UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )

UJIAN CINTA ( My Uncle Jones )
101.Shafa sakit.


__ADS_3

Jones tersentak bangun dari tidurnya saat merasakan ada hembusan angin hangat di dada telanjangnya, kebiasaan Jones saat tidur siang membuka baju terbawa bawa sampai menikah, Jones membuka matanya lebar lebar tangan kanannya langsung menuju kening Shafa.


"Ya Allah sayangku, kamu deman yangk." Jones melompat turun dari atas tempat tidur, di ambilnya handphone di atas meja lalu menghubungi seseorang.


"Hallo Ryan.. tolong lu antarkan istri lu ke mari, gua ada di rumah mertua gua, cepat ya titt."


Belum sempat Ryan bertanya Jones sudah mematikan handphonenya sepihak, Jones naik ke atas tempat tidur, dalam keadaan bingung Jones memeluk tubuh istrinya erat erat sambil berkicau tidak jelas.


(Author bingung sudah jelas istri sakit bukannya tanggap ambil alat medis untuk meriksa istri atau air untuk mengkomfres istri malah memeluk Shafa erat Jones Jones kau dokter atau apa sih ?? 😁).


"Sayang, jangan sakit dong yank." lirihnya, makin memeluk erat tubuh Shafa.


"Umhhhh Aa.. Shafa ngak bisa napas." mendorong tubuh besar Jones.


"Sayang, dede demam yank."


"Hmm ngak Aa."


"Iya sayang, badan dede panas."


"Omhhh ya Aa, ngak apa apa." menyentuh kepalanya yang terasa sakit dan pusing.


"Ngak apa apa.gimana sih sayang, badan panas gini."


"Shafa haus Aa." berusaha bangun.


"Biar Aa ambil, dede rebahan saja." secepat kilat Jones berjalan ke sudut kamar di mana ada mini pantry di sana, jadi kalau lapar, haus atau pengen ngemil di sana sudah di siapkan, tapi di sana tidak ada kompor atau alat masak lainnya selain termos air panas listrik saja.


Jones meminumkan air hangat pada Shafa pelan pelan, setelah itu Jones meletakkan gelas di atas nakas kemudian ia turun dari atas tempat tidur untuk membukakan pintu karna sejak tadi pintu di ketuk


dari luar.


"Apa sih papa mertua."


"Putri gua sakit lu diam saja." bentak Johan langsung masuk kedalam kamar di ikuti tiga orang wanita di belakangnya.


Seorang laki-laki tampan juga ingin masuk kedalam kamar namun di didorong oleh Jones dengan kuat karna kesal.


"Apaan sih lu mau masuk juga." omel Jones.


"Ehhh lu yang nelpon gua ya." balas Ryan tidak terima di marahi Jones.


"Gua nelpon lu agar membawa bini lu kemari, bukan berarti lu juga ikut masuk kamar gua, sialan lu." marah Jones mendorong Ryan menjauh dari pintu.


"Pelit lu, gua kan mau lihat wajah cantik bini lu yang katanya seperti bidadari itu, kemarin gua ngak sempat lihat cuma sekejap mata saja udah di tutup lagi cadarnya."


"Dasar lu ya, punya orang mau di lihat juga, urus milik lu sendiri." Jones menutup pintu berlahan.


Ryan bersungut sangat karna tidak bisa ikut masuk kedalam kamar pengantin baru itu, sementara itu di dalam kamar dokter Marina sudah selesai memeriksa Shafa dan langsung di serang berbagai pertanyaan dari sang papa yang kelewat posesif pada putri sambungnya itu.


"Bagai mana ??, putri gua kenapa ?? ngak apa apa kan." bertanya sendiri dan menjawab sendiri.


"Tidak apa apa tuan, nona muda hanya kelelahan saja." jawab Marina menunduk tidak berani menatap Johan.


"Lalu bagai mana ?." Johan.


"Istirahat dan makan obat serta vitamin sudah cukup tuan, nona akan segera pulih."


"Ohh syukurlah." Johan menarik napas lega.


"Bagai mana tekanan darah istri gua marina." Jones.


"100/78 mmhg dokter." menjawab serius tampa berani bicara panjang lebar, biasa mereka akan seperti Tom end Jerry kalau bertemu tapi kali ini Marina tidak berani berkotek karna ada Johan di sana.


"Syukurlah tidak terlalu rendah."


"Kalau begitu saya pamit tuan, nyonya."


"Terimakasih banyak dokter, maaf saya tidak antar kedepan." senyum Zahra pada Marina.


"Sama sama nyonya." menunduk lalu berjalan meninggalkan kamar itu.


"Sayang Aa keluar sebentar ya." membelai tangan Shafa kemudian ia pun berjalan mengikuti marina keluar kamar.


"Bagai mana Marina benar ngak ada apa apa kan." tanya Jones.


"Bang aku heran deh, abang udah lupa kalau abang dokter ya, pake bingung segala." menepuk jidad.


"Marina belati yang ada di rumah ku tidak akan bisa memotong benda yang ada di dalamnya, karna hanya bisa untuk di pakai di luar saja." Jones.


"Hahhhh .." Marina kebingungan mendengar istilah yang di ucapkan Jones.


"Maksudnya dek, dia ini hanya dokter gadungan jadi ngak bisa obatin orang apa lagi keluarga nya sendiri."


ujar Ryan mengejek Jones.


"Apa an sih lu ikut campur saja."


"Diam lu, emang ku ngak mampu kan, jangan jangan masih ting ting si nona muda wkwkwkwk." ejek Ryan.


"Sok tau lu, maksud gua Marina gua kebingungan tadi gua meski dokter kan manusia biasa yang punya khilaf dan salah juga, jadi gua mungkin ngak bisa memberikan obat yang sesuai buat bini gua meski gua bisa." jelas Jones.


"Alaihi bilang aja lu emang ngak mampu obatin bini lu." makin mengejek Jones.


"Apaan sih lu setan." Jones.


"Sudah ahhh jangan berantem dong, yang pasti sekarang nona muda harus banyak istirahat bang, udah itu jangan terlalu di paksakan tenaga nona bang,." Marina.


"Maksud lu." Jones.


"Jangan membuat nona terlalu cape, jangan terlalu banyak ronde, kasian kan nona muda masih belia tubuhnya belum bisa menerima hubungan intim yang terlalu sering, abang kan obgin abang pasti lebih tau maksud ku." setelah berkata begitu Marina langsung menyeret suaminya meninggalkan tempat itu karna takut dengan Johan.

__ADS_1


Jones melongo mendengar kata kata bijak Marina bagai mana mungkin dia lupa itu, dia sadar dan tau percis apa yang di katakan Marina benar adanya tapi nafsunya mengalahkan segalanya, dia egois dan lupa diri tidak seharusnya Jones begitu pada Shafa.


Harusnya ia bisa mengendalikan diri bagai manapun istri masih sangat muda dan istrinya belum terbiasa dengan hubungan suami istri yang mereka lakukan, Jones mengutuk diri nya sendiri karna lalai menjaga sang istri dan dia juga sadar istri sakit juga termasuk karna ulahnya yang selalu mengajak bermain ular tangga setiap malam.


Marina merasa kalau lama lama di sana akan membuat dia dan suaminya berbahaya sebab ia juga takut Jones dan Ryan saling hujat meski hanya bercanda ia takut di dengar oleh Johan lalu tuan besar itu akan murka, dia tidak tau padahal Jones dan Ryan memang seperti itu kalau bertemu.


"Baiklah kakak istirahat ya nak, mama akan masukkan makanan kesukaan kakak untuk makan malam nanti." mencium kening Shafa lalu berdiri dari duduknya di sisi tempat tidur.


"Papa akan bantu mama sayang, papa juga keluar ya, kakak istirahat ya." Johan mencium kening Shafa.


Laki-laki itu mengikuti Zahra keluar kamar, namun sebelum keluar dia memberi kode agar Jones ikut dengannya keluar kamar.


Shafa sempat melihat tatanan mata Johan pada suaminya, hatinya sedikit sakit dan takut saat melihat tatapan seram sang papa pada sang suami.


"Papa.." Shafa.


"Iya sayang." Johan menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah Shafa.


"Jangan berantem sama Aa ya pa, Shafa sakit cuma karna kecapean saja kok." ucapnya karna takut sang papa murka dan mengira sakitnya karna kelalaian Jones, Shafa takut Johan menyalahkan suami nya itu.


"Ouwhhh tentu saja gils, papa tidak akan berantem sayang." senyum Johan pada putri kesayangannya itu.


Jones tersenyum miring pada papa mertua nya itu karna ia merasa di bela dan merasa menang dari sang papa mertua.


"Gua tidak akan mengajak lu berantem tapi lu akan merasakan akibatnya." senyum Johan pada Jones, senyum menakutkan.


Johan kembali berjalan keluar kamar.


"Mami, temani istri gua sebentar ya." senyum Jones pada Maili yang geli sendiri memanggil Maili mami seperti panggilan Shafa.


"Iya nak, ngak apa apa." tawa Maili.


Jones mengecup kening Shafa lalu keluar dari kamar, Johan duduk di ruang keluarga di depan kamar, laki-laki itu duduk di sofa dengan santai, namun tatapan mata Johan tajam menatap Jones yang datang berjalan ke arahnya.


"Lu mau ngomong apa papa mertua, ayo katakan cepat gua masih ingin memberikan obat pada istri gua." duduk berseberangan dengan Johan.


"Cepat lu kasih makan obat putri gua, setelah itu lu pergi dari rumah ini." menatap dingin Jones.


"What...?? kuping gua ngak salah dengar."


"Tidak, lu harus pergi dari sini, gua yakin kalau ada lu istirahat putri gua tidak akan tenang."


"Maksud lu ??, gua minta jatah sama bini gua ?? gua bakal ganggu bini gua ?? gua ngak segila itu papa mertua." protes.


"Lu memang gila, dasar otak rusak, maksud gua bukan begitu setan.., gua ngak mau lu ganggu putri gua gua ngak mau lu menggoda putri gua sehingga putri gua ngak bisa istirahat dengan baik dan renang."


"Cihh sama saja."


"Terserah yang penting lu harus pergi."


"No.. no.. gua tidak akan pergi, gua akan jaga dan rawat istri gua sendiri."


"Cihhh.. kalau emang lu bisa kenapa lu panggil dokter tadi." ejek Johan.


"Elehhh, sudah sana setelah itu cepat pulang ke apartemen lu."


"Tidak.. tidak akan."


"Harus, kalau ngak lu tidak akan bertemu putri gua." ancam Johan.


"Papa mertua, gua ngak mau pergi, ingat Shafa istri gua, milik gua, gua berhak bersama nya dan menjaganya, ingat Shafa bukan gadis kecil lagi Shafa bukan milik lu lagi, Shafa milik gua suaminya." kesal Jones.


"Lu salah, putri seorang papa selamanya akan menjadi milik papanya dan keluarga meski sudah menikah."


"Terserah tapi gua tidak akan pergi, istri gua pasti akan membutuhkan gua dan gua juga tidak bisa jauh dari istri gua, jangan usir gua."


"Gua ngak mau tau lu harus segera pergi."


"Tidak.., mimpi lah di paret paret sambil guling guling." ucap Jones emosi lalu bangkit dari duduk dan berjalan menuju kamarnya.


"Woii gua belum selesai, dasar menantu sialan ngak punya sopan santun gua masih ngomong malah di tinggal pergi." geleng geleng kepala.


Johan sebenarnya hanya ingin menggoda Jones saja dan dia tidak benar benar meminta Jones pergi dia hanya ingin menguji Jones apakah dia mau meninggalkan Shafa di rumah, apa kah Jones akan patuh padanya atau tidak, meski dia tau Jones tidak akan pernah patuh padanya.


Malam itu Shafa dan Jones makan di kamar berdua, Shafa protes dan tidak mau sepiring berdua dengan suami karna dia sedang flu dan takut menulari suaminya tapi Jones tetap memaksa.


Jones menyuapi sang istri meski di tolak, tapi Jones tetap memaksa menyuapi, Shafa ahirnya menurut kemauan sang suami, Shafa duduk menyamping di pangkuan Jones sambil makan dan sambil bersin berkali kali.


Isi tong sampah hampir di penuhi tissu bekas ingus dan belas air mata Shafa, Shafa makan di bantu Jones karna ia hampir tidak bisa menelan nasi yang masuk ke mulutnya sebab durasi bersin yang tidak terkontrol.


Jones mengelus kepala Shafa dengan penuh kasih sayang, ia kembali mengutuki diri karna tidak tega melihat sang istri yang sakit.


"Habisin makannya ya yank, biar makan obat."


"Ng.. ngak Aa, Shafa ngak bisa lagi."


"Bisa yank."


"Ngak, Shafa mau muntah kalau di teruskan."


"Ya udah sekarang makan obat ya, abis itu bobok." bujuknya lagi.


"Enghhhh ntar Aa."


"Sekarang yank, nanti demamnya ngak turun turun kalau makan obatnya kelamaan, atau Aa kasih makan obat seperti waktu itu hmmm."


Jones menyodorkan obat ke tangan Shafa dan langsung di ambil karna takut di beri obat seperti dulu, Jones tersenyum melihat sang istri yang ketakutan kalau kalau di beri makan obat dari mulutnya.


Setelah minum obat Shafa menyandarkan kepala di dada Jones, Jones sesekali melap ingus Shafa yang meler karna bolak balik bersin.


"Biar Shafa aja Aa, jorok."

__ADS_1


"Ngak jorok yank, masa ini aja jorok sih."


"Nanti Aa tertular." ucapnya lirih.


Jones malah mengangkat dagu Shafa lalu tampa di duga Jones langsung mencium dan ******* bibir istrinya lembut mesra dan lama, sampai mereka berdua sama sama hampir kehabisan pasokan oxigen di paru paru masing masing.


"Aa.. jangan." mendorong dada Jones.


"Kenapa ?, takut tertular ?."


Enghhhh..


"Biarin, biar tertular juga."


"Jangan Aa, jangan cium Shafa lagi, nanti beneran tertular loh."


"Kan udah Aa bilang, Aa mau yank, ayo tularkan." mencium lagi bibir Shafa lama, bahkan Jones mencium hidung Shafa berulang kali.


"Aa.. Hassyimm.. Hassyimm..Hassyimm."


Jones mengelus elus punggung Shafa lembut dan penuh kasih sayang, sementara itu di balik pintu seseorang yang tadinya berniat masuk kamar urunf mendengar percakapan ekstrim suami istri itu.


"Koko, ngapain nguping sih, masuk aja langsung." marah Zahra karna sang suami yang menahan tubuhnya agar tidak masuk kamar sang putri.


"Ngak usah dulu sayang, nanti saja." jawab Johan membawa Zahra menjauh dari depan kamar Shafa, tadinya Johan ingin melihat kondisi sang putri berdua dengan Zahra, tapi karna Zahra datang belakangan dia tidak mendengar percakapan kedua insan yang ada di dalam kamar.


"Kenapa koko, tadi heboh mau lihat anaknya."


"Ngak enak sayang main masuk aja, mereka kayaknya masih makan." jawab Johan sambil memeluk pinggang Zahra posesif.


Zahra tentu mengerti makna kata kata Johan, mungkin suaminya itu sedang mendengar sesuatu di dalam sehingga ia mundur tidak jadi masuk, Zahra sendiri tidak bertanya lagi ia hanya mengikuti sang suami masuk kamar mereka.


"Sayang, mey mey sudah tidur."


"Belum koko, mey mey masih sibuk belajar sama ge ge ge genya." jawabnya.


"Ohh ya yank."


"Kenapa ?."


"Ngak apa apa sayang.


Johan tersenyum sumringah dan Zahra curiga dengan senyum suaminya itu namun dia diam saja, kalau senyum nya sudah seperti itu pasti akan ada yang menjadi korbannya nanti.


Di kamar pengantin baru.


Hassyimm.. Haaasyim..


Shafa bersin lagi namun kali ini ia memegangi bagian bawah perutnya tampa sadar, lalu ia ingin bangkit dari duduknya di atas pangkuan Jones tapi di tahan oleh suaminya itu.


"Mau kemana sayang."


"Enghhhh itu mau ke .. ngak apa apa."


Jones tersenyum, dia tau apa yang di alami oleh sang istri, mata Shafa berkedip kedip berkali kali terlihat lucu dan sangat menggemaskan di mata Jones, Shafa pasti malu mengakui nya sehingga ia hanya bisa diam saja namun gelisah di pangkuan Jones.


"Kenapa ?, ngompol ya." mencium bibir Shafa.


Enghhhh ..


Shafa merona merah, suaminya bisa menebak apa yang ia rasakan, Shafa diam tentu saja ia malu mengakuinya.


"Ngak apa apa sayang ku, itu biasa terjadi, wanita yang ngak perawan lagi memang sering begitu, kalau batuk atau bersin pipisnya mau keluar sendiri, jangan malu, ayo Aa bantu ganti."


Jones mengangkat tubuh Shafa mesra, ia menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mandi agar Shafa bisa membersihkan diri, setelah di kamar mandi ia menurunkan Shafa.


"Aa ambil baju dede ya, dede jangan mandi hmm cuma boleh bersihkan sarang ular Aa aja." senyum menggoda membuat Shafa makin malu.


Setelah mengganti baju Jones kembali mengangkat tubuh Shafa keluar kamar mandi, lalu ia baringkan Shafa di atas tempat tidur setelah mengeringkan kaki Shafa yang basah.


Tok..tok..tok.


Baru saja Jones akan merebahkan tubuhnya di sisi Shafa pintu kamar sudah di ketuk dari luar dengan irama tidak beraturan.


"Siapa sih, kok ngak sabaran amat." kesal Jones turun dari atas tempat tidur.


Shafa sendiri hanya tersenyum karna ia tau kebiasaan siapa yang mengetuk pintu kamar nya seperti itu kalau lagi ingin masuk kamarnya.


Siapa hayoooo tebak teman teman.


😁😁


*********


Hai teman-teman author dan teman teman pembaca yang baikΒ  terima kasih saya ucapkan atas segala dukungannya dan saran serta kritik yang membangun buat kebaikan cerita ini ya.


Mari tetap semangat dan saling support


Dengan cara :


πŸ’ LIKE


πŸ’ RATE


πŸ’ VOTE


πŸ’ HADIAH yang banyak


πŸ’KOMEN yang sebanyak banyaknya.


Wo Ai Ni all..

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2