lalu memasuki mulut Shafa dengan lidahnya, menari liar di dalam sana, mengakses seluruh isi mulut Shafa.


Shafa ingin menolak dan mendorong tubuh


Jones tapi tidak bisa karna tubuh itu sudah mengungkungnya dari atas.


"Sayang, jangan menolakku, aku suamimu berikan hak ku, laksanakan kewajiban kamu sebagai istri dan aku lakukan kewajiban ku sebagai suami."


Berkata pelan dengan napas tersengal di dekat telinga Shafa, Jones kembali mencumbui istrinya itu, menjilati telinga, leher sampai mencetak tato tato abstrak di sana.


Shafa mengenlinjang, rasa aneh menjalar di seluruh tubuhnya, seperti tersengat listrik daya rendah, mulut Shafa terkunci menahan suara aneh yang akan lolos dari mulutnya.


"Enghh Uncle.. Uncle.."


Jones membuka pelan pengikat bathrobe yang terikat di pinggang Shafa, setelah itu tangan Jones menyusup kebagian dalam bathrobe menyusuri bagian tubuh Shafa mulai dari perut.


Ketika tangan Jones sampai di bagian atas perut Shafa Jones terkejut merasakan benda kenyal empuk dan montok dengan ukuran pas di tangannya, Jones melepaskan pagutannya ia lalu menurunkan kepalanya agar sejajar dengan benda itu, bola matanya melotot melihat keindahan gunung kembar miliknya itu.


"Uncle.. Shafa malu." menjauhkan kepala Jones dari dadanya.


"Ini milikku sayang, milikku." mencium, menjilat mengecup dan kembali mencetak tato di sana.


"Enghhh Uncle.. mmhhh." Shafa bergerak mengelinjang.


Jones semakin gemas menikmati benda kenyal yang menawan itu hingga ia menyedot areola mammae Shafa mesra dan lembut seperti bayi yang tengah menyusu pada ibunya.


Lagi lagi Shafa menggeliat, bagian tubuhnya yang manapun belum pernah di sentuh oleh laki-laki manapun, Jones adalah orang yang pertama yang membuka segel tubuhnya.


Rasa aneh yang tidak di mengerti oleh Shafa kini menyerangnya, seperti serangan Jones yang memabukkan, meski ingin menolak tapi tidak bisa karna Shafa juga mulai menikmatinya meski hatinya dan tubuhnya belum siap.


Berlahan Jones menyusuri seluruh tubuh istrinya itu, ia lalu melepaskan satu satunya kain penutup tubuh Shafa dan melemparkan ke sembarangan arah, mata Jones semakin berkabut melihat semua yang ada dan menempel di tubuh istrinya itu, sangat indah dan memabukkan.


"Uncle.. jangan ehhngmmm." menutup bagian bawahnya dan bagian atas yang terekspos jelas dengan kedua tangannya.


Mulut Jones sudah kembali ke mulut Shafa, dengan rasa yang menggelora Jones kembali melakukan foreplay yang panjang dan bergelora, Shafa yang kewalahan menerima serangan serangan cinta Jones hanya bisa pasrah.


Suara leguhan keduanya silih berganti saling bersahutan terdengar ramai di kamar itu, awalnya Shafa masih menahan suara aneh menurutnya itu namun lama kelamaan ia tidak tahan sehingga suara itu keluar dan lolos dari mulutnya.


"I love you my Wife love you." menciumi wajah Shafa, kemudian ia mengangkat tubuhnya sedikit untuk melepaskan bathrobe yang ia pakai


sedari tadi.


"Aaaaa.. Uncle." teriak Shafa menutup matanya, dada bidang dan seksi Jones dengan roti sobek yang tercetak di perut atletis Jones terlihat jelas di matanya, belum lagi tongkat besar milik Jones sudah melompat keluar dan tegak berdiri di atas perut Shafa.


"Sayang, lihat aku yangk aku mencintaimu." membuka tangan Shafa kemudian ia menunduk mencium seluruh permukaan wajah Shafa.


Kedua tangan Shafa ia pegang di atas kepala istrinya itu sedangkan bibirnya berkelana di atas bibir Shafa sampai ke dalam.


"Enghh Uncle emhhh.."


"Sayang, aku menginginkan mu." suara serak Jones terdengar aneh di telinga Shafa.


"Uncle.."


"Hmmm ya sayang." suara Jones terputus putus karna mulutnya sedang berada di puncak salah satu gunung kembar miliknya itu.


"Lampunya hahhh."


"Terlalu terang sayang hmmm" tampa menunggu jawaban Shafa Jones menaikkan tangannya ke udara kemudian menjentikkan jarinya dan lampu yang tadinya terang benderang berubah remang.


"Enghhh Uncle." Shafa menjambak rambut suami nya itu untuk menahan gejolak aneh yang meronta ronta dari dalam tubuhnya, ia ingin lebih dari itu tapi dia tidak tau lebihnya seperti apa, ia hanya bisa memanggil manggil Jones berulang kali.


Setelah merasa foreplay yang ia lakukan cukup Jones lalu membuka kedua paha Shafa ia lalu mendekatkan tongkat besar dan kaku itu ke bagian bawah istrinya, sebelum ia memasukkan tongkatnya terlebih dulu ia membisikkan doa di telinga istrinya.


"Sayang, biarkan aku masuk ya hmmm sakit sedikit ngak apa apa ya sayang cuma sedikit kok." bujuknya.


"Uncle emhhh." belum sempat Shafa melanjutkan kata katanya Jones sudah menyumbat mulutnya dengan mulut Jones.

__ADS_1


Shafa tiba-tiba teringat pasien Jones yang datang ke praktek suaminya beberapa minggu lalu dengan keluhan perdarahan setelah malam pertama, rasa takut yang hebat menyerang hati Shafa sehingga ia tampa sengaja mendorong tubuh suaminya itu.


"Uncle.. Shafa takut."


"Ngak apa apa sayang, sakitnya cuma sedikit, dan ngak lama kok, jangan di tegangkan badannya sayang, rileks saja hmmm biarkan suami kamu bekerja sayang, nikmati dan rasakan saja." ucap Jones sambil menikmati puncak gunung kembar Shafa yang indah dan montok.


Berlahan Jones mendorong tubuhnya ke bagian inti Shafa, Jones mengarahkan benda tumpul ukuran big size itu dengan tangan kananya agar tidak melesat karna harus menembus selaput suci miliknya itu.


"Uncle.." menahan napas sebentar.


"Sayang." menyesap bibir Shafa mesra, lidahnya bermain main di bibir atas istrinya sementara di bibir bagian bawah sedang di serangnya dengan tongkatnya.


Pelan pelan Jones membimbing tongkat sakti yang bisa berubah ukuran bila sedang di butuhkan atau tidak ke dalam bagian dalam istrinya itu, Jones mendorong sedikit sedikit sampai setengah tongkat sudah masuk kebagian dalam.


Shafa diam kaku merasakan benda besar itu yang masuk menerobos miliknya, mata wanita terpejam erat, ia meremas bahu Jones kuat dengan kuda tangannya, semakin Jones mendorong semakin kuat cengkraman Shafa di bahunya.


"Sayang, aku masukkan semuanya ya." ucap Jones dengan suara parau dan seperti biasa tampa menunggu jawaban Jones lalu mendorong dan menghentakkan miliknya dengan sedikit kuat hingga tongkat itu menancap sukses masuk kedalam inti istrinya.


Meski awalnya sangat sulit, menembus selaput suci itu dan memakan waktu lama tapi ahirnya Jones berhasil menaklukkan dinding pertahan milik Shafa yang sangat sempit.


"Akhhhh.. Uncle ahhhh."


Tetiak Shafa.


"Akhhhhh sayangku, istri ku."


Teriak Jones merasakan nikmat yang luar biasa saat tongkat saktinya berhasil masuk, Jones berhenti sesaat dan membiarkan istrinya itu meraup oxigen sebanyak yang ia bisa.


"Sayangku, aku sudah masuk semua, kamu ngak gadis lagi sayang, aku sudah mengambil kesucian mu istri ku." ucap Jones, air matanya mengalir di bahu Shafa, air mata kebahagiaan.


"Uncle.." suara Shafa tertahan, ia bingung harus


berkata apa, karna di bagian bawahnya terasa di sumbat.


Jones kembali menciumi seluruh wajah Shafa dengan rasa sayang dan cinta yang besar, berlahan ia kembali menggerakkan tubuhnya agar sang istri tidak terlalu lama menahan sakit.


Berlahan rasa sakit di bagian intinya berubah ke rasa nikmat, Shafa menahan segala rasa itu dengan suara leguhan leguhan.


"Uncle.."


"Sayang, enak sayang." suara Jones terputus putus karna ia sedang memacu di atas Shafa.


Shafa menahan selimut yang sedari tadi berada di atas tubuh suaminya, untuk menutupi aurat mereka berdua agar tidak terlalu polos, berulang kali selimut itu lepas dari tangannya karna genangan dari Jones.


Paduan Jones semakin kencang dan semakin liar membuat Shafa menjerit jerit kecil di bawah Jones, bola mata Shafa merem melek merasakan nikmat dan rasa sakit yang bersamaan.


"Uncle Shafa mau pipis." ucapnya lirih.


"Keluarkan sayang."


"Enghhh Uncle." dengan tubuh tergoncang hebat ia menikmati puncak kenikmatan yang di berikan suaminya itu untuk pertama kali.


"Istri ku, enak banget sayang, sempit banget


aku rasa di jepit, nikmat yangk."


"Uncle.." teriak Shafa tampa sadar, tubuhnya makin bergetar hebat akibat ulah Jones.


"Sayang.." balas teriak.


Tingkat Jones makin kencang menyerang inti Shafa hingga keduanya sama sama mencapai puncak dan sama sama melepaskan hasrat masing masing, Jones menyamburkan larva hangatnya ke dalam rahim sang istri.


Jones terkulai lemas di atas tubuh istrinya tapi masih menahan bobot badannya agar tidak terlalu rapat menindih tubuh sang istri, si tongkat masih setia berada di dalam sana.


"Aku mencintaimu gils sangat mencintaimu." bisik Jones mesra di telinga Shafa.


Air mata laki-laki itu kembali tumpah di bahu Shafa, ia menciumi bahu mulus istrinya itu


dengan penuh kasih sayang.


"Jangan panggil Shafa gils lagi, Shafa udah ngak gadis lagi." omel Shafa terbata.


"hiks.. maaf sayang aku lupa, aku baru mengambil kegadisanmu, terimakasih sudah memberikannya untukku sayang, I love you." Jones kembali menciumi seluruh wajah Shafa.


"Kenapa Uncle nangis, yang luka dan berdarahkan Shafa." oceh Shafa.


Jones menatap manik mata bening dan indah itu mesra, rasa bahagia dan rasa cinta serta kasihnya berbaur menjadi satu.


"Aku menangis bahagia karna sudah memiliki kamu sepenuhnya sayang, sepertinya malam ini aku tidak akan membiarkan mu tidur istriku."


Hahhh ..


Tongkat Jones yang masih di dalam inti Shafa kembali bangun dan mengembang seperti tadi, Jones mengikuti kemauan si tongkat sakti ia kembali mencumbui istrinya itu hingga kembali melakukan senggama.


Shafa pasrah dan diam saja saat sang suami kembali menghujaminya dengan benda tumpul dan besar miliknya itu, rasa sakit yang tahap awal sudah semakin berkurang tinggal rasa nikmat.


Meski sedang berpacu Shafa tetap tidak mau melepaskan selimut dari atas tubuh mereka, sehingga Jones merasa kurang bebas bergerak di dalam selimut itu.


Tapi mau bagai mana lagi meski semakin gerah karna memakai selimut dan suhu pendingin kamar mereka tidak begitu terasa akibat gerakan olah raga malamnya Jones hanya bisa pasrah membiarkan sang istri menahan selimut mereka.


*******


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


🪴 LIKE


🪴 RATE


🪴 VOTE


🪴 HADIAH yang banyak


🪴KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2