UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
95. Aa ..


__ADS_3

"Terserah kamu deh mau panggil apa, asal jangan Uncle saja, aku sudah seperti pedofil kalau kamu memanggil aku dengan panggilan itu." ujar Jones dingin, istrinya itu benar benar tidak peka dengan perasaannya.


Shafa ikut diam, ia memperhatikan mimik wajah Jones yang tiba tiba berubah tampa sebab menurutnya, belum lagi nada bicara Jones yang ikut berubah dingin.


Shafa menunduk, dia tiba tiba takut melihat Jones ia berpikir suaminya itu sedang marah padanya padahal dia tidak berbuat salah, karna gugup dan takut, pelan pelan Shafa bangkit dari duduknya lalu ia berjalan menuju kamar mereka dengan langkah lambat karna masih merasa sakit di bagian bawahnya.


Jones terkejut karna Shafa meninggalkannya, ia lalu sadar kalau perkataannya mungkin sedikit kasar pada sang istri sehingga Shafa tersinggung dan marah.


"Sayang kamu mau kemana, kamu bukannya lapar tadi yangk, sampe bangun tidur langsung ke dapur." ucap Jones mengejar Shafa yang hampir sampai ke pintu kamar.


Shafa diam dan pura pura tidak mendengar panggilan Jones, ia langsung masuk kamar dan berjalan ke kamar mandi.


"Sayang, kok diam aja sih, suami panggil loh." ucapnya lembut dengan suara bergetar.


Jones menyesali kata katanya yang dingin dan terkesan kasar padahal dia tidak bermaksud membuat Shafa tersinggung justru dia sendiri yang tersinggung mendengar panggilan Shafa ke Arkhan yang terdengar manja.


Shafa masuk kamar mandi dan langsung menguncinya dari dalam, Jones tertegun di depan pintu kamar mandi, ia menempelkan keningnya di pintu kamar mandi dengan wajah lesu.


"Ya Robbi.. baru satu hari menikah aku sudah buat istri ku ngambek, hahhh resiko punya istri masih abegeh dan labil, harusnya aku lebih menjaga mulutku sebelum bicara." rutuk Jones menyalahkan dirinya sendiri.


"Sayang, kok di kunci sih, buka pintunya honey." bujuk Jones.


Pintu masih terkunci rapat dari dalam dan tidak ada tanda tanda pintu akan di buka, Jones jadi prustasi karnanya.


"My wife.. sayang ku, buka pintunya dong aku mau pipis nih." pintu di gedor pelan oleh Jones.


Pintu di buka dari dalam, pelan pelan Shafa keluar dari kamar mandi dengan bibir manyun, Jones semakin yakin istrinya itu ngambek dan marah padanya.


"Kok diam aja my wife, kamu marah ya hmm." Jones menarik pelan tubuh kecil Shafa kedalam pelukannya.


"Ngak apa apa." jutek.


"Hahhh selamat, masih di jawab." gumam Jones dalam hati, ia lega sang istri masih mau menjawab pertanyaan nya.


"Kok jutek kalau ngak marah." mencium pucuk kepala Shafa mesra.


"Uncle marah sama Shafa huaaa." tangis Shafa.


"Ehhh ngak sayang, aku ngak marah, mana mungkin aku marah sama istri ku tercinta ini, ngak sayang ku." jawab Jones lembut.


"Ups.. masalah begini kamu peka sayang, giliran perasaan ku kamu ngak peka, malang betul nasibmu Jones, punya istri bayi ya begini terima nasib." senyum Jones dalam hati.


"Uncle ngak marah ?." mengangkat kepalanya, matanya berkedip kedip saat beradu dengan mata biru Jones.


"Ngak sayang ku, aku ngak marah cintaku, aku hanya cemburu." senyum tulus.


"Cemburu ? kenapa ? sama siapa ?."


"Iya.. aku cemburu pada abang Arkhan kamu sayang, sama dia aja kamu bisa manggilnya dengan baik, malah ngak mau manggil abang sama orang lain, giliran suami di panggil Uncle ngak lucu kan." pura pura merajuk dan ikut ikutan gaya Shafa mencucut kan bibir yang sama sekali tidak lucu.


"Hahh kok bisa." bingung.


"Ya bisa dong sayang, jangankan si Arkhan sama papa, Azka kamu aja aku akan cemburu kalau kamu terlalu dekat dengan mereka."


Hahhh..


Jones langsung menyambar bibir yang selalu bilang hahhh itu karna gemas, bibir mungil dan **** itu terlihat sangat menggoda saat mengelus suara hahh di mata Jones menurutnya sangat **** dan seperti suara mendesah saja.


"Enghhh Uncle.. jangan Shafa .. Shafa lapar."


Jones langsung menghentikan ciuman panasnya ia melap bekas salivanya di bibir sang istri dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.


"Jadi tadi beneran lapar ya hmm."


"He emm.. Lapar, masakan Uncle wangi." jawabnya jujur, tangan kecilnya mengotak atik kacing baju kemeja Jones.


Shafa tersadar dengan ucapan nya, seharusnya istri yang melayani suami kok malah terbalik, Shafa menunduk malu ia masih aktif memainkan kancing baju Jones sampai tangan besar itu mengangkat wajahnya.


"Ternyata sangat mudah membujukmu sayang, tapi takutnya sekali aku membuat kesalahan yang berat kamu akan murka dengan sangat hebat." gumam Jones menggeleng gelengkan kepalanya takut hal seperti itu terjadi.


"Kenapa geleng geleng Uncle, Uncle ngak mau kasih Shafa makan masakan Uncle." tanya Shafa dengan mata berkaca kaca.


Deg..


"Ahhhh iya kan, mampus gua, alah salah gaya begini nih jadinya." gumam Jones.


"Ehhh bukan sayang, bukan .. masa udah masak untuk istri tercinta malah ngak di kasih, aku masak cuma buat kamu dan aku yangk, buat kita berdua sayang ku." rayu Jones.


"Terus kenapa geleng geleng."


"Aku hanya takut, suatu saat kalau kamu marah besar padaku lalu kamu meninggalkan aku, bisa tamat riwayat ku yangk."


"Masa sampe tamat, emang buku dongeng si kancil anak nakal."


"Si kancil emang anak nakal dari sananya, tapi kamu lebih nakal lagi sayang, aku kan udah bilang tadi mata sama bibirnya jangan di buat begitu aku jadi gemas lo yangk, nah kalau sudah gemas aku buka lagi baju sayang mau."


"Hahhh Uncle." melepaskan diri dari pelukan Jones, ia lalu berjalan ke arah tempat tidur.


"Lohh... kok ke kasur yangk, minta ya."


"Minta apa Uncle, minta di tabok." hardik Shafa.


"Boleh yangk, tapi pake bibir kamu ya."


"Ihhh mau nya, ngak ah."

__ADS_1


Shafa ternyata hanya mengambil handphone di atas nakas, lalu ia duduk sembari melihat pesan pesan yang masuk, sejak dua hari yang lalu ia tidak ada pernah menchek handphone nya.


"Kok malah lihat handphone sayang." duduk di sisi Shafa dan ikut kepoin isi handphone Shafa.


"Mau lihat tugas kampus Shafa Uncle." pokus ke layar handphonenya.


Jones mengangkat tubuh kecil Shafa lalu ia dudukan di pangkuannya, Shafa menatap Jones bingung.


"Kenapa Uncle ?."


"Kenapa sayang ?."


"Uncle ngapain ?, kok pangku Shafa."


"Pengen aja sayang, mangku istri dan memanjakan istri ga dosa lo yangk, malah berpahala dan menambah kemesraa." senyum Jones sementara bola matanya pokus mengawasi layar handphone Shafa.


Shafa tidak berpikir apa pun dan curiga apapun melihat Jones yang pokus mengawasi layar handphone, dia lalu memeriksa pesan pesan yang masuk, sebenarnya tidak ada apapun di handphone Shafa, hanya ada pesan masuk dari teman teman Shafa semuanya masalah pembelajaran dan tugas tugas kampus saja.


Baru satu hari menikah Jones sudah kepoin handphone istrinya gimana selanjutnya, mungkin Handphon Shafa akan di sadap nya sama seperti papa mertua yang mensadap handphone Zahra.


Kalau teman teman Jones semua nya tau pernikahannya, tapi tidak untuk Shafa, tidak ada teman yang tau tentang pernikahannya bahkan Shafa tidak mengundang teman teman kampusnya karna dia memang tidak punya teman akrab di kampus selain Niken dan bodyguar lainnya.


Sehingga Jones merasa janggal dan takut istrinya itu di rayu dan di ganggu laki-laki lain, wajar saja sih sebenarnya Jones begitu, suami mana yang tidak piktor kalau pernikahannya tidak di beritahukan pada yang lain.


Meski semua orang tau putri dari pengusaha sukses dan konglomerat Johan Wu menikah dengan dr Edwin Jones Iskandar Spog tapi tidak banyak yang tau kalau putri Johan Wu adalah Shafa dan tidak banyak yang tau kalau putri pengusaha itu berkuliah di XX.


Karna itu Jones was was sejak Shafa meminta Jones untuk merahasiakan pernikahan mereka di kampus nanti, dengan kata lain pada saat di kampus Jones akan menjadi dosen saja dan Shafa adalah mahasiswinya anggap bukan


siapa siapa.


"Sayang, nanti saja lihat handphonenya ya, kita makan dulu, setelah itu kita mandi dan siap siap Sholat magrib, udah sore banget lo yangk, lagian kalau kelamaan nanti makanannya dingin." mengecup leher Shafa.


"Iya Uncle." berusaha berdiri dari pangkuan Jones yang memeluk pinggangnya fosesif.


"Sayang .. bisa ngak ubah panggilannya, plis ngak enak banget dengar nya yangk." menahan Shafa agar tidak bangkit dari pangkuannya.


"Panggil apa Uncle Shafa kan ngak tau."


"Pokoknya jangan panggilan itu."


"Apa dong."


"Hmmm gimana kalau Aa saja."


"Kok Aa.. ngak apa apa, Uncle kan bule ?."


"Ngak apa apa dong yangk, aku kan keturunan sunda, mama sunda yangk, papa ku saja yang mewariskan mata ini yang membuat aku seperti bule, aku asli warga negara ini yangk, tumpah darah aku di negara ini."


"Oo ya."


"Iya.. jadi dil kan ?."


"Iya sepakat, kamu panggil aku Aa dan aku panggil kamu dede." senyum Jones.


"Enghh ya Uncle."


"Aa.. Aa sayang, selanjutnya kalau kamu masih salah panggil salah sebut, aku akan menghukum kamu ehh dede dengan hukuman yang.." tersenyum mesum.


"Hukum ??, Shafa di hukum Uncle eh Aa, hukuman apa." mata berkedip kedip.


"Hukuman nya yang enak enak kok."


"Emang ada hukuman yang enak enak Uncle Ehhh Aa." menutup mulutnya dengan tangan.


"Sayang, sepertinya harus mulai dari sekarang hukumannya." menyeringai.


"Ehhh jangan, maaf Uncle ehh salah Aa minta kompensasi ya."


"Seperti mau ngusulkan skripsi saja minta kompensasi istri Aa, oke deh sekali ini di maafkan tapi kalau buat salah lagi nanti kapan pun dan di mana pun Aa pasti hukum." mencium bibir Shafa lembut dan lama.


"Enghh putus napas Shafa." napas tersengal.


"Ngak akan putus yangk, kan di kasih bantuan pernapasan."


"Mana ada."


"Mau lagi ?."


"Apa ?."


"Kis dong yangk."


"Aihhh." Shafa turun dari duduknya di pangkuan Jones, lalu berjalan keluar kamar tampa menyelesaikan pembicaraan dan tampa tau hukuman apa yang akan ia terima kalau melanggar janji.


"Dede ...kok main pergi aja, suami di tinggal nih." setengah berlari mengejar Shafa.


"Uncle ngeres aja, Shafa lapar tau."


"Hahaha maaf sayang, ayo kita makan."


Setelah makan mereka pun bersiap Sholat magrib lalu setelah itu Jones menemani Shafa yang Membaca ayat suci Alquran sekaligus menghapalkannya.


Jones tertegun mendengar suara merdu sang istri ia memperhatikan dengan seksama cara Shafa membaca ayat suci itu, hati kecilnya terasa sakit karna merasa bukan imam yang baik karna ia tidak mampu dan pandai membaca Alquran selama ini dia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri sehingga ia tidak bisa membacanya.


Pandai sholat saja sejak ia bertemu Shafa dan jatuh cinta pada pandangan pertama, meski ia muslim dari lahir tapi didikan agama kurang ia dapatkan.

__ADS_1


Setelah selesai membaca Alquran Jones dan Shafa lanjut menunaikan Sholat isya berjamaah, Shafa mencium tangan Jones begitu mereka selesai Sholat dan berdoa.


"De.. nanti ajarin Aa baca Alquran ya." balas mencium tangan Shafa, kening,hidung, pipi kemudian bibir.


"Aa ngak bisa baca ?." tanya Shafa terkejut.


"Ngak sayang, aku cuma bisa sholat saja ngak bisa baca." merasa malu.


"Ohh ngak apa apa, nanti Shafa ajarin deh, tapi panggil Shafa ibu guru dulu Un.. Aa." menutup mulutnya.


" Ibu guru.. ?, baik tapi Sayang, sepertinya aku harus menghukum dede sekarang." menyeringai.


"Eh engh kan ngak jadi panggil Uncle.. hahhh aihhh habis lah Shafa." menutup mulutnya lagi.


Jones langsung melepaskan mukena yang di pakai Shafa, kemudian ia meraih tubuh Shafa ia menggendong istrinya itu ala bridal style menuju tempat tidur.


Begitu sampai di tempat tidur Jones meletakkan Shafa di sana, pelan pelan Jones membuka ikat pinggang yang ia pakai untuk menahan sarung yang ia pakai, Jones sengaja memakai ikat pinggang karna dia belum pandai memakai kain tersebut dengan benar.


Shafa beringsut kebelakang sampai mentok di headboard, rasa takut dan cemas tergambar dari sorot matanya melihat Jones melepaskan ikat pinggangnya.


"Enghh U.. Aa mau pecut Shafa ya." suara tertahan dan berat menahan tangis yang hampir keluar.


"Iya sayang, Aa akan pecut dede."


"Ampun Aa hiks." tubuh Shafa bergetar hebat, dia sangat ketakutan.


Jones melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya membuat Shafa bingung dan terperangah, mau di pecut kok malah ada penampakan.


"Iii itu .. Aa emhhh." Jones menutup mulut Shafa dengan bibirnya, mencium dan ******* bibirnya mesra laki-laki itu mengakses sampai kedalam mulut Shafa melilitkan lidahnya di dalam sana, lama kelamaan Shafa tersengal karna hampir kehabisan pasokan oxigen.


"Nahhh .. Aa sudah pecut dede pake ini, sekarang pecut sama yang lain lagi." menarik kancing baju Shafa dari belakang hingga terbuka sampai ke pinggang.


Jones mencumbui istrinya itu rakus dan ganas membuat Shafa tidak bisa berpikir jernih, ini di hukum atau di ajak bercinta ?.


Napas Jones dan Shafa sama sama tersengal setelah Jones melepaskan bibit cinta di rahim Shafa, Jones menghukum Shafa hampir dua jam membuat mereka berdua sama sama banjir keringat.


"Aa akan menghukum kamu seperti ini di manapun kalau buat salah." senyum Jones mengatur pernapasan.


"Kalau di hukum enak gini Shafa ngak apa apa, kirain betul di pecut pakai ikat pinggang." guma Shafa dalam hati.


Baru istirahat sebentar Jones sudah naik lagi di atas Shafa, ia berpacu dengan semangat membiarkan Shafa menjerit jerit kecil akibat ulahnya, bahkan ******* ******* Shafa yang tidak terkontrol membuat Jones makin bersemangat menghajar sang istri.


Shafa terkulai lemah di pelukan Jones, setelah istirahat sebentar Jones membawa Shafa ke kamar mandi untuk mandi junub, setelah itu Jones membopong Shafa ke luar kamar mandi.


Jones memakai kan baju Shafa, setelah itu ia memeluk erat tubuh istrinya itu sampai rasa dingin di tubuh Shafa berkurang.


"De.. makan obat ya sayang."


Jones mengambil satu butir obat dari laci nakas lalu menyerahkan nya pada Shafa lengkap dengan air minum hangat.


"Obat apa Aa."


"Vitamin yangk, ayo makan."


"Pahit." menutup mulutnya.


"Mau minum sendiri atau Aa yang masukkan seperti dulu ?."


Shafa menyambar pil yang ada di tangan Jones tampa curiga sedikit pun jenis obat yang ia minum, mata Shafa berkaca kaca menahan rasa pahit di mulutnya.


Jones mencium bibir mungil Shafa ******* dan memijit lembut bibir Shafa mesra, seakan membantu Shafa menghilangkan rasa pahit di mulut istri nya.


"Enghhh Aa, Shafa ngantuk."


"Bobok lah yangk, Aa peluk." mencium bibir Shafa sekali lagi, lalu ia memeluk tubuh Shafa penuh kasih sayang.


Setelah yakin istrinya tertidur pulas Jones lalu menghubungi seseorang lewat panggilan telepon.


"Istri gua sudah tidur, cepat kemari."


Jones langsung memutuskan panggilan telepon lalu ia meraih tubuh kecil Shafa, ia menggendong istrinya itu keluar dari kamar mereka.


Pintu terbuka lalu muncullah Niken, Asiah dan Lila di sana, mereka masuk ke dalam apartemen mewah itu untuk mengambil beberapa barang lalu menyusul kedua majikan mereka.


Mau kemana ya mereka ??


ada yang tau All ??


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baik  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


💝 LIKE


💝 RATE


💝 VOTE


💝 HADIAH yang banyak


💝KOMEN yang sebanyak banyaknya.

__ADS_1


Wo Ai Ni all..


Happy Reading.


__ADS_2